Langsung ke konten utama

Monumen Pers Nasional di Solo

Belasan tahun tak mengunjungi Solo membuat saya bingung. Banyak yang berubah. Berhubung urusan pekerjaan membuat saya baru bisa melepas penat jelang jam 17.00, maka pilihan pun hanya bisa jatuh ke Monumen Pers Nasional yang dekat dengan lokasi rapat. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Monumen yang terletak di Jalan Gajah Mada no 29 ini memiliki bentuk bangunan yang unik. Mirip candi. Orang masih banyak yang menyebutnya sebagai Societeit atau Kamar Bola. Dikenal sebagai kamar bola, karena bangunan mirip candi ini pada jaman dahulu sering dipakai oleh orang-orang Belanda bermain bola sodok atau billiard.


Cukup mudah menggapai tempat ini. Karena terletak di jalur utama dan berada dekat dengan Keraton Mangkunegaran. Tepatnya diarah barat Keraton dekat tugu perempatan jalan yang dahulu dikenal dengan sebutan bundaran air mancur. Atau seberang Taman Punggawan.

Tugu yang terletak di dekat Monumen


Taman Punggawan di seberang Monumen


SASANA SOEKA

Monumen Pers Nasional menempati gedung yang semula bernama Sasana Soeka atau Sasono Suko. Sebuah societeit milik Mangkunegaran dan dibangun pada 1918 atas prakarsa Sri Mangkunegara VII dan dibangun oleh seorang arsitek pribumi yang bernama Atmodirono. Gedung ini memiliki peran besar dalam dunia penyiaran dan pers Nasional. 

Pada 1 April 1933, di gedung ini diselenggarakan rapat yang melahirkan terbentuknya Soloche Radio Vereniging (SRV) yang menjadi cikal bakal media penyiaran (radio) di tanah air. Dan kemudian pada Sabtu Pahing, 9 Februari 1946 terbentuklah organisasi profesi wartawan dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI dengan ketua terpilih Mr. Soemanang.

10 tahun berselang, pada peringatan satu dasawarsa PWI, tercetuslah ide mendirikan sebuah Yayasan Museum Pers Indonesia. Gagasan dari B.M. Diah, Rosihan Anwar dkk itu tidak lama kemudian menjadi kenyataan. Setelah yayasan itu terbentuk, melalui Konggres Palembang 1970 kembali tercetus niat baru yaitu Museum Pers Nasional.

Dan pada 9 Februari 1971 Menteri Penerangan Budiarjo, menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Surakarta. Nama Museum Pers Nasional yang dicetuskan di Palembang ini kemudian diubah menjadi Monumen Pers Nasional dan atas usul PWI Cabang Surakarta. Hal ini terjadi pada Kongres di Tretes tahun 1973. Dan pada akhirnya, Presiden Soeharto meresmikan gedung societeit Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan penandatangan prasati pada 9 Februari 1978. 

Awalnya Monumen ini berada dibawah naungan Departemen Penerangan. Namun setelah lembaga ini dilikuidasi, Monumen Pers Nasional berada dibawah pengawasan Kementrian Komunikasi dan Informasi.

Berikut koleksi yang terdapat di Monumen Pers Nasional diambil dari mpn.kominfo.go.id



Dan berikut adalah koleksi yang terdapat diluar (hehehe... yang bisa saya foto cuma ini...)


UNIK



Selain bentuk bangunan yang mirip candi, seperti halnya bangunan kuno lainnya, gedung ini pun memiliki pintu dan jendela yang lebar. Khusus untuk temboknya menggunakan batu andesit dengan permukaan kasar sehingga benar-benar menyerupai candi lengkap dengan warna abu-abu gelapnya ini. 

Dibagian depan, terdapat hiasan berupa empat naga yang diberi nama Catur Manggala Kura. Penambahan ornamen naga ini baru dilakukan sekitar tahun 1977 hampir bersamaan dengan penambahan gedung baru 2 lantai di sisi kiri dan kanan dan satu gedung empat lantai di belakang bangunan utama. Sementara surya sengkala Muluking Sedyo kabangun Nagoro bermakna tahun 1980, yang merupakan angka tahun selesainya gedung Monumen Pers Nasional dibangun. Di belakang naga terdapat sebuah kentongan besar melambangkan alat informasi dan komunikasi pada zaman dahulu. Kentongan ini dinamakan Kyai Swara Gugah.


Monumen ini menyimpan banyak koleksi yang berkaitan dengan perjalanan panjang pers kita yang sebenarnya sudah dimulai sejak masa penjajahan. Kabarnya koran kuno tahun 1913 pun bisa ditemukan disini. Sayangnya, -lagi-lagi karena kesorean- saya datang hanya untuk melihat gerbang Monumen ditutup. Hiks,...

Komentar

Banyak Dicari

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

Beberapa tahun silam, seorang sepuh sempat memperingatkan saya untuk tidak dulu memasuki Makam Wangi (Stana Wangi) karena salah hari. Namun kini dengan berstatus desa wisata, saya dapat mengunjungi Makam Wangi kapanpun sekaligus menikmati panorama desa Pagerandong, kecamatan Kaligondang. • oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Agenda Sesaji Larung Gintung kembali membawa saya ke Makam Wangi. Banyak hal berubah setelah sekian tahun. Dulu, kami tidak disarankan mengendarai sepeda motor sampai di depan Makam Wangi karena jalanan yang ekstrem dan masih berupa kerikil tajam. Sekarang ? Mobil pun dapat melaju lancar. Namun tetap harus hati-hati. Kontur jalannya memang naik turun dan berkelok. • Di   dalam hutan • Dari kejauhan, tampak satu lahan seolah terpisah. Perbukitan. Rimbun ditanami pepohonan dan bambu. Inilah Makam Wangi. Lahan sekira 3 hektar ini tepat berada di tepi Sungai Gintung. Selain beragam bambu, kita dapat menemukan banyak jenis tumbuhan buah. Salah...

MAKAM KUNO & KALONG RAKSASA DI SITUS BANDINGAN

Mengunjungi sebuah tempat peninggalan masa lalu langsung di alam yang dipertahankan keasliannya tentulah membawa suasana tersendiri.  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Melihat berbagai macam batuan yang sudah dipenuhi lumut di tengah-tengah rindangnya pepohonan yang dihuni ribuan kalong raksasa seolah membawa kita keluar dari hiruk pikuk dunia. Dan salah satu tempat yang masih alami tersebut adalah Situs Bandingan di Dukuh Bandingan, Desa Karang Jambu Purbalingga. Atau dikenal juga sebagai kompleks makam kuno Karang Jambu. Mengunjungi makam kuno ini memang terasa menyenangkan. Alunan suara merdu para santri yang tengah mengaji menjadi pengiring menikmati kesejukan dan asrinya perjalanan di dalam “hutan alam” situs Bandingan. MAKAM KUNO Situs Bandingan memiliki rangkaian sejarah yang cukup komplit. Menurut salah seorang arkeolog di Kabupaten Purbalingga, Adi Purwanto, Situs Bandingan ini dikaitkan dengan masa pra sejarah, Hindu-Budha sampai ke masa penyebaran Islam di tempat ini. “Jad...