DAMN ! I LOVE #NasiGorengDunia

Sore itu hujan terus mengguyur Purwokerto. Saya janjian dengan pemilik Nasi Goreng Dunia Season 3 di Jl. Dr. Soeparno no. 60 Karangwangkal, sekaligus mengembalikan buku.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Sembari menunggu salah satu owner, Iqbal bin Madjid yang masih sibuk, celoteh riang dari meja sebelah cukup membuat saya ikut penasaran menanti pesanan. 


Sepiring nasi goreng dengan asap mengepul dan bendera mini diatasnya menjadi topik kehebohan mereka. 

Saya jadi ingin ikut heboh juga. Ditengah menanti sang chef keluar, buku menu saya bolak-balik. Mulai mereka-reka rencana menu apa yang dipilih. 

Ya #NasiGorengDunia season 3 ini sama seperti yang ada di depan Gelora Guntur Darjono Purbalingga. Menawarkan nasi goreng dengan dominasi gurih ataupun manis khas berbagai negara.

"Sudah pernah mencoba Nasi Goreng Dunia sebelumnya ?", tanya Iqbal. 

Sahabat yang juga rekan satu perjuangan, Lukman "Bagus Permana" menggeleng. Sementara saya memilih diam, karena hanya Mexico dan Thailand yang pernah saya coba di Purbalingga. Buat saya keduanya dominan asam manis segar. "Saya ingin yang berbeda", batin saya.

Seolah terbaca, Iqbal menjelaskan dengan gamblang menu-menu yang tersaji. "Kalau Eropa dan Amerika cenderung manis asam karena modelnya saus. Sementara kalau Asia gurihnya lebih dapet", terangnya. Cocok. Saya memang sedang tergoda rasa gurih. Mulai dari citarasa Indonesia, Malaysia, Jepang, India dan China ditawarkan. "Paling favorit yang Malaysia, gurihnya paling kerasa. Apalagi ada ikan bilis-nya juga", tambah Chef Ucup.

Sahabat saya sepertinya tetap tak tergoyahkan pada semua referensi. Di otaknya hanya ada Italy. Maklum saja, dia ini penggemar 'Si Nyonya Tua'.Sementara saya tergoda bumbu teriyaki. "Nasi goreng Jepang, Mas", pesan saya.

Sengatan aroma rempah yang ditumis membuat saya tak kuasa menahan batuk. Saya cemas berharap tak salah pilih menu.




Sejurus kemudian nasi goreng berbendera Jepang dan Italy siap tersaji. Tercium aroma yang smooth. Tak setajam saat proses pemasakan tadi.

Sebenarnya tanpa bendera pun saya tahu jika ada nori pasti itu pesanan saya. "Keberadaan bendera mini diatas nasi memang jadi khas Nasi Goreng Dunia season 3, Mbak", lanjut Iqbal. 

Aroma yang berubah light ini refleks menyingkirkan keinginan berfoto. Suapan pertama, nasi yang masih panas membuat pedas sedikit tertutup. Tapi tak mengurangi khasnya rempah putih dengan bumbu teriyaki yang gurih. Dan keripik jagungnya? Saya suka.

Di hadapan saya, Lukman masih sibuk memotret nasi goreng dengan isian sosis dan homemade spagetty sauce yang nikmat banget. "Mancaayyy" kalau mengikuti kata-kata Iqbal. Meski memesan level pedas yang sama ternyata bumbu rempah membuat nasi goreng Jepang lebih spicy.

Saya merasa diuntungkan dengan hujan sore hari di Purwokerto. Iqbal dan Ucup tahu benar membuat anak muda betah. Selama duduk disini, telinga dimanjakan isi albumnya The Adams. Cukup selektif. Namun jadi makin tepat di tengah suasana gloomy dan kepulan asap nasi goreng.

Malah sepertinya lebih pas lagi kalau malam. Sepakat kan, nasi goreng itu identik dengan malam. Apalagi kedai ini memfasilitasi penganut tarekat begadang hingga dini hari.

Meski tidak terlalu luas, suasana di belakang Kampus UNSOED ini bisa jadi pilihan. Meskipun alasannya cukup personal bagi saya.

Dan tanpa terasa, satu porsi pun sukses saya habiskan sendiri. Next, sepertinya saat rindu celotehan teman lama perlu juga membuat dalih ingin mencoba Nasi Goreng belahan dunia lainnya.

DAMN, I LOVE #NasiGorengDunia. Thanks Iqbal, untuk foto-fotonya.

Komentar