Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

MAKAM KUNO & KALONG RAKSASA DI SITUS BANDINGAN

Gambar
Perjalanan kali ini terasa memakan waktu lama. Jujur saja ini adalah pertama kali ke Karangjambu, kecamatan yang disebut-sebut paling jauh dari pusat kota Purbalingga. Jauh banget namun tawaran ke Situs Bandingan jelas terasa sangat menggiurkan. Berangkatlah saya bersama rombongan kantor sebelah. Suasana canggung sepanjang perjalanan terganti seketika sesaat sampai di Dusun Bandingan, Kecamatan Karangjambu ini. Aroma pedesaan menghadirkan akrab karena hawanya mendukung. Hamparan sawah menyapa langkah kaki sebelum sampai ke pintu gerbang Situs Bandingan. Situs yang dari luar tampak penuh dengan pohon rimbun. Juga suara merdu santri yang tengah mengaji dari kejauhan meyakinkan saya bahwa ini memang sangat jauh dari kebiasaan hiruk pikuk pekerjaan. Adem . Tampak seorang pria paruh baya menunggu di sana. Saya agak tergugu karena warna bajunya kembar dengan saya, atasan dan bawahan hitam. Namanya Pak Miarso. Dia meminta kami semua melepas alas kaki. Maka, mulailah saya berkenalan dengan S...

LOKASTITHI GIRI BADRA

Gambar
Namanya cukup sulit untuk saya ucapkan. Lokastithi Giri Badra. Namun ada cara mudah menyebutnya yaitu: Museum Cipaku. Karena memang museum terbuka ini terletak di Dusun Pangebonan, Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Seperti namanya yang klasik, koleksi utama pun didominasi artefak temuan lokal dari masa klasik berupa Arca Ganesha . Museum ini menurut informasi berada diatas lahan sekira 4.000 m². Di sana sejumlah objek berbahan batu ditempatkan. Dalam suasana alam terbuka. Memang ada yang telah dilengkapi pelindung, diberi atap dan pagar pembatas. Namun tetap membiarkan udara Dusun Pangebonan yang terkadang lembab menyapa koleksi secara langsung. Beruntung, pihak pengelola terbilang mampu ngopeni dengan cukup baik. Bukan berada di jalur utama, membutuhkan usaha lebih untuk mencapai lokasi. Lebih mudah dan disarankan dengan kendaraan pribadi. Selain mempercepat juga bisa sekaligus mengunjungi beberapa destinasi terkait.  Arahkan saja layanan mesin pencari ke Wat...

KETOPRAK TOBONG, RIWAYATMU KINI

Gambar
“Ora ana wong kere, kaya dene kere-ne ketoprak. Lan ora ana wong dadi raja kaya dene raja ketoprak”. Kalimat ini benar-benar terasa dalam ketika saya mendengarnya langsung dari suami istri mantan pemeran seni ketoprak di Purbalingga, Sukirman dan Sumarni. Sore itu cukup cerah, senang rasanya diterima dengan hangat meski dalam keseharian saya cukup jarang berbincang dengan mereka. Saya memang tidak terlalu akrab dengan tetangga. Untungnya Bu Marni, begitu ia dipanggil, piawai mengalirkan obrolan. “Saya juga pendatang” , begitu mulanya. Bu Marni sendiri berasal dari wilayah Gombong, Kebumen. Sementara suaminya asli Kulon Progo, Yogyakarta. Pantas bahasa Jawa mereka terdengar berbeda dari kebanyakan warga di sini. Mereka ini bertemu dan bahkan kemudian berjodoh karena ketoprak. Dulu, lanjut Bu Marni, sebagian besar keluarganya adalah seniman tradisional. Pembersihan paham komunis dari kelompok berkedok kesenian terjadi besar-besaran paska peristiwa 1966. Sejak saat itu, keluarganya yang ...

MAKAM WANGI

Gambar
Ternyata seperti ini rasanya ditolak. Perjalanan jauh ke tepian Sungai Gintung di Desa Pagerandong Kecamatan Kaligondang malah menyisakan kesan yang mengambang. Ide awal jalan-jalan siang itu sebenarnya hanya uji coba rute asing. Tapi mendadak, terbersit nama Makam Wangi, karena kebetulan kendaraan terlanjur melaju ke arah Kaligondang. Untungnya, teman-teman setuju saja karena belum pernah mencapai bantaran Sungai Gintung ini. Dari obrolan sepanjang jalan, saya berandai-andai, coba saja ada akses jalur darat di tepian Sungai Gintung maka tidak perlu memutar di Desa Pagerandong dulu. Tapi tidak masalah juga, karena kemudian setelah akses jalanan beraspal habis, kami jadi membakar lemak di siang hari. Kondisi jalan desa yang belum diaspal, berkelok, turunan tajam, sangat tidak direkomendasikan bagi pengemudi jalanan landai. Jalan kaki adalah pilihan paling aman. Bukan semata-mata aksesnya yang sulit, namun juga karena harus berpapasan dengan truk penambang galian C di Sungai Gintung. Tid...

BRAEN, SENI YANG MENGAJARKAN KEIHLASAN

Gambar
Sesiangan tadi, bersama atasan dan teman-teman kantor, saya mendengarkan sebaris lagu berbahasa daerah. Namun jujur yang nyantel di ingatan saya hanyalah “Awang Uwung”. Ini adalah penggalan kalimat yang dilantunkan Mbah Salihah. Ia salah seorang rubiyah atau penabuh rebana dalam kesenian Braen. Usianya sudah mencapai tujuh dasawarsa, namun nenek berparas cantik ini konsisten melestarikan kesenian peninggalan leluhurnya. Jika dirunut melalui silsilah, Mbah Salihah adalah keturunan ke-13 Syeh Machdum Kusen, salah satu penyebar Islam di Purbalingga. Kesenian ini menjadi unik, karena hanya keturunan dari Syeh Machdum Kusen dan ber gender perempuan saja yang dapat memainkannya. Braen bukanlah kesenian biasa. Tidak bisa dimainkan setiap waktu, tidak bisa dimainkan sembarang orang, dan tidak ada di seluruh desa menunjukkan bahwa Braen itu sakral. Karena dihadirkan pada momentum kelahiran, kematian atau peringatan atas meninggalnya seseorang khususnya di Kecamatan Rembang dan Karangmoncol, K...

WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Gambar
Ditemani salah seorang saudara perempuan, saya akhirnya sampai ke Watu Gumilang. Ini pun karena si kakak ini cukup berisik mempromosikannya.  Berjarak dua puluhan kilometer dari pusat kota Purbalingga, jadi pembonceng adalah pilihan terbaik. Maklum, saya tidak ahli untuk melaju di jalanan asing dengan kontur berbatu yang naik turun. Semua demi menuju batuan misterius di Desa Picung, Kecamatan Kertanegara. Mengacu pada namanya, saya awalnya menduga batuan ini berkilau. Kira-kira benar tidak dugaan saya? Setelah melalui rute: Purbalingga – Bobotsari – Karanganyar – Pertigaan Kasih – Adiarsa – Krangean – Karanggude – Picung, sampailah saya di lokasi. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepatnya di belakang MI Gumilang. Sebenarnya dari kejauhan tampak seperti bukit batu di tengah pemukiman. Hanya saja karena nempel dengan bangunan, batuan setinggi lebih dari 5 meter itu jadi terasa mencolok. Terlebih ada pohon kelapa yang tumbuh di atas batuan tersebut. Jangan kaget, sebagi...

Brambang Jae dan Larangan Pementasan Wayang Kulit

Gambar
Kemarin belum lama, saya sempat lewat area Stadion Goentoer di Purbalingga. Tetiba keinget aja tuh petilasan bernama Brambang Jae . Unik kan namanya?  Dulu banget sempat terpikir apakah artinya di petilasan ini terdapat pohon bawang merah ( brambang ) dan pohon jahe. Tentu saja jawabannya adalah tidak ada sama sekali. Gambarannya seperti ini. Saat melintas di lingkar utara Stadion Goentoer Darjono, rerimbunan pohon tampak menambah asri suasana. Namun enggak sangka saja di sana tampak serupa makam yang hanya satu-satunya. Terdapat pagar khusus dan papan nama dari instansi pemerintah. Pemberian pengaman itu dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Triyono Budi Sasongko.  Dalam hati saya mikir, enggak mungkin enggak , jika suatu tempat biasa sampai mendapat perlakuan istimewa dari Pemerintah Daerah. Meski warga sekitar sudah tidak banyak yang menceritakannya, namun legenda itu telah terekam dengan cukup baik. Bisa jadi penuturan warga setempat sedikit berkurang karena kini wilayah...

Begalan, Seni "Merampok" Dalam Upacara Mantenan

Gambar
Tadi pagi saya bertemu begal atau perampok di kondangan nikahan.  Uniknya, begal ini datang berdasar request pengantin perempuan. Tenang dulu, ini bukan drama perampokan gegara kasih tak sampai. Bukan juga karena amplop kondangan yang kurang. Ini murni kesenian khas wilayah Banyumasan bernama Begalan.   Meskipun dikategorikan khas ternyata tidak mudah untuk menyaksikan Begalan dalam setiap resepsi pernikahan. Ada syaratnya. Hanya jejodohan  tertentu yang boleh nanggap. Misalnya, pernikahan antara “sulung dengan sulung” , “bungsu dengan bungsu” atau “sulung dengan bungsu” . Mengapa harus diatur seperti ini, karena Begalan bukan sekedar hiburan. Hakikat utama pelaksanaan Begalan adalah sebagai media pengruwat. Untuk membuang sukerta atau rereged pada temanten kekalih , begitu menurut cerita Rendy “Singamas”, seniman asal Banyumas yang membegal kali ini. Rereged itu artinya perilaku atau sifat negatif seseorang. Semisal malas, temperamen dan sejenisnya. Maka re...