Langsung ke konten utama

JALAN-JALAN KE SEGARA WURUNG

Istilah ayune nggunung sepertinya berlaku juga untuk ayune segara wurung. Bentangan alam pedesaan ijo royo-royo di sebuah lembah ini terlihat luar biasa cantik dari ketinggian.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana



Terletak di dukuh Kepethek desa Sindang kecamatan Mrebet, segara wurung memang tidak banyak dikunjungi. Selain lokasinya yang cukup sulit untuk dijangkau, tempat ini juga memang bukan merupakan salah satu tujuan wisata. Tapi untuk para pecinta pemandangan menawan yang ada sudut-sudut jauh, sepertinya tempat ini sangat sayang untuk dilewatkan.



Lalu mengapa desa dibawah sana ini dinamakan segara wurung? Benarkah ini merupakan sisa jaman es ? Wah, saya kejauhan ya mikirnya ? Soalnya banyak temuan cangkang kerang laut, sih. Sayangnya, karena sepanjang jalan tidak ada seorangpun yang berhasil ditemui, alhasil mari cukup mereka-reka dulu dalam hati. ;)

Komentar

Banyak Dicari

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yang menjajakannya semasa hidupnya dulu. • oleh Anita Wiryo Rahardjo • Warisan Budaya TakBenda (WBTB) menjadi sematan label pada karya istimewa pria asal Kecamatan Rembang Purbalingga, yaitu Mbah Gepuk. Ia menekuni pembuatan wayang suket sejak 1921 hingga akhir hidupnya pada 2002. Sebagian kisah tentangnya telah dituliskan melalui akun Medium Anita Wiryo Rahardjo yang dapat diklik disini .   Berjalan dan Berjualan Selain Pasar Bantarbarang , Mbah Gepuk berjalan kaki dari rumahnya ke Pasar Losari serta Pasar Semampir . Semuanya ada di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Ia membawa sejumlah wayang yang telah dikerjakan sebelumnya untuk dijual. " Ke Losari kalau pasaran manis dan ke Semampir saat pasaran pon ", cerita Badriyanto, cucu dan penerus Wayang Suket Mbah Gepuk. Foto diambil dari akun Medium Anita Wiryo Rahardjo sendiri ya. Me...

KASURAN

Otak saya pernah dengan mentah menerima kata “ kasuran ” sebagai  kasur  +  an . Padahal yang dimaksud adalah  ka  +  sura  +  an . Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Kasuran merupakan nama jenis rumput yang secara khusus dipakai sebagai bahan utama Wayang Suket khas kecamatan Rembang, Purbalingga. Tepatnya di desa Wlahar. Wayang ini menjadi khas karena hanya seorang saja perajin awalnya. Yaitu Mbah Gepuk . Nama aslinya Kasanwikrama Tunut. Konon  suwargi  melewati masa kanak-kanak sebagai bocah angon yang tentunya akrab dengan alam dan padang rumput nan luas. Menghadapi usia senja, ia banyak menepi dan mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh – tokoh legendaris dalam kisah pewayangan. Ia aktif membuat wayang suket sejak 1920-an. Meski telah menghadap sang Khalik pada 2002 silam, beberapa karya Almarhum Mbah Gepuk masih kerap dipamerkan. Seperti : Gatotkaca dan Rama Shinta.     Kasuran di Pulau Dewata Kini...