Cari Blog Ini

TUGU LANCIP, icon BOBOTSARI

​Bobotsari. Tapi tak banyak yang saya kenal dari tempat ini. Selain Bakso Tukiman, Terminal Bobotsari serta Tugu Lancip. Dan tugu kembar di Jalan Andong Sinawi lah yang secara khusus menarik perhatian saya.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Tugu Lancip Bobotsari berada di ruas jalan Bobotsari - Karang Reja. Berada di kanan-kiri jalan utama. Serupa gapura. Ya, gapura menuju titik akhir dari perjalanan hasil panenan sistem tanam paksa di utara Purbalingga. Tanam paksa ?

"Jadi kerugian akibat perang Diponegoro dan ditambah sisa hutang VOC, membuat pemerintahan Hindia Belanda memberlakukan tanam paksa. Yang ditanam adalah yang laku dijual di pasar internasional. Lada, kopi, kina, hingga teh. Dan saat itu, Purbalingga kebagian teh dan kopi yang banyak ditanam di wilayah utara", kata Mas Moko, salah seorang guru sejarah di SMP N 2 Purbalingga. (Maaf, maaf, maaf.. saya lupa nama lengkap Mas Moko)

Hasil perkebunan itu diantar ke Bobotsari untuk kemudian jadi komoditas jualan pemerintahan Hindia Belanda. Rute ini dilengkapi dengan keberadaan Gardu Jaga. Sebut saja di Siwarak, Karang Reja. Gardu ini juga punya peranan untuk mengawasi arus lalu lintas hasil perkebunan kopi disana. Pengawasan berlanjut di gardu Bobotsari, letaknya sebelum mencapai tugu lancip. Dan tugu lancip menjadi pintu gerbang memasuki Bobotsari. Bukan sekedar pintu gerbang, karena segi desainnya pun sangat unik.

• (Mungkin) Satu-satunya di Jawa Tengah •



Sesuai namanya, tugu ini berbentuk lancip. Limas segitiga dibagian atas dan persegi di bagian bawah. "Konsepnya serupa lingga yoni", lanjut Mas Moko. Tidak bisa dipungkiri, wilayah utara Purbalingga termasuk area subur. Keberadaan lingga yoni acap mencirikan kesuburan suatu tempat. (Foto diunduh dari sini)

Secara keseluruhan tugu berwarna hitam dan terbuat dari campuran batu bata dan semen. Pada bagian atas tugu terdapat relief motif kepala makara. Makara merupakan ragam relief khas pada bagian pintu candi di Jawa. Makara menggambarkan makhluk mitologi penolak bala. Pada candi khas Jawa Tengah-an, kepala makaranya berbeda. Yaitu tidak utuh. Hanya bagian kepala sampai bibir atas saja. Sementara makara candi Jawa Timur berbentuk lengkap. "Dan tugu lancip menggunakan makara Jawa Tengah. Praktis ini bisa menjadi salah satu bangunan khas Jawa Tengah juga", terang Mas Moko.

Sementara pada bagian bawah atau yoni, terdapat relief Budha dalam posisi salah satu mudra yang mengartikan samadi. "Dhyana Mudra", katanya. Apa ini menandakan pengaruh penyebaran Hindu Budha di wilayah kita ? Monggo, para ahli yang sekiranya lebih tepat untuk menjawab. Saya sih tugasnya mancing aja. Ups !!

Di antara lingga dan yoni, terdapat bentuk serupa kelopak. Hanya saja apakah itu teratai atau bukan, Mas Moko juga tidak berani memastikan. "Sebenarnya kalau secara bentuk, tugu lancip ini mirip dengan tugu Jogja lho. Coba saja perhatikan", lanjutnya. Begitukah ?

• Pernah digeser •



Tugu Lancip memang masih berlokasi di Jl. Andong Sinawi KM 9,7 Karangsari, Bobotsari. Namun jaraknya sudah mengalami perubahan. Pelebaran jalan yang dilakukan membuat keduanya sedikit menjauh. Bukan masalah. Yang penting tak dihilangkan begitu saja kan. Toh bentuknya juga tak diubah. Ketinggiannya pun tetap 350 cm dengan panjang 155 cm dan lebar 150 cm. (Foto diambil dari sini)

Nah, tugu lancip memang sangat identik dengan Bobotsari. Tak salah. Selain berlokasi disana, pada 1925 tugu Lancip dijadikan batas wilayah Bobotsari oleh Bupati Aryosugondo. Ada informasi yang menyebutkan, tugu ini juga menjadi starting point dimulainya proyek pembangunan jalan Bobotsari - Pemalang. Tahun berapa ? Ada yang bisa membantu saya mencarikan jawabannya kan ?

Ah, masih belum banyak informasi yang saya peroleh tentang Tugu Lancip ini. Yang jelas saya haturkan terimakasih pada Mas Moko yang sudah banyak membantu, Mas Atiq, dan tentunya Osy yang sudah mengantar perjalanan ini.

Mengintip saja di Watu Lawang Kalapacung

Sore itu teramat mendung. Namun lagi-lagi beginilah ketika keinginan mbolang muncul. Gayung bersambut, seorang kawan menawari jalan-jalan ke desa Kalapacung, Bobotsari. “Ada Watu Lawang lho Mbak disana”, katanya. Okay, kita kesana.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Sungguh saya tak punya gambaran apapun tentang tempat ini. Beberapa sms masuk hanya mengatakan : lokasinya sulit, angker, atau bahkan “kamu mau minta nomor ya?”. 

Iyyyyeeess, yang terakhir ini sebenarnya sudah biasa banget ditanyakan saat saya main-main ke petilasan atau yang serupa. Sudahlah, monggo kerso. Lebih baik segera ganti alas kaki untuk menuju ke watu lawang. 

Ya, saya disarankan mengenakan sandal jepit setelah hujan mengguyur deras desa Kalapacung. Karena untuk menuju Watu Lawang, kita harus melewati areal perkebunan dan semak rimbun yang naik turun. Mirip perbukitan namun cukup landai. Arahan penduduk setempat memang sepatutnya jadi acuan saat main-main model begini. Bertiga, kami menemui Pak Kasmad terlebih dulu. Ia juru kunci Makam Watu Lawang.


MAKAM WATU LAWANG


 
Makam Watu Lawang merupakan sebutan bagi beberapa makam sekaligus. “Wonten pesarean Mbah Semar, Mbah Rantan Sari, Mbah Nreyem, dan Mbah Brawijaya”, kata Pak Kasmad yang juga dikenal sebagai Abang Bakso Rusito. Terlihat mata salah seorang kawan saya membulat. Sepertinya ia tertarik dengan sebutan Makam Brawijaya. 

“Ngapunten Brawijaya pinten nggeh ?”, tanya ia. Nah !! namun lagi-lagi jawaban tak memuaskan. Karena Pak Kasmad sendiri pun tak memahami alasan penyebutan nama-nama makam itu. Keberadaan makam ini terpisah-pisah. Namun masih dalam satu kompleks pemakaman desa yang sangat luas.

Pertama, kami lebih dulu mengunjungi Makam Mbah Semar. “Niki petilasan sing kulo sering mriki Mbak”, kata kawan yang menjadi guide sore itu. Saya manggut-manggut saja, karena tak ada informasi lebih jauh mengenai tokoh-tokoh ini. 

“Kulo niki ebeg Mbak, sok dibandan. Dados sedereng wonten tanggepan kulo mesti mriki riyin”, lanjutnya. Oaaaalllaaahh.. Dan alasan itulah yang membuat saya tak mengarahkan kamera ke beberapa makam ini. Dan setelah mengikuti sang ebeger ini, sampailah untuk melanjutkan perjalanan ke Watu Lawang. Batu seukuran pintu ini memang tak jauh dari makam-makam ini.


WATU LAWANG


Tempat ini seperti tak bertuan. Semak yang rimbun cukup menggangu langkah. Padahal beberapa penderes tampak bolak-balik disini. “Kalian naik saja, batunya biasanya ditutupin kain putih kok”, kata salah seorang penderes yang menyadari kami tak kunjung menemukan watu lawang itu. Sisa gerimis memang membuat kami cukup kesulitan mendeteksi keberadaan batu ini. Suasananya terlalu sendu.



Dan setelah cukup susah payah, sampai jugalah kami didepan watu lawang. Tak ada papan petunjuk apapun. Jadi, jika tak bersama warga lokal mustahil mencarinya sendiri. Eh, kain putihnya juga sudah tak terpasang kok. “Itu Mas, Mbak… Watu Lawang-nya. Kalian naik saja, saya pusing”, kata guide kami itu. 

Hmmmm.. tak butuh waktu lama, kami hanya sekedar memotret batu besar ini. Seperti bersandar pada batang pepohonan besar, batu ini seolah menawarkan perjalanan lain jikalau kita memasukinya. Efek redupnya suasana memang membuat saya terpikir segera menyingkir dari tempat ini. Yang diotak saya kemudian adalah lebih baik dirumah. Nge-teh denganmu saat langit begitu syahdu.

LEGENDA


Watu Lawang ini begitu lekat dengan legenda yang berkait dengan asal-usul nama Kalapacung. “Kalah pacule, kalah pacule, jadilah Kalapacung”, kata Rien Anggraeni, kasi Jarahmuskala Purbalingga dalam kesempatan terpisah. Kalah pacul ? Yap, pacul atau cangkul dikisahkan pernah digunakan untuk mencongkel keberadaan sebuah pintu yang terjatuh. Namun tak membuahkan hasil.

Dalam kisahnya, diceritakan bahwa dua kakak beradik yang sama-sama menjadi Adipati adalah tokohnya. Rien mengisahkan bahwa mereka adalah Adipati Pekuncen dan Adipati Tangkisan. Sementara beberapa warga ada yang mempercayainya sebagai Adipati Onje dan Adipati Limbasari. Meski berbeda, namun kisahnya bisa dibilang sama. 

Sebagai Adipati, kehidupan keduanya bertolak belakang. Sang adik bergaris tidak kecukupan untuk kehidupan sekelas Adipati. Suatu hari, sang adik hendak mengadakan hajatan. Singkat cerita, dibutuhkan pendopo yang besar untuk menyelenggarakan acara tersebut. Hingga sang adik berencana meminjam pendopo kakaknya. Namun karena keasyikan berbincang, niatan awal meminjam pendopo pun terlupa. Hingga hari H, pendopo pun belum ada ditempat. Akhirnya dengan memohon kekuatan Sang Hyang Agung, pendopo pun berpindah dengan lantaran kesaktian yang dimiliki sang adik.

Saat sang kakak dalam perjalanan pulang, Adipati Tangkisan bersegera mengembalikan pendopo tersebut ke Pekuncen. Namun karena buru-buru, satu pintu terjatuh. Meski telah diupayakan, pintu itu tetap tertanam hingga kini dan disebut sebagai Watu Lawang.

Sementara itu menurut ahli arkeologi, seperti diungkapakn Rien, watu lawang bukanlah termasuk batuan cagar budaya. Watu lawang merupakan batuan alam yang berbentuk lebar seperti pintu. Kisah legenda yang masih diperdengarkan, menjadikan watu lawang kerap dikunjungi untuk keperluan-keperluan tertentu. Khususnya mereka yang percaya.



BATU BERUNDAK


 
Belum usai merasakan engap, saya harus kembali merasakan naik puluhan undakan tanah. “Nanggung Mbak, sudah sampai sini. Kita ke batu berundak juga ya”, kata anak muda asal Kalapacung itu. Saya pasrah saja, daripada tak tahu kemana arah pulang.

Di dekat pancuran yang masih digunakan warga untuk mandi, kami menemukan batu berundak ini. Tak jauh dari Kali Jambe. Dilindungi oleh pagar bambu, kami kemudian mengerti bahwa batu berundak atau yang dikenal sebagai watu bokor ini begitu dilestarikan oleh warga. 

“Dulu, jaman akik sedang ramai, kami melindungi batu itu dari orang-oprang yang pengen coba mengambilnya”, kata Pak Kasmad. Lalu apa sebenarnya batu berundak ini

 
Menurut hasil inventarisasi BPCB Prambanan, watu bokor ini merupakan bentuk bongkahan batu dengan pahatan berupa undakan. Diperkirakan memiliki teras bawah berbentuk segi empat. Namun sepertinya sudah tidak utuh. Teras tengahnya juga berbentuk segi empat. Sedangkan teras atas berbentuk lingkaran dengan diameter 28 cm dan dipenuhi lumut. Karen abentuknya yang mirip dengan bokor tengkurap, maka batu ini dinamakan watu bokor itu tadi. “Batu ini masih dimungkinkan sebagai cagar budaya. Mengapa dimungkinkan ? Karena pengkajiannya (dari team BPCB Prambanan) belum selesai", lanjutnya.

Untuk batu ini memiliki panjang 90 cm, tingginya 34 cm, lebar 90 cm dan diameter 28 cm. Dari jenis batu breksi. Warna aslinya hitam keabu-abuan, namun karena tertutup lumut sehingga agak kehijauan. 

"Warga sepertinya juga tidak berani membersihkan lumutnya, karena ada kepercayaan tersendiri”, kata Rien. Ini menurutnya dibuktikan dengan banyaknya dupa pada malam-malam tertentu. Sampai saat ini belum dapat dibuktikan dari masa apa batuan ini. Begitupun fungsinya pada jaman dulu. Namun, apresiasi tetaplah perlu disematkan pada warga setempat yang mencoba melestarikannya. Mengingat tak jauh dari batu ini terdapat mata air.

Belajar pada Alam di Rintisan Agrowisata Giri Badhra

November ini harusnya saya sudah di Giri Badhra lagi. Menengok pepaya California yang mulai matang. Pepaya hasil penanaman dengan teknik toping yang membuat Romo disebut sinting. Ach !!

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Lokastithi Giri Badhra bukanlah tempat baru bagi saya. Empat tahunan yang lalu, untuk sebuah proses "liputan" sejarah, saya berjam-jam di tempat ini. Memunguti rentetan informasi yang disampaikan Romo Hariyadi dengan sabar.

Kali ini kedatangan saya ke museum yang berlokasi di dusun Pangubonan, desa Cipaku berbeda. Bukan lagi sekedar belajar ilmu leluhur, namun belajar bagaimana Romo dan Pak Suroso menerapkannya dalam aktivitas bertani.

Lik Roso, begitu Suroso biasa dipanggil, memang bertanggung jawab penuh pada lahan pertanian di Giri Bahdra ini. Terhitung April 2016, lahan yang berada di belakang Situs Watu Tulis Cipaku ini ditanami bibit pepaya California. Dengan sistem toping. "Ini sistem yang bikin Romo disebut wong edan sama orang-orang sekitar", kata Lik Roso terkekeh. Romo yang menemani saya dan seorang kawan journalist pagi itu pun ikut tertawa mengingat masa-masa awal sistem ini diterapkan. Hmmm,… seperti apa sih sistem toping ini ?


• Sistem Toping •

Saya ini anak IPA tapi mbalelo, jadi mohon maaf jika banyak ejaan atau kata dalam dunia pertanian yang salah.



Untuk mengawali sistem toping di Giri Badhra ini, Lik Roso menyiapkan 900 bibit. Dua bibit ditanam bersebelahan dengan jarak ± 50 cm. Setelah dua bulan, satu bibit dibuang dan satu bibit dipangkas. Lho kok ?!?!?! "Bibit yang dipertahankan adalah pepaya California yang lonjong. Yang lebih banyak peminat dan kuat terhadap hama", terang Lik Roso. Terus kenapa ndadak dipangkas segala sih ? Eits, tenang dong. Belajar dengan tenang adalah kuncinya di tempat ini. Biar bisa nalar.

Pemangkasan pada bibit pepaya California yang dipertahankan, dimaksudkan untuk menguatkan batang dan akarnya. Dengan dipangkas juga akan memunculkan beberapa batang. Inipun masih harus dipilih salah satu. 

"Cari yang bentuk batangnya seperti pancing. Jangan yang lurus kayak kamu, nanti pohonnya tinggi tok tapi buahnya langka", kata Lik Roso. Waduh !! Tapi iya juga sih. Saya melihat ada percontohan pepaya dengan pilihan batang lurus. Jarak ruas daunnya ternyata cukup lebar. Dan ini berpengaruh pada buah yang dihasilkan. Makin kerep ruasnya, makin nretep buahnya. Dan batang dengan lengkung semacam pancing di pangkalnya lebih menghasilkan jarak pendek antar ruasnya.


• Pupuk Organik •



Proses toping tak berhenti disitu. Setiap harinya Lik Roso dengan telaten menengok tanaman-tanaman ini. "Wiwilane dibuangi", katanya seraya membuang tunas daun yang tumbuh disela-sela tangkai. Keberadaan tunas ini ada kalanya menganggu tumbuhnya bunga. "Biasanya setelah wiwilan dibuang, nanti akan berbunga", lanjutnya.

Tak hanya itu, Romo Hariyadi dan Lik Roso pun dengan telaten mengolah sendiri pupuk organik demi kelangsungan pepaya-pepaya ini. "Lha wong buat kita makan sendiri kok, ya harus kita perhatikan juga kealamiannya", kata Romo. Tuh kan yang alami lebih menyehatkan.

Pupuk kandang, pupuk kompos, fermentasi dan banyak macam yang saya nggak mudeng, diterapkan di lahan ini. Bukan hanya setelah ditanam saja. Namun sejak lahan ini dipersiapkan. Iya, jadi sebelum bibit ditanam, Romo telah lebih dulu menyiangi rumput dan memendamnya di beberapa lubang. "Lubangnya sekitar kedalaman dua meter. Nanti kan beberapa bulan dia sudah menjadi unsur hara yang diperlukan dan menyuburkan tanaman", kata Lik Roso. Sekarang pun rumput-rumput terus disiangi dan dimasukkan ke lubang-lubang tersebut untuk terus berproses secara alami menjadi kompos. Waaahh... benar-benar harus titen, telaten dan open kalau begini.

• Titen, Telaten, Open •


Kalimat ini saya comot dari obrolan Romo, Lik Roso dan Gus Wiam, seorang keturunan Kyai Kholil Bangkalan yang tengah ngangsu kawruh seputar teknik toping di Giri Badhra. Hari itu saya memang bertemu rombongan dari Jawa Timur. Muhammad Wiam (ngapunten Gus, kalau salah ngetik nama) dan teamnya sebenarnya telah mengolah lahan pepaya California di Jember dan Madura. "Namun ada yang perlu dibenahi. Nggak selamanya yang sudah kami lakukan kurang. Kadang ada yang kelebihan. Sehingga hasilnya malah kurang maksimal", katanya.

Di Giri Badhra, siapapun bisa belajar teknik toping ini. Bukan sekedar teori namun praktek langsung di lapangan. Sayangnya, saya masih melewatkan kesempatan ini. Tangan saya masih dipenuhi alat perekam dan kamera. Mungkin saya perlu mengakrabkan diri kembali dengan tanah, supaya membumi. Haisst.

Meski belum dibuka secara resmi, lahan pertanian Giri Badhra memang telah menjadi rujukan belajar mereka yang mengetahui keberadaan tempat ini. Bahkan warga sekitar yang semula menganggap ini teknik sesat, kemudian malah berbalik mencontohnya. "Tapi ada juga sih yang nekat noping tanpa bertanya. Malah jadinya ya mati semua. Padahal kami siap kalau ada yang mau belajar teknik ini. Silakan saja ke Giri Badhra", kata Lik Roso.

Dari kasus diatas, kita memang tak ada salahnya bertanya. Karena teknik ini bukan sekedar copy paste. Namun harus diaplikasikan dengan tepat. Butuh ketelitian (titen) untuk mengenali sudahkan lahan kita tepat untuk ditanami pepaya California ini, jika belum apa unsur alam yang perlu ditambahkan, dan sebagainya. Termasuk perlu juga ketelitian untuk menentukan mana pepaya California lonjong dan mana yang bulat dilihat dari bunganya.


Haiyo tebak mana bunga lonjong dan mana bunga bulat ?


Lain itu butuh ketelatenan (telaten). Karena tanaman pun berproses tumbuh kembang setiap hari. Perlu ditengok setiap hari. Diopeni (diperhatikan dan dirawat) saben dina. "Dengan kita berperilaku baik pada mereka (tanaman), hasilnya pun akan baik", kata Lik Roso. Hehe, nggak tau kenapa pas dengar ini saya malah keingetan apa yang ditanamkan Mbah Atung saat saya kecil. "Kalau kamu berbuat baik ke orang, orang akan berbuat baik ke kamu. Sebaliknya kalau kamu rasa ada orang njahatin kamu, ya pasti karena kamu njahatin duluan". Hmmmm.... Mungkin sebenarnya kalimat Mbah Atung ini berlaku untuk semua makhluk. Sayanya saja yang telat nangkep.


• Agrowisata •



Belajar tentang penanaman sistem toping untuk pepaya California di Giri Badhra ini tentunya bukan hanya untuk kalangan petani pepaya. Sepertinya seru ya jika anak-anak juga ikut mengenal seperti apa serunya bertani dengan konsep alami. "Negara kita kan katanya negara agraris. Tapi petaninya mana ? Lahan pertaniannya mana juga ?", kata Gus Wiam.

Inipun diamini Lik Roso. Pria asal Purwokerto ini berharap nantinya generasi muda pun memiliki ketertarikan dengan dunia pertanian. "Biar tertanam ke anak-anak. Cita-citanya jadi petani. Petani berdasi", ucapnya semangat. Dan untuk itulah bersama dengan Romo Hariyadi selaku pengelola Museum Lokastithi Giri Badhra, ia berharap bisa mewujudkan agrowisata Giri Badhra. "Jadi para siswa bisa belajar sejarah dulu ke museum bareng Romo, terus lanjut ke halaman belakang belajar tentang pepaya California organik. Bisa petik langsung pula", harap Lik Roso.

Wah idenya kece. Semoga ini segera terwujud. Apalagi tenaga penyuluh pertanian juga telah dipersiapkan untuk nantinya menjawab pertanyaan siswa tingkat lanjutan. Kalau saya sih selaku bocah dolan berharap setelah sesi petik langsung bisa ngelutis atau ngerujak langsung ditempat. Apalagi disitu juga tersedia tanaman cabai organik. Tinggal sedia ulekan saja. Seru kan ngelutis ditengah hamparan tanaman pepaya California. Sembari menyaksikan dua anjing Kintamani peliharaan Romo berkejaran.



Info lengkap monggo silakan dapat menghubungi Lik Roso di 082226695534.

Kudapan Khas Siwarak untuk bulan SURA

Sura hampir berakhir. Tapi banyak moment yang tidak bisa saya lupa. Jelang bulan baru tahun Jawa kali ini istimewa buat saya. Salah satunya adalah karena bisa melihat langsung produksi kudapan khas dodol kelapa muda, manisan pepaya dan manisan cermai di desa Siwarak.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •


Uap hangat beraroma legit mengajak kami berlarian menuju dapur Suwarti. Rumahnya tak jauh dari pintu masuk Objek Wisata Gua Lawa. Di dapurnya tampak aktivitas yang padat. Ada yang tengah mengupas kelapa, mengaduk adonan dodol, mengolah manisan hingga mengemas kudapan-kudapan ini. Target Suwarti adalah menjualnya untuk bulan Sura.

"Sejak awal produksi kami sudah membuat ini khusus untuk Sura, Maulud juga Khaul", kata Suwarti. Dodol dan manisannya banyak diminati menjadi oleh-oleh khas di Pemalang, Tegal hingga Cirebon. "Kalau njenengan ke makam Sunan Jati di Cirebon, ya salah satunya itu ada manisan buatan kami", tambah perempuan yang memulai usahanya di tahun 1987 ini.

Manisan pepaya warna-warni di sudut dapurnya memang sangat menggoda mata. Cantik pastinya yach kalau masuk stoples. Sebenarnya tak hanya diluar kota, manisan dan dodol buatannya ini pun acap disediakan di Gua Lawa. Namun pada tiap akhir pekan saja.


• Dodol asli Jogjakarta •



Proses pembuatan dodol kelapa muda buatannya lebih istimewa lagi buat saya. Diolah dalam kuali super besar, bisa diperoleh kurang dari 1 kuintal dodol atau jenang. Jika sebagian besar masyarakat Banyumasan mengenal jenang wijen, maka kudapan ini berbeda. Jenang atau dodol kelapa muda, awalnya merupakan menu khas Jogjakarta. "Suami saya aslinya Jogja. Dan pas pindah kesini coba dipraktekkan bikin dodol kelapa muda ini. Alhamdulillah banyak yang suka. Jadi lanjut sampai sekarang", ujar istri Susanto ini berbinar.

Lazimnya jenang, dodol kelapa muda ini dibuat dari campuran beras ketan, santan, gula jawa dan yang khas adalah potongan kelapa muda. Semua bahan menggunakan hasil alam lokal Siwarak. "Kecuali kelapa muda, order dari Tlahab", katanya. Bahan-bahan ini dimasak dalam kuali yang didesainnya sendiri dengan perapian kayu bakar. Dan butuh dua hari untuk memasaknya. Wouuuuw. Lamanyaaaa.. Padahal adonan yang baru sehari pun sudah terasa matang buat saya. Hihihi.

Seandainya saya datang esoknya pun, belum tentu dodol bisa langsung dikemas. Adonan yang baru matang akan disimpan terlebih dulu dalam kotak-kotak besar supaya padat. Barulah sekitar 4-7 hari dodol sudah mulai bisa dipotong. Kemasan terkecil dibanderol Rp. 8.000. Nggak mahal kan ?

• Manisan Cermai •



Manisan cermai menjadi sesuatu yang terasa menggelitik di lidah. Rasanya asem manis dan ada kasar-kasar gemanaaaa gitu. Eits, hati-hati ada bijinya. Bahan bakunya di'import' dari Kabupaten Batang.

Saya baru tahu nih kalau ternyata buah cermai aslinya berwarna putih. Efek pewarna makanan saja kok yang membuatnya menjadi merah.

Setiap manisan diolah dari buah bahan baku, gula pasir dan sedikit air. Prosesnya tidak selama membuat dodol kelapa muda. Ini hanya 2 jam saja selesai. Dan dibanding manisan pepaya, cermai jauh lebih mahal. Tapi .... mau mahal ataupun langka, jika memang tengah di"perlu"kan, pasti tetap akan dicari. Mungkin alasan itulah yang membuat Suwarti merasa tak masalah produknya tanpa label. Toh orang yang menbutuhkan di bulan-bulan tertentu akan menuju padanya. Meski demikian, Suwarti merasa jika memiliki "surat jalan" akan lebih nyaman untuknya melaju. "Belum punya IPRT, Mbak. Nggak tahu gemana ngurusnya", katanya sembari terus mengaduk dodol.


Jika Sura berakhir, maka produksinya akan lebih santai. Hanya sekedar untuk pemenuhan di OW Gua Lawa. Namun sebelum Maulud, Suwarti akan kembali mengolah kudapan-kudapan ini dalam porsi besar. Jadi jika ingin melihat langsung prosesnya, jangan lupa cek kalender.

Hujan masih menyapa diluar saat saya pamitan dari kediaman Suwarti-Susanto. Mendung menggelayut di langit Siwarak. Tapi ada "warna-warni" yang saya peroleh siang itu.

Dodol Kelapa Muda Siwarak dan manisan bisa dipesan melalui ketua Pokdarwis Lawa Mandiri, Mas Tomo di 5FA1ABCB. Matur nuwun Bu Suwarti, Mas Tomo dan Mas Yono sudah menemani perjalanan ini.

NJELIR, HUJAN dan KALIAN siang itu

Hujan bukan alasan menghentikan langkah kami menyusuri setapak tanah di perbukitan setinggi 1000 mdpl ini. Bukit dengan panorama indah yang pertama kali mengenalkan wisata sunrise di Purbalingga. Njelir.


• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

 

Perjalanan di akhir September lalu ini membawa banyak "tugas". Review ini tak hanya milik saya pribadi seperti sebelumnya. Karena dalam perjalanan ini saya bersama rekan-rekan sekantor. Treking ke Njelir kali ini kami diarahkan melalui rute dari Gardu Jaga VOC di Siwarak. Menurut ketua Pokdarwis Lawa Mandiri, mas Tomz Bae, jalur ini lebih save untuk team kami yang didominasi ibu-ibu. 

Pilihan lainnya adalah berangkat dari Gua Lawa menuju Gardu Pandang dan lalu Puncak Njelir. Namun rute ini konon tanjakannya cukup ekstrem. Satu lagi, jalur baru tengah digagas. Kabarnya cukup memakan waktu 10 menit saja mencapai puncak. Rute khusus nge-trill. "Jadi nantinya pengunjung bisa sewa motor untuk sampai beberapa meter dari puncaknya ini", lanjut Tomo. Hmm, semoga cepat jadi ya rute ketiga ini. Btw, save nggak buat kami yang ibu-ibu ? #pasang-tanduk.



• Makam dan Watu •

Hal menakjubkan selama perjalanan adalah saat kami melewati perkebunan milik warga. Jalanan setapak dengan kanan kiri hamparan tanaman kacang, palawija, cabai atau yang khas, tentu saja nanas. "Hampir sampai atas ini ladang milik warga, kecuali puncak. Milik Perhutani", terang mas Tomz yang didampingi mbak Kiki dari Pokdarwis Lawa Mandiri.


Makam Sutaraga menjadi salah satu yang kami lewati di awal perjalanan. Ki Sutaraga adalah panglima Majapahit yang ditugaskan untuk menghadapi persebaran Islam di wilayah Gunung Slamet. Targetnya adalah menangkap dua pemuda yang menyebarkannya. Yaitu : Bangas dan Bangis. Nama ini tertuang dalam asal usul desa Siwarak. Singkat cerita, keduanya keluar dari persembunyiannya di Gua Lawa dan menyamar menjadi Taruno dan Taruni. Mereka menyebut Bangas dan Bangis telah mati diterkam harimau.

Pasukan Ki Sutaraga bersorak-sorai kegirangan. Dan membuat dua bersaudara ini panas hati hingga tanpa pikir panjang menantang Ki Sutaraga. Hal ini membuat Senopati Majapahit ini berkata bahwa perilaku keduanya yang menyerang begitu saja ini serupa perilaku binatang. Dan karena kesaktian Ki Sutaraga, kedua pemuda itu dikisahkan berubah menjadi warak atau badak.

Nah makam Ki Sutaraga berada di bawah pohon rindang, yang sayangnya tidak dapat kami singgahi karena belum dibuat jalur khusus ke arahnya. Baiklah, urung dununge mampir mungkin.



Dan, mari lanjut. Lahan luas, menghijau serta sambut ramah warga yang tengah masyuk di ladang membuat kami lupa sejenak keangkuhan kota. Gemericik sungai-sungai kecil ditingkah suara-suara serangga membuat suasana jadi jauh lebih rileks. Namun tak lama kami mulai dikejutkan dengan tanjakkan berbatu yang seolah tak terputus. Berat bagi yang jarang berolahraga. Meski hanya satu tanjakan saja. "Cuma ini aja kok mbak yang nanjak", kata mas Tomz menyemangati. (Foto disebelah oleh mas Tompel)



Di sisa-sisa energi, mas Tomz menyempatkan mengajak kami mampir ke watu kasur. Eits, jangan berpikir ini tempat peristirahatan yang nyaman usai nanjak ya. Karena untuk mendekat, kaki harus rela borat-baret terkena duri tanaman nanas. Watu kasur ada di tengah kebun warga. Dipercaya berbentuk kasur dan bantalnya. Batu ini berukuran kasur single bed dengan tinggi mencapai sekitar 1 meter. Sudah hancur disana-sini. Namun cukup membuktikan bentuknya sehingga tepat dinamakan demikian. "Dulu watu ini sering jadi tanda bagi penduduk sekitar. Arep lungan ngendi ya ancer-ancere sekang watu kasur disit", katanya. Dan sekarang ini sudah barang tentu tidak berlaku. (Foto : oleh mas Tompel)


• Puncak •




Tak terasa puncak Njelir sudah didepan mata. Takjub mengganti lelah yang mendera. Dari titik ini kami menyaksikan panorama Bukit Gajah, Mendelem, Purbalingga, hingga garis pantai dari jauh. Mempesonakan mata.

Mbak Kiki dengan cekatan segera menyalakan kompor dan bersiap menyediakan kopi untuk kami. Waaah... kalau sudah begini rasanya menyesal tidak nge-camp. Padahal harga yang ditawarkan untuk ini cukup terjangkau. Rp. 180.000,- / orang untuk nge-camp sejak semalam dengan fasilitas makan, kopi, doom, dokumentasi, porter dan guide. Sementara untuk hiking adalah Rp. 50.000,- / orang dengan fasilitas serupa tanpa menginap. "Minimal 5 orang", kata mas Tomz sembari asyik menjepret kawan-kawan saya.

Sesuara gamelan yang cukup keras terdengar membuat kami bingung diawal. Namun kata mas Tomz inilah uniknya bukit Njelir. "Full musik", kekehnya. Daaaann... setelah ditelusuri suara-suara ini datang dari arah pemukiman penduduk. "Oooooo.... mbarang gawean", koor kawan-kawan. Saya pun makin ikut membulatkan mulut. "Ooooo... lagi nanggep ebeg"


• Ditemukan Tidak Sengaja •


Boomingnya bukit Njelir bermula dari akhir November 2014 silam. 6 anak muda setempat iseng mendaki Njelir pada malam hari. Pemandangan indah dan bonus sunrise itu kemudian mereka unggah dan mendapat respon positif.

Tanpa berlama-lama, paket wisata sunrise Njelir pun dihembuskan. Mereka yang dari luar daerah pun berdatangan. Dan Njelir praktis menjadi paket wisata sunrise pertama di Purbalingga. Tren kunjungan terus naik. Namun 2015 bisa disebut sebagai puncaknya.

Selain Njelir, Siwarak menawarkan pula alur Sipetung dan Bukit Kelir. Secara tantangan maka Njelir ada di tengah. Alur Sipetung lebih cocok dan aman bagi anak-anak. Sementara Kelir masuk kategori cukup ekstrim.



Nah, usai berbincang panjang di puncak, mega sepertinya sudah tidak sanggup menahan kecemburuannya. Sangat deras. Dan membuat kami memutuskan berbalik arah tanpa menyentuh suasana gardu pandang. "Nantinya disana akan jadi sentra penjualan sayuran dan hasil bumi Siwarak juga. Jadi pulang lihat sunrise bisa bawa oleh-oleh", kata mas Tomz. Hmmmm, mungkin kesempatan lain akan membawa saya ataupun kami kesana.

…perjalanan belum usai, kami masih mampir ke satu lokasi lagi. Dan saya diam-diam juga menengok satu titik tambahan…


Further info silakan menghubungi mas Tompel 5FA1ABCB

Menengok Arca Batu "Onje Bukut"


#Latepost. Tak apa kan ? Saya sedang sok sibuk belakangan ini. Sehingga banyak file menumpuk tak terolah. Dan inilah salah satunya. Arca Onje Bukut.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Dua hari saya dan seorang kawan bolak-balik ke desa Onje. Kawan saya ini cukup sering mengagendakan mandi di Kedung Pertelon atau Jojog Telu saat bulan Sura. Dan inipun mempermudah saya untuk langsung menuju ke berbagai lokasi "peliputan" dengan mudah. Ia mengenal medan Onje dengan sangat baik. Karena beberapa titik yang sarat akan kisah sejarah lokal tidak berada di jalan utama Onje. Tak jarang kami harus keluar masuk setapak.

Salah satu yang kami kunjungi adalah Arca Bukut. Tercatat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sebagai Situs Batu Arca. Dinamakan arca karena tampak jelas tumpukan 2 batu itu membentuk kepala dan badan yang bersila.



Arca ini dikelilingi susunan batu andesit berbentuk bulat setinggi ± 0,5 m. Ditemukan di halaman rumah warga dengan dikelilingi tembok batu dan tetumbuhan. Secara turun temurun dikisahkan jika arca ini memiliki kaitan dengan Babad Onje. Di tempat ini acap tersebut nama Ki Tepus Rumput dan Ki Kantharaga.


Versi Babad

Dalam Babad Purbalingga dikisahkan bahwa Ki Tepus Rumput tengah "menepi". Pertama di petilasan Jati Wangi. Singkat cerita, Ki Tepus Rumput mendapat bisikan gaib untuk menuju lokasi Arca Bungut kini berada. Ditemui Ki Kantharaga, percakapan keduanya pun terjadi. Bahwasannya tugas Ki Tepus Rumput berikutnya adalah menuju Kerajaan Pajang untuk menemukan cincin Socaludira (Sosroludira) milik Sultan Hadiwijaya. Pertemuan dengan Ki Kantharaga itulah yang kemudian membuat Ki Tepus Rumput menggambarkan sosoknya dengan tumpukan batu.

Versi Lain mengatakan arca tersebut justru merupakan gambaran dari Ki Tepus Rumput itu sendiri. Saat Ki Tepus Rumput melakukan pengembaraannya, ia hendak ditemui Ki Kantharaga. Namun karena Ki Tepus Rumput harus pergi mencari cincin, disusunlah batu sebagai perwujudan dirinya.


 
Sementara itu menurut salah seorang sesepuh desa Onje, Mbah Samsuri, tidak ditemukan kisah tentang Ki Kantharaga ini dalam Babad Onje.

Juru Pelihara (jupel) Batu Arca, Suryanto mengatakan jika Arca Bukut ini tidak banyak dikunjungi seperti halnya Jojog Telu. Kunjunganpun selama ini didominasi pelajar. Namun dari masa apakah batuan andesit ini berasal, Suryanto belum juga mendapat informasinya dari pihak-pihak terkait.

Arca Bukut ini memiliki ukuran panjang = 31 cm, lebar = 19 cm dan tinggi = 48 cm. Batu bagian kepala memiliki dua lubang yang membentuk mata. Sementara batu lain membentuk badan dengan kaki bersila. Arca Bukut terletak di salah satu sudut situs ini. Dan terkadang tidak langsung kita sadari keberadaannya. Namun setelah diamati batu ini memang membentuk orang yang tengah bersila. Entah ada pahatan atau tidak. Karena setahu awam seperti saya benda yang disebut arca biasanya tidak terpisah dan memiliki pahatan. Ah, mungkin saya salah mengerti. Namun yang pasti hingga kini, kondisi batu terawat dengan baik.

Batik bukan sekedar titik

Batik. Setiap titiknya adalah tanda tangan sang pembatik. Bahwa satu batik adalah produk satu-satunya dari ribuan motif yang sama.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Dua bulan ini hampir saya tidak lepas dari bermacam hal terkait batik. Pas ndilalah mungkin. Mulai dari mencarikan batik pesanan keluarga, jadi model batik dadakan untuk tesis seorang kawan, hingga ditolaknya ijin off duty 4 hari untuk latihan mbatik. Hal-hal semacam ini menjadikan batik semakin memiliki nilai personal.

Foto oleh Billy Kamajaya



Ya, karena seperti apa yang saya tuliskan diawal satu titik saja bisa menjadi tanda tangan. "Kami sesama pembatik atau siapapun yang paham akan tahu mana batik misal Sekar Jagad buatan saya dan buatan mas Edi", kata Yoga Prabowo Tirtamas yang ditemani Edi Mukti Sekarsari di sela-sela pelatihan pengenalan warna sintetis dan teknik ciprat beberapa waktu lalu.

Dalam membatik, "isen-isen" motif klasik adalah murni olahan dan luapan rasa dari sang pembatiknya. Sehingga menjadikannya tenger. Tanda. Pembeda. "Apalagi untuk motif kontemporer yang mengijinkan si pembatik lebih luas berkreasi", kata Mas Yoga seraya menyerahkan mori, kuas, canting dan malam. Ah, inilah yang menyakitkan untuk saya. Ijin yang telah diajukan seminggu sebelumya tetiba dianggap tidak prosedural. Lalu bagaimana saya bisa ikut praktek membatik ? Padahal pelatihan hasil kerjasama dengan LPPM Unsoed ini khusus untuk pemula. "Yakin nggak mau coba?", tanya mereka. Padahal ibu-ibu peserta tak bosan menyemangati saya. Bahkan mereka melibatkan saya untuk membantu proses step by stepnya. Tapi saya bisa apa. Masak sih besoknya saya nggak keliatan lagi di tempat pelatihan. Wong pelatihannya empat hari.

Melihat peserta pelatihan berkreasi membuat motif dengan kuas dan lalu mencantingnya untuk mempertegas ragam membuat saya iri. Saya tuh kepikir bikin motif serupa kembang kanthil. Ben kumanthil. Eh ??? Meh kumanthil gemana ya wong hawanya dongkol. Huuuuuaaaa, semakin nangis batin lah saya.


• Menyatu •

Mbatik itu penciptaan sebuah karya batik. Saya turut mengartikanya demikian. Karena bahkan dari motif yang sama pun, suasana hati membangun kita untuk seperti apa mengukelkan garis atau memberi titik pada suatu bagian. Tebal dan tipisnya goresan menjadi satu kenikmatan yang tak dapat dipisah dari keheningan. Menyatukan segala rasa dan pikir pada sebidang kain.

Air muka para peserta semakin tenang. Suasana memang menjadi hening saat mencanting. "Beda banget kan dibanding tadi waktu baru dapat kain?", bisik Yoga. 

Benar juga. Tadi rempong. Namun kemudian berubah hanya ada suara canting yang mencium wajan berisi malam. Lembut. Aroma malam makin mengantarkan saya ngelangut. Dan membuat saya teringat kisah Ratu Kencana dan Paku Buwono III yang melahirkan batik truntum. Tumaruntum. Rasa yang hadir kembali karena kesabaran dan kepasrahan pada Sang Maha Cinta.



• Malam •



Untuk mengukirkan harapan dan doa pada selembar kain, dibutuhkan malam. Lilin khusus yang mesti dicairkan diatas kompor terlebih dulu. "Tandanya sudah dapat digunakan adalah cairan malam sudah mengalir cair bukan tetes-tetes", terang mas Yoga. Karena kalau beneran panas, akan berpengaruh pada goresan yang tak sempurna dan tak sesuai harapan.

Selain canting, bisa juga kok kita menggambarnya dengan kuas. Sesuai kebutuhan dan sesuai jenis batiknya. Klasik atau kontemporer. Iya kan ?

"Ooh jadi beda ya sama batik yang di toko kain itu. Kan nggak pakai nyanting. Meteran pula", celetuk seorang peserta. Saya tersenyum geli. Seraya membenarkan ucapan mas Yoga dan mas Edi tempo hari. Bahwa kita cenderung menyebut semua yang bermotif -taruhlah- Kawung misalnya sebagai batik. Padahal bisa saja ia hanyalah tekstil bermotif batik Kawung. Beda. Dan tanpa malam, ia bukan batik.


• Pewarnaan •

Tahapan ini menandakan batik hampir selesai. Pewarna bisa sintetis atau kalau ingin yang sensasinya lebih dalem ya yang alam. Secara warna sih kalau yang alam nggak terlalu banyak pilihan, nggak ngejreng, tapi aura dan wanginya beda. Berasa pengen ngomong kayak oxytocin aja. #Eh? Ngomong opo to ?

Suasana saat pelatihan


Soal pewarnaan, Purbalingga memang cukup telat mengenalnya. Dalam sejarahnya hanya pembatik Limbasari yang sudah mewarna sendiri sejak awal. Sementara yang lain, didominasi buruh canting yang pewarnaannya dilakukan di Sokaraja. Hingga kemudian pembatik Purbalingga pun cenderung tidak semuanya menguasai teknik pewarnaan ini.

 

Label ini berisi angka. Fungsinya sebagai nomor urut saat pewarnaan. Supaya tidak tertukar saking banyaknya kain yang mesti diwarna. Mirip label pada laundryan kita sekarang ini. Nah, semakin bermacam warna yang diinginkan semakin bolak-balik mewarnanya. Jangan lupa pakem lingkaran warna ya, agar tak salah mencampur.

Ah, saya kok jadi semakin pengen mbatik saja. Bukan semata karena pengalaman diatas tadi. Karena sepertinya mbatik bisa mengajarkan saya untuk tidak terlalu grusa-grusu. Karena tidak mudah untuk kita mencelat ke langkah berikutnya tanpa wisuda di langkah awal. Konvensional sih. Tapi sesekali tekniknya diperlukan untuk menghadapi dunia luar (yang kadang kejam) dengan anggun. Seanggun kharisma batik tulis.

PAMUJI DI BUKIT MUJIL

Aura tenang langsung menyergap begitu kaki menapaki tanah basah dihadapan. Waktu itu, hujan memang masih sesekali mengguyur. Sedikit terasa licin karena salah alas kaki. Namun kelincahan Mbak-mbak pemandu didepan, memicu saya untuk tidak menyerah. Padahal flat shoes mereka juga tidak anti slip. Namun semua bukan rintangan berarti, jika ingin mencapai Bukit Mujil.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Bukit Mujil, bagi sebagian orang dikenal sebagai tempat untuk menepi. Dipercaya berasal dari kata "Pamuji". Ritual memuji. Bukankah memuji keagungan Sang Penguasa Jagad lebih mudah diterapkan sosok awam saat berada di alam bebas. Apalagi di Bukit Mujil juga menawarkan pemandangan alam istimewa dibawah sana. Kedung Cucruk hingga Makam Wangi.

"Kepenginnya sih bikin gardu pandang disini", kata Mbak Tri, salah seorang pemandu kami pagi itu. Namun keinginannya (dan Pokdarwis tentunya) masih belum terealisasi. Mengingat lahan di bukit Mujil tercatat dimiliki perorangan. Karena sebenarnya bukit ini adalah kebun milik beberapa warga yang ditanami kelapa hingga tanaman kayu.


• Petilasan •


 
Suasana sejuk dan pemandangan indah dibawah sana telah menjadi langganan "tamasya" penduduk setempat. Biasanya mereka memilih hari libur untuk bermain-main di igir ini. Dan tidak jarang pula, berdatangan tetamu jauh. Namun mereka beda tujuan. Target mereka adalah Makam Mbah Adipati Jangkung.

Dukuh Pengampiran menjadi lokasi yang harus dituju untuk menuju bukit dan petilasan ini. Petilasan yang diharap juga mampu melengkapi paket deswita Kaliori. Lalu siapa Mbah Adipati Jangkung hingga petilasannya diwacanakan untuk menjadi wisata kesejarahan lokal ?

Guna menjawab rasa penasaran, kami mengunjungi seorang sesepuh desa, Mbah Nuri Ahmad yang tinggal di sebelah Masjid Batu Dusun Pengampiran RT 13 RW 03. "Wah, kebeneran. Nanti sekalian melihat Masjid Batu ya Mbak. Mumpung semalam baru diresmikan", ujar Mbak Tri bersemangat. Seru nih. Karena kemudian Mbak Tri mengatakan jika Masjid ini sudah ada sejak lawas. Hanya kemudian perubahan desain memang baru-baru ini dilakukan.

Tidak jauh, sampailah kami. Kediaman Mbah Nuri Ahmad tengah ramai dikunjungi orang. Kami pun ikut nimbrung saja di beranda rumahnya yang masih beralas tanah ini. Tetamu yang sebagian besar warga sekitar satu per satu berpamitan. Mempersilakan saya yang datang dari jauh.

Belum usai rasanya saya memperkenalkan diri, secangkir jahe susu instan disajikan oleh istri pemilik rumah. Ini langsung mengingatkan saya pada saat Eyang Buyut masih sugeng. Katanya, " Tamu yang datang haruslah dijamu. Karena dalam tegukan terakhir mereka ada keberkahan. Untuk kita dan mereka". Ah, ya ! Tidak ada alasan untuk menolak jamuan disini. Meski bawa bekal, jahe susu hangat dan kue apem ini jauh lebih menarik sebagai teman berbincang.


• Petilasan Penghulu •


 

Mbah Nuri Ahmad menolak penyematan nama Mbah Adipati Jangkung pada makam di atas Bukit Mujil. "Niko petilasane Mbah Pengulu", ujarnya. Petilasan itu menjadi penanda untuk tempat berkumpulnya sebagian ulama yang banyak bermukim di daerah utara Purbalingga ini.

Siapa Penghulu ini memang tak diketahuinya secara pasti. Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, Penghulu itu sempat beristirahat di tempat tersebut. Hal itu dikatakannya terjadi pada masa peperangan. Hmmmm, mungkin pendudukan Belanda ya pada 1800-an. Mungkin. Tempat melepas lelah itulah yang kini ditandai dengan keberadaan batu serupa nisan diatasnya. Juga dikelilingi tanaman perdu yang meski tak bersih amat, sepertinya dirawat dengan baik.

"Mulane aja nyebutna pesareane Adipati Jangkung. Mbok malah dadi "kesasar". Kono mau pada kesasar ora?", tanya Mbah Nur. Saya tersenyum geli. Dan tentunya menggeleng dengan semangat. Mbeling bukan berarti nggak pernah eling kan ? Namun kekhawatiran Mbah Nuri Ahmad ini memang bukan tanpa alasan. Banyak orang salah tujuan ke bukit Mujil. Bukannya mendekatkan diri pada Sang Kalam, eh malah minta togel atau tetek bengek tak jelas lainnya.

Jadi apakah petilasan Penghulu ini berkaitan dengan sejarah desa Kaliori ?


• Wiradinala •


 

Pertanyaan itu dijawab dengan helaan nafas panjang oleh Mbah Nuri Ahmad. Seketika hening. Saya salting. Dan memilih menyesap sisa isi gelas saya.

.......................................................

"Yang saya tahu, dulu canggah wareng saya, Eyang Wiradinala yang membuka lahan disini. Tahunnya 1817", kisahnya singkat.

Soal tanah di petilasan itu, sejak awal memang milik warga. "Duweke keturunane Kaki Kasani", katanya tanpa menjelaskan siapa nama ini. Hal itu jugalah yang membuat keluarganya tidak mungkin membangun langgar di bukit Mujil. Hingga pilihan pun jatuh pada tanah yang mereka tempati. Masjid Nurul Huda pun dibangun.

• Masjid •


 

Kembali ke Masjid Batu. Berhubung #latepost yang late-nya kebangetan, saat itu Masjid dalam kondisi belum rampung. Menara masih belum usai. Beberapa bambu masih terpancang di dalam bangunan Masjid. Namun tak menyurutkan keindahannya. "Kayak di Timur Tengah. Eksotik", kata seorang teman saat melihat koleksi foto ini. "Emang Masjid disana kaya begini ya modelnya ?", tanya saya. Dia cengengesan. "Cuma ngikutin omongan orang", jawabnya.

Masjid ini dibangun pada tanah wakaf keluarga Nuri Ahmad dengan luasan 12 × 12 m². Oh iya, menara masjidnya mencapai 18 meter. Ini juga full batu. Dibangun kembali sekitar 3,5 tahun ini. Material batunya merupakan sumbangan dari sebuah Pondok Pesantren di Cirebon. Dan bentuk baru itu membuat namanya jadi berubah. Al Masjidul Hajar Aswad wal Abbiyan Jamiatul Islamiyah Nurul Huda. Namun untuk mudahnya, Masjid Nurul Huda. Lalu berapa nominal yang diperlukan untuk mendirikan masjid Nurul Huda ini ? "Mboten wilangan, Nak", pungkas Mbah Nuri Ahmad.

Ah iya. Mana ada nominal untuk bentuk pemujaan kepada Sang Pencipta. Dan apapun hal dibalik pembangunan masjid itu, yang jelas saya terpukau. Desain hingga ke interiornya yang full batu ini menjadikan sangat elok. Atap penyangga kayunya tetap membuat saya merasa berada disisimu. Lekat dengan keseharian kita. Persembahan istimewa untuk kita makin mensyukuri Maha Indah segala ciptaan-Nya.


Matur nuwun Mbah Nuri Ahmad, mbak Tri dkk, Kominfo Kab. Purbalingga, Mas Umang, dan semua

Sega Bonjapi

Siang itu, satu bulan sebelum Ramadhan 1437 Hijriyah. Ajakan dari Bidang Kominfo Dinhubkominfo Purbalingga ini jelas sayang untuk diabaikan. Mengunjungi Desa Wisata Kaliori, kecamatan Karang Anyar.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •
Foto oleh : Amir Sinangga

Perjalanan ke utara memang selalu menghadirkan hamparan sawah dihadapan kami. Belum lagi di kejauhan barisan bukit tampak menjulang. Ah, tahu begini saya membawa koleksi CD Barong Nusantara dan memutarkan Pulang Kampung pada sessi menunggu di pinggir sawah.

Menunggu di pinggir sawah ini bukan leha-leha. Melainkan hasil musabab antrean kendaraan pada badan jalan yang putus menuju Kaliori. Padahal perjalanan masih cukup jauh. (Semoga jalan sudah diperbaiki sekarang).


 

Beruntung tidak banyak jalan besar di wilayah pedesaan. Tak perlu takut tersasar. Dengan keyakinan mengikuti satu jalan lurus, pastilah kita akan menemukan Balai Desa. Target pertama setiap kunjungan resmi (baca : kedinasan). Dari sini, saya bisa melihat bagaimana semangat mereka akan rintisan desa wisata baru di Purbalingga ini. Mereka menawarkan Kedung Cucruk yang merupakan surga bagi para pemancing. Juga "Tanah Lot"-nya Purbalingga. Tempat ini sudah lebih dulu menjadi viral tingkat lokal.

• Mujil •

Karena masih terlanjur dilekatkan dengan aktivitas berkidjing, mau tak mau saya pun mengikuti ajakan salah seorang dari mereka menuju makam Mbah Jangkung. "Biar yang lain saja yang ke Kedung Cucruk", katanya. Hmmm, baiklah kita nikmati saja keseruan mendaki bukit Mujil demi melihat dari dekat petilasan ini. Untuk lengkapnya siapa Mbah Jangkung, akan dibahas lain waktu saja. Insya Allah.

Dan setelah nasrak-nasrak itulah, kami disuguhi Sega Bonjapi di markas Grugak. Grugak merupakan nama dusun dimana aliran sungai Gintung melintas didepannya. Jadi inilah nikmatnya. Makan di pinggir sungai besar dengan angin sepoi-sepoi. Ah, berasa makan di pinggir pantai saja. Jadi benarkah makan di Jimbaran semacam ini ? Saya kan belum pernah ke Jimbaran. Hehe...

Dengan ramah, mereka menyuguhkan Sega Bonjapi dan Sambel Kecupak. Melihat porsi yang sepertinya terlalu berat, saya pun masuk ke dapur. "Kulo sepalih mawon Bu", pesan saya. Mereka mulai mempersiapkan nasi hangat, abon, orek tempe, telur dadar dan saus sambal. Nasi dicetak dalam bumbung atau bambu yang dipotong setinggi 10 cm. Nasi akan diisi dengan abon. Dan disini uniknya. Abon jantung pisang. Bonjapi. See ?


• Hasil kunjungan KKN •

Abon Jantung Pisang atau Bonjapi adalah produk baru di Kaliori. Disana keberadaan pisang memang cukup melimpah selain kelapa. Selama ini produk olahan pisang terbanyak adalah sale pisang. Dan berkat kunjungan mahasiwa​KKN dari Fakultas Pertanian ​Unsoed beberapa waktu sebelumnya, mereka mulai mengenal Bonjapi.

Hasilnya ? Bonjapi jadi favorit. Dengan paduan bumbu berupa jahe, lengkuas, bawang putih, gula dan garam, suwiran jantung pisang ini jadi berasa gurih nikmat. Sepintas kayak abon sapi. Wah, cocok buat vegetarian.

Menurut mbak Rosyidah, tidak semua jantung pisang pas diolah menjadi Bonjapi. "Cuma Raja Bandung, Kepok, dan Belitung". Pisang jenis lain biasanya akan menghasilkan sedikit getir. Dan itulah yang mereka hindari.

Soal sambal kecupak, ini terdiri dari cabai bawang yang diiris kasar dan ditambah jelantah. Kata para penyuka pedas si segar. Kata saya ? Pedes lah.

Nantinya Sega Bonjapi akan menjadi menu khas pengunjung desa wisata Kaliori. Ditambah dengan beverage Es Badeg. Srlluuupp.

ME"NUJU" PANEN

Nuju. Inilah bagian dalam pola pertanian tradisional yang dilakukan perempuan desa Brakas, kecamatan Karang Anyar selain memotong padi dengan ani-ani.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •


Jaman memang telah lama berganti. Pluku saja sudah bersandar, tak mampu lagi menggeser sepenuhnya peranan traktor. Namun nasi terus bertahan melintasi generasi. Nasi yang kata para sepuh, sudah tidak lagi terasa manis saat baru dipanen. Manis ? Iya, manis dan pulen. Konon ini merupakan hasil kerja ani-ani yang lebih senang memilih padi yang tua benar. Padi yang matang dipohonnya itulah yang membuahkan rasa manis. Tapi, tidak lagi demikian, sekarang ini. Beras baru pun, sepa.

Rasa dari olahan beras yang berganti, bisa jadi karena proses pengolahan padi juga berubah. Bagaimana tidak beda hasil, lha wong dulu petani nggarap sawah untuk dirinya sendiri. "Sekarang kan modelnya tani dagang", kata seorang petani tradisional era 70'an, Mbah Jaedi. Prinsip mendapat hasil melimpah, mengajarkan petani kalap meninggalkan cara-cara tradisi yang sarat akan makna. Dan ramah lingkungan. Sebut saja salah satunya NUJU.

• Mbuang Sambetan •

Nuju. Ini hanyalah salah satu dari ritual personal dalam pola tradisi pertanian. Ya, ritual memang dibedakan menjadi dua macam. Komunal dan Personal. Ritual komunal artinya dilakukan bersama-sama warga dalam waktu bersamaan di tempat umum entah itu balai desa, lapangan desa atau tempat pemakaman umum. Nah contoh ritual komunal adalah Sedekah Bumi yang akan dilaksanakan sebelum aktivitas bertani dimulai.

Setelahnya, barulah para petani bisa menggelar ritual personalnya. Pernah mendengar Mimiti atau wiwitan kan ? Nah, ini salah satunya. Ada pula tradisi mitoni pari atau rujakan dan nuju. Bagi warga Brakas, Nuju hanya boleh dilakoni oleh para Perempuan. Jika bukan Selasa Kliwon ya Jumat Kliwon. "Bareng bedhug (dilakukan tepat tengah hari)", kata Romiyah, salah seorang dari mereka. 

Nuju adalah aktivitas mbuang banyu leri dan mbuang sambetan di crowokan. Ini dilakukan sejak padi memasuki usia 2 bulan. Dalam urutan pola pertanian, nuju ini termasuk dalam aktivitas memupuk. Karena kegunaan bahan-bahan ini adalah untuk menghalau bermacam hama dan menyuburkan tanah.


Seperti kita tahu, banyu leri atau air bekas cucian beras dikenal mengandung banyak mineral. Awagan saja, tumbuhan yang disirami banyu leri akan subur dengan buah berasa manis. Ini juga berlaku pada padi. masing. Namun yang paling utama adalah sambetan dan banyu leri.

Sudah bukan rahasia, bahwa kandungan nutrisi tertinggi dari beras terdapat pada bagian kulit ari. Sayang proses penggilingan dan penyosohan mengikis sebagian besar nutrisinya. Belum lagi saat dicuci. Kandungan vitamin B1, B3, B6, Mangaan, Fosfor, Zat Besi hingga Serat akan terbawa air. Ini terlihat pada keruhnya air cucian yang pertama.

Air atau banyu leri inilah yang kemudian berkolaborasi dengan sambetan. Ada yang langsung bercampur menjadi cairan berwarna kekuningan dan disiramkan ke sawah. Ada pula yang menyimpan sambetan dalam kain putih dan diletakkan di dekat crowokan sembari menunggu air cucian beras disiramkan. "Nek aku malah gemiyen sambetane diwadahna klontongan kupat (Kalau saya, dulu sambetan akan diwadahi selongsong ketupat)", kenang Mbah Jaedi.

Baik Mbah Jaedi maupun Romiyah, terkadang tidak jarang mereka menambahkan bahan lain pada tahapan ini. Mbah Jaedi misalnya, ia menambahkan batang salak lengkap dengan durinya serta batang tanaman burus. Begitupun Romiyah. "Cuma kalau saya kadang-kadang nambahin jangan lumbu (sayur keladi)", ujarnya. Wiiiiiiwww.... sayur keladi ?????

• Fungsi •



Rasanya sungguh sok keminter kalau saya menyebut data ilmiah fungsi bahan-bahan tersebut diatas. Toh, semua pasti paham saya bukan ahlinya menerangkan di ranah tersebut. Namun secara nalar saja kita bisa menyimpulkan bahwa keberadaan duri-duri salak di dekat jalur pengairan pastilah agar bisa menjadi penyaring agar binatang tidak masuk. Bagaimana dengan sayur keladi ? Lha kok ndadak dimasak dulu ya ?

Keladi ini berperan sebagai kompos. Sementara cabai dan bawang bisa jadi insektisida alami binatang pengunyah semisal ulat dan belalang. "Kalau air sawahnya pedes kan, tikus pada nyingkir", tambah Romiyah. Atau pada nuju kesempatan lain sayur keladi bisa juga diganti daun pace atau mengkudu. Ternyata daun pahit ini efektif menyingkirkan orong-orong sawah.

Sementara itu sambetan berfungsi agar padi nggak kesambet. Secara umum, sambetan terdiri dari : dlingo (Acorus Calamus L. Botani), bengle ( Zingiber Cassummunar) dan kunir (Curcuma Longa Line). Namun tak jarang, ada pula tambahan adas pulosari, jahe, bawang, kemukus hingga lempuyang. Bahan-bahan ini ditumbuk atau dilumatkan. Pada manusia, pengunaannya dengan cara dibalurkan pada kening atau perut. Sementara dalam pertanian, terutama saat nyambeti sawah atau nuju, sambetan akan diletakkan pada crowokan atau sudut-sudut sawah. Bahan bumbu ini dipercaya sebagai obat hama nabati dan penyubur tanah.


• Perempuan •



Berbeda dari nyambeti sawah yang dilakukan Mbah Jaedi dan petani tradisional di wilayah kota Purbalingga, maka Nuju di desa Brakas hanya boleh dilakukan oleh perempuan. "Ya wong Bapane lagi neng mesjid si. Jemuwahan", kata Romiyah saat ditanya alasannya. Bagaimana dengan Nuju pada Selasa Kliwon ? " Bapane Slasahan", candanya. Termasuk pemilihan waktu tengah hari pun tidak mereka ketahui secara pasti. Sementara pada beberapa petunjuk pertanian tradisional, pemberian pupuk paling baik dilaksanakan pagi sampai sebelum siang. Memang kalau menghitung istilah bareng bedhug Jemuwah di desa, bisa saja mengartikan pukul 10.30 ya. Belum tengah hari sepertinya. Hmmmmm,...... ada yang bisa membantu saya ?

Nah, apapun alasan sebenarnya, yang pasti inilah proses yang dilakoni perempuan Brakas saat bertani. Sama seperti mluku yang hanya dilakukan lelaki, maka nuju hanyalah milik kaum perempuan disana. Ternyata tanpa gembar-gembor gender pun dunia pertanian tradisional sudah menjalaninya. Kerjasama yang manis.

• Ramah Lingkungan •




Setiap proses tradisional umumnya bersifat ramah lingkungan. Jika jaman sudah menghalalkan pupuk kimia, maka tradisi hanya mengijinkan bahan-bahan alami. "Gemiyen si kaya kuwe. Tapi ya kuwe, kasile semending. Mulane terus dadi pada nganggo traktor, nganggo urea", kaya Mbah Jaedi.

Tradisi sejatinya banyak mengajarkan kita untuk mencintai alam. Sambetan, jangan lumbu, banyu leri, sampai godong pace ini tidak mematikan lawan. Tugasnya hanya menyingkirkan. Toh belalang misal, ia masih bisa kemudian mencrok di daun tanaman lain. Prinsipnya hanya "jangan ganggu padi dulu". Kemudian dilihat dari bahan-bahannya yang sangat mudah ditemukan juga mengajari untuk menghargai segala yang ada di sekitar rumah. Serta kreatif juga hemat

Ah, kita mungkin tak lagi mengingat bagaimana pertanian pernah "menjadi bagian" dari segi kehidupan masyarakat kita. Menjadi bagian disini berarti bukan memikirkan perut dan komersial belaka. Namun juga melestarikannya agar bisa dinikmati generasi penerus. Selamat me-Nuju panen.

Paduan aroma sawah dan nikmatnya Sega Bakal di Bakal Angkringan

Jika sebagian besar dari kita memilih mengkonversi lahan bambu menjadi pemukiman. Maka sekelompok anak muda ini tengah mempertahankannya untuk dikelola menjadi beberapa kerajinan.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •



Jelas terlihat satu set kursi ini terbuat dari bambu. Jenisnya adalah bambu atau pring tutul. Salah satu yang tergolong langka di Indonesia. Padahal, Indonesia ini endemik sekitar 150-an jenis bambu dari seribuan jenis yang ada di dunia. Keunikan pring tutul adalah bercak hitam dan keemasan di sepanjang batangnya. Bambu berdiameter rata-rata 9 cm ini banyak tumbuh di desa Bokol, Kecamatan Kemangkon. Tempat bermukim Dwi Kaliyan Kanca yang tergabung dalam “Rumah Seni” Darimu Entertainment Education.


• Berawal dari Seni •

Bagi Dwi Nugroho dan orang-orang di sekitarnya, bambu bukanlah barang baru. Cukup banyak papringan di sekitar mereka. Namun, penduduknya masih lebih memilih ikut dalam proyek galian C. Desa Bokol memang dialiri dua sungai besar. Klawing dan Serayu. Dimana menambang akan jauh dirasa lebih menguntungkan dari mengelola bambu.

Dwi Kaliyan Kanca (mari selanjutnya kita sebut "dkk"), awalnya pun tidak sengaja menyadari bahwa bambu bisa diolah sedemikian rupa. Aktivitas awal "dkk" adalah berkesenian. Nge-band, nari (nari lho ya bukan ngedance), musikalisasi puisi dan lainnya. Kebutuhan ruang membuat Angkringan Bakal dibangun. Dengan desain full bambu.

Tidak hanya itu, beberapa kancanya di Bokol yang putus sekolah pun direngkuhnya. "Daripada ikut nambang. Kalau pasirnya habis gemana ? Kalau bambu kan kita tebang pilih, jadi nggak habis", kata Dwi yang kini juga mulai menaman bambu di belakang kediaman orang tuanya. Hingga kemudian mereka mulai mengolah pring tutul menjadi meja, kursi, tempat tissue, bingkai foto, tempat pensil serta lampion. Tak terasa, dari awal menggagas di tahun 2012, mereka berhasil menjual lebih dari 20 set kursi ke wilayah disekitarnya. "Sekitar satu minggu, penggarapan selesai", kata anak muda berambut gimbal ini.

Untuk 1 set kursi terdiri dari satu kursi panjang, tiga kursi pendek, satu meja tamu dan satu meja vas. Ditambah bonus 1 tempat tissue dan bingkai foto. Waaaah, paket lengkap. Dan sepertinya juga hemat. Karena hanya dibanderol Rp. 800.000,-. "Delapan Ratus itu plus ongkir di Purbalingga dan sebagian Banyumas. Kalau wilayah lain, yaaaaa.... tahu sendiri lah", katanya sembari tertawa.


• Awal dari lemari kostum •

Bukan waktu yang singkat bagi "dkk" untuk kemudian memproduksi 1 set kursi tamu ini. Ini adalah ketidaksengajaan yang membawa rejeki. Utak-atik bambu ini bermula dari kebutuhan akan lemari kostum mereka yang menari. Dwi hanya memfasilitasi bambu yang ia beli pada tetangga kala itu.

Selain itu, Dwi juga berprinsip bahwa bambu bukan tanaman liar yang bebas dieksploitasi. Mereka tidak akan tebang sembarangan. "Kami tanya ke orang tua dulu, Mba. Mereka kan punya ilmu titen ya. Dan itu yang sedang kami pelajari juga", ujarnya. Ya, dengan ilmu titen ini selain hanya bambu tua yang boleh ditebang, mereka pun terhindar dari "bubuk" bambu yang muncul akibat salah petungan.


Setelah lemari itu jadi, tanpa dikomando sisa bambu dimanfaatkan untuk membuat meja. "Katanya, biar ada tempat buat naruh medangan pas latihan, Mba", kenangnya. Meski tak sempurna, meja itu masih disimpannya. "Nggak simetris, oyeg-oyeg (bergoyang), masih pakai paku pula", katanya. Ini jelas berbeda dengan hasil kreasi sekarang.

Meja kursi bambu identik dengan pantek bambu dan ikatan rotan. Begitupun hasil produksi Darimoe. Diluar itu, mereka pun sudah rutin membuat laporan periodik sendiri. "Biar terbiasa mandiri Mba. Bikin laporan sendiri buat diri sendiri", tambahnya.


• Sega Bakal •



Di markas Darimu, kita pun akan dimanjakan dengan menu-menu khas olahan para Ibu "dkk". Maincourse-nya adalah Sega Bakal. Pemilihan kata bakal menurut Dwi dikarenakan kata ini yang lambat laun berubah menjadi Bokol. "Kalau kata orang-orang tua disini bakale wilayah kiye kan sekang alas", ujarnya singkat.

Dan Sega Bakal yang disajikannya pun merupakan menu keseharian masyarakat Bokol yang dikemas tersendiri. Isinya : Nasi, Pecak Jantung Pisang, Tempe Gundil, Lalab, Sambel Jelantah dan Ingkung Pitik. Sesekali pecak jantung pun bisa diganti dengan oseng rebung, oseng tauge atau oseng kacang panjang. "Tergantung Emak-emak lagi nemunya apa disekitar mereka. Karena bahan-bahannya harus yang tersedia di Bokol", terangnya. Dan dari sekian menu, Dwi merekomen sambel jelantah. "Orang jaman dulu, nasi sama sambel jelantah saja sudah bersyukur banget Mba. Dan ternyata enak rasanya", promonya. Hmmmmm, bagi penggila sambal, ulekan bawang merah dan sedikit cabai dengan minyak sisa menggoreng ini boleh kok menambah referensi. Tapi karena saya tidak suka segala jenis yang pedas, maka Tempe Gundil adalah yang paling kece buat saya. I Love It !!

Bagi yang masih ingin duduk berlama-lama (dalam istilah mereka rubungan), bisa juga sembari menyesap segelas kopi dan mencomot balok Bakal, sejenis camilan dari singkong. Atau saat panas menyengat, saya sarankan Badeg Bakal dengan Es yang dingin menyegarkan. Selamat menikmati asrinya gubug bambu ditemani kreasi Dwi Kaliyan Kanca di Bokol 4/2 Kemangkon, Purbalingga.

Keseluruhan foto diunduh dari akun facebook Dwi Nugroho

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...