Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

BERBURU KAMIR DI KAMPUNG ARAB

Gambar
Hmmmm... Aroma harum adonan kue yang masih panas menyeruak dari sebuah rumah di dalam gang sana. Tanpa perlu ribet bertanya lagi, saya yakin pasti itulah tempatnya. Kamir “Cap Mawar” Ibu Chamidah, Pemalang. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Kamir, bukanlah penganan yang asing bagi kita. Penjual jajan keleman sering membawanya. Ciri khasnya yang empuk dengan citarasa manis terasa pas menjadi penggajal perut saat lupa belum makan berat. Kamir identik dengan Pemalang. Penganan khas yang diperkenalkan warga keturunan Arab. Tak hanya di Arab, konon di Yaman pun makanan sejenis kamir ini ada. Namanya Bakhmri. Bedanya terletak pada bentuknya yang tidak bulat melainkan segitiga dengan rasa rempah yang kental. ​   Kamir diproduksi oleh keturunan Arab yang menempati wilayah tersebut sejak bertahun-tahun. Sehingga tak heran ya, jika kemudian ada "Kampung Arab"Mulyo Harjo. Banyak serupa bangunan tua di tempat ini. (Atau memang demikian). Dan Kamir Cap Mawar Bu Chamidah pun mendiami salah...

Pekinangan

Gambar
Kata “pekinangan” umum ditujukan pada wadah bahan-bahan nginang. Ada yang menyebutnya kutuk sirih hingga tepak atau tlepok . Dalam bahasa Inggris disebut dengan betel nut set . Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Saya kembali berbincang dengan Triningsih, pemandu sekaligus kurator di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Mbak Tri, begitu ia biasa dipanggil mengajak saya berkeliling sembari menatap sederet benda-benda mungil berbentuk manggis dengan warna keemasan. “Nyemplu kayak pipi bayi”, gurau kami satu sama lain. Pada dasarnya nginang ini seperti halnya merokok. Membuat kecanduan. Tak heran, seseorang yang menginang akan membawa bahan-bahan nginang kemanapun ia pergi. Meski tanpa rujukan ilmiah, sepertinya pekinangan muncul hampir bersamaan dengan kebiasaan menginang itu sendiri. Jangan bayangkan semua pekinangan seperti benda koleksi museum yang terlihat antik ya. Karena mbah-mbah kita pun ada yang cukup membungkus bahan kinang dengan sehelai kain serbet. Jangan-jangan dahulu ma...

Kenangan Akan Kinang

Gambar
Saya memiliki dua nenek dimana satunya suka tingwe (ngelinting dhewe) dan lainnya nginang . Sama-sama menguarkan aroma tembakau. Namun, Mbah Putri yang merokok jelas akan menghembuskan asap yang menyesakkan. Sementara Mbah Buyut Putri yang nginang kerap meludah berwarna merah yang agak horror dilihat. Menariknya, sama-sama sebagai kebiasaan yang membuat candu, gigi Mbah Buyut Putri jauh lebih kokoh dan utuh. Hemm , apakah itu salah satu khasiat nginang ? Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Sejarah Nginang Nginang (menginang) merupakan kebiasaan kuno yang terdapat di Nusantara. Dari mana asalnya belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebut dari India mendasar pada perkiraan asal sirih. Namun yang pasti saat mengintip buku "Album Pekinangan Tradisional" , disebutkan bahwa pada abad 4 M aktivitas mengunyah sirih ini sudah dimasukkan dalam sandiwara. Sementara itu dari sumber lain dikatakan jika pada relief candi Borobudur dan candi Sojiwen, masing-masing diperkirakan dibangun pa...

COKELAT JEJAMUAN, RADENTA

Gambar
Jika ada yang menawari saya cokelat batangan, otomatis saya sih yes. Kalau dicampur kayu manis ? Jelas mengangguk terus macam minimka. Kalau dicampur jamu ? Tik tok tik tok. Jangan bilang "tidak" dulu ya. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Cokelat jejamuan. Itulah yang ditawarkan Radenta. Pesona dua kutub budaya yang berbeda. Cokelat batangan yang selama ini kita kenal memang tak hanya menawarkan rasa originalnya saja yang lumer di mulut. Tapi juga sudah dengan toping atau filling terutama nuts dan buah kering macam raisin. Nah sekarang coba deh kita nikmati cokelat batangan yang sudah kita kenal tapi dengan filling jamu. Weeew !! Jamu ? Iya jamu. Kayak kunyit asam, beras kencur atau jamu pahit temulawak itu. Aneh ? "Awalnya pasti iya lah ngerasa aneh. Apalagi waktu proses bikinnya dulu. Saya sampai kasian sama yang cicip", kenang Mareta Ramadhani saat bertemu di sebuah kantor media beberapa waktu lalu. Mareta ini founder Cokelat Radenta. Cokelat Jejamuan ini bisa dis...

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Gambar
Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya? Oleh: Anita Wiryo Rahardjo Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, " Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal ". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut.  Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda. Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya. " Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. ...

Aku, Kamu dan Kopi Kita di Espede Cafe

Gambar
Aroma pahit berbaur jeruk khas Kopi Kintamani menyeruak dari kepulan asap di cangkir yang tengah tersaji. Yang bikin surprise adalah saya menikmatinya di kota sendiri. Tepatnya Espede Cafe Purbalingga.  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo & Ery Andini Saya cukup diuntungkan sebagai warga pusat kota Purbalingga. Akses mudah berkenalan dengan tren, walau pada dasarnya saya bukan anak gaul. Termasuk cafe baru yang memasang tagline "Aku, Kamu dan Kopi Kita". Jujur saja, susunan kata yang nampang di salah satu sudutnya inilah yang membawa saya bergegas menuju Espede Cafe di Jalan Letkol Isdiman no. 17 seberang Rumah Bersalin Panti Nugroho Purbalingga. Kalimat yang secara refleks mengingatkan saya pada salah satu karya pribadi dalam bentuk audio stories yang ditayangkan sebuah media lokal, "Kita dan Secangkir Kopi". Beda ya ? Ah, sudahlah... anggap saja mirip. Dan apakah saya bertemu Rio seperti dalam kisah yang saya tulis berminggu-minggu itu ? Tentu saja tidak. Karena s...

Saat MBAH SUMIRAH Berkisah

Gambar
Pertemuan kami ini tidaklah disengaja. Tanpa janji dan bahkan tanpa saling mengenal. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Mukanya terlihat kaget ketika saya merasakan daun pintu itu terbuka. "Siapa ya?", tanya ia bergetar. Setelah menyebut nama, sayapun disilakan duduk di ruang tamunya yang cukup lebar. Ada dua set mebelair tertata rapi. Khas ruang tamu rumah lawas yang penuh dengan banyak kursi. Beberapa menit setelah ia kembali dari kamarnya, "Sebenarnya saya mau ke kantor. Tapi tidak apa-apa kalau Nak ini mau ketemu". Ucapannya ini membuang rasa tidak enak saya yang suka slanang-slonong. Dan kisah demi kisah pun terlontar dari perempuan sepuh bernama Sumirah Soetardjo ini. Mbah Sumirah adalah seorang veteran Pejuang Pembela Kemerdekaan RI di Purbalingga. Dari beberapa perempuan pejuang seumurnya, ia yang paling sehat di usia senjanya.Perannya dalam perjuangan memang bukan sebagai pemanggul senjata. Namun kegesitannya sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan dana bagi ten...

TUK WINONG

Gambar
"Kalau tidak kebeneran, pulang dari sini bisa sakit", katanya saat mengantar kami menuju pesarean Eyang Kertapati siang itu.  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Sabtu siang di musim kemarau dampak el-Nino, salah seorang atasan mengajak saya mengunjungi sebuah mata air yang tak pernah kering. Bahkan pada musim kemarau sekalipun. Tuk ini berada di Kali atau Sungai Kabong grumbul Padaurip, dukuh Loji, desa Prigi. Saat itu matahari sudah hampir menuju puncaknya. Namun gemericik air yang terdengar sepanjang ladang jagung yang kami lalui terasa menyejukkan. Pak Mad Wiyardi, salah seorang sesepuh yang mengantar kami ke lokasi menyarankan sowan sejenak di pesarean Eyang Kertapati. Leluhur desa sekaligus 'penjaga' Tuk Winong. Dalam bahasa Jawa Banyumasan, pria sepuh yang kini sibuk bertani ini memintakan ijin kedatangan kami siang itu. Ketika ditanya maksud dan tujuan, kami serempak menjawab, "sekedar main". Karena memang itu tujuan awal kami. Yang ada dibenak kami adal...

ALUN-ALUN PURBALINGGA

Gambar
"Ana Ndara Kanjeng, nyembah.. nyembah", kenang Mbah Jupri saat diajak berbincang seputar Alun-alun Purbalingga. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Memori masa kecil pria sepuh yang dikenal sebagai penjual dawet keliling ini berbeda jauh dari apa yang saya temui dua dekade silam. Tak hanya jaman yang berubah, nilai Alun-alun sebagai tradisi Nusantara pun seolah menguap. Kini kita melihatnya semata hanyalah taman luas di pusat kota yang dikelilingi Kantor Pemerintahan, Masjid, Pasar dan Penjara.  (Ket foto : Alun-alun Purbalingga tempo dulu) Alun-alun memang sangat identik dengan pusat kota. Bahkan Alun-alun sudah menjadi salah satu identitas bagi kota-kota di Pulau Jawa yang berlangsung sejak masa Pra-Kolonial. Secara pasti kapan dan dimana Alun-alun pertama dibentuk memang tidak ada catatannya. Namun menurut informasi yang bersumber dari Wacananusantara.org, pada rentang abad ke-13 sampai 18 atau pada masa Majapahit hingga Mataram, Alun-alun selalu menjadi bagian dari suatu komp...

KAMPEL WANGON

Gambar
Musim dingin ini memaksa kita untuk terus dan terus mengunyah agar tak kehilangan panas tubuh.  Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Selain menu-menu berkuah, jenis gorengan pun tak ketinggalan disajikan sebagai teman minum kopi atau teh panas. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah Kampel. Ya, atis-atis ya cocoke kampelan (*). Haaaiiiizzzzz..... Tak pelak ocehan seorang kawan asli Ajibarang ini memancing keriuhan. Otak-otak mulai berputar mencari topik yang lebih hangat lagi. Hahaha.. Bicara soal Kampel, inilah menu khas daerah Wangon, Banyumas. Salah satu marga gorengan yang malah mengingatkan saya pada sandwich. Rotinya adalah irisan ketupat, inti atau isinya diganti dengan dage dan sausnya menggunakan sambal ulek yang pedesssss. Susun sandwich khas Wangon ini dengan rapi dan celupkan ke adonan tepung goreng dan.... sreeeeenngg. Suapan pertama Kampel ini terasa aneh dimulut saya. Ada efek kenyal dari ketupat yang berpadu dengan rasa khas dage yang manis-gurih-pahit plus sambelnya ...

MERIAHNYA FESTIVAL GUNUNG SLAMET

Gambar
Festival Gunung Slamet (FGS) memang belum bisa disebut kelar. Namun rangkaian prosesi tradisi sudah bisa dipastikan selesai dihelat. Inilah Festival budaya pertama yang saya saksikan di Purbalingga. Berlokasi di Desa Wisata Serang, FGS digelar selama 3 hari berturut-turut mulai tanggal 4 hingga 6 Juni 2015 ini. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo HARI PERTAMA    (keterangan foto : kirab budaya hari ketiga) Keramahan penduduk lokal dan keterbukaan mereka untuk membagi banyak informasi membuat saya menyesal melewatkan helatan hari pertama yang justru penuh dengan nuansa sakralnya. Informasi yang saya dapatkan dari teman-teman media menyebut bahwa hari pertama FGS dilalui dengan perjalanan melewati jalan menanjak menuju Tuk Sikopyah di Dukuh Kaliurip. Inilah salah satu dari tiga mata air terbesar di lereng timur Gunung Slamet selain sumber air panas Guci dan Baturaden. Tak hanya penduduk Serang, mereka yang berasal dari Kutabawa, Siwarak, hingga perbatasan dengan Tegal dan Pemalang. A...

TLAGA KUTASARI, WISATA MURAH MERIAH BERTUAH

Gambar
Setiap akhir pekan menyapa, pasangan muda-mudi dekat rumah sering berseloroh, “Ikut kami yuk, ke Tlaga”. Hmmmm, bener nih mau acara pacarannya saya gangguin ? Saya sih mau-mau saja, tapi takut akting sok tenggelamnya saya, bikin sang cowok berpaling dari pacarnya. Ups !! Eh, tapi nggak mungkin banget sih untuk pura-pura tenggelam di Tlaga ini. Yang ada kita benar-benar NYATA merasakan kedinginan. Brrrrrr. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Kolam ini terletak di salah satu sisi Tlaga. Pada malam Kliwon konon ada juga yang semedi di gundukan di tengah itu. Tlaga ini merupakan objek wisata lokal yang terletak di dusun Tlaga, desa Karang Cegak, Kutasari. Dari SMK Kutasari kita tinggal belok kiri dan…… tanya orang saja kalau bingung. *Ampppuuun, suer saya orangnya nyasaran. Penduduk setempat memang sudah sangat paham dengan Tlaga bernama Situ Tirta Marta ini. Tempat ini akan sangat ramai dikunjungi saat weekend, hari libur maupun malam Kliwon. Heemm, sepertinya tempat ini dipercaya bertuah nih...

TUGU PERINGATAN SETENGAH ABAD HARI KEBANGUNAN NASIONAL

Gambar
Tugu Peringatan Setengah Abad Hari Kebangunan Nasional. Inilah kalimat yang tertera dalam prasasti pada tugu ini. Sudah bisa menebak tugu apa yang saya maksud ? #Deng-dong!!. Sudah lah, tidak usah memaksakan diri menerka pada tugu di Purbalingga sebelah mana kita bisa menemukan prasati ini. Karena sebagian besar orang memang tidak menyadarinya. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Prasasti ini sebenarnya bisa dengan mudah kita saksikan di replika Tugu Bancar yang kini berdiri di Taman Maerakaca, tak jauh dari Jembatan besar Klawing. Tugu ini termasuk salah satu icon Purbalingga. Bagi yang pernah berwisata kuliner es duren atau masuk ke kompleks Badog Center pastilah bisa dengan mudah melirik keberadaannya. Duuulu sekali orang pernah menyebutnya sebagai tugu totogan Bancar. Sebagian lagi menjulukinya Monas kecil. Sebuah tugu peringatan pastilah dibangun bukan tanpa alasan. Begitupun dengan tugu yang dibangun pada 1958. Kapan pengerjaannya memang tidak diketahui secara pasti. Saya hanya mene...