Cari Blog Ini

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yang menjajakannya semasa hidupnya dulu.

• oleh Anita Wiryo Rahardjo •

Warisan Budaya TakBenda (WBTB) menjadi sematan label pada karya istimewa pria asal Kecamatan Rembang Purbalingga, yaitu Mbah Gepuk. Ia menekuni pembuatan wayang suket sejak 1921 hingga akhir hidupnya pada 2002. Sebagian kisah tentangnya telah dituliskan melalui akun Medium Anita Wiryo Rahardjo yang dapat diklik disini.  

Berjalan dan Berjualan


Selain Pasar Bantarbarang, Mbah Gepuk berjalan kaki dari rumahnya ke Pasar Losari serta Pasar Semampir. Semuanya ada di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Ia membawa sejumlah wayang yang telah dikerjakan sebelumnya untuk dijual. "Ke Losari kalau pasaran manis dan ke Semampir saat pasaran pon", cerita Badriyanto, cucu dan penerus Wayang Suket Mbah Gepuk.

Foto diambil dari akun Medium Anita Wiryo Rahardjo sendiri ya.



Menariknya, hasil penjualan tersebut lebih dimanfaatkan untuk meminjami kerabat yang membutuhkan dibanding dibawa pulang. "Ditawar-tawarin ke siapa aja yang kenal lah, kadang enggak ditagih juga. Asal si Mbah karep (berniat) aja", lanjut Badri pada suatu obrolan. Kakeknya memang dikenal memiliki pertemanan yang luas. Sehingga hal demikian sudah dianggap wajar oleh keluarga.

Bahkan, setiap kepulangan Mbah Gepuk dari wana yang berjarak 2 km dari rumahnya (baca di Medium ya) setiap sepekan sekali juga selalu ramai dinantikan tetangga dan para kerabat. Mereka akan berebut membawakan apa saja dari hasil berladang Mbah Gepuk. "Pada rebutan bawa singkong atau bahkan rumput hasil ngarit dan apa saja yang dibawa", katanya lagi.

Kebiasaan Mbah Gepuk berjalan jauh telah dilakoni sejak belia. Usia 14 tahun, ia sudah menjadi bocah angon, tukang ngarit, sudah senang laku tirakatan, bahkan sudah memiliki kemampuan dukun ebeg. Dalam urusan mencari nafkah ia pernah menjajakan gerabah berjalan kaki hingga ke Purwokerto. Tentu saja ini terjadi sebelum kemudian nyipta wyaang suket. Kata oramg Jawa, orang begini dikenal lampar.

Wayang Golek


Ketenaran namanya membuat sejumlah kria membuat salah seorang pemesan minta dibuatkan boneka kayu. Ia butuh boneka kayu untuk bermain anaknya. 

Namun, Mbah Gepuk lagi-lagi menunjukkan bahwa hasil karyanya unik, bukan semata permintaan pasar. Ia hanya membuat sesuatu yang berkaitan dengan dunianya.

Kayu diolahnya menjadi dua buah wayang golek menak. Badri tak tahu pasti tokoh siapa yang dibuat. Saya menduganya sebagai Umar Maya dan Umar Madi, karena ia menyebutnya sebagai tokoh pasangan di wayang golek. Tapi baru dugaan saja ya. Mengapa justru wayang golek yang dibuatnya ? Karena ia pernah menjadi dalang wayang golek menak sebelumnya.

Kabarnya si pemesan sempat terdiam melihat boneka yang tak sesuai harapannya. Tapi kemudian tetap dibawa pulang. Mungkin merasa bahwa wayang golek itu jauh lebih berharga dibanding sekedar boneka kayu.

Saat ini, wayang suket memang tak lagi dijual melalui pasar-pasar tradisional. Namun saya berangan-angan, suatu hari nanti ada seniman yang memainkan fragmen cerita pewayangan di tengah kerumunan pasar. Sepertinya akan lebih hidup dibanding wayang-wayang suket itu terpajang rapi dalam pigura dalam suatu exhibition.

KASURAN

Saya pernah dengan mentah memaknai kata kasuran sebagai kasur dengan akhiran –an. Bisa saja sebenarnya, selama kata ini tidak dikaitkan dengan rumput. Karena rumput kasuran sudah menjadi kesatuan dengan Wayang Suket khas Purbalingga.


Secara bentuk wayang suket ini tidak ada bedanya dengan wayang kulit. Sama-sama berwujud tokoh dalam cerita Mahabarata. Namun bahan pembuatan itu yang menghasilkan perbedaan yang tampak nyata. Wayang suket tidak memiliki warna selain kecoklatan lazimnya rumput kering.

Siang itu saya mendapat kesempatan melihat Mas Badri berjaga di stan pameran di halaman Pendopo Kabupaten Purbalingga. Ia diundang khusus untuk menunjukkan hasil karya warisan kakeknya. 

Wayang Suket miliknya ini berbeda dengan yang lain. Rumputnya bukan sekedar dirangkai, melainkan dianyam. Dan lebih unik lagi karena bahan bakunya itu tadi. Bukan rumput pada umumnya, karena rumput kasuran hanya tumbuh di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

Mas Badri memang asli penduduk Wlahar. Ia mewarisi bakat membuat wayang suket ini dari kakeknya yang bernama Mbah Gepuk. Dari semua anak cucu Mbah Gepuk, sementara hanya ia seorang yang bisa membuat.

Mbah Gepuk sendiri, kata Mas Badri, membuat wayang suket sejak tahun 1920-an. Sejak lelaki bernama asli Kasan Wikrama Tunut itu remaja.

Seperti anak desa pada umumnya di era tersebut, Mbah Gepuk remaja juga menjadi bocah angon. Dan sembari menggembala ini ia senang bermain-main dengan rumput yang banyak dijumpainya di ladang.


Dengan semakin bertambahnya usia, Mbah Gepuk mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan. Dari situ, kemudian Mbah Gepuk mulai membuatnya. Meski telah menghadap sang khalik pada 2002 silam, sang cucu menceritakan bahwa wayang suket buatan Mbah Gepuk masih tersimpan di rumah dan kerap diminta untuk dipamerkan. Seperti siang itu.

Sembari bercerita, Mas Badri kemudian mengambil wayang suket yang warnanya sedikit berbeda. Kehijauan. Bukan kuning kecoklatan seperti lainnya. “Kalau nemu ada warna hijau sedikit, artinya proses jemurnya agak kurang kering”, katanya.

Ternyata dibutuhkan perlakuan khusus untuk rumput kasuran sebelum dianyam. Setelah dipanen, rumput kasuran akan dijemur sampai kering. Sehingga warnanya kecoklatan. Sebelum dianyam, rumput yang sudah kering itu akan dilembabkan dulu dengan air. 
Dan Mas Badri membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk bisa membuatnya menjadi satu wayang utuh.

Permasalahannya saat ini ia melihat stok bahan baku rumput kasuran kering miliknya semakin menipis. Sementara jika menggunakan rumput lain tidak akan bisa awet seperti buatan swargi kakeknya. “Wayang suket ini bisa sampai dua puluh tahunan kok”, katanya.

Pantas saja, ia tak mau berganti bahan baku. Meski mencoba membudidayakan sendiri, namun hasilnya belum mencukupi kebutuhan. Padahal semasa kecil, ia menyaksikan suket kasuran tumbuh dengan liar di sekitar tempat tinggalnya.

Ide menanam rumput kasuran di polybag itu diperolehnya dari beberapa perajin Bali. Saat berkesempatan mengikuti pameran wayang di sana, responnya sangat luar biasa. Bahkan mereka pun ingin ikut bisa membuatnya. Namun masalahnya tentu saja lagi-lagi bahan baku.

Tak lama, lanjut Mas Badri, ia mengirimkan rumput kasuran dalam polybag untuk rekan-rekan perajin yang ditemuinya di Bali waktu itu. Meski kabarnya paket sampai dalam keadaan baik-baik saja, tidak lagi diketahui kelanjutan hidup suket kasuran di sana.

Yang ada di pikirannya adalah bahan baku yang semakin sulit diperoleh. “Bunganya sudah langka sejak bulan Sura kemarin”, katanya.

Eh, bulan Sura?

Mas Badri mengangguk. Rumput ini dinamakan kasuran karena hanya berbunga sekali dalam setahun di Bulan Sura. Ka + Sura + an.
 
-Anita Wiryo Rahardjo 


Joglo Kembar, Pagi Itu

Hari itu masih cukup pagi. Udara pun masih tenang. Hanya lalu lalang kendaraan di seputaran kota yang terpacu bersegera mendekati gerbang tempat aktivitas. Namun saya lihat tidak demikian dengan pria sepuh yang telah lama tinggal di Bogor itu. “Saya rindu”, katanya pelan. Saya tersenyum, mencoba memahami geletar ngilu saat yang dicarinya tak lagi ada.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo




Diiring dua perempuan dari tanah Pakuan, ia berkali-kali melirik sisi barat. Tak kunjung bertemu apa yang dicari, kegelisahan terpancar dalam gemetar suaranya. “Bangunan joglo ini baru ya ?”, tanyanya. Saya mengangguk. Walau sudah separuh dari usia saya, tetap saja bangunan ini tak bisa dibilang lawas. Diresmikan pada 24 April 2003.

Bangunan Museum Semula Sekolah ?

Berlokasi di pusat kota, lingkar Alun-alun memang strategis. Di lingkungan yang kini kita ketahui sebagai Jl . Alun-alun Utara no.1, Purbalingga ini dia pernah mengenyam pendidikan dasar. “Dulu saya SR (Sekolah Rakyat) disini”, kenangnya seketika. Bola matanya bergerak ke kiri, mengindikasikan mengingat segala kenyataan di masa lalu.

Saat Clash (Agresi Militer II), halaman ini ditempati beberapa tank milik Belanda. Sekolah libur, kami disuruh ngungsi ke Wirasana. Tapi dasar bocah, saya diam-diam masuk kota dan tidur di Masjid Agung itu. Saya pun jadi tahu kalau Kauman pada masa itu menjadi dapur umum Belanda”, kisahnya.

Muhammad Toha, demikian nama pria yang telah puluhan tahun menetap di Bogor itu menapak tilas masa kecilnya. Di sini, kota kelahirannya. Purbalingga. “Sayangnya, saya nggak punya foto jaman sekolah disini”, ekspresinya meredup.

Tetiba saya teringat bagaimana mereka yang telah lama mendiami kompleks kota (seputar pusat kota) bercerita bahwa di Jl. Alun-alun Utara ini pernah ditempati bangunan Sekolah Dasar yang dikenal dengan sebutan SD 4. Lengkap dengan kolam penuh bunga teratai. Aaaaaahhh.... saya nggak njamani. Dalam perjalanannya SD 4 ini berpindah dan sempat digunakan oleh salah satu sekolah milik yayasan. “Jamanku, SMA Karya Bakti juga pernah menempati bangunan sekolah di situ”, kata pemilik Bakmi Sunar yang juga alumni SMA Karya Bakti lulusan 1983/1984, Dwi Eni.

Jaman berganti. Di tahun 2003 sebuah bangunan baru dengan bentuk khas joglo kembar diresmikan sebagai gedung Perpustakaan dan Museum Daerah Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. “Joglo kembar itu, satunya menggambarkan museum, satunya perpustakaan”, kata Adi Purwanto. Ia arkeolog yang juga pernah menjadi pengelola museum ini.

Setelah Perpustakaan Daerah bergabung dengan Kearsipan dan berpindah ke gedung baru, praktis bangunan joglo kembar ini ditempati koleksi – koleksi unik dan menarik Purbalingga. Mulai dari pusaka sejak era kadipaten dulu, tatal batu dalam teknologi pembuatan gelang batu di situs perbengkelan Limbasari dan Ponjen, hingga benda-benda memorabilia Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Ia adalah tokoh pendidikan yang turut membidani sekolah tinggi untuk para guru di Indonesia.

Seketika saya teringat pada tulisan yang terpasang di bagian atas pintu masuk museum. Wisma, Wanita, Pusaka, Kukila, Turangga. Pikira langsung saja menyambar ketika membaca tulisan itu, "bahwa jalan untuk mendapatkan kelima hal tersebut ya pakai sekolah (ilmu)"


Setup Nanas Kemasan a la Siwarak

Pada dasarnya saya menyukai masakan rumah. Namun belakangan ini minta dimasakin adalah hal yang sangat sulit. Apalagi kalau bentuknya segeran. Untunglah, meski tak miara Doraemon, saya dengan mudah bisa menyantap setup favorit tanpa perlu ngeberantakin dapur.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Buah dan rempah adalah padanan menyenangkan yang selalu membawa saya serasa pulang. Wanginya setup saat airnya baru mendidih menjadi pengharum ruangan paling aromatik yang saya akrabi sedari kecil. Saya sadar, kenangan memang tak akan terganti. Namun ijinkan saya tetap menikmati semangkuk kecil setup nanas saat saya tak dirumah.


Oleh-oleh Khas Siwarak

Purbalingga kota memang bukan sentra nanas. Tapi bagian utara sana, di Siwarak khususnya, malah punya kebun nanas. Menyenangkannya lagi, nanas itu dikemas dalam berbagai varian penganan enak. Dodol, jus, nata de coco, sambal dan saus nanas serta yang saya kangenin : setup.

Info lengkap dan pemesanan mangga dapat langsung menghubungi 087837000869 (Tomo Tompelz)


Ya, bermula dari gumregah-nya masyarakat Siwarak dalam mempromosikan desanya sejak 2015 silam. Kemudian bermunculan kreasi ini itu. Wisata alam hingga kuliner. Khusus untuk nanas, bermacam uji coba telah dilakukan. Kreasi makanan nanas dan lomba olahan nanas pernah dihelat di Siwarak. Suasana adem dataran tinggi memang tepat diimbangi dengan terus mengunyah. Paling awal diproduksi tentunya dodol nanas. Pesanan yang mengalir membuat beberapa produsen keteteran. “Awalnya kami bikin dodol nanas. Namun lama-lama cobain juga jus nanas kemasan, nata de coco hingga setup nanas ini”, kata Tomo Tompelz, pegiat wisata alam di Siwarak.


Penganan produksinya ini mulai wira-wiri promosi dalam beberapa event lokal. Termasuk juga dalam Famtrip yang digelar beberapa minggu lalu di Pendapa Dipokusumo. “Alhamdulillah, sembari menunggu PIRT turun, jus nanas, setup nanas dan nata de coco ini sudah bisa diperoleh di beberapa pusat oleh-oleh dan rumah makan”, lanjutnya.


Sriuuuuuupppppp... kemasan berisi setup dengan aroma rempah-rempahnya yang khas ini memang tidak dalam kondisi kebul-kebul. Namun tetap menghangatkan seperti suasana kebersamaan dalam rumah Uti.

Arsantaka dan Purbalingga

Terik mentari dan lengang. Usai kulminasi bergeser sedikit ke arah barat, saya memulai jalan-jalan bersama 3 anak dara yang tetiba keranjingan mengenal sejarah.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Makam Arsantaka




Meski berada di lingkaran pusat kota, tempat ini lengang. "Harusnya semalem, Mbak. Ramai", kata beberapa warga. Kami hanya tersenyum sambil terus mengekor seorang pria yang akrab disapa Pak Karso. Jumat siang makam memang sepi.

Gapura berwarna merah tembaga itu menandakan kami telah memasuki kawasan inti makam Arsantaka.


Cikal Bakal Purbalingga


Masyarakat Purbalingga bisa jadi sudah tidak lagi asing. Nama Ki Arsantaka banyak disebut dalam tulisan yang berkaitan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga. Sayang, tahun lahirnya tidak diketahui secara pasti.

Arsantaka terlahir dengan nama Arsakusuma. Ia merupakan putera Adipati Onje II dengan isteri ke-3 nya, Nyai Pingen. Arsantaka memiliki seorang kakak bernama Yudantaka.

Dikatakan Arsantaka melewati masa mudanya dengan mengembara hingga ke desa Masaran, Banjarnegara. Disana ia diangkat anak oleh Ki Wanakusuma, seorang keturunan Ki Ageng Giring. "Nah, disana Eyang Arsantaka kemudian menjadi demang", cerita Pak Karso.

Ia menjadi Demang Pagendolan pada 1740 – 1760. Sejaman dengan masa Perang Mangkubumen. Dan berada dalam wilayah Mancanegara Kilen, artinya Pagendolan berada dalam naungan Surakarta. Dibawah pemerintahan Paku Buwana III (PB III) yang tengah bersitegang dengan Mangkubumi.


Jasa Perang Jenar


Ketika menghadapi pasukan Mangkubumi di desa Jenar (Bagelen), maka sudah barang tentu Paku Buwana III meminta bantuan pasukan Banyumas. Pasukan dalam dipimpin oleh Adipati Kenduruan I sedang pasukan luar dipimpin oleh Adipati Banyumas, Tmg Yudanegara III. Dan dibantu :

  • ·         Ngabei Karanglewas, Dipayuda I
  • ·         Demang Pagendolan, Ki Arsantaka
  • ·         Demang Sigaluh, Ki Mertoboyo
  • ·         Demang Penggalang, Ki Ronodipuro

 Sementara pasukan Belanda yang membantu dipimpin oleh Mayor De Clerx dan Kapitain Hoetje.

Pertempuran ini mengantarkan Dipayuda I menghembuskan nafas terakhir. Namun jasad adik Tmg Yudanegara III ini tak langsung ditemukan. Beruntung, Ki Arsantaka menemukannya masih lengkap dengan seragam kompeni berwarna ungu. Segera diantarkannya jenazah Dipayuda I ke Kadipaten Banyumas karena keluarga besarnya berasal dari sana. Dan kemudian ia berjuluk Ngabei Seda Jenar (meninggal 12 Desember 1751).

Atas jasa itulah, Ki Arsantaka menjadi besan dari Adipati Banyumas, Yudanegara. Puteranya yang bernama Arsayuda diangkat mantu oleh sang adipati. Ki Arsayuda juga menjadi patih Karanglewas mendampingi Tmg Dipayuda II, putera Yudanegara III.

Masa kekuasaan singkat Dipayuda II yang meninggal di usia muda, segera beralih pada Arsayuda. Dan saat itulah Ki Arsantaka menyarankan pusat pemerintahan dipindah dari Karanglewas Kutasari ke desa Timbang. Nggak nyangka kan kalau sekarang "Timbang" hanya menjadi nama dukuh saja. Nah, balik lagi. Perpindahan itu dilakukan pada tahun 1759. Ditandai dengan pembangunan pendapa dan Alun-alun yang tercatat pada 23 Juli 1759. Sejak itu pula nama Purbalingga digaungkan. Bukan lagi Karanglewas. Dan Arsayuda sebagai adipati pertama dan bergelar Dipayuda III.


Banyak Petilasan Arsantaka


Tidak diketahui bagaimana kelanjutan kiprah Ki Arsantaka setelah puteranya mengawali kepemimpinan kadipaten Purbalingga. Namun di beberapa tempat ditemukan petilasan Ki Arsantaka.

Seperti di daerah Boja, Semarang atau Kalibening, Purwokerto. Bahkan di Masaran pun dipercaya terdapat makam beliau. Namun masyarakat Purbalingga lebih merasa percaya bahwa makam Ki Arsantaka adalah yang berada di desa Pungkuran.



Kaungkuran

Menurut salah seorang putera wayah Arsantaka, Lulu D. Budiardjo, jika ditarik garis lurus maka makam Arsantaka tepat satu garis dengan titik tengah pendapa dan Alun-alun. Halo Pak Lulu, matur suwun untuk obrolan sepuluh tahun silam mengenai sejarah Purbalingga. Metode tanpa boleh ada alat rekam dan tanpa boleh mencatat membuat memori saya bekerja ekstra. Semoga apa yang terekam di otak ini tidak slentha seiring usia.

Makam Arsantaka berada di desa Pungkuran. "Dari kata kaungkuran (catpri : data dasarnya mungkur). Kaungkuran siapa ? Ya kaungkuran pendopo. Karena berada di belakang kompleks pendopo", terang Pak Lulu saat itu.


Makam Keluarga


Makam Ki Arsantaka ditempatkan dalam satu cungkup terpisah. Didalamnya juga bersemayam makam Tmg Dipayuda III dan isterinya serta seorang pengawal. “Unur di makam Eyang Arsantaka ini konon menandakan kesuburan wilayah Purbalingga juga”, kata Pak Karso beberapa tahun lalu. Sayangnya, ini tidak diceritakan pada pertemuan kemarin.



Ada 5 blok dalam area makam utama ini. Makam Ki Arsantaka berada dalam grup A. Sementara itu cucu mantunya yang masih merupakan cucu Pangeran Sambernyowo berada di blok yang terletak di sebelah timur. Disini terdapat juga makam dokter bedah asli Purbalingga, dokter Goetheng Tarunadibrata yang juga termasuk dalam trah Arsakusuma.

"Mbak, aku baru ngeh kalau dengan langsung turun ke lokasi lebih memudahkan belajar sejarah lokal ya,.. daripada sekedar baca buku", kata salah seorang dari ketiga buntut saya kali ini. Kalau aku sih yes banget dengan pendapat itu.


GAN ENGLISH SCHOOL

Sudah bukan rahasia, saya memang payah untuk urusan mengucapkan bahasa asing dengan baik. Lidah dan otak sama-sama belibet.

Tapi mosok iya, 2018 saya masih bertahan dengan “yes,.. no,.. not yet” saja. Sementara pada 1920 sudah berdiri Gan English School di Purbalingga. Artinya, meski segelintir orang, namun penggunaan bahasa asing ini telah mereka kuasai sejak usia dini.

Gan English School memang terbilang eksklusif. Dibuka oleh Gan Thian Koeij, salah seorang Tionghoa yang cukup ternama pada masanya. 

Saya mengambil sumber dari Banjoemas.com, disebutkan bahwa pada 1910 Belanda membangun Holland Chinese School (HCS). Sayangnya, prioritas pembangunannya baru sebatas kota besar. Sehingga, ia berinisiatif membangun Gan Engslish School.

  
Saya menyusuri seputar Tugu Knalpot, mencari siapa tahu ada tanda-tanda sisa keberadaan Gan English School. Membayangkan tempat kursus bahasa Inggris di masa lalu pastilah sangat menarik. 

Sebenarnya tidak terlalu mengherankan apabila Gan English School ini kemudian terbentuk. Saat itu, Gan Thian Koeij sebagai salah satu pelopor buang rambut taocang di Jawa cukup perhatian dengan perbaikan kualitas hidup Tionghoa peranakan, termasuk pendidikan.

Memahami bahwa di kotanya pada pertengahan pertama abad ke-20 masih belum ada guru bahasa Inggris, Gan Thian Koeij pun mengundang Mr. Leroy Akerson yang diketahuinya berasal dari salah satu lembaga misi di Bogor.

Pengajar bernama lengkap Leroy Lind Akerson ini kemudian mengajar di Gan English School dengan siswa yang didominasi anak-anak keluarga besar marga Gan. Sayangnya tidak banyak cerita tentang sekolah ini. 

Salah satu keturunan marga Gan yang saya temui, Pak Kris Hauw, hanya menyebutkan bahwa Akerson dimakamkan di Purbalingga, tepatnya di Bong Sawangan, Kecamatan Bojongsari.


Dalam usia sekitar 29 tahun, cerita Pak Kris, guru bahasa Inggris tersebut meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan di Sungai Klawing. Meski detailnya masih kabur, namun kisah ini pun diiyakan warga sekitar Bong Sawangan. Bahkan makam Akerson pun mereka ketahui persis letaknya. Bedanya, warga lebih mengenalnya sebagai makam kabangan

“Makam kabangan ini berada di luar garis bong yang lain. Dibuat untuk mereka yang tewas karena kecelakaan atau sejenisnya", cerita Pak Tarno salah seorang juru kunci di Bong Sawangan.

Skrinsut ini diambil dari terjemahan bebas yang selengkapnya silakan dapat dibuka sendiri di catalog.gcah.org.


Tidak diketahui apakah setelah Akerson tiada, aktivitas Gan English School tetap berjalan. Yang saya tahu, bangunannya di seputaran Tugu Knalpot Purbalingga saja tidak tersisa. 

Namun yang pasti 97 tahun silam, ternyata segelintir orang di Purbalingga telah secara sengaja belajar bahasa internasional. Dan kini, saya justru jadi segelintir orang yang tidak bisa secara baik bahasa pergaulan dunia ini. Miris

- Anita Wiryo Rahardjo

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...