Sela Bintana, Yang Terlupa
Ini nih. Obrolan ngalor ngidul dengan Mas Bowo Leksono dan kawan-kawan Cinema Lovers Community (CLC) beberapa waktu lalu, malah membuat saya mampir ke tetangga sebelah. Apa sebab? Karena si Mbah tetangga ini pernah ikut serta dalam proyek bangunan bioskop misbar di Purbalingga.
Misbar ini singkatan dari gerimis bubar. Banyak orang mengajari saya mengatakan itu, namun belum pernah ada yang memberi gambaran pastinya di Purbalingga ini. Karena dengan tambahan kata bioskop didepannya, pastilah akan berbeda dengan layar tancep yang digagas CLC setiap tahunnya.
Nama yang bagus, namun rasanya tidak seterkenal bioskop lain yang ada di Purbalingga seperti Rayuan ataupun Braling Theater. Termasuk tidak lebih banyak disebut juga dari Bioskop Indra di Bobotsari.
"Tempatnya dekat Rayuan", imbuhnya lagi, "Utara jalan raya. Barat agen bus Narayana"
Yang pasti dari cerita yang sudah disadur lintas generasi, misbar itu tidak beratap. Tidak ada kursi. Alhasil penonton harus selalu siap untuk pilihan berjongkok, bersila bahkan berdiri saat menonton. Nah, apabila gerimis sedikit saja, penonton langsung bubar. Berjaga dari hujan yang mungkin akan segera turun.
"Bioskop misbar Purbalingga ya Sela Bintana", kata Mbah Jaedi, tetangga yang saya ceritakan di awal tadi.
Sela Bintana.
Nama yang bagus, namun rasanya tidak seterkenal bioskop lain yang ada di Purbalingga seperti Rayuan ataupun Braling Theater. Termasuk tidak lebih banyak disebut juga dari Bioskop Indra di Bobotsari.
Dari cerita Mbah Jaedi, misbar ini memang beda kelas penonton. Jadi tidak akan berebut penonton dengan Rayuan. Apalagi untuk pembaruan judul film, jelas tidak akan bersaing. Namun bagi yang sedang berhemat dan membutuhkan hiburan, bisa memilih nonton di Sela Bintana.
"Tempatnya dekat Rayuan", imbuhnya lagi, "Utara jalan raya. Barat agen bus Narayana"
Di mana lagi ini?
Memang, Mbah Jaedi yang saat ini sudah mencapai 80 tahun mungkin tidak lagi melihat perkembangan Purbalingga.
Bioskop Rayuan ini sudah lama tutup. Entah jadi apa sekarang bangunan di sebelah barat Gedung Kongkwan ini. Namun yang pasti, sudut di Jalan M.T. Haryono Kabupaten Purbalingga ini masih dikenal sebagai kompleks Rayuan. Entah itu warung bakso atau kios play station jika berada di sini ya akan menambahkan embel-embel Rayuan. Tapi agen bus Narayana?
Melihat saya kebingungan mengenali tempat yang dimaksud, Mbah Jaedi lalu menyebutkan bahwa Narayana ini termasuk lingkungan mBengang. Nah! Kalau ini saya tahu. Bengang adalah nama dusun yang termasuk Kelurahan Purbalingga Kulon, tepatnya kompleks belakang SMA 1 Purbalingga. Salah satu jalur masuk ke Bengang adalah seberang Rayuan.
Jika memang demikian, tebakan saya, misbar Sela Bintana ada di kompleks ruko di timur SMA N 1 Purbalingga.
Bioskop misbar Sela Bintana menempati bangunan milik Tan Kwee An, begitu cerita Mbah Jaedi.
Tan Kwee An ini, lanjutnya, seorang pengusaha es balok ternama sampai pada sekira 20 tahun silam mungkin ya. Pabriknya diberi nama Salju. Saat belum banyak freezer, maka Salju sudah aktif memproduksi es balok untuk kemudian dijual. Bukankah tempat ini sekarang juga sudah tidak ada?
Kembali ke cerita bioskop misbar Sela Bintana. Mbah Jaedi mengaku tak ingat pasti kapan Sela Bintana mulai dibangun, meski ia termasuk salah seorang yang turut dalam proyek tersebut. "Sepertinya sebelum Gestok", ujarnya mengingat-ingat.
Dulu ia hanya diberi tugas mengecat dinding bangunan tersebut. Tak ingat juga apakah saat itu bangunan ini telah menjadi misbar atau baru akan menjadi tempat pilihan kedua untuk nonton film yang hemat.
Ia hanya ingat tempat tersebut adalah gudang milik ayah Tan Kwee An. "Ya sudah rapet gedungnya. Ada atapnya. Mirip Rayuan. Bahkan lebih besar dan luas", kenangnya.
Ada atapnya? Tidak kena gerimis dong?
Saat melintas sepanjang jalur Jalan M.T. Haryono, saya pun kemudian mampir ke toko sepeda milik Pak Ambing. Usianya hampir seumuran dengan Mbah Jaedi.
Saat melintas sepanjang jalur Jalan M.T. Haryono, saya pun kemudian mampir ke toko sepeda milik Pak Ambing. Usianya hampir seumuran dengan Mbah Jaedi.
Ternyata Pak Ambing juga mengiyakan luasnya bangunan Sela Bintana. "Itu lho yang sekarang jadi jual Mie Ongklok sampai jalur (penjual) Soto sana", kenang pria sepuh keturunan Tionghoa ini sambil menunjuk deretan ruko yang agak jauh dari titik SMA N 1 Purbalingga.
Namun ketika ditanya memori bentuk bangunan misbar, Pak Ambing menggeleng.
Entahlah. Apakah yang diceritakan segelintir orang sebagai misbar itu sebelum bangunan Sela Bintana di beri atap. Atau justru ada ingatan tumpang tindih dari cerita mereka yang sudah tidak lagi muda ini? Saya hanya akan memperoleh jawabannya ketika saya mau bergerak melanjutkan penelusuran ini.
Apapun itu, artinya jika kemudian Purbalingga tak memiliki bioskop dengan alasan sepi penonton, maka mungkin misbar bisa menjadi pilihan mengingat seharusnya akan tetap lebih terjangkau bukan?
Apapun itu, artinya jika kemudian Purbalingga tak memiliki bioskop dengan alasan sepi penonton, maka mungkin misbar bisa menjadi pilihan mengingat seharusnya akan tetap lebih terjangkau bukan?
- Anita Wiryo Rahardjo
Pertama terbit: 21 Maret 2018
Penyuntingan terakhir: 2026
Catatan: beberapa bagian tulisan diperbarui dan disunting kembali.

Komentar
Posting Komentar