Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

MBAH SUGINI, JUALAN CINCAU SEJAK 1964

Gambar
Saat itu masih baru selepas Subuh, seorang teman kembali mengirim pesan. "Jangan kesiangan ya, tar keabisan" Se gasik apa sih sebenarnya warung ini sudah habis jualan? Sampai-sampai saya harus sepagi itu mengantri. Lagipula sebenarnya saya tidak minum es di pagi hari. Pukul 8.30 saya sudah dijemput. Kendaraan segera menuju ke Perempatan Bancar, jarak yang masih cukup dekat dari pusat kota Purbalingga. Bahkan seandainya berjalan kaki pun masih dapat dijangkau kurang dari tigapuluh menit. Di trotoar, terlihat beberapa orang mengerumun. Saya menebak disanalah tujuan saya. Ternyata bukan warung permanen. Hanya sebuah meja kayu biasa berisi bahan dagangan yang memanfaatkan salah satu sudut trotoar. "Monggo, Mbak" Saya mendengar suara seorang perempuan sepuh dari tengah kerumunan. Tangannya tampak cekatan meracik cincau dengan santan, air gula dan es batu dalam gelas-gelas yang sudah berjajar rapi.   Satu per satu mereka mendapatkan segelas es cincau dan mulai menyerupu...

PUTRI AYU LIMBASARI, SYECH GANDIWASI DAN PATRAWISA

Gambar
Selalu saja ada yang menarik ketika berkunjung ke Limbasari. Desa ini terletak sekira 15 km dari pusat kota Purbalingga. Terletak di Kecamatan Bobotsari, Limbasari menyimpan banyak kekayaan. Mulai dari potensi temuan peninggalan neolitikum, wisata alam Patrawisa sampai legenda Putri Ayu Limbasari. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Nah, untuk melepas lelah sepertinya berwisata akhir pekan ke Patrawisa bisa menjadi pilihan. Terletak di lembah Gunung Tukung dan Gunung Pelana, menjadikan pesona kecantikan alam Patrawisa mampu memikat seseorang untuk datang lagi dan lagi.  Untuk menuju bendungan Patrawisa hanya dibutuhkan waktu sekira 30 menit berjalan kaki sejauh 1,7 km. Ya, Patrawisa adalah bendungan atau dam yang membendung pertempuran Sungai Tuntung Gunung dan Sungai Wlingi. Tidak hanya itu, air terjun mini serta sendang-sendang jernih semakin menyegarkan sesampainya di lokasi. Lalu siapakah Patrawisa sehingga namanya diabadikan untuk tempat indah ini? Patrawisa adalah nama salah se...

JALAN-JALAN KE PETILASAN ARDI LAWET

Gambar
Ardi Lawet merupakan salah satu nama yang cukup familiar, minimal di Purbalingga, Jawa Tengah. Beberapa badan usaha menggunakan nama tempat yang masih disakralkan ini. Seperti apa serunya perjalanan kesana ? Oleh : Anita Wiryo Rahardjo RUTE Petilasan Ardi Lawet terletak di Panusupan, Kecamatan Rembang. Ada dua pilihan rute untuk menuju lokasi. Pertama : berangkat dari kota Purbalingga - Kaligondang - Rembang - Rajawana - Panusupan atau rute yang lain adalah melalui Bobotsari - Karang Anyar - Rajawana - Panusupan. Pilihan berangkat dari rute pertama lebih banyak dipilih karena lebih mudah. Sementara untuk perjalan pulang kita bisa memilih rute kedua. Setelah sampai di Panusupan, pengunjung bisa menuju kediaman Mulyono (mantan Sekdes) untuk transit awal. Di tempat inilah kita bisa mendapatkan informasi mengenai sejarah Syech Jambu Karang dan juga meminta bantuan guide untuk menuju puncak.  Mulyono yang juga dikenal dengan julukan carike ini adalah salah seorang sesepuh yang kerap m...

RUMAH KELUARGA MO YONG DI GANG MAYONG

Gambar
Seperti kita ketahui bersama, Belanda bisa dibilang hampir menduduki seluruh Nusantara. Begitu pula dengan Poerbolinggo .  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Di kota ini beberapa bangunan peninggalan kolonial berusia seabad masih tampak kokoh berdiri. Sebagian ada yang milik Pemerintah Kabupaten, namun tidak sedikit pula yang hak milik pribadi. Seperti ex- markas tentara Belanda di Gang Mayong Purbalingga ini. Tepatnya di RT 3 RW 3 no. 6 Purbalingga Lor. DI PUSAT KOTA Terletak di pusat kota dan strategis, saat ini bangunan tampak tak berpenghuni. Namun menurut beberapa orang berusia 70 tahuan yang saya temui, bangunan ini pernah difungsikan sebagai gudang penyimpanan alat fogging malaria. Bahkan ada juga yang menduga sebagai markas tentara Belanda. Diperkirakan saat itu mereka menggunakan sistem sewa untuk menempati bangunan tersebut. Benarkah ? Rasanya cukup meragukan. Menurut penjaga gedung, Sukardi, bangunan yang bernomor asli 4 ini diperkirakan dibagun pada tahun 1920-1921. Se...

JALAN - JALAN KE BONG SAWANGAN

Gambar
Indonesia memang kaya akan beragam budaya. Multi etnis yang ada membuat kita mengenal beragam tradisi. Salah satu tradisi unik adalah penguburan etnis China yang bisa melibatkan puluhan warga di sekitar kuburan untuk berpartisipasi.  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo BONG CINA SAWANGAN Seperti halnya yang terjadi di Kompleks Bong Cina Sawangan Purbalingga yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1920-an. Dukuh Sawangan sendiri terletak di Desa Banjaran, Bojongsari. Di sebagian lahan inilah terdapat areal pekuburan yang hampir keselurahannya permanen. Bahkan beberapa bangunan bernilai sampai ratusan juta Rupiah. Fantastis. Keberadaan kompleks Bong Cina dikenal warga secara turun temurun sebagai makam para warga keturunan Tionghoa yang sudah membeli tanah tersebut sejak awal. Sebagian besar masyarakat sekitar mengenal tempat ini sebagai " gedung besar, bertangga, tinggi dan bercat putih". Memang, Bong Sawangan memiliki bentuk yang cukup khas. Terutama di kompleks utama yang memi...