Arsantaka dan Purbalingga
Suasana selepas Jumatan yang lengang. Mataharinya terik. Dan saya malah mengiyakan ajakan ke makam. Beruntung juru kunci makam, Pak Karso, mempersilakan kunjungan ke Makam Arsantaka di siang bolong.
Siang itu, saya tidak sendiri. Ada tiga gadis remaja yang memaksa saya ikut. Tidak jauh dari pusat kota Purbalingga, cukup mudah menemukan areal makam ini. Gapura masuk bertuliskan "Makam Arsantaka" akan mengantarkan ke titik tujuan.
Mentok di ujung jalan, beberapa warga tampak duduk-duduk. Ada pohon rindang yang membuat mereka cukup betah di sana, meskipun tampak sejumlah nisan di sekelilingnya.
Beberapa dari mereka berkata, "Harusnya semalem, Mbak. Ramai". Saya cukup tersenyum. Saya memang bukan peziarah seperti pada umumnya warga diluar Desa Pungkuran, Kelurahan Purbalingga Lor ini.
Pak Karso segera membuka kunci gerbang dengan gapura berwarna merah tembaga, di tempat itulah kawasan inti makam Arsantaka. Alas kaki mesti ditinggalkan di depan gerbang.
Berbeda dengan suasana di luar. Makam Arsantaka terdiri dari sejumlah makam yang dilengkapi atap pelindung bahkan bangunan. Menandakan ada yang istimewa dari makam-makam tersebut.
Bagi saya yang orang Purbalingga, nama Arsantaka cukup ramai terdengar sejak 2000-an. Mungkin karena di tahun tersebut nama Ki Arsantaka banyak dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga.
Bermodal buku karya Pak Triatmo, saya mendapati informasi Arsantaka terlahir dengan nama Arsakusuma. Sayang tidak ada keterangan tahun kelahirannya. Ia merupakan keturunan Adipati Onje II dengan isteri ketiga, Nyai Pingen.
Dalam buku berjudul "Arsantaka" tersebut, dikisahkan ia melewati masa mudanya dengan mengembara hingga ke desa Masaran, Banjarnegara. Disana ia diangkat anak oleh Ki Wanakusuma, seorang keturunan Ki Ageng Giring. "Nah, disana Eyang Arsantaka kemudian menjadi demang", cerita Pak Karso.
Cerita Pak Karso nyambung dengan tulisan dalam buku. Bahwa saat Arsantaka menjadi Demang Pagendolan pada 1740-1760, ia menghadapi dengan Perang Mangkubumen. Perang yang sebenarnya internal dalam keluarga Mataram ini terjadi selama 1746-1757.
Pagendolan yang dipimpinnya termasuk dalam wilayah Mancanegara Kilen. Artinya wilayah ini masuk kekuasaan Paku Buwana III (PB III) yang bersitegang dengan Mangkubumi.
Dalam pertempuran tanggal 12 Desember 1751 itu, Dipayuda I tewas. Namun jasadnya tak langsung ditemukan.
Beruntung, Ki Arsantaka berhasil menemukannya masih lengkap dengan seragam kompeni berwarna ungu. Segera diantarkannya jenazah Dipayuda I ke keluarga besarnya di Kadipaten Banyumas.
Sebagai leluhur, tak heran jika kemudian ditemukan petilasan yang diyakini sebagai jejak kiprahnya di suatu tempat.
Seperti di daerah Boja, Kabupaten Semarang serta Kalibening, Kecamatan Purwokerto. Bahkan di Masaran, Kabupaten Banjarnegara pun dipercaya terdapat makam Ki Arsantaka sebelum dipindahkan.
Apapun itu, yang pasti sudah tertanam di benak banyak orang Purbalingga seperti saya yang lebih mengenal makam Ki Arsantaka adalah yang berada di Pungkuran, Kelurahan Purbalingga Lor.
Saya jadi ingat, pada 2012 silam, salah seorang putera wayah Arsantaka, Pak Lulu D. Budiardjo pernah bercerita jika ditarik garis lurus maka makam Arsantaka tepat satu garis dengan titik tengah pendopo dan Alun-alun.
"Dari kata kaungkuran. Kaungkuran siapa ? Ya kaungkuran pendopo. Karena berada di belakang kompleks pendopo", terang Pak Lulu saat itu.
Jika dipikir mungkin ada benarnya juga. Pungkuran memang ada di seberang sungai belakang pendopo. Tapi sungai ini sudah tidak terlalu kentara saat ini.
Di Pungkuran ini, bukan hanya makam Ki Arsantaka yang bisa ditemukan. Sejumlah bupati yang bergelar Dipokusumo juga ada di sana. Termasuk R. Goetheng Taroenadibrata yang juga masih keturunan kesekian Arsantaka. Memang makam keluarga.
Khusus makam Ki Arsantaka ditempatkan dalam satu cungkup terpisah. Didalamnya juga bersemayam makam Tmg Dipayuda III dan isterinya serta seorang pengawal.
Uniknya, dari seluruh makam yang ada hanya makam Arsantaka yang dipenuhi gundukan tanah yang saya sempat mengiranya sebagai rayap. Pak Karso kemudian mengoreksi saya dan mengatakan bahwa itulah yang dinamakan unur.
"Unur di makam Eyang Arsantaka ini konon menandakan kesuburan wilayah Purbalingga juga", kata Pak Karso.
Makam ini ramai diziarahi masyarakat umum pada malam-malam khusus seperti Kliwon misalnya. Pemerintah Daerah juga mengagendakan ziarah rutin pada setiap momentum Hari Jadi Kabupaten Purbalingga.
Yup, kalau 'aku sih yes'. Hanya saja porsinya tetap tidak melebihi catatan sejarah yang ada dong.
Siang itu, saya tidak sendiri. Ada tiga gadis remaja yang memaksa saya ikut. Tidak jauh dari pusat kota Purbalingga, cukup mudah menemukan areal makam ini. Gapura masuk bertuliskan "Makam Arsantaka" akan mengantarkan ke titik tujuan.
Mentok di ujung jalan, beberapa warga tampak duduk-duduk. Ada pohon rindang yang membuat mereka cukup betah di sana, meskipun tampak sejumlah nisan di sekelilingnya.
Beberapa dari mereka berkata, "Harusnya semalem, Mbak. Ramai". Saya cukup tersenyum. Saya memang bukan peziarah seperti pada umumnya warga diluar Desa Pungkuran, Kelurahan Purbalingga Lor ini.
Pak Karso segera membuka kunci gerbang dengan gapura berwarna merah tembaga, di tempat itulah kawasan inti makam Arsantaka. Alas kaki mesti ditinggalkan di depan gerbang.
Berbeda dengan suasana di luar. Makam Arsantaka terdiri dari sejumlah makam yang dilengkapi atap pelindung bahkan bangunan. Menandakan ada yang istimewa dari makam-makam tersebut.
Bagi saya yang orang Purbalingga, nama Arsantaka cukup ramai terdengar sejak 2000-an. Mungkin karena di tahun tersebut nama Ki Arsantaka banyak dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga.
Bermodal buku karya Pak Triatmo, saya mendapati informasi Arsantaka terlahir dengan nama Arsakusuma. Sayang tidak ada keterangan tahun kelahirannya. Ia merupakan keturunan Adipati Onje II dengan isteri ketiga, Nyai Pingen.
Dalam buku berjudul "Arsantaka" tersebut, dikisahkan ia melewati masa mudanya dengan mengembara hingga ke desa Masaran, Banjarnegara. Disana ia diangkat anak oleh Ki Wanakusuma, seorang keturunan Ki Ageng Giring. "Nah, disana Eyang Arsantaka kemudian menjadi demang", cerita Pak Karso.
Cerita Pak Karso nyambung dengan tulisan dalam buku. Bahwa saat Arsantaka menjadi Demang Pagendolan pada 1740-1760, ia menghadapi dengan Perang Mangkubumen. Perang yang sebenarnya internal dalam keluarga Mataram ini terjadi selama 1746-1757.
Pagendolan yang dipimpinnya termasuk dalam wilayah Mancanegara Kilen. Artinya wilayah ini masuk kekuasaan Paku Buwana III (PB III) yang bersitegang dengan Mangkubumi.
Ketika menghadapi pasukan Mangkubumi di desa Jenar (Bagelen), maka sudah barang tentu Paku Buwana III meminta bantuan pasukan Banyumas. Pasukan dalam dipimpin oleh Adipati Kenduruan I sedang pasukan luar dipimpin oleh Adipati Banyumas, Tmg. Yudanegara III.
Nah, di sini Arsantaka selaku Demang Pagendolan diperbantukan. Bersama dengan Dipayuda I (Ngabei Karanglewas), Ki Mertoboyo (Demang Sigaluh) dan Ki Ronodipuro (Demang Penggalang). Sementara pasukan Belanda yang membantu dipimpin oleh Mayor De Clerx dan Kapitain Hoetje.
Nah, di sini Arsantaka selaku Demang Pagendolan diperbantukan. Bersama dengan Dipayuda I (Ngabei Karanglewas), Ki Mertoboyo (Demang Sigaluh) dan Ki Ronodipuro (Demang Penggalang). Sementara pasukan Belanda yang membantu dipimpin oleh Mayor De Clerx dan Kapitain Hoetje.
Dalam pertempuran tanggal 12 Desember 1751 itu, Dipayuda I tewas. Namun jasadnya tak langsung ditemukan.
Beruntung, Ki Arsantaka berhasil menemukannya masih lengkap dengan seragam kompeni berwarna ungu. Segera diantarkannya jenazah Dipayuda I ke keluarga besarnya di Kadipaten Banyumas.
Berkat jasa itu, Ki Arsantaka menjadi besan dari Adipati Banyumas, Yudanegara. Puteranya yang bernama Arsayuda diangkat mantu oleh sang adipati dan kemudian menjadi patih Karanglewas mendampingi Tmg Dipayuda II, putera Yudanegara III.
Masa kekuasaan singkat Dipayuda II yang meninggal di usia muda, kemudian beralih pada Arsayuda. Pada saat itulah, Ki Arsantaka menyarankan pusat pemerintahan dipindah dari Karanglewas Kutasari ke Desa Timbang. Perpindahan itu dilakukan pada tahun 1759. Ditandai dengan pembangunan pendopo dan Alun-alun yang tercatat pada 23 Juli 1759. Sejak itu pula nama Purbalingga digaungkan. Bukan lagi Karanglewas. Dan Arsayuda sebagai adipati Purbalingga pertama dan bergelar Dipayuda III.
Dari catatan sejarah ini, Arsantaka memang bukan bupati pertama di Purbalingga. Namun ia menjadi cikal bakal para bupati yang memerintah sampai kemudian sistem berubah ketika Indonesia merdeka.
Sebagai leluhur, tak heran jika kemudian ditemukan petilasan yang diyakini sebagai jejak kiprahnya di suatu tempat.
Seperti di daerah Boja, Kabupaten Semarang serta Kalibening, Kecamatan Purwokerto. Bahkan di Masaran, Kabupaten Banjarnegara pun dipercaya terdapat makam Ki Arsantaka sebelum dipindahkan.
Apapun itu, yang pasti sudah tertanam di benak banyak orang Purbalingga seperti saya yang lebih mengenal makam Ki Arsantaka adalah yang berada di Pungkuran, Kelurahan Purbalingga Lor.
Saya jadi ingat, pada 2012 silam, salah seorang putera wayah Arsantaka, Pak Lulu D. Budiardjo pernah bercerita jika ditarik garis lurus maka makam Arsantaka tepat satu garis dengan titik tengah pendopo dan Alun-alun.
"Dari kata kaungkuran. Kaungkuran siapa ? Ya kaungkuran pendopo. Karena berada di belakang kompleks pendopo", terang Pak Lulu saat itu.
Jika dipikir mungkin ada benarnya juga. Pungkuran memang ada di seberang sungai belakang pendopo. Tapi sungai ini sudah tidak terlalu kentara saat ini.
Di Pungkuran ini, bukan hanya makam Ki Arsantaka yang bisa ditemukan. Sejumlah bupati yang bergelar Dipokusumo juga ada di sana. Termasuk R. Goetheng Taroenadibrata yang juga masih keturunan kesekian Arsantaka. Memang makam keluarga.
Khusus makam Ki Arsantaka ditempatkan dalam satu cungkup terpisah. Didalamnya juga bersemayam makam Tmg Dipayuda III dan isterinya serta seorang pengawal.
Uniknya, dari seluruh makam yang ada hanya makam Arsantaka yang dipenuhi gundukan tanah yang saya sempat mengiranya sebagai rayap. Pak Karso kemudian mengoreksi saya dan mengatakan bahwa itulah yang dinamakan unur.
"Unur di makam Eyang Arsantaka ini konon menandakan kesuburan wilayah Purbalingga juga", kata Pak Karso.
Makam ini ramai diziarahi masyarakat umum pada malam-malam khusus seperti Kliwon misalnya. Pemerintah Daerah juga mengagendakan ziarah rutin pada setiap momentum Hari Jadi Kabupaten Purbalingga.
Dalam perjalanan pulang dari makam, salah satu dari ketiga buntut saya berkata, "Mbak, aku baru ngeh. Ternyata lihat langsung peninggalan sejarah begini bikin lebih mudah belajar sejarah lokal ya,... daripada sekedar baca buku".
Yup, kalau 'aku sih yes'. Hanya saja porsinya tetap tidak melebihi catatan sejarah yang ada dong.
- Anita Wiryo Rahardjo
Pertama terbit: 16 April 2018
Penyuntingan terakhir: 2026
Catatan: beberapa bagian tulisan diperbarui dan disunting kembali.


Komentar
Posting Komentar