Langsung ke konten utama

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

Beberapa tahun silam, seorang sepuh sempat memperingatkan saya untuk tidak dulu memasuki Makam Wangi (Stana Wangi) karena salah hari. Namun kini dengan berstatus desa wisata, saya dapat mengunjungi Makam Wangi kapanpun sekaligus menikmati panorama desa Pagerandong, kecamatan Kaligondang.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Agenda Sesaji Larung Gintung kembali membawa saya ke Makam Wangi. Banyak hal berubah setelah sekian tahun. Dulu, kami tidak disarankan mengendarai sepeda motor sampai di depan Makam Wangi karena jalanan yang ekstrem dan masih berupa kerikil tajam. Sekarang ? Mobil pun dapat melaju lancar. Namun tetap harus hati-hati. Kontur jalannya memang naik turun dan berkelok.

Di dalam hutan

Dari kejauhan, tampak satu lahan seolah terpisah. Perbukitan. Rimbun ditanami pepohonan dan bambu. Inilah Makam Wangi.



Lahan sekira 3 hektar ini tepat berada di tepi Sungai Gintung. Selain beragam bambu, kita dapat menemukan banyak jenis tumbuhan buah. Salah satunya Mangga Belanda. Ini seperti yang terpampang pada papan sederhana yang dipajang di dekat tanaman yang bersangkutan. Karena harus menaiki undakan tanah liat yang sedikit becek, maka mata hanya sanggup menangkap tulisan Mangga Belanda saja. Selebihnya, saya merasa seperti memasuki alas desa yang bersuasana asri.

Di kawasan hutan inilah, Makam Wangi berada. Hutan yang sudah sejak lama terjaga kelestariannya. Bahkan hingga kini, warga tak pernah ada yang berani menebangi pohon yang ada. "Jangankan nebang, repek(¹) saja tidak sembarang orang berani", tutur Ki Tarko Gareng, salah seorang seniman Purbalingga yang tinggal tak jauh dari Makam Wangi.

[ ¹ : mengambil kayu atau ranting yang jatuh di kebun atau hutan guna dijadikan kayu bakar ]

Warga yang patuh pada larangan menebang sembarangan ini, cukup mampu menjadikan Makam Wangi bak benteng penghalau gempuran air sungai ke persawahan warga. Ya, selain bersisian dengan sungai, Makam Wangi juga bersebelahan dengan sawah. Dan sekarang, kita tak perlu bersusah payah melewati pematang untuk menuju makam. Sebuah jembatan bambu telah dibangun secara khusus oleh pengelola objek wisata.

Menhir

Tak lama setelah menaiki undakan, kami melihat dua pemuda tengah duduk diam di sebidang tanah menanjak. Dihadapannya tampak sebuah batu berisi bedak, parfum, cermin dan rokok. Hmmm.. sepertinya sesaji.

Melihat kehadiran rombongan kami sekaligus juru pelihara, mereka pun menyingkir sejenak. Keberadaan orang-orang yang menepi di Makam Wangi ini memang bukan hal baru. Sejak lama, makam ini dipercaya bertuah. Nah, dimungkinkan bagi kaum-kaum seperti inilah 'kesalahan hari' -seperti kedatangan pertama saya dulu- masih dapat berlaku. Tapi kalau sekedar untuk menengok situs kapan saja bisa kok.

Berjarak tinggi sekitar 1 meter, pepohonan tampak memayungi sebuah makam. Tepatnya petilasan. Tampak menhir sejajar dengan jarak ± 1 meter yang difungsikan sebagai nisan.  Dimana diatasnya tersusun tatanan bebatuan.



Kenapa tatanan 1 nisan di makam wangi terdiri dari 2 menhir ya ?

Sementara itu sesaji diletakkan pada batu yang mendapat sebutan lokal "papan pesujudan". Papan pesujudan ini sepertinya batu yang telah dibentuk. Datar dengan sisian menyerupa segi lima. Dipercaya batuan ini dulu menjadi tempat sholat Munding Wangi.



Mengapa Makam Wangi •

Memasuki Makam Wangi saya pun menjadi bertanya-tanya. Dimanakah yang menebarkan aroma wangi ? Karena saya hanya mampu menghirup aroma segar khas tetumbuhan.

Menurut folklore, aroma wangi itu berasal dari potongan rambut Pangeran Atas Angin (dikenal juga dengan Syeh Atas Angin) yang dijatuhkan di perbukitan tersebut. Nama Atas Angin selama ini akrab kita dengar dalam kisah asal-usul Ardi Lawet.

Pangeran Atas Angin lah yang beradu kesaktian dengan Munding Wangi, seorang putera mahkota Pajajaran yang melepas tahta demi mengejar 3 cahaya Ilahi yang dilihatnya. Dalam perjalanan pencarian cahaya itulah, Munding Wangi bertemu dengan  Atas Angin. Dimana keduanya memiliki tujuan yang sama.

Saat adu kesaktian guna mengelabuhi Munding Wangi, Pangeran Atas Angin menjelma menjadi perempuan jelita berambut panjang. Atas Angin menjatuhkan potongan rambut panjangnya itu di sebuah tempat di Pagerandong, Kaligondang. Pada saat jatuhnya potongan rambut itu konon menebarkan aroma harum atau wangi. Hingga tempat inipun dinamakan Makam Wangi.

Versi lain ada pula yang menyebutkan bahwa justru potongan rambut Munding Wangi lah yang dimakamkan disini. Hingga bernama Makam Wangi, yang asal kata dari nama satria Pajajaran itu.

Meski ada yang menyatakan jika di makam Wangi ini tak hanya ada petilasan terkait kisah tersebut diatas, (konon terdapat pula makam Eyang Purwosuci dan Adeg Menggala), namun tak kami temukan lokasinya di perbukitan Makam Wangi ini. Ataukah saya salah hari lagi ?


Komentar

Banyak Dicari

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yang menjajakannya semasa hidupnya dulu. • oleh Anita Wiryo Rahardjo • Warisan Budaya TakBenda (WBTB) menjadi sematan label pada karya istimewa pria asal Kecamatan Rembang Purbalingga, yaitu Mbah Gepuk. Ia menekuni pembuatan wayang suket sejak 1921 hingga akhir hidupnya pada 2002. Sebagian kisah tentangnya telah dituliskan melalui akun Medium Anita Wiryo Rahardjo yang dapat diklik disini .   Berjalan dan Berjualan Selain Pasar Bantarbarang , Mbah Gepuk berjalan kaki dari rumahnya ke Pasar Losari serta Pasar Semampir . Semuanya ada di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Ia membawa sejumlah wayang yang telah dikerjakan sebelumnya untuk dijual. " Ke Losari kalau pasaran manis dan ke Semampir saat pasaran pon ", cerita Badriyanto, cucu dan penerus Wayang Suket Mbah Gepuk. Foto diambil dari akun Medium Anita Wiryo Rahardjo sendiri ya. Me...

KASURAN

Otak saya pernah dengan mentah menerima kata “ kasuran ” sebagai  kasur  +  an . Padahal yang dimaksud adalah  ka  +  sura  +  an . Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Kasuran merupakan nama jenis rumput yang secara khusus dipakai sebagai bahan utama Wayang Suket khas kecamatan Rembang, Purbalingga. Tepatnya di desa Wlahar. Wayang ini menjadi khas karena hanya seorang saja perajin awalnya. Yaitu Mbah Gepuk . Nama aslinya Kasanwikrama Tunut. Konon  suwargi  melewati masa kanak-kanak sebagai bocah angon yang tentunya akrab dengan alam dan padang rumput nan luas. Menghadapi usia senja, ia banyak menepi dan mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh – tokoh legendaris dalam kisah pewayangan. Ia aktif membuat wayang suket sejak 1920-an. Meski telah menghadap sang Khalik pada 2002 silam, beberapa karya Almarhum Mbah Gepuk masih kerap dipamerkan. Seperti : Gatotkaca dan Rama Shinta.     Kasuran di Pulau Dewata Kini...