Joglo Kembar, Pagi Itu
Hari itu, bisa dikatakan masih cukup pagi. Orang-orang juga terlihat sudah memulai kesibukannya. Hari ini agenda saya adalah menuju ke museum di pusat kota Purbalingga. Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja.
Tak lama setelah tiba, ada satu keluarga kecil menyusul. Saya menduga mereka tersasar. Dari dialeknya terdengar mereka bukan penduduk lokal seperti saya.
Tapi, tidak! Pria satu-satunya dalam keluarga itu tampak langsung memandang bangunan joglo di depan saya ini. Ia terlihat mencari-cari. Namun kalimat yang keluar cukup mengejutkan.
Namun sebelum masuk, ia berbalik sejenak dan melihat ke halaman.
Sekolah ya? Tetiba saya teringat cerita pemilik Bakmi Sunar di seberang museum. Bu Eni Sunar, pernah bersekolah di sini. Hanya saja di tahun 80-an, di area ini adanya SMA Karya Bakti. Tentu saja sebelum sekolah milik yayasan tersebut pindah ke jalur Bancar sana.
"Saya rindu", katanya pelan. Saya panik. Bukan karena saya merasa mengenalnya, namun lebih pada ada geletar ngilu dalam nada bicaranya yang telah bergetar dimakan usia.
"Joglo ini baru ya?", tanya ia kemudian.
Saya hanya bisa menjawab sebatas yang pernah disampaikan pemandu museum ini. Meski tak bisa dikatakan sepenuhnya baru, namun peresmian museum ini di tahun 2003 pastilah sangat jauh dari apa yang pria ini tengah cari.
"Dulu saya sekolah SR di sini", lanjutnya. Sontak pengakuan itu membuat saya terburu mengajaknya masuk untuk bersua beberapa pemandu di dalamnya. Mungkin mereka jauh lebih bisa membantu dibandingkan saya.
Namun sebelum masuk, ia berbalik sejenak dan melihat ke halaman.
"Saat Clash (Agresi Militer II), halaman ini ditempati beberapa tank milik Belanda. Sekolah libur, kami disuruh ngungsi ke Wirasana. Tapi dasar bocah, saya diam-diam masuk kota dan tidur di Masjid Agung itu. Saya pun jadi tahu kalau Kauman pada masa itu menjadi dapur umum Belanda", kisahnya.
Saya tak bisa menimpali apapun. Selain kemudian berinisiatif masuk dan menceritakan terlebih dulu apa yang disampaikan bapak itu kepada pemandu museum.
Kami sepakat untuk berkeliling museum sembari berbincang apa saja. Saat pemandu menanyakan identitasnya, ia memperkenalkan diri sebagai Muhammad Toha. Kedatangannya kali ini untuk menapak tilas masa kecil di kota kelahirannya ini.
Ia mengaku telah puluhan tahun menetap di Bogor, dan kepulangannya kali ini ia ingin menunjukkan sekolahnya dulu pada istri dan anaknya. Dan hal itu yang membawanya sampai bertemu saya di halaman museum.
"Sayangnya, saya nggak punya foto jaman sekolah disini", ekspresinya meredup.
Sekolah ya? Tetiba saya teringat cerita pemilik Bakmi Sunar di seberang museum. Bu Eni Sunar, pernah bersekolah di sini. Hanya saja di tahun 80-an, di area ini adanya SMA Karya Bakti. Tentu saja sebelum sekolah milik yayasan tersebut pindah ke jalur Bancar sana.
Bu Rien Anggraeni, pimpinan museum ini pun pernah mengatakan bahwa sebelum dibangun joglo seperti saat ini memang sudah ditempati instansi atau lembaga lain.
Sebelum SMA Karya Bakti, ada SD Negeri 4 serta kantor Bappeda yang juga pernah berlokasi di sini. Bahkan kemudian studio Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) pun pernah berlokasi di lingkar Pendopo Dipokusumo ini.
Sepertinya area ini kerap berubah fungsi ya. Namun kemudian seiring waktu, di tempat ini berdiri bangunan joglo yang cukup besar. Dua bubungan joglo yang terlihat dari kejauhan sepertinya menjadi inspirasi penyebutan joglo kembar oleh para pemandu museum.
Ide bangunan ini katanya muncul dari Bupati Purbalingga periode 2000 s.d. 2010, Triyono Budhi Sasongko. Dinamakan kembar karena memiliki sisi dan atap joglo yang sama persis dan disatukan dengan selasar. Kemudian fungsinya pun unik. Satu sisi di sebelah timur menjadi perpustakaan daerah, dan sebelah barat menjadi museum budaya.
Buku dan benda peninggalan tentu saja kombinasi yang pas untuk mengenal sejarah Purbalingga. Kali ini meski perpustakaan daerah telah berpindah tempat, namun cerita-cerita pengunjung museum yang datang mampu menambah khasanah pengetahuan lokal tersendiri. Dan menjadikan museum beserta koleksinya terus bercerita dari berbagai sudut pandang.
- Anita Wiryo Rahardjo
Pertama terbit: 4 Mei 2018
Penyuntingan terakhir: 2026
Catatan: beberapa bagian tulisan diperbarui dan disunting kembali.

Komentar
Posting Komentar