MBAH SUGINI, JUALAN CINCAU SEJAK 1964
Saat itu masih baru selepas Subuh, seorang teman kembali mengirim pesan. "Jangan kesiangan ya, tar keabisan" Se gasik apa sih sebenarnya warung ini sudah habis jualan? Sampai-sampai saya harus sepagi itu mengantri. Lagipula sebenarnya saya tidak minum es di pagi hari. Pukul 8.30 saya sudah dijemput. Kendaraan segera menuju ke Perempatan Bancar, jarak yang masih cukup dekat dari pusat kota Purbalingga. Bahkan seandainya berjalan kaki pun masih dapat dijangkau kurang dari tigapuluh menit. Di trotoar, terlihat beberapa orang mengerumun. Saya menebak disanalah tujuan saya. Ternyata bukan warung permanen. Hanya sebuah meja kayu biasa berisi bahan dagangan yang memanfaatkan salah satu sudut trotoar. "Monggo, Mbak" Saya mendengar suara seorang perempuan sepuh dari tengah kerumunan. Tangannya tampak cekatan meracik cincau dengan santan, air gula dan es batu dalam gelas-gelas yang sudah berjajar rapi. Satu per satu mereka mendapatkan segelas es cincau dan mulai menyerupu...