Siang itu saya mendapat kesempatan melihat Mas Badri berjaga di stan pameran di halaman Pendopo Kabupaten Purbalingga. Ia diundang khusus untuk menunjukkan hasil karya warisan kakeknya.
Mas Badri memang asli penduduk Wlahar. Ia mewarisi bakat membuat wayang suket ini dari kakeknya yang bernama Mbah Gepuk. Dari semua anak cucu Mbah Gepuk, sementara hanya ia seorang yang bisa membuat.
Mbah Gepuk sendiri, kata Mas Badri, membuat wayang suket sejak tahun 1920-an. Sejak lelaki bernama asli Kasan Wikrama Tunut itu remaja.
Seperti anak desa pada umumnya di era tersebut, Mbah Gepuk remaja juga menjadi bocah angon. Dan sembari menggembala ini ia senang bermain-main dengan rumput yang banyak dijumpainya di ladang.
Dengan semakin bertambahnya usia, Mbah Gepuk mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan. Dari situ, kemudian Mbah Gepuk mulai membuatnya. Meski telah menghadap sang khalik pada 2002 silam, sang cucu menceritakan bahwa wayang suket buatan Mbah Gepuk masih tersimpan di rumah dan kerap diminta untuk dipamerkan. Seperti siang itu.
Sembari bercerita, Mas Badri kemudian mengambil wayang suket yang warnanya sedikit berbeda. Kehijauan. Bukan kuning kecoklatan seperti lainnya. “Kalau nemu ada warna hijau sedikit, artinya proses jemurnya agak kurang kering”, katanya.
Ternyata dibutuhkan perlakuan khusus untuk rumput kasuran sebelum dianyam. Setelah dipanen, rumput kasuran akan dijemur sampai kering. Sehingga warnanya kecoklatan. Sebelum dianyam, rumput yang sudah kering itu akan dilembabkan dulu dengan air.
Permasalahannya saat ini ia melihat stok bahan baku rumput kasuran kering miliknya semakin menipis. Sementara jika menggunakan rumput lain tidak akan bisa awet seperti buatan swargi kakeknya. “Wayang suket ini bisa sampai dua puluh tahunan kok”, katanya.
Pantas saja, ia tak mau berganti bahan baku. Meski mencoba membudidayakan sendiri, namun hasilnya belum mencukupi kebutuhan. Padahal semasa kecil, ia menyaksikan suket kasuran tumbuh dengan liar di sekitar tempat tinggalnya.
Ide menanam rumput kasuran di polybag itu diperolehnya dari beberapa perajin Bali. Saat berkesempatan mengikuti pameran wayang di sana, responnya sangat luar biasa. Bahkan mereka pun ingin ikut bisa membuatnya. Namun masalahnya tentu saja lagi-lagi bahan baku.
Tak lama, lanjut Mas Badri, ia mengirimkan rumput kasuran dalam polybag untuk rekan-rekan perajin yang ditemuinya di Bali waktu itu. Meski kabarnya paket sampai dalam keadaan baik-baik saja, tidak lagi diketahui kelanjutan hidup suket kasuran di sana.
Yang ada di pikirannya adalah bahan baku yang semakin sulit diperoleh. “Bunganya sudah langka sejak bulan Sura kemarin”, katanya.
Eh, bulan Sura?
Mas Badri mengangguk. Rumput ini dinamakan kasuran karena hanya berbunga sekali dalam setahun di Bulan Sura. Ka + Sura + an.
-Anita Wiryo Rahardjo





