Friday, 8 June 2018

Serat


Hari kesekian dalam sebuah perjalanan panjang tak bertepi. Sugeng ngayaih poso kagem ingkang nglampaih. Saya tidak akan mengajak pikiran mengembara ke tempat-tempat persinggahan saya. Karena saya tengah mempersiapkan diri untuk menepi.

(diluar pro kontra penggunaan kata mana yang lebih tinggi perempuan atau wanita, saya hanya ingin mengatakan bahwa) Menjadi perempuan berarti mempersiapkan diri menjadi tempat bagi orang-orang yang dipilihnya untuk menempa diri. Seperti halnya empu yang memilih material khusus untuk kemudian menjadi pusaka. Meski jauh berbeda, saya akrab dengan langkah per langkah menyulap logam menjadi bentuk elok. Ayah saya adalah pengrajin perhiasan emas. Lalu apa yang kemudian merasuk dalam otak saya saat ini ?

Di tengah kesiapan menuju masa dormansi yang entah kapan berakhir, saya seolah dibawa melihat kembali bagaimana benturan antar logam dan hembusan api meleburkan bentuk awal. Leburan yang melentur → memadat → lentur kembali → padat lagi begitu seterusnya hingga menghasilkan bentuk serupa keinginan perajin. Proses yang berulang ini tak dapat kita patok jumlahnya. Disinilah dituntut keuletan dan kepasrahan perajin. Dan apa yang dilakoni Empu pastilah jauh lebih berat dari itu. Karena bukan semata bentuk keindahan yang hadir namun pusaka yang memiliki pamor. Jiwa. Meskipun tetap harus diingat bahwa  pamor yang muncul adalah suatu anugerah bukan tujuan.

Bagi Empu, material bukan seonggok benda mati. Ia dianggap memiliki rasa. Jadi bisa dibayangkan seperti apa ketika keduanya saling merasakan kelelahan saat proses peleburan dan pembentukan ? Empu tak boleh menyerah. Yang diperlukannya hanya berdiam diri sejenak.

Perempuan pun tak berbeda. Untuk sanggup menempa ia harus mengokohkan dulu posisinya. Ia boleh menangis meraung tapi tidak saat menempa. Ia boleh meracau kekecewaan dan kelelahan namun tidak saat menempa. Ia harus terus memohon untuk hasil terbaik bahkan diluar kondisi menempa. Srah ing Bethara. Karena yang ditempa perempuan bukan material meteorit dan logam pilihan, namun jiwanya sendiri dan separuh jiwanya.

Jadi mengertilah, bahwa tempaan bukan untuk menyakiti. Bukan sekedar meleburkan. Bukan upaya menjadikan satu bentuk baru tanpa persetujuan. Karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pusaka yang dapat melindungi dari mala. Dan hati saya meyakini, kamu sanggup. Mari kita menepi untuk memulai kembali semua proses tempaan ini.

Tuesday, 29 May 2018

KASURAN


Otak saya pernah dengan mentah menerima kata “kasuran” sebagai kasur + an. Padahal yang dimaksud adalah ka + sura + an.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Kasuran merupakan nama jenis rumput yang secara khusus dipakai sebagai bahan utama Wayang Suket khas kecamatan Rembang, Purbalingga. Tepatnya di desa Wlahar. Wayang ini menjadi khas karena hanya seorang saja perajin awalnya. Yaitu Mbah Gepuk.

Nama aslinya Kasanwikrama Tunut. Konon suwargi melewati masa kanak-kanak sebagai bocah angon yang tentunya akrab dengan alam dan padang rumput nan luas. Menghadapi usia senja, ia banyak menepi dan mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh – tokoh legendaris dalam kisah pewayangan. Ia aktif membuat wayang suket sejak 1990-an. Meski telah menghadap sang Khalik pada 2002 silam, beberapa karya Almarhum Mbah Gepuk masih kerap dipamerkan. Seperti : Gatotkaca dan Rama Shinta.

tumbuh di Pulau Dewata

Kini keahlian menganyam rumput kasuran menitis pada cucunya, Badriyanto. Ketika bersua beberapa minggu silam, ia mengatakan bahwa bahan baku menipis. “Sudah sejak Sura kemarin malah”, ujarnya. Entah apa penyebabnya. Cuaca ataukah kondisi alam Wlahar yang berubah ? Ah, kita tidak paham secara pasti. Badri sendiri sudah mencoba membiakkan suket kasuran melalui polybag. Namun hasilnya belum bisa disebut mencukupi kebutuhan bahan baku.

Ide pembiakan melalui polybag dilakukannya saat ia bertukar pikiran dengan perajin Bali. Perajin disana berharap bisa memperoleh bahan baku serupa aslinya. Lalu apakah suket kasuran bisa tumbuh di udara Pulau Dewata ? Badri menggangguk. Hanya saja ia belum mengetahui kelanjutannya kini.

Sebenarnya beberapa pihak mencoba mengembangkan wayang suket dengan jenis rumput lain. Mengingat kelangkaan bahan bakunya. Namun hasilnya tak dapat seawet suket kasuran. “Sampai 20 tahunan lebih masih bagus kok ”, imbuhnya. Bahkan Badri juga membocorkan untuk perawatannya pun tidak rewel. Cukup dibersihkan dengan kuas dan diangin-anginkan sesekali.

Siapa sangka ya dari rumput seperti pada gambar ini, kita mendapati karya luar biasa berupa wayang. Dalam prosesnya, rumput ini akan dijemur sampai kering usai dipanen. Kemudian direndam dan ditiriskan hingga kering dan siap untuk dianyam. “Kalau nemu ada warna hijau sedikit, artinya proses jemurnya agak kurang kering”, pungkasnya sembari menunjukkan sebuah karya yang tengah dipajang di sebuah pameran siang itu.