Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

TUGU LANCIP, icon BOBOTSARI

Gambar
​Bobotsari. Tapi tak banyak yang saya kenal dari tempat ini. Selain Bakso Tukiman, Terminal Bobotsari serta Tugu Lancip. Dan tugu kembar di Jalan Andong Sinawi lah yang secara khusus menarik perhatian saya. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Tugu Lancip Bobotsari berada di ruas jalan Bobotsari - Karang Reja. Berada di kanan-kiri jalan utama. Serupa gapura. Ya, gapura menuju titik akhir dari perjalanan hasil panenan sistem tanam paksa di utara Purbalingga. Tanam paksa ? "Jadi kerugian akibat perang Diponegoro dan ditambah sisa hutang VOC, membuat pemerintahan Hindia Belanda memberlakukan tanam paksa. Yang ditanam adalah yang laku dijual di pasar internasional. Lada, kopi, kina, hingga teh. Dan saat itu, Purbalingga kebagian teh dan kopi yang banyak ditanam di wilayah utara", kata Mas Moko, salah seorang guru sejarah di SMP N 2 Purbalingga. (Maaf, maaf, maaf.. saya lupa nama lengkap Mas Moko) Hasil perkebunan itu diantar ke Bobotsari untuk kemudian jadi komoditas jualan pemeri...

Mengintip saja di Watu Lawang Kalapacung

Gambar
Sore itu teramat mendung. Namun lagi-lagi beginilah ketika keinginan mbolang muncul. Gayung bersambut, seorang kawan menawari jalan-jalan ke desa Kalapacung, Bobotsari. “Ada Watu Lawang lho Mbak disana”, katanya. Okay, kita kesana. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Sungguh saya tak punya gambaran apapun tentang tempat ini. Beberapa sms masuk hanya mengatakan : lokasinya sulit, angker, atau bahkan “kamu mau minta nomor ya?”.  Iyyyyeeess, yang terakhir ini sebenarnya sudah biasa banget ditanyakan saat saya main-main ke petilasan atau yang serupa. Sudahlah, monggo kerso. Lebih baik segera ganti alas kaki untuk menuju ke watu lawang.  Ya, saya disarankan mengenakan sandal jepit setelah hujan mengguyur deras desa Kalapacung. Karena untuk menuju Watu Lawang, kita harus melewati areal perkebunan dan semak rimbun yang naik turun. Mirip perbukitan namun cukup landai. Arahan penduduk setempat memang sepatutnya jadi acuan saat main-main model begini. Bertiga, kami menemui Pak Kasmad terlebih...

Belajar pada Alam di Rintisan Agrowisata Giri Badhra

Gambar
November ini harusnya saya sudah di Giri Badhra lagi. Menengok pepaya California yang mulai matang. Pepaya hasil penanaman dengan teknik toping yang membuat Romo disebut sinting. Ach !! • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Lokastithi Giri Badhra bukanlah tempat baru bagi saya. Empat tahunan yang lalu, untuk sebuah proses "liputan" sejarah, saya berjam-jam di tempat ini. Memunguti rentetan informasi yang disampaikan Romo Hariyadi dengan sabar. Kali ini kedatangan saya ke museum yang berlokasi di dusun Pangubonan, desa Cipaku berbeda. Bukan lagi sekedar belajar ilmu leluhur, namun belajar bagaimana Romo dan Pak Suroso menerapkannya dalam aktivitas bertani. Lik Roso, begitu Suroso biasa dipanggil, memang bertanggung jawab penuh pada lahan pertanian di Giri Bahdra ini. Terhitung April 2016, lahan yang berada di belakang Situs Watu Tulis Cipaku ini ditanami bibit pepaya California. Dengan sistem toping. "Ini sistem yang bikin Romo disebut wong edan sama orang-orang sekitar...

Kudapan Khas Siwarak untuk bulan SURA

Gambar
Sura hampir berakhir. Tapi banyak moment yang tidak bisa saya lupa. Jelang bulan baru tahun Jawa kali ini istimewa buat saya. Salah satunya adalah karena bisa melihat langsung produksi kudapan khas dodol kelapa muda, manisan pepaya dan manisan cermai di desa Siwarak. • oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Uap hangat beraroma legit mengajak kami berlarian menuju dapur Suwarti. Rumahnya tak jauh dari pintu masuk Objek Wisata Gua Lawa. Di dapurnya tampak aktivitas yang padat. Ada yang tengah mengupas kelapa, mengaduk adonan dodol, mengolah manisan hingga mengemas kudapan-kudapan ini. Target Suwarti adalah menjualnya untuk bulan Sura. "Sejak awal produksi kami sudah membuat ini khusus untuk Sura, Maulud juga Khaul", kata Suwarti. Dodol dan manisannya banyak diminati menjadi oleh-oleh khas di Pemalang, Tegal hingga Cirebon. "Kalau njenengan ke makam Sunan Jati di Cirebon, ya salah satunya itu ada manisan buatan kami", tambah perempuan yang memulai usahanya di tahun 1987 ini...

NJELIR, HUJAN dan KALIAN siang itu

Gambar
Hujan bukan alasan menghentikan langkah kami menyusuri setapak tanah di perbukitan setinggi 1000 mdpl ini. Bukit dengan panorama indah yang pertama kali mengenalkan wisata sunrise di Purbalingga. Njelir. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •   Perjalanan di akhir September lalu ini membawa banyak "tugas". Review ini tak hanya milik saya pribadi seperti sebelumnya. Karena dalam perjalanan ini saya bersama rekan-rekan sekantor. Treking ke Njelir kali ini kami diarahkan melalui rute dari Gardu Jaga VOC di Siwarak. Menurut ketua Pokdarwis Lawa Mandiri, mas Tomz Bae, jalur ini lebih save untuk team kami yang didominasi ibu-ibu.  Pilihan lainnya adalah berangkat dari Gua Lawa menuju Gardu Pandang dan lalu Puncak Njelir. Namun rute ini konon tanjakannya cukup ekstrem. Satu lagi, jalur baru tengah digagas. Kabarnya cukup memakan waktu 10 menit saja mencapai puncak. Rute khusus nge-trill. "Jadi nantinya pengunjung bisa sewa motor untuk sampai beberapa meter dari puncaknya ini...

Menengok Arca Batu "Onje Bukut"

Gambar
#Latepost. Tak apa kan ? Saya sedang sok sibuk belakangan ini. Sehingga banyak file menumpuk tak terolah. Dan inilah salah satunya. Arca Onje Bukut. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Dua hari saya dan seorang kawan bolak-balik ke desa Onje. Kawan saya ini cukup sering mengagendakan mandi di Kedung Pertelon atau Jojog Telu saat bulan Sura. Dan inipun mempermudah saya untuk langsung menuju ke berbagai lokasi "peliputan" dengan mudah. Ia mengenal medan Onje dengan sangat baik. Karena beberapa titik yang sarat akan kisah sejarah lokal tidak berada di jalan utama Onje. Tak jarang kami harus keluar masuk setapak. Salah satu yang kami kunjungi adalah Arca Bukut. Tercatat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sebagai Situs Batu Arca. Dinamakan arca karena tampak jelas tumpukan 2 batu itu membentuk kepala dan badan yang bersila. Arca ini dikelilingi susunan batu andesit berbentuk bulat setinggi ± 0,5 m. Ditemukan di halaman rumah warga dengan dikelilingi tembok batu dan tetumbu...

Batik bukan sekedar titik

Gambar
Batik. Setiap titiknya adalah tanda tangan sang pembatik. Bahwa satu batik adalah produk satu-satunya dari ribuan motif yang sama. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Dua bulan ini hampir saya tidak lepas dari bermacam hal terkait batik. Pas ndilalah mungkin. Mulai dari mencarikan batik pesanan keluarga, jadi model batik dadakan untuk tesis seorang kawan, hingga ditolaknya ijin off duty 4 hari untuk latihan mbatik. Hal-hal semacam ini menjadikan batik semakin memiliki nilai personal. Foto oleh Billy Kamajaya Ya, karena seperti apa yang saya tuliskan diawal satu titik saja bisa menjadi tanda tangan. "Kami sesama pembatik atau siapapun yang paham akan tahu mana batik misal Sekar Jagad buatan saya dan buatan mas Edi", kata Yoga Prabowo Tirtamas yang ditemani Edi Mukti Sekarsari di sela-sela pelatihan pengenalan warna sintetis dan teknik ciprat beberapa waktu lalu. Dalam membatik, "isen-isen" motif klasik adalah murni olahan dan luapan rasa dari sang pembatiknya. Sehingg...

PAMUJI DI BUKIT MUJIL

Gambar
Aura tenang langsung menyergap begitu kaki menapaki tanah basah dihadapan. Waktu itu, hujan memang masih sesekali mengguyur. Sedikit terasa licin karena salah alas kaki. Namun kelincahan Mbak-mbak pemandu didepan, memicu saya untuk tidak menyerah. Padahal flat shoes mereka juga tidak anti slip. Namun semua bukan rintangan berarti, jika ingin mencapai Bukit Mujil. • oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Bukit Mujil, bagi sebagian orang dikenal sebagai tempat untuk menepi. Dipercaya berasal dari kata "Pamuji". Ritual memuji. Bukankah memuji keagungan Sang Penguasa Jagad lebih mudah diterapkan sosok awam saat berada di alam bebas. Apalagi di Bukit Mujil juga menawarkan pemandangan alam istimewa dibawah sana. Kedung Cucruk hingga Makam Wangi. "Kepenginnya sih bikin gardu pandang disini", kata Mbak Tri, salah seorang pemandu kami pagi itu. Namun keinginannya (dan Pokdarwis tentunya) masih belum terealisasi. Mengingat lahan di bukit Mujil tercatat dimiliki perorangan. Karena se...

Sega Bonjapi

Gambar
Siang itu, satu bulan sebelum Ramadhan 1437 Hijriyah. Ajakan dari Bidang Kominfo Dinhubkominfo Purbalingga ini jelas sayang untuk diabaikan. Mengunjungi Desa Wisata Kaliori, kecamatan Karang Anyar. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Foto oleh : Amir Sinangga Perjalanan ke utara memang selalu menghadirkan hamparan sawah dihadapan kami. Belum lagi di kejauhan barisan bukit tampak menjulang. Ah, tahu begini saya membawa koleksi CD Barong Nusantara dan memutarkan Pulang Kampung pada sessi menunggu di pinggir sawah. Menunggu di pinggir sawah ini bukan leha-leha. Melainkan hasil musabab antrean kendaraan pada badan jalan yang putus menuju Kaliori. Padahal perjalanan masih cukup jauh. (Semoga jalan sudah diperbaiki sekarang).   Beruntung tidak banyak jalan besar di wilayah pedesaan. Tak perlu takut tersasar. Dengan keyakinan mengikuti satu jalan lurus, pastilah kita akan menemukan Balai Desa. Target pertama setiap kunjungan resmi (baca : kedinasan). Dari sini, saya bisa melihat baga...

ME"NUJU" PANEN

Gambar
Nuju. Inilah bagian dalam pola pertanian tradisional yang dilakukan perempuan desa Brakas, kecamatan Karang Anyar selain memotong padi dengan ani-ani. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Jaman memang telah lama berganti. Pluku saja sudah bersandar, tak mampu lagi menggeser sepenuhnya peranan traktor. Namun nasi terus bertahan melintasi generasi. Nasi yang kata para sepuh, sudah tidak lagi terasa manis saat baru dipanen. Manis ? Iya, manis dan pulen. Konon ini merupakan hasil kerja ani-ani yang lebih senang memilih padi yang tua benar. Padi yang matang dipohonnya itulah yang membuahkan rasa manis. Tapi, tidak lagi demikian, sekarang ini. Beras baru pun, sepa. Rasa dari olahan beras yang berganti, bisa jadi karena proses pengolahan padi juga berubah. Bagaimana tidak beda hasil, lha wong dulu petani nggarap sawah untuk dirinya sendiri. "Sekarang kan modelnya tani dagang", kata seorang petani tradisional era 70'an, Mbah Jaedi. Prinsip mendapat hasil melimpah, mengajarkan peta...

Paduan aroma sawah dan nikmatnya Sega Bakal di Bakal Angkringan

Gambar
Jika sebagian besar dari kita memilih mengkonversi lahan bambu menjadi pemukiman. Maka sekelompok anak muda ini tengah mempertahankannya untuk dikelola menjadi beberapa kerajinan. • Oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Jelas terlihat satu set kursi ini terbuat dari bambu. Jenisnya adalah bambu atau pring tutul. Salah satu yang tergolong langka di Indonesia. Padahal, Indonesia ini endemik sekitar 150-an jenis bambu dari seribuan jenis yang ada di dunia. Keunikan pring tutul adalah bercak hitam dan keemasan di sepanjang batangnya. Bambu berdiameter rata-rata 9 cm ini banyak tumbuh di desa Bokol, Kecamatan Kemangkon. Tempat bermukim Dwi Kaliyan Kanca yang tergabung dalam “Rumah Seni” Darimu Entertainment Education. • Berawal dari Seni • Bagi Dwi Nugroho dan orang-orang di sekitarnya, bambu bukanlah barang baru. Cukup banyak papringan di sekitar mereka. Namun, penduduknya masih lebih memilih ikut dalam proyek galian C. Desa Bokol memang dialiri dua sungai besar. Klawing dan Serayu. Dimana ...