Postingan

KASURAN

Gambar
Saya pernah dengan mentah memaknai kata kasuran sebagai kasur dengan akhiran –an . Bisa saja sebenarnya, selama kata ini tidak dikaitkan dengan rumput. Karena rumput kasuran sudah menjadi kesatuan dengan Wayang Suket khas Purbalingga. Secara bentuk wayang suket ini tidak ada bedanya dengan wayang kulit. Sama-sama berwujud tokoh dalam cerita Mahabarata. Namun bahan pembuatan itu yang menghasilkan perbedaan yang tampak nyata. Wayang suket tidak memiliki warna selain kecoklatan lazimnya rumput kering. Siang itu saya mendapat kesempatan melihat Mas Badri berjaga di stan pameran di halaman Pendopo Kabupaten Purbalingga. Ia diundang khusus untuk menunjukkan hasil karya warisan kakeknya.  Wayang Suket miliknya ini berbeda dengan yang lain. Rumputnya bukan sekedar dirangkai, melainkan dianyam. Dan lebih unik lagi karena bahan bakunya itu tadi. Bukan rumput pada umumnya, karena rumput kasuran hanya tumbuh di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Mas Badri memang asli pendud...

Joglo Kembar, Pagi Itu

Gambar
Hari itu, bisa dikatakan masih cukup pagi. Orang-orang juga terlihat sudah memulai kesibukannya. Hari ini agenda saya adalah menuju ke museum di pusat kota Purbalingga. Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Tak lama setelah tiba, ada satu keluarga kecil menyusul. Saya menduga mereka tersasar. Dari dialeknya terdengar mereka bukan penduduk lokal seperti saya.  Tapi, tidak! Pria satu-satunya dalam keluarga itu tampak langsung memandang bangunan joglo di depan saya ini. Ia terlihat mencari-cari. Namun kalimat yang keluar cukup mengejutkan. "Saya rindu" , katanya pelan. Saya panik. Bukan karena saya merasa mengenalnya, namun lebih pada ada geletar ngilu dalam nada bicaranya yang telah bergetar dimakan usia. "Joglo ini baru ya?", tanya ia kemudian. Saya hanya bisa menjawab sebatas yang pernah disampaikan pemandu museum ini. Meski tak bisa dikatakan sepenuhnya baru, namun peresmian museum ini di tahun 2003 pastilah sangat jauh dari apa yang pria ini tengah cari. ...

Setup Nanas Kemasan a la Siwarak

Gambar
Rasanya menyenangkan ketika kenalan lama tetiba teringat bahwa saya sangat suka icip-icip . Apalagi menu rumahan.  Siang itu, saya bertemu salah seorang pegiat pokdarwis di Goa Lawa, Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja. Awalnya hanya menitipkan kendaraan saja, tak disangka pulangnya saya diberi oleh-oleh.  Mas Tompel, begitu ia biasa dikenal membawakan saya sejumlah nanas dan setup nanas kemasan. Khusus yang terakhir, ia bilang, akan menjadi produk oleh-oleh khas baru. Setup nanas, bukanlah hal baru di keluarga saya. Sejak kecil saya akrab dengan paduan wangi segar air nanas, kayu manis, pandan dan sedikit cengkih. Baik ibu ataupun uyut saya suka membuatnya di sore hari. Wangi rempah dan buah ini memang terasa magis di kala sore. Masalahnya, saat ini sudah sangat sulit mendambakan menu ini benar-benar hadir di rumah. Jadi, rasanya senang bisa mendapatkan setup nanas versi kemasan seperti ini. Terlepas dari citarasanya yang berbeda. Ini hanya masalah selera saja. Menariknya oleh...

Arsantaka dan Purbalingga

Gambar
Suasana selepas Jumatan yang lengang. Mataharinya terik. Dan saya malah mengiyakan ajakan ke makam. Beruntung juru kunci makam, Pak Karso, mempersilakan kunjungan ke Makam Arsantaka di siang bolong.    Siang itu, saya tidak sendiri. Ada tiga gadis remaja yang memaksa saya ikut. Tidak jauh dari pusat kota Purbalingga, cukup mudah menemukan areal makam ini. Gapura masuk bertuliskan "Makam Arsantaka" akan mengantarkan ke titik tujuan. Mentok di ujung jalan, beberapa warga tampak duduk-duduk. Ada pohon rindang yang membuat mereka cukup betah di sana, meskipun tampak sejumlah nisan di sekelilingnya. Beberapa dari mereka berkata, "Harusnya semalem, Mbak. Ramai" . Saya cukup tersenyum. Saya memang bukan peziarah seperti pada umumnya warga diluar Desa Pungkuran, Kelurahan Purbalingga Lor ini. Pak Karso segera membuka kunci gerbang dengan gapura berwarna merah tembaga, di tempat itulah kawasan inti makam Arsantaka. Alas kaki mesti ditinggalkan di depan gerbang. Berbeda denga...

GAN ENGLISH SCHOOL

Gambar
Sudah bukan rahasia, saya memang payah untuk urusan mengucapkan bahasa asing dengan baik. Lidah dan otak sama-sama belibet . Tapi mosok iya, 2018 saya masih bertahan dengan “yes,.. no,.. not yet” saja. Sementara pada 1920 sudah berdiri Gan English School di Purbalingga. Artinya, meski segelintir orang, namun penggunaan bahasa asing ini telah mereka kuasai sejak usia dini. Gan English School memang terbilang eksklusif. Dibuka oleh Gan Thian Koeij, salah seorang Tionghoa yang cukup ternama pada masanya.  Saya mengambil sumber dari Banjoemas.com, disebutkan bahwa pada 1910 Belanda membangun Holland Chinese School (HCS) . Sayangnya, prioritas pembangunannya baru sebatas kota besar. Sehingga, ia berinisiatif membangun Gan Engslish School.    Saya menyusuri seputar Tugu Knalpot, mencari siapa tahu ada tanda-tanda sisa keberadaan Gan English School. Membayangkan tempat kursus bahasa Inggris di masa lalu pastilah sangat menarik.  Sebenarnya tidak terlalu mengherankan apabi...

Sela Bintana, Yang Terlupa

Gambar
Ini nih . Obrolan ngalor ngidul dengan Mas Bowo Leksono dan kawan-kawan Cinema Lovers Community  (CLC) beberapa waktu lalu, malah membuat saya mampir ke tetangga sebelah. Apa sebab? Karena si Mbah tetangga ini pernah ikut serta dalam proyek bangunan bioskop misbar di Purbalingga. Misbar ini singkatan dari gerimis bubar. Banyak orang mengajari saya mengatakan itu, namun belum pernah ada yang memberi gambaran pastinya di Purbalingga ini. Karena dengan tambahan kata bioskop didepannya, pastilah akan berbeda dengan layar tancep yang digagas CLC setiap tahunnya. Yang pasti dari cerita yang sudah disadur lintas generasi, misbar itu tidak beratap. Tidak ada kursi. Alhasil penonton harus selalu siap untuk pilihan berjongkok, bersila bahkan berdiri saat menonton. Nah, apabila gerimis sedikit saja, penonton langsung bubar. Berjaga dari hujan yang mungkin akan segera turun. "Bioskop misbar Purbalingga ya Sela Bintana" , kata Mbah Jaedi, tetangga yang saya ceritakan di awal tadi.  Sel...

GEBYEKAN : Pulangnya si Anak Hilang

Gambar
Saya pernah tidak percaya bahwa orang hilang akibat makhluk halus ternyata bisa kembali dengan perlengkapan rumah tangga. Caranya? Ditabuh. Warga akan berkeliling kampung dengan membawa tampah, ember, baskom, panci, wajan sembari menyanyikan mantra serupa ini. Byek byek nooong Byek byek juuuurrr Sriiiiii balia, bapane olih berkat Mbok ora kebagian Byek byek byek kabarnya mengacu pada bunyi tampah dan kawan-kawannya yang ditabuh. Mungkin di beberapa tempat, kalimatnya akan berbeda. Namun intinya memanggil nama dia yang hilang, terutama menjelang petang.  Mereka yang menghilang saat mendekati sandekala ini sering dianggap dibawa makhluk halus.  Mungkin ini yang sering disebutkan orang-orang tua dulu ya. Makhluk halus semacam lampor atau cepet yang suka membawa kabur manusia yang sedang melamun.  Dalam beberapa cerita berantai, mereka yang pernah hilang akibat makhluk halus terkadang tak dapat saya logika.  Ada yang mengisahkan dirinya 'ditempatkan' di atas pohon d...