Cari Blog Ini

BEREBUT GUNUNGAN DI SEBUAH PERAYAAN

Pawai Budaya kembali menyapa masyarakat Purbalingga menjelang akhir tahun 2013. Berpusat di Alun-alun, sejumlah kesenian tradisi nan langka ditampilkan dalam perhelatan Hari Jadi ke-183 tahun Kabupaten Purbalingga. Sebut saja diantaranya: Rodat, Ujungan, Angguk, Braen, Aplang, Daeng serta Begalan. Tentu saja tidak ketinggalan, kesenian rakyat "paling hype" yaitu ebeg serta tek-tek kenthongan. Dan.....ada gunungan.


Oleh: Anita Wiryo Rahardjo


Keberadaan seni tradisi yang beragam tersebut menunjukkan kekayaan budaya. Sebagai contoh rodat dan daeng memiliki gerakan dasar serupa dengan pencak silat Jawa. Berkembang pada penjajahan, rodat maupun daeng menjadi kamuflase para pejuang saat berlatih. Dengan diiringi dengan alat musik dan nyanyian tentu saja kitapun terkecoh, tak menyangka apabila seni tersebut berasal dari olahraga. 

Kemudian ada ujungan. Pertandingan 'bersenjatakan' rotan ini bukan kompetisi, melainkan dilakukan sebagai upaya ritual khusus persembahan dalam menantikan hujan di musim kemarau panjang.


Kesenian bernafaskan Islam juga dapat ditengarai dengan penggunaan rebana seperti yang terlihat pada braen, angguk dan aplang. Selain penampilan kelompok seni tersebut, masyarakat juga dapat berburu hasil bumi atau penganan selamatan yang dibuat dalam bentuk gunungan.

Sesuai namanya, gunungan memiliki bentuk menjulang mengerucut seperti gunung. Sejumlah hasil bum ataupun makanan matang (umumnya kudapan contohnya kue apem) akan ditata sebagus mungkin. Diyakini sudah berkembang sejak masa Jawa Kuno, dimana seorang raja membagikan sedekah kepada rakyatnya. Tak heran apabila kemudian diperebutkan. Karena gunungan selain dianggap sebagai ungkapan syukur atas paner atau hasil bumi yang melimpah, juga sebagai upaya ngalap berkah dari sedekah para pemimpin.

Konsep yang sebenarnya baik namun kurang kita hadapi dengan bijak. Sekedar saling rebut, saling dorong bahkan terjatuh adalah hal biasa dalam tradisi berebut gunungan. Namun satu yang sangat disayangkan adalal ketika tampak dua orang berebut tampah (nampan anyaman bambu) berisi tumpeng. Bukannya mengikut saran orang-orang untuk menepi dan menikmati tumpeng bersama-sama, mereka berdua malah menumpahkan nasi tumpeng ke jalan. 

Mirisnya, setelah itu mereka kembali memperebutkan tampah. Kami hanya bisa terdian memandang keduanya. Tak lagi peduli pada rombongan kesenian yang kemudian lewat. Sebagian mula berbisik, "Itulah kenapa hal-hal begini dilarang, soalnya mubazir kan".


Dengan perasaan tidak menentu, saya mulai mengambil gambar tumpengan yang ditumpahkan ini. Bukar tradisi tumpengannya, gunungannya atau bahkan rebutannya yang salah. Tapi kebiasaan kita yang suka mementingkan diri sendirilah yang salah.

JAMASAN, BUKAN SEKEDAR MEMANDIKAN

Jamasan. Inilah salah satu tradisi yang rutin dilakukan pada bulan Sura. Secara literatur jamasan ini berarti memandikan atau membersihkan. Terutama benda pusaka. Apa sebenarnya tujuan dari tradisi ini ?

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Upacara pembukaan Jamasan Pusaka Tosan Aji

JAMASAN TOSAN AJI

Halaman Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja pagi ini sedikit berbeda. Tenda berwarna merah tampak berdiri di depan gedung. Puluhan pasang mata tertuju pada sekelompok pria berbusana tradisional yang dengan khidmat melakukan serah terima sebilah keris pusaka dengan iringan sulukan yang menghanyutkan.

"....Sigra arsa angayahi karyo. Anjamasi pusaka aji........", suluk yang ditembangkan sang pranatacara ini membuat suasana jadi semakin hanyut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembersihan sebilah keris tersebut. Ya, seperti inilah gambaran upacara pembukaan prosesi jamasan yang diadakan pada Selasa Kliwon 17 Desember 2013 lalu. 

Dengan dijamasnya keris pusaka oleh Kabid Kebudayaan Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga Sri Kuncoro, maka resmi jugalah jamasan pusaka dalam rangkaian hari jadi ke-183 tahun Kabupaten Purbalingga ini dibuka. Kegiatan ini melibatkan empat sesepuh yang rutin menjamas di museum yaitu : Ari Purwoko, Heri Sujatno, Kuat Budi Cahyo dan Urip tridadi. Serta seorang penjamas muda yang kerap menjamas di Jogjakarta & Surakarta, Hari Juli Prasetyo.

Jamasan memiliki kata dasar jamas yang diambil dari bahasa Jawa kromo inggil dan berarti cuci, mandi atau membersihkan. Tentunya bukan semabrang membersihkan. Karena yang dijamas adalah benda-benda pusaka.

Mata Tombak Pusaka Purbalingga usai dijamas

Ditemui beberapa hari sebelum jamasan, Ari Purwoko mengungkapkan jika sudah semestinyalah yang disebut sebagai benda pusaka itu dijamas agar tidak kehilangan pamornya. “Sesuatu yang disebut benda pusaka itu istimewa. Bahan dasarnya pilihan. Para Empu yang membuatnya juga rialatan dulu sebelum membuat”, ujar pria yang akrab disapa Koko ini. Karena bagaimanapun sebuah pusaka selain sebagai alat untuk perlindungan diri juga merupakan simbol status atau tanda jabatan seseorang. 

Benda pusaka ini bermacam bentuknya. Misal : tosan aji atau senjata yang terbuat dari besi, batu akik, kereta keratin, dsb. Namun pada jamasan yang rutin digelar tiap hari jadi ini lebih dikhususkan pada jamasan pusaka tosan aji.

Tosan berarti besi dan aji dari kata diaji-aji yang diartikan dihargai, dihormati. “Semacam keris, pedang, mata panah, mata tombak, kujang, dll”, lanjut Koko. Terpenting benda-benda ini menempati fungsinya sebagai symbol status ataupun perlindungan diri dari serangan lawan (binatang atau manusia). “Jadi kalau keris untuk nari atau mantenan, ya nggak usah di jamas”, ungkapnya

ALIT DAN AGENG

Dalam pelaksanaannya jamasan dibagi menjadi dua yaitu ageng dan alit. Dinamakan jamasan ageng jika dilakukan pad abulan Sura. Bulan pertama kalendar Jawa ini dipercaya menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan benda pusaka. Sehingga di wilayah Jawa, bulan Sura baik tanggal 1, 10, Kliwon pertama maupun Jumat pertama kerap dipilih sebagai waktu Jamasan Ageng.

Sedangkan jamasan alit boleh dilakukan setiap periode tertentu. Misal 3 bulan atau 6 bulan sekali. Bergantung ebutuhan pusaka itu sendiri. Tidak hanya terpatok Sura, jamasan juga bisa dilakukan pada bulan Maulid atau hari-hari khusus. “Seperti Selasa Kliwon, Jumat Kliwon dan Jumat Manis”, kata Koko

Salah seorang penjamas (Kuat Budi Cahyo)

Lalu bagaimana dengan jamasan 17 Desember 2013 ini? Menurut Koko masih bisa disebut jamasan ageng karena cukup dengan bulan Sura. Karena itulah tidak berlebihan jika dalam jasaman ini sesajen yang digunakan lebih lengkap. Di lokasi jamasan sendiri terlihat ada 1 buah tumpeng, jajanan pasar, degan kelapa ijo, pisang raja, kembang setaman, wedang bening, wedang kopi, wedang jemabwuk, sepasang telur ayam kampung dan gula aren yang digunakan sebagai sesajen. Kok ada tumpeng segala ya? 

“Tumpeng ini bukan untuk makan setan seperti kabar yang sering terdengar. Tumpeng ini ada filosofinya. Nasinya mucuk menuju satu titik dengan lauk beraneka jenis dan bermacam rasa. Ini gambaran. Dalam menjalani kehidupan kita akan bertemu bermacam hal yang berbeda-beda, namun apapun itu semua harus dikembalikan pada satu titik untuk menjadikan langkah lebih baik, yaitu Tuhan Yang Maha Esa”, terang Koko. Tumpengan dan jajanan pasar inipun nantinya akan dikonsumsi bersama-sama usai jamasan berakhir.



Selain itu sarana yang diperlukan untuk menjamasnya adalah :
  • Warangan : Batu meteor yang ditumbuk halus. Mengandung PFA atau Polyfenil Asetat. Meski racun namun warangan ini lah yang berperan sebagai anti korosi. Harga warangan bervariasi bergantung tingkatannya.
  • Air jeruk nipis Jawa : Jeruknya berbentuk bula kecil.
  • Deterjen atau sabun colek
  • Minyak wangi
  • Pace / mengkudu masak / gemblep : Untuk melarutkan kotoran yang menempel termasuk sisa warangan lama
  • Degan kelapa ijo : Selain untuk mencuci sebenarnya bisa menjadi pertolongan pertama ketika ada yang tergores.
  • Biji lerak : Membuat mengkilat
  • Ratus : Memberikan aroma wangi dan membuat cepat kering.
Beberapa hari sebelum jamasan panitia juga sudah mempersiapkan air suci yang diambil dari 7 mata air di Purbalingga. “Kita ambil dari Gunung Lawet, Gua Lawa, Kutasari, dsb”, tutur Rien Anggraeni salah seorang panitia. Tidak hanya itu panitia pun perlu melarutkan 1 gram warangan dnegan 1 liter air jeruk nipis selama minimal 15 hari.

Dari segi psikis para penjamas diharuskan berpuasa sejak 2 hari sebelum hari H. Hal ini dilakukan sebagai upaya pembersihan diri terlebih dahulu sebelum mebersihkan hal lain yang ada di luarnya. Dan pada saat prosesi, par apenjamas pun melakukan tapa bisu. Apa tujuan laku ini?

TAPA MBISU

Usai upacara pembukaan proses jamasan dilanjutkan didalam museum. Dengan iringan grup siteran pengunjung diperbolehkan menyaksikan langsung jamasan dari dekat. Dengan syarat tidak mengajukan pertanyaan pada penjamas yang tengah bertugas. Karena mereka sedang berlaku tapa mbisu. 

Apa tujuannya? Baik Koko maupun Hari yang beda generasi sepakat mengatakan jika laku ini bertujuan menjaga konsentrasi. Dengan tidak berbicara, maka pekerjaan yang penuh ketelitian ini bisa selesai dengan baik dan tidak mengakibatkan luka sayat pada penjamasnya.

Selain tapa mbisu, puasa pun masih dijalankan. Koko menuturkan, jika dinalar puasa ini membantu terhindar dari racun. “Warangan itu kan mengandung PFA, kalau lupa cuci tangannya tidak bersih dan dilanjut makan, maka rentan sekali PFA ikut tertelan”, ungkapnya.

Pada hari pertama jamasan ini ada sekitar 25 pusaka yang dibersihkan. Yaitu : 13 tombak tunggul raja, 1 buah payung, 2 Pedang bermotif huruf Arab, serta beberapa keris yang berasal dari Bupati terdahulu dan sumbangan masyarakat. 

Jelang tengah hari para penjamas menghentikan sejenak aktivitasnya. Dan sembari bersantai inilah, saya mencoba berbincang dengan para penjamas terkait tradisi turun temurun ini. 

Disisi lain beberapa siswa yang sejak awal ikut menyaksikan, terlihat asyik mencuci tangan pada sisa air jamasan. Hal ini mereka lakukan setelah mendengar salah seorang pengunjung mengatakan jika di keraton, air sisa jamasan sering diperebutkan. Namun entah karena alasan tersebut atau sekedar iseng mereka hanya tersenyum saat ditanya.

Saat rehat inilah, Hari penjamas muda yang baru pertama kali menjamas di Purbalingga mengungkapkan kekagumannya pada pusaka yang ada. “Tombaknya bagus-bagus”, ungkap pemuda yang mulai menjamas sejak kelas 1 SMK. Menurutnya pusaka keris atau tombak bagi orang Jawa bukanlah pusaka biasa. Pra Empu membuatnya dengan laku yang berbagai macam. Yang akan membedakan satu pusaka dengan lainnya. Ini jugalah yang perlu diperhatikan dalam membersihkannya.

Hari Juli Prasetyo, penjamas muda asli Purbalingga


Heri Sujatno, penjamas lain pun ikut berbagi pengalamannya. Beberapa kali jamsan, dirinya bertugas memebersihkan pedang yang diperkirakan berasal dari masa-masa persebaran awal Islam di Arab dahulu. “Harus sambil Syahadat saat membukanya”, tuturnya. Koleksi pedang ini memang kerap menarik perhatian pengunjung museum. Semula 3 pedang seupa bermacam ukuran tersimpan rapi di tempat ini. Namun yang berukuran paling kecil, kini ditempatkan di museum Ronggowarsito. Kaligrafi di sepanjang bilahnya menjadikan keunikan tersendiri.

Meski diidentikan dengan mitos dan mistis, disisi lain jamasan pun mengajarkan kita nilai-nilai budaya yang nyaris terlupa. Kebersamaan dan gotong royong. Tentu saja disamping sisi religius.

PERUBAHAN

Di akhir obrolan, Hari sempat berucap ingin melihat adanya pembenahan di museum ini. Khususnya terkait perawatan dan penyimpanan pusaka. 

Dia mencontohkan jika di museum lain, pusaka akan dipertunjukkan dengan kondisi dibuka (warangka dan kerisnya diletakkan bersebelahan) dan dilengkapi data. Dengan demikian pengunjung bisa mendapat tambahan informasi. “Selain itu penempatan pusakanya masih belum pas. Disini semua masih jadi satu. Ibaratnya neh Mba ageman Raja ya harus diletakkan lebih atas dari ageman Demang. Memang akan makan tempat, tapi kalau lebih tepat kenapa tidak?”, sarannya. Dan hal inipun sudah disampaikannya secara gamblang pada pengelola museum. Namun lagi-lagi waktu yang akan menjawabnya.

“Yang penting sebagai generasi muda mari kenali dulu budaya kita. Syukur-syukur mau memahami, menghayati dan mencintainya. Urusan keris ndak punya juga ndak apa-apa kok.”, pungkasnya

MAKAM KYAI WILAH DI WILANGAN

Hati-hati jika berniat jalan-jalan ke makam yang dikhususkan pada masa jelang Pemilu seperti sekarang. Alih-alih mendapatkan cerita, yang ada malah disuruh pulang karena kurang persyaratan. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Hehe, ya makam bersejarah, dikhususkan, dikeramatkan atau apalah istilahnya memang kerap didatangi para calon anggota legislatif. Hal ini terjadi ketika saya mendatangi makam Kyai Wilah dan keluarganya beberapa waktu lalu. Beruntung saja, tampang unyu-unyu membuat saya tidak mungkin dikira caleg. Haha. Jadi, meski tanpa membawa uborampe untuk nyekar sepertinya tidak dipermasalahkan.

Antara Makam Kyai Wilah dan Makam Mas Ajeng Lanjar


LOKASI WISATA SEJARAH

Ya, nama makam Kyai Wilah ini sering bermunculan ketika googling dengan kata kunci Sejarah Purbalingga. Tokoh ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tokoh Islam yang berpengaruh pada masanya.

Makam Kyai Wilah dan keluarganya tidak berada dalam satu lokasi. Namun terpencar, meski masih dalam satu kecamatan. Putrinya yang bernama Mas Ajeng Lanjar dimakamkan di Karangjambe Wilangan, sedangkan Kyai Wilah serta istrinya dimakamkan di Wilangan Klapasawit. 

Sebenarnya jarak antar makam ini tidak terlalu jauh. Masing-masing hanya butuh sekitar 10 menit berjalan kaki untuk dituju. Baik makam Mas Ajeng Lanjar maupun Ayahnya ini sama-sama terletak di wilayah yang berbatasan.

MAS AJENG LANJAR, SIPOTHAT & KYAI WILAH

Makam pertama yang kami tuju adalah makam Mas Ajeng Lanjar. Makam ini berada di sebuah area khusus bersebelahan dengan TPU. Pintu gerbang di dekat makamnya menunjukkan jika makam ini memang mendapat perawatan khusus. Konon, tempat ini masih ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu.


Areal TPU ini sempat membingungkan kami untuk mencari makam yang dimaksud. Untung saja kami bertemu Pak Sukarto, warga setempat yang tengah asyik mengumpulkan kamboja kering. Nah, darinyalah diperoleh informasi jika ternyata makam yang kami cari justru berada di dekat pintu gerbang. Hanya saja karena bertempat di balik pohon beringin besar maka tidak terlihat. 

Sebelum memasuki makam, Sukarto mengingatkan kami untuk melepas semua perhiasan yang terbuat dari emas. “Panci kedaeh mboten ngagem kuning-kuning Mba,..”, kata kakek berusia 65 tahun ini.

Dengan menapaki anak tangga yang berupa akar beringin tua, kami pun memasuki makam yang ditempatkan dalam lahan sekira 5 meter persegi. Ketiga sisi makam dipagari oleh batang dan akar beringin, sementara sisi timur makam dipasangi tatanan batu setinggi ± 50 cm. 

Suasananya masih sangat asri. Sungai Ponggawa yang mengalir di dekatnya menjadikan gemericik air menambah hawa-hawa alami hadir berbalut sahutan cindeleret yang khas. Sukarto mengisahkan jika Mas Ajeng Lanjar ini meninggal lebih dahulu dari orang tuanya. Hal ini terjadi setelah Mas Ajeng Lanjar menjadi incaran lamaran para pembesar saat itu. Dan demi menghindarkan dari situasi yang tidak kondusif, maka Kyai Wilah pun dengan terpaksa mengorbankan nyawa putrinya.

Sementara itu menghadapi kenyatan ditinggalkan putri kesayangannya, sang ibu atau istri Kyai Wilah merasa sangat kehilangan. “Saking kelayu-layune, ibunipun Mas Ajeng Lanjar lajeng anjlog mawon teng salah setunggale kedung ingkang wonten lepen Ponggawa”, cerita Sukarto. Kedung tersebut konon kemudian dinamakan dengan Kedung Wringin yang juga diabadikan sebagai nama salah satu desa. Sang Ibu lalu dimakamkan di dekat sungai dan makamnya dikenal dengan sebutan Sipothat.

Sungai tempat istri Kyai Wilah menceburkan diri

Makam Sipothat (depan kiri). Makam ini terletak di tengah pemukiman

Sedangkan makam Kyai Wilah sendiri terletak diantar keduanya. Beberapa anak kecil terdengar menyapa dengan ramah. “Badhe nyekar nggeh Mba, Mas ?”, kata mereka sembari berlarian. Hmm, sepertinya memang banyak peziarah yang sering menuju kemari.

Hujan yang mulai sering mengguyur pada Desember ini membuat ilalang tumbuh tinggi di kompleks makam-makam ini. Yang unik, di makam Kyai Wilah ini adalah akar pohon yang menaunginya seolah membentuk relief tersendiri di badan makam. “Dulu pernah ada juga yang akan membuat kedung di dekat makam ini , tapi nggak pernah bisa berhasil, “ kata Sukarto. Lalu siapakah sebenarnya Kyai Wilah ini ?

Makam Kyai Wilah


PANGLIMA PASIR LUHUR

Tidak banyak informasi yang berhasil saya kumpulkan mengenai sosok ini. Sukarto hanya berkali-kali menyebut, “Kaitane kalih Banyak Sosro”. Sementara itu, dari data yang dimiliki salah seorang pengamat sejarah Purbalingga, Triatmo, dikatakan Kyai Wilah adalah Panglima perang dari Pasir Luhur. Disebutkan juga Kyai Wilah masih merupakan menantu dari Adipati Pasir Luhur, Kandha Daha.

Dituliskan jika Kyai Wilah adalah seorang panglima yang gagah perkasa dengan keberanian yang luar biasa. Sehingga tidak jarang ia memperoleh banyak tanda jasa dan penghargaan. Suatu waktu Adipati Kandha Daha meneima surat dari Adipati Bonjok (Banyumas) yang isinya adalah bentuk lamaran pada salah seorang putrinya yang ternyata sudah menjadi istri Kyai Wilah. Mengetahui surat tersebut, Kyai Wilah merasa terhina dan segera menemui Adipati Bonjok.

Dalam pertempuran antar keduanya, kuda Adipati Bonjok roboh terkena tombak Kyai Wilah sehingga menyulitkan tuannya menagkis serangan. Sementars Kyai Wilah sendiri juga terluka parah, sehingga pincang. Ditengah kondisi fisiknya yang tengah melemah, Kyai Wilah mendengar kabar jika jabatannya akan digantikan orang lain. Karena merasa malu, maka secara diam-diam Kyai Wilah melarikan diri ke Purbalingga bersama putrinya. Mereka menetap di dukuh Wilangan Klapasawit sampai akhir hayat mereka.

Nah, pada hasil penelusuran Triatmo ini tidak dijelaskan apakah istri Kyai Wilah mengikuti kepindahannya atau tidak. Namun masyarakat sekitar percaya jika makam Sipothat adalah makam ibunda Mas Ajeng Lanjar.

Satu hal yang masih membuat saya bingung sampai hari ini adalah keengganan Sukarto untuk berbagi kisah yang diketahuinya secara detail. Alasannya ? "Nanti Mba-nya juga akan didatengin sendiri". Hmmm, masalahnya karena saya tak kunjung "didatangi" mungkin yang paling tepat adalah kembali menemui Pak Sukarto untuk diceritain secara langsung ya. Hehehe.. Semoga ada kesempatan untuk datang lagi dan dapat informasi lebih detailnya.


Kini nama Kyai Wilah juga diabadikan sebagai nama saluran irigasi di Kalimanah.

MASJID AGUNG DARUSSALAM

Selain Alun-alun bunder, Purbalingga juga dikenal dengan Masjid Agung Darussalam yang kini menjadi salah satu landmarknya. Dan bahkan kini telah menjadi salah satu tujuan wisata religi. Keunikan dan kemegahan arsitekturnya mengingatkan kita pada Masjid Nabawi di Madinah.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Masjid Agung Darussalam terletak di Jalan Jambu Karang no. 1 Kompleks Alun-alun Purbalingga. Seperti lazimnya di wilayah Jawa, maka masjid terletak di sebelah barat Alun-alun sebagai lambang kebaikan berseberangan dengan Lapas.

Masjid ini termasuk salah satu Cagar Budaya yang telah mendapatkan SK Menteri khususnya untuk kategori Bangunan Cagar Budaya. Meski bentuk aslinya banyak berubah, namun beberapa sisa ataupun bagian asli bangunan semisal pondasi masih tetaplah asli yang terbangun sejak tahun 1800-an.

Dibangun 1853

Embrio Masjid Agung ini adalah sebuah mushola atau langgar yang sejak awal dibangun di pusat kota pada tanah seluas 5.500 m². Menurut Imam yang juga Ketua Ta'mir Masjid Agung, K.H. Noer Issja, dahulu atapnya masih berupa rumbia dan terbilang kecil. Baru pada 1853 M atau 1269 H oleh K.H Abdullah Ibrohim Nawawi dibangun permanen dengan luasan sekira 25 m². "Kayu yang asli bertuliskan angka 1853 sampai sekarang masih kami simpan di gudang, namun tidak dapat dipertahankan dalam bentuk bangunan karena memang sudah lapuk", ungkap K.H Noer Issja saat ditemui beberapa waktu lalu. Meski hanya seluas 25 m² namun pada saat itu sudah dapat dikatakan besar, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Agung.

Saat pemugaran pertama tahun 1918

Kemudian pada tahun 1892, setelah K.H Ibrohim Nawawi lama meninggal maka kepengurusan masjid diambil alih oleh sang putra yaitu K.H Hardja Muhammad. Pada masa inilah berdasar perintah Raja Willem III, maka semua tanah di wilayah jajahan dipetakan. Status tanah yang semula dipakai menjadi diwakafkan dan dicatatkan di Kantor Agraria Purbalingga. Status tanah ini tercatat pada peta Zaakblad 2 Kotak D.7 BPN tertanggal 20 Februari 1892. Sekaligus pada waktu bersamaan para penghulu laandrat (petugas / pengurus agama pada masa penjajahan) diresmikan dan berpusat di Masjid Agung.

Dalam masa perkembangannya, pada 1918 oleh K.H Abdul Ammar, masjid ini kembali direnovasi dan diperluas dengan penambahan serambi ke depan dan beratap joglo. "Saat itu temboknya sangat tebal dengan kayu-kayu ratusan tahun yang diambil dari alas roban Pekalongan. Bangunannya masih awet sampai tahun 89-an", kisah K.H Noer Isjja. Selanjutnya pada tahun 1977 - 1985, tidak banyak terjadi perombakan. Salah satunya adalah penambahan kubah kecil di depan.

Masjid ini memang sempat 5 kali mengalami ronovasi. Dan pada pemugaran ke-4, rentang tahun 1989 - 1991, perombakan total terjadi. Dan masyarakat kemudian mengidentikkan Masjid Agung Darussalam dengan kubah besarnya yang dibuat pada 1991. Baru di tahun 2002-2004 pada masa pemerintahan Bupati Drs. Triyono Budi Sasongko, M.Si, kembali masjid ini berubah tampilan seperti Masjid Nabawi.

Mirip Masjid Nabawi

Dengan khas dominasi warna hijau, 2 buah menara setinggi 33 meter dan bentuk muka, samping, interior serta berbagai ornamen yang tampak, semakin mengingatkan kita pada salah satu masjid indah di Madinah ini. 

Ya, inspirasi bangunan masjid agung ini memang berasal dari Madinah. Setelah Bupati Triyono Budi Sasongko dan teamnya melakukan survey ke tanah suci, tidak lama kemudian pembangunan pun direalisasikan dengan total anggaran Rp.6.173.691.000. Dibiayai APBD untuk 3 tahun anggaran dan termasuk dana bantuan dari Gubernur Jawa Tengah.

Dengan bangunan seluas 1.900 m², masjid ini terbagi atas ruang serambi utama, serambi depan, ruang pendukung, selasar kanan, selasar kiri, selasar depan dan ruang sholat di lantai dua.

Meski terinspirasi dari masjid Nabawi, tidak berarti corak khas awal dihilangkan total. Terbukti atap joglo masih terus dipertahankan sampai sekarang. Paduan gaya arsitektur Arab dan Jawa yang menawan.

Wisata Religi

Dengan wajah baru inilah, Masjid Agung Darussalam terus dialiri kunjungan. Masjid ini seolah-olah dapat mengobati rasa rindu pada masjid Nabawi. Tidaklah mengherankan jika daftar kunjungan dan kegiatan keagamaan sangat padat di masjid ini. Bahkan sudah sejak 4 tahunan terakhir, peserta i'tikaf pun melonjak naik. Para peserta i'tikaf ini datang dari berbagai penjuru kota. Seperti Banyumas, Banjarnegara, Pemalang, Kendal dan sekitarnya.

Monumen Pers Nasional di Solo

Belasan tahun tak mengunjungi Solo membuat saya bingung. Banyak yang berubah. Berhubung urusan pekerjaan membuat saya baru bisa melepas penat jelang jam 17.00, maka pilihan pun hanya bisa jatuh ke Monumen Pers Nasional yang dekat dengan lokasi rapat. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Monumen yang terletak di Jalan Gajah Mada no 29 ini memiliki bentuk bangunan yang unik. Mirip candi. Orang masih banyak yang menyebutnya sebagai Societeit atau Kamar Bola. Dikenal sebagai kamar bola, karena bangunan mirip candi ini pada jaman dahulu sering dipakai oleh orang-orang Belanda bermain bola sodok atau billiard.


Cukup mudah menggapai tempat ini. Karena terletak di jalur utama dan berada dekat dengan Keraton Mangkunegaran. Tepatnya diarah barat Keraton dekat tugu perempatan jalan yang dahulu dikenal dengan sebutan bundaran air mancur. Atau seberang Taman Punggawan.

Tugu yang terletak di dekat Monumen


Taman Punggawan di seberang Monumen


SASANA SOEKA

Monumen Pers Nasional menempati gedung yang semula bernama Sasana Soeka atau Sasono Suko. Sebuah societeit milik Mangkunegaran dan dibangun pada 1918 atas prakarsa Sri Mangkunegara VII dan dibangun oleh seorang arsitek pribumi yang bernama Atmodirono. Gedung ini memiliki peran besar dalam dunia penyiaran dan pers Nasional. 

Pada 1 April 1933, di gedung ini diselenggarakan rapat yang melahirkan terbentuknya Soloche Radio Vereniging (SRV) yang menjadi cikal bakal media penyiaran (radio) di tanah air. Dan kemudian pada Sabtu Pahing, 9 Februari 1946 terbentuklah organisasi profesi wartawan dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI dengan ketua terpilih Mr. Soemanang.

10 tahun berselang, pada peringatan satu dasawarsa PWI, tercetuslah ide mendirikan sebuah Yayasan Museum Pers Indonesia. Gagasan dari B.M. Diah, Rosihan Anwar dkk itu tidak lama kemudian menjadi kenyataan. Setelah yayasan itu terbentuk, melalui Konggres Palembang 1970 kembali tercetus niat baru yaitu Museum Pers Nasional.

Dan pada 9 Februari 1971 Menteri Penerangan Budiarjo, menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Surakarta. Nama Museum Pers Nasional yang dicetuskan di Palembang ini kemudian diubah menjadi Monumen Pers Nasional dan atas usul PWI Cabang Surakarta. Hal ini terjadi pada Kongres di Tretes tahun 1973. Dan pada akhirnya, Presiden Soeharto meresmikan gedung societeit Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan penandatangan prasati pada 9 Februari 1978. 

Awalnya Monumen ini berada dibawah naungan Departemen Penerangan. Namun setelah lembaga ini dilikuidasi, Monumen Pers Nasional berada dibawah pengawasan Kementrian Komunikasi dan Informasi.

Berikut koleksi yang terdapat di Monumen Pers Nasional diambil dari mpn.kominfo.go.id



Dan berikut adalah koleksi yang terdapat diluar (hehehe... yang bisa saya foto cuma ini...)


UNIK



Selain bentuk bangunan yang mirip candi, seperti halnya bangunan kuno lainnya, gedung ini pun memiliki pintu dan jendela yang lebar. Khusus untuk temboknya menggunakan batu andesit dengan permukaan kasar sehingga benar-benar menyerupai candi lengkap dengan warna abu-abu gelapnya ini. 

Dibagian depan, terdapat hiasan berupa empat naga yang diberi nama Catur Manggala Kura. Penambahan ornamen naga ini baru dilakukan sekitar tahun 1977 hampir bersamaan dengan penambahan gedung baru 2 lantai di sisi kiri dan kanan dan satu gedung empat lantai di belakang bangunan utama. Sementara surya sengkala Muluking Sedyo kabangun Nagoro bermakna tahun 1980, yang merupakan angka tahun selesainya gedung Monumen Pers Nasional dibangun. Di belakang naga terdapat sebuah kentongan besar melambangkan alat informasi dan komunikasi pada zaman dahulu. Kentongan ini dinamakan Kyai Swara Gugah.


Monumen ini menyimpan banyak koleksi yang berkaitan dengan perjalanan panjang pers kita yang sebenarnya sudah dimulai sejak masa penjajahan. Kabarnya koran kuno tahun 1913 pun bisa ditemukan disini. Sayangnya, -lagi-lagi karena kesorean- saya datang hanya untuk melihat gerbang Monumen ditutup. Hiks,...

ADA BATIK SBY DI LIMBASARI

Batik. Siapa yang tidak kenal warisan kebudayaan ini. Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki keanekaragaman batik dengan kekhasannya masing-masing. Entah berapa macamnya. Karena satu kabupaten saja bisa memiliki lebih dari satu corak khas batik.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Beberapa waktu lalu, ketika jalan-jalan ke Limbasari saya juga menyempatkan diri mampir ke Galery batik Muning Sari. Ya, batik Limbasari merupakan potensi lokal yang sudah cukup memiliki nama. Meski masih belum bisa disamakan dengan batik Solo atau Pekalongan yang sudah lebih beken, namun pesonanya sudah mampu memikat banyak pihak. Bahkan menurut pengelola galery, Suci Rahayu, ada beberapa perkantoran di ibukota yang menggunakan seragam motif batik Limbasari.

Bagi masyarakat Limbasari yang agraris, membatik sudah umum dilakukan dari masa ke masa sebagai profesi sampingan. Dan kini di galery Batik Muning Sari inilah sebagian besar karya adiluhung mereka dititipkan.



Ditemui di galery-nya, Suci pun menunjukkan beberapa motif batik koleksi Limbasari seperti : motif Wahyu Tumurun, SBY, Salah Layur, Rujak Senthe dan motif-motif klasik semacam Udan Liris ataupun Kawung. 

Kebetulan batik trade mark mereka, Patrawisa sold out saat itu, sehingga saya pun belum melihat secara langsung motif batik yang kabarnya menggambarkan keindahan objek wisata Patrawisa ini. Lengkap dengan gambaran 2 gunung yaitu Pelana dan Tukung serta Sungai Wlingi-nya. Sementara itu batik Wahyu Tumurun menggambarkan garuda, sangkar dan keris. 

Nah, yang menarik lagi adalah batik SBY. Mengapa ya dinamakan SBY ? Menurut Suci, batik ini tercipta dalam sebuah lomba dan terinspirasi dari kemeja batik yang kerap dipakai Presiden. "Motifnya itu ketemu (dua garis bertemu membentuk huruf V) di depan atau di belakang", ungkap Suci.

Batik SBY


Batik Wahyu Tumurun

Dari segi pewarnaan, Batik Limbasari memiliki warna khas gelap yaitu dominan hitam dengan tambahan warna cokelat. Namun pada perkembangannya, warna kini jauh lebih bervariasi. Bergantung pesanan. "Maklum saja sekarang batik kan buat bikin baju, yang dipakai kain sudah jarang", tutur Suci. Alasan inipun berdampak pada perubahan ukuran kain. Jika semula kain batik memiliki lebar 1m x 2,5 m kini tersedia juga ukuran 1,15m x 2,5m. Satu batik dapat diselesaikan dalam waktu 1 bulan. " Kalau sedang ada pesanan, satu batik bisa dikebut dalam waktu 2 minggu", kata Suci.

Saat ini Limbasari hanya memiliki sekitar 20-an perajin batik. Sebagain besar telah berusia diatas 40 tahun. Generasi muda tidak banyak yang tergerak mewarisi tradisi ini. Dengan alasan pekerjaan ini kurang menjanjikan. Hal ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena itulah Suci yang juga berprofesi sebagai pendidik terus mengupayakan agar mapel muatan lokal dapat diisi dengan pelatihan membatik dasar. Meski untuk sarana dan prasarananya memakan biaya yang tidak murah, namun demi keberlangsungan batik Limbasari hal ini mutlak dilakukan.

Selain masalah sulitnya regenerasi, batik Limbasaripun terkendala masalah pemasaran. Perajin kerapkali harus menunggu pesanan atau membiarkan batiknya mengendap dahulu di Galery sampai ada pembeli yang meliriknya. Namun kurangnya promosi itu terus mereka akali dengan mencoba mengikuti beberapa pameran. Meski belum maksimal, namun upaya itu jelas masih lebih baik daripada sekedar promosi dari mulut ke mulut.

Limbasari sampai saat ini hanya memproduksi batik tulis. Dan dengan 3 kali proses pewarnaan sepertinya tidak berlebihan jika 1 lembar kainnya dihargai minimal Rp. 250.000,-. Ehm, untuk saya ini jelas berat. Hehe.. Karena minimnya isi kantong, sayapun melancarkan jurus menanyakan batik Limbasari dengan harga ekonomisnya. "Kami tidak membuat batik printing ataupun cap, Mbak", ucap Suci sembari tertawa kecil. Ya, para perajin batik Limbasari sampai saat ini memang masih belum terpikir membuat batik printing yang lebih mudah dan lebih ekonomis. Meski tak laku setiap hari, bagi perajin ini yang terpenting adalah dapat terus melestarikan tradisi membatik. Hmm, kalau sudah sampai pada tahap ini sepertinya harga yang dibanderol Rp250.000,- ini terbilang murah ya. Apalagi mengingat proses penciptaan seni selalu melalui pemikiran mendalam dan waktu yang panjang.

MENGUNJUNGI MAKAM SYECH MACHDUM KUSEN



Bagi masyarakat Rajawana nama Machdum Husen atau Machdum Kusen atau Kayu Puring memegang peranan tersendiri. Ia merupakan putra Nyai Rubiah Bekti dengan Pangeran Atas- Angin. Dengan demikian Machdum Kusen juga masih memiliki garis keturunan dengan Syech Jambu Karang. Dan sama seperti ayah dan kakeknya, Machdum Kusen pun turut menyebar luaskan ajaran Islam di wilayah tersebut.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Dalam sejarahnya, Syech Machdum Kusen pernah mengusir pasukan Padjajaran yang ini menguasai Bumi Cahyana. Sejak masa pendahulunya, Pajajaran memang merasa terancam dengan perkembangan Islam yang dilancarkan Syech Jambu Karang dan keturunannya. Dan Machdum Kusen sendiri memiliki andil besar dalam memukul mundur pasukan yang berniat menguasai Cahyana.

Dengan pertolongan Allah SWT, Machdum Kusen dapat memanggil ribuan tawon gung hanya dengan bantuan tetabuhan rebana atau terbang para Nyai. Hal inipun menjadikan pasukan lawan mundur karena tidak tahan menghadapi serangan lebah-lebah itu. Merekapun terpaksa pulang kembali ke daerah asal. Sungai yang menjadi saksi kembalinya mereka kemudian dinamakan Sungai Mulih dari arti kata kembali dalam bahasa Jawa. Dan kejadian inilah yang kemudian melatar-belakangi munculnya kesenian Braen di Rajawana. 

MAKAM


Makam Machdum Kusen diperkirakan telah mencapai ratusan tahun. Lokasinya terbilang cukup mudah unuk dijangkau. Tidak hanya itu, lokasinya yang berada tepat di tikungan menanjak Rajawana juga semakin mempermudah kita menggapainya. Seperti halnya para tokoh besar, makam inipun terletak di daerah dataran tinggi yang dikelilingi lereng.


Areal makamnya cukup luas serta terdapat pintu gerbang. Dan sebelum menuju cungkup tampak sebuah lingga yang sepertinya juga difugsikan sebagai nisan. 

Menurut juru pelihara makam, Anam Riyanto, lingga diluar ini diduga nisan salah salah pengikut Machdum Kusen. Tidak hanya itu, sebuah patung harimau loreng pun tampak turut menjaga makam ini. Namun yang pasti keberadaan patung tersebut hanyalah sebuah bentuk ekspresi seni dari donatur yang turut mengelola makam ini.


Cungkup makam ini termasuk bangunan baru dan sudah beberapa kali mengalami perombakan. Nisan dan jiratnya terbuat dari batu bata dengan ukuran bata 20 cm x 30 cm x 10 cm.

Makam ini biasanya ramai dikunjungi pada malam Selasa atau Jumat Kliwon. Meski belum seramai makam Wali Songo, namun dalam beberapa tahun terakhir banyak rombongan datang terutama dari Brebes, Pemalang, Cilacap dan Banjarnegara.

JALAN-JALAN KE SEGARA WURUNG

Istilah ayune nggunung sepertinya berlaku juga untuk ayune segara wurung. Bentangan alam pedesaan ijo royo-royo di sebuah lembah ini terlihat luar biasa cantik dari ketinggian.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana



Terletak di dukuh Kepethek desa Sindang kecamatan Mrebet, segara wurung memang tidak banyak dikunjungi. Selain lokasinya yang cukup sulit untuk dijangkau, tempat ini juga memang bukan merupakan salah satu tujuan wisata. Tapi untuk para pecinta pemandangan menawan yang ada sudut-sudut jauh, sepertinya tempat ini sangat sayang untuk dilewatkan.



Lalu mengapa desa dibawah sana ini dinamakan segara wurung? Benarkah ini merupakan sisa jaman es ? Wah, saya kejauhan ya mikirnya ? Soalnya banyak temuan cangkang kerang laut, sih. Sayangnya, karena sepanjang jalan tidak ada seorangpun yang berhasil ditemui, alhasil mari cukup mereka-reka dulu dalam hati. ;)

JALAN-JALAN KE SITUS WATU LUMPANG BUARA

Situs prasejarah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia banyak meninggalkan temuan-temuan dari batu yang masih berfungsi sebagai sarana pemujaan terhadap arwah leluhur. Begitupun dengan yang ada di Purbalingga. Apalagi ketika kita menyisir jalur pegunungan utara. Mulai dari Ponjen, Dagan, Palumbungan sampai Limbasari bahkan disebut-sebut sebagai kawasan situs perbengkelan terbesar di Asia Tenggara.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

CANDI LUMPANG


Nah, kali ini jalan-jalan saya adalah ke salah satu desa di dekat Ponjen. Jika Ponjen dikenal dengan gelang batu-nya, maka di dusun Gampingan desa Buara ini terdapat watu lumpang. Masyarakat luas menyebutnya sebagai "candi watu lumpang", sedangkan daftar inventaris BCB (Benda Cagar Budaya) setempat menyebutnya sebagai situs watu lumpang desa Buara.

ALAM NATURAL

Jalur termudah untuk meunju desa Buara adalah melalui desa Lumpang Kecamatan Karang Anyar. (notes. Lumpang adalah desa sentra penghasil kipang kacang di Purbalingga). Dengan melewati jalur ini, perjalanan terasa mudah karena hanya ada satu jalan utama.

Situs Watu Lumpang ini terletak searah dengan Balai Desa sekira 200 meter dari pusat pemerintahan desa ini. Jika bingung, papan penunjuk arah ke Gampingan juga dapat ditemukan di depan Balai Desa Buara ini. Sepanjang jalan, mata akan disuguhi view areal sawah dan bukit luas yang membentang. Asri dan mendamaikan.

Nah, mendekati lokasi, kita akan menemukan sebuah jembatan kecil di samping jalan. Dari luar memang hanya terlihat rumah dan kebun semata. Namun ketika masuk, maka situs batu lumpang ini baru terlihat jelas.

CANDI

Ketika masuk, saya smepat mencari-cari dimana ada bangunan candi. Namun ternyata "candi" ini merujuk pada maksud sebuah tempat yang sengaja dibangun untuk kepentingan pemujaan. Candi ini berupa tumpukan batu basalt setinggi 50 cm berbentuk denah 4 persegi panjang dengan ukuran 8,5 x 7,7 m.


Di sisi timur dan barat terdapat pintu masuk selebar 1 meter. terdapat juga undakan rendah menuju ke dalam di depan pintu masuk. Di dalam "candi" terdapat beberapa peninggalan pra-sejarah yanitu : lumpang, alu (menhir) dan lesung. Menurut data awal yang saya peroleh lesung disana berjumlah 3 buah, namun beberapa bulan lalu kesana, saya hanya menemukan 1 buah lesung.

Nah, "candi" ini berada di kebun milik keluarga Tirtawireja yang kini juga merangkap sebagai jupel dan kuncen. Pengunjung biasanya datang pada saat memiliki hajat tersendiri. Kebanyakan mereka yang hendak maju dalam bursa pilihan kepala desa akan datang ke tempat ini. Atau mereka yang sedang membutuhkan obat, terutama sakit perut, juga kerap mencari genangan air di lumpang untuk dibawa pulang. bagi yang mempercayainya dengan mengoleskan air tersebut pada perut, maka sakit akan hilang. Lumpang ini sendiri bukan merupakan tuk (mata air) dan hanya tetesan hujanlah yang mengisinya.


Candi ini berorientasi barat timur. Dengan lumpang berukuran panjang dan lebar 80 cm, diameter 50 cm, tinggi 39 cm dan kedalaman 27 cm.


Sementara alu atau menhirnya memiliki bentuk bermacam. Menhir pertama berukuran 50 x 30 cm, menhir kedua 45 cm x 15 cm dan menhir ketiga 10 x 10 cm.Sedangkan lesungnya sebagian sudah tertimbun tanah dengan ukuran panjang sekira 60 cm.


Diperkirakan pada jaman dahulu, alu-lesung-lumpang ini menjadi situs pemujaan untuk meminta kesuburan. Hal ini ditandai juga dengan adanya sumber air di sekitar situs. Air selain sebagai sarana bersuci sebelum pemujaan juga menjadi mata air bagi tumbuhan yang ditanam. Dan sampai saat ini di sekitar lokasi situs juga membentang luas persawahan milik warga.

MITOS

Situs watu lumpang kerap dikaitkan dengan kisah "lemah lanang" sebutan untuk tempat yang konon dihuni oleh bangsa lelembut. Di tempat ini tersebut 3 nama yaitu Gadung Sari, Gadung Melati dan Nata Jiwa. Namun siapa tokoh ini tidak ada kejelasan ceritanya. mereka hanya disebut sebagai "penunggu" candi.

Menurut Tirtawireja, pada malam Jumat Kliwon kerap terdengar bunyi kotekan lesung dari candi. Namun, suara tersebut akan terdengar semakin jelas dari tempat yang lebih jauh dari candi. beberapa penduduk desa tetangga yang saya temui juga mengakui hal ini. Sampai sekitar tahun 80'an, kotekan lesung masih kerap terdengar. Dan hal ini jugalah alasan candi watu lumpang masih terus disakralkan penduduk sekitar. Tidak hanya itu, ada sebuah kepercayaan yang berkembang jika candi ini merupakan pusat desa Buara yang ketika rusak maka hancur jugalah desa ini.

Nah, karena masih dikeramatkan, maka ada pantangan bagi penduduk di sekitar candi. Pantangannya : DILARANG membangun rumah di barat dan timur candi, karena berarti menghalangi pintu masuk.

Orang tua Tirtawireja mengalaminya sendiri. Rumah yang baru mereka bangun di timur candi secara mengejutkan ambruk tanpa ada angin ataupun hujan. Dan setelah dipindah di utara candi, rumah tersebut aman dan tetap berdiri sampai saat ini. Bahkan sekarang beberapa rumah tampak berjajar di utara candi

LUMPANG

Hal lain yang menarik dari candi ini adalah namanya. Lumpang tidak hanya berarti batu lumpang melainkan mengacu pada nama tetangga desa Buara yaitu desa Lumpang. Apakah kaitan keduanya?

Menurut cerita rakyat yang berkembang, dahulu warga desa Lumpang secara bergotong royong memindahkan alu, lesung dan lumping ke pertigaan kecil di dekat sungai desa Lumpang. Proses pemindahan ini memakan waktu seharian. Namun apa yang menjadi alasan warga Lumpang memindahkannya tidaklah diketahui. Sesaat usai dipindahkan, hujan lebat disertai angin besar melanda desa Lumpang. Dikarenakan malam menjelang, warga pun memutuskan bertahan di dalam rumah sampai keesokan harinya. Ketika pagi, warga beramai-ramai menengok candi baru mereka. Tapi apa yang didapati? Candi itu sudah tidak ada di tempatnya dan malah kembali ke lokasi semula di dukuh Gampingan desa Buara. Sejak itulah, karena sudah pernah berpindah ke desa Lumpang, maka tempat ini disebut sebagai Candi Watu Lumpang Desa Buara.

“Jadi sampeyan itu sudah sampai ke desa Lumpang kalau sudah mencapai candi watu lumpang”, pungkas Tirtawirwja

JALAN - JALAN KE GOA GENTENG



Goa Genteng. Nama ini sesungguhnya cukup asing bagi masyarakat Purbalingga. Meski beberapa blog pribadi sempat menuliskannya sebagai salah satu tujuan wisata di bhumi Perwira ini. Namun hanya petunjuk berlokasi di Candinata sajalah yang menjadi informasi dari goa hasil lelehan lava ini.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana

Dikarenakan penasaran beberapa waktu yang lalu, Goa Genteng pun menjadi target jalan-jalan kami. Jalan menuju lokasi tidak dapat diblang mudah. Berada di kawasan perbukitan, menjadikan tidak ada kendaraan (bahkan sepeda motor sekalipun) untuk menjangkau lokasi. Team-pun harus berjalan kaki naik turun bukit untuk menemukan keberadaan Goa Genteng ini.


Terletak di dusun Karang Jengkol desa Candinata goa ini berjarak sekira 8 km dari pusat kota. Perbukitan di sekitar Goa Genteng sebagian difungsikan sebagai ladang-ladang warga. Sehingga sepanjang perjalanan, beberapa warga yang tengah berladang masih dapat kita temui.

Dengan diantar salah seorang warga, team-pun berhasil menuju Goa Genteng. Mulut goa-nya cukup kecil, namun masih cukup untuk masuk satu orang dewasa. Tumbuhan liar di sekitar mulut goa seolah menunjukkan jika goa ini tidak sering dikunjungi. Tepat di samping gua terdapat sungai bernama Kajar. Namun tidak ada setetes air pun yang terlihat di Kali Kajar ini. Entah saat musim penghujan.


Ketika melongok di dalam goa, salah seorang anggota team melihat beberapa undakan menuju ke dalam goa. Namun karena sangat gelap dan pengap, maka team-pun memutuskan tidak masuk.


KISAH RADEN KALIGENTENG

Sementara itu, beberapa petani yang kami temui mengatakan jika goa tersebut dahulu merupakan tempat bertapa Raden Kaligenteng putra Bupati Kertabangsa. Lalu siapakah tokoh-tokoh ini ? "Sengiyen cerita Kaligenteng niki sampun nate dimainaken teng ketoprak radio", tutur salah seorang petani tanpa mau menceritakan kisah detailnya. Sedangkan salah seorang yang bekecimpung di zona budaya lokal Purbalingga mengatakan asing dengan goa genteng ini.

Hmmmm, ada apakah sebenarnya dibalik kisah Kaligenteng ini ? Berhubung tak jua kunjung mendapatkan narasumber, maka googling menjadi pilihan terakhir. Mau tau lebih lengkapnya juga? Silakan klik Cerita rakyat dari Banyumas - Page 13 - Google Books Result

( thx to Luke & Yatno)

MBAH SUGINI, JUALAN CINCAU SEJAK 1964

Pagi itu saya janjian dengan salah seorang teman yang tengah merekomendasikan kuliner kaki lima yang segar dan nikmat. "Jangan kesiangan ya, tar keabisan", bunyi sms teman saya ini. Dan jam sembilan pagi pun kami meluncur ke lokasi.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Perempatan Bancar pagi itu sudah cukup padat. Selain memang lalu lintas yang terbiasa ramai, beberapa orangpun tampak bergerombol di trotoar. Seorang wanita sepuh tampak cekatan meracik cincau dengan santan, air gula dan es batu dalam gelas - gelas yang sudah berjajar rapi.

"Monggo Mba", sapanya ramah sembari terus meracik es cincau pesanan orang. Wanita murah senyum ini adalah Mbah Sugini (73) yang mengaku berjualn es cincau sejak 1964.

"Dulu tahun 1964 saya jualan cincau di GMIT (pabrik tembakau tinggalan kolonial). Terus tahun 1967 pindah jualan di pabrik Bojong (pabrik penggilingan padi) yang sekarang jadi taman Bojong. barulah pada 1973 saya jualan di sini (perempatan Bancar) sampai sekarang", kenangnya dalam bahasa Jawa khas Banyumasan.

Sejak dulu, pelanggannya memang banyak. Dan untuk terus mempertahankan para penikmat cincaunya, Mbah Sugini tidak mengubah komposisi bahan dasarnya. Yaitu daun cincau lokal, santan dan air rebusan gula merah yang diracik sendiri tanpa tambahan pengawet, pewarna, dsb.

"Air bikin cincaunya juga air mateng", tandas Sugini yang selalu berupaya menyajikan menu sebaik mungkin. Bahkan cincaunya pun selalu segar. Setiap jam 6 pagi, dirinya baru memulai membuat cincau yang jumlahnya bisa mencapai 3 stoples besar. "Kalau bikinnya malem, ya wayu (basi) dong Mba", ujarnya. 

Untuk membuat cincau ini, dia harus kulakan ke desa-desa di Purbalingga. Menurutnya cincau yang enak dan tidak langu justru berasal dari daun tumbuhan cincau lokal yang berbulu. Jika dibuat jam 6 pagi maka dua jam kemudian es cincau sudah mulai dapat dinikmati pembeli. Jadi tidak mengherankan jika kemudian jam 11 siang pun kita sudah kehabisan minuman segar ini.

Selain citarasa yang tetap terjaga, Mbah Sugini pun menjadikan harga jualannya tetap merakyat. Dari tahun 1964 yang seharga 1 Ringgit (setara Rp. 2,5) kini di tahun 2013 es cincaunya hanya dilabeli harga Rp. 1.500,-. Dengan harga inilah, Mbah Sugini mampu menyajikan sekitar 100 gelas es cincau setiap harinya. 

Meski selalu balik modal setiap harinya, Mbah Sugini tetap tampil dengan segala kesederhanaannya. Lapaknya pun hanya berupa meja kecil di bawah pohon yang bisa dipindahkan sewaktu-waktu. Bagi wanita yang sudah memiliki buyut ini, sekarang yang terpenting adalah dia tetap sehat menjalani masa tua bersama suaminya. "Saya mau terus jualan", tegasnya. Bukan hanya sekedar menjadi kesibukan di usia senjanya namun juga untuk menolong orang-orang yang kehausan di jalan.

PUTRI AYU LIMBASARI, SYECH GANDIWASI DAN PATRAWISA

Selalu saja ada yang menarik ketika berkunjung ke Limbasari. Desa ini terletak sekira 15 km dari pusat kota Purbalingga. Terletak di Kecamatan Bobotsari, Limbasari menyimpan banyak kekayaan. Mulai dari potensi temuan peninggalan neolitikum, wisata alam Patrawisa sampai legenda Putri Ayu Limbasari.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Nah, untuk melepas lelah sepertinya berwisata akhir pekan ke Patrawisa bisa menjadi pilihan. Terletak di lembah Gunung Tukung dan Gunung Pelana, menjadikan pesona kecantikan alam Patrawisa mampu memikat seseorang untuk datang lagi dan lagi. 

Untuk menuju bendungan Patrawisa hanya dibutuhkan waktu sekira 30 menit berjalan kaki sejauh 1,7 km. Ya, Patrawisa adalah bendungan atau dam yang membendung pertempuran Sungai Tuntung Gunung dan Sungai Wlingi. Tidak hanya itu, air terjun mini serta sendang-sendang jernih semakin menyegarkan sesampainya di lokasi. Lalu siapakah Patrawisa sehingga namanya diabadikan untuk tempat indah ini?


Patrawisa adalah nama salah seorang cantrik Syech Gandiwasi. Dan Syech Gandiwasi inilah yang menjadi leluhur dari sosok Putri Ayu Limbasari yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat di lembah Gunung Pelana ini.

GANDIWASI PENYEBAR ISLAM

Syech Gandiwasi adalah seorang penyebar Islam asal Turki. Ia datang kepada Panembahan Senopati di Mataram guna memohon ijin untuk dapat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Berbeda dari utusan Raja yang memilih membangun pusat pemerintahan, Syech Gandiwasi justru membangun sebuah padepokan dengan nama Nimba Sari.

Menurut folklore Syech Gandiwasi  lebih dulu tiba di Kedung Belis sebelum mencapai Limbasari. Ia bersemedi akibat banyaknya gangguan tak kasat mata. Tempat bertapanya ini kemudian dinamakan Dukuh Pamujan. Usahanya memohon kepada Tuhan tak sia-sia, para jin pun berhasil menyingkir setelah sebelumnya sempat berkejaran (dalam bahasa Jawa disebut dengan udag-udagan). Dan kejadian ini menghasilkan nama wilayah Desa Dagan. Peristiwa semisih atau menyingkirnya para jin ini membuat wilayah tersebut dikenal dengan nama Penisihan. Dan untuk mengetahui kemana arah yang hendak dituju, Syech Gandiwasi menumpangkan dua batu sebesar rumah untuk melihat kondisi dari atas. Tempat ini berada di tanjakan tinggi sebelum menuju Patrawisa dan dinamakan dengan Watu Tumpang. Dan dari sinilah, perjalanan dilanjutkan ke arah hutan yang kini dikenal dengan nama Limbasari.

Menurut Sekdes Limbasari, R. Edi Prasojo, Syech Gandiwasi kemudian berputra Ketut Wlingi. Sementara dari data lain yang saya peroleh menyebutkan jika Ketut Wlingi adalah murid Gandiwasi yang datang dari Bali bersama Patrawisa. Ketut Wlingi kemudian dinikahkan dengan Siti Rumbiah, putri sang guru. Sementara Patrawisa kabarnya meninggal dunia saat sedang membangun saluran air. Itulah mengapa kemudian, bendungan di Limbasari ini dinamakan dengan Patrawisa.

Bendungan Patrawisa

Meski terdapat perbedaan, yang pasti dari pernikahan Ketut Wlingi dan Siti Rumbiah menurunkan Wlingi Kusuma dan Sri Wasiati. Sri Wasiati inilah yang kemudian dikenal dengan julukan Putri Ayu Limbasari.

PUTRI NAN CANTIK

Sri Wasiati dikenal akan kecantikannya yang mempesona. Para adipati di sekitarnya pun berkeinginan meminang. Diantara mereka yang datang melamar antara lain adalah Adipati Wirayuda, Adipati Wiratenaya, Adipati Wirataruna dan Adipati Wirapraja.

Lamaran yang datang bersamaan itu membingungkan Sri Wasiati. Dan melihat kegundahan hati sang adik, Wlingi Kusuma berupaya mencarikan solusi. Yaitu : siapapun yang berhasil mengalahkannya adalah dia yang berhak menjadi pendamping Sri Wasiati. 

Namun ternyata keempat-empatnya tidak dapat mengalahkan kesaktian Wlingi Kusuma dalam pertandingan satu lawan satu. Sehingga muncul ide untuk mengeroyok Wlingi Kusuma. Dan benar saja, aksi pengeroyokan yang dilanjutkan dengan memotong bagian tubuh menjadi beberapa bagian ini membuat Wlingi Kusuma kalah. 

Bagian kepala Wlingi Kusuma dikuburkan di Siregol Tlahab, bagian badan atau gembungnya dikuburkan di Palumbungan Dagan, bagian kemaluannya dikuburkan di Sikonthol dusun Beji Karang Anyar sedangkan bagian kakinya dikuburkan di wialyah hutan perbatasan Banjarsari Karang Jambu dan dikenal dengan nama Lemah Jejekan.

Kematian Wlingi Kusuma yang tidak semestinya menjadikan Sri Wasiati semakin bingung. Sehingga untuk memohon petunjuk Tuhan, Sri Wasiati pun memutuskan melakukan tapa pendem di dekat padepokannya. Dalam laku ini, dia akan menguburkan dirinya dalam tanah yang diberi seutas benang panjang. Jika saat ditarik benang masih dapat ditarik artinya Sri Wasiati masih hidup, begitupun sebaliknya.

Kedung 3, dipercaya sebagai tempat mandi sang Putri yang kini “ditunggu” Nyai Gadung Sari dan Raden Mas Jangkar. Tempat ini ramai dikunjungi pada malam Kliwon sekira dini hari. Mitosnya siapa yang berhasil mandi atau cuci muka di tempat ini akan awet muda atau cepat terkabul hajatnya.

Kedung 2

Kurang lebih selama satu minggu, Sri Wasiati melakukan tapa pendhem, benang tak lagi dapat ditarik. Karena itulah tempat tapa tersebut segera digali. Betapa kagetnya keluarga sang putri dan keempat adipati tadi setelah menemukan putri cantik ini tidak lagi bernyawa. Namun apa yang dapat diperbuat, meski para adipati menyesal nyawa sang putri tetap tidak dapat diselamatkan lagi. 

Sri Wasiati mengambil langkah ini bukan tanpa alasan. Karena jika salah satu dari keempat adipati ini menjadi pilihannya maka kondisi desa tempat tinggalnya akan menjadi tidak aman. Inilah bentuk pengorbanannya pada masyarakat. Setelah kejadian ini, keluarga Putri Ayu Limbasari meninggalkan padepokan dan menuju ke Srandhil hingga akhir hayat mereka.


Dari kejadian ini, dapat dipetik jika perebutan tahta, harta atapun wanita pastilah akan selalu memakan korban. Hingga saat ini makam Putri Ayu Limbasari masih terjaga dengan baik. Makamnya terletak di seberang Galeri Batik Muning Sari dan masih cukup sering dikunjungi. Dipercaya lokasi makamnya berada di tanah tempat dahulu padepokan Nimba Sari berada. Namun sisa-sisa padepokan Nimba Sari sudah tidak ada satupun yang dapat kami temui.

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...