Cari Blog Ini

BERBURU KAMIR DI KAMPUNG ARAB

Hmmmm... Aroma harum adonan kue yang masih panas menyeruak dari sebuah rumah di dalam gang sana. Tanpa perlu ribet bertanya lagi, saya yakin pasti itulah tempatnya. Kamir “Cap Mawar” Ibu Chamidah, Pemalang.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Kamir, bukanlah penganan yang asing bagi kita. Penjual jajan keleman sering membawanya. Ciri khasnya yang empuk dengan citarasa manis terasa pas menjadi penggajal perut saat lupa belum makan berat. Kamir identik dengan Pemalang. Penganan khas yang diperkenalkan warga keturunan Arab. Tak hanya di Arab, konon di Yaman pun makanan sejenis kamir ini ada. Namanya Bakhmri. Bedanya terletak pada bentuknya yang tidak bulat melainkan segitiga dengan rasa rempah yang kental.

 
Kamir diproduksi oleh keturunan Arab yang menempati wilayah tersebut sejak bertahun-tahun. Sehingga tak heran ya, jika kemudian ada "Kampung Arab"Mulyo Harjo. Banyak serupa bangunan tua di tempat ini. (Atau memang demikian). Dan Kamir Cap Mawar Bu Chamidah pun mendiami salah satu rumah disana. Tidak jauh dari Masjid di Jalan Semeru, puluhan kamir dan apem mawar sudah tersaji di kiosnya. Sesekali ditambahkan yang masih mengepul. Jangan tanya seperti apa aromanya. Langsung merajuk minta di'hap-hap'. Harumnya super.

Awalnya, kamir ini diperkenalkan untuk pertama kalinya di daerah Mulyo Harjo oleh Ibu Aisyah, seorang perempuan keturunan Arab. Diteruskan oleh generasi keduanya yaitu Ibu Zahra. Pada masa itu usaha masihlah berjalan apa adanya. Usaha rumahan yang hanya berkembang dari mulut ke mulut saja. Barulah pada generasi ketiga, merk Kamir “Cap Mawar” Ibu Chamidah didaftarkan seara resmi. Dan mendapat Psertifikat IRT. Ibu Chamidah, merupakan isteri dari Bapak Ali Abdullah selaku generasi ketiga usaha turun temurun ini. Kini, Kamir “Cap Mawar” Ibu Chamidah dikelola oleh Tufaah sebagai generasi keempat.

Kamir disana ternyata ada dua jenis. Satu yang terbuat dari tepung terigu dengan bentuk yang sudah sangat kita kenal. Berwarna kecoklatan dan bisa bertahan beberapa hari. Sementara itu ada juga kamir tepung beras serta santan. Biasa disebut shamir atau samit. Warnanya putih dengan bentuk yang sama. Hanya umurnya lebih pendek. Satu hari saja. Ada juga apem mawar. Apem gula Jawa ini memang bentuknya serupa mawar dengan rasa yang legit. Meski ukuran per piece nya langsung bikin kenyang tapi lidah nggak mau berhenti ketagihan. Begitupun dengan kue kamirnya. Selain cita rasanya yang membuat beda adalah terlihat lebih berminyak dan kecoklatan. Ini dikarenakan penggunaan minyak sayur dan minyak kelapa sebagi bahan oles. "Makin gosong malah makin nikmat", celetuk seorang pembeli sembari memilih kamir di tampah.

Kamir, menurut informasi yang beredar berasal dari turunan dari kata khameer yang berarti ragi. Ragi ini salah satu bahan pembuatannya, selain tepung (terigu atau tepung beras), telur, mentega dan gula. Semua bahan setelah jadi adonan akan diinapkan dulu semalam. Selanjutnya akan dipanggang dalam cetakan berbentuk wajan isi banyak lingkaran. Harum adonan berpadu api langsung membelai angan agar segera membawanya pulang. Ah, saya bahkan hingga detik ini lupa berapa harga satuannya karena langsung kesengsem aromanya. Yang saya ingat hanya satu dus isi 10 buah dan menyisakan 3 sampai dirumah. Kaum pencomotnya banyak sih.

Selain di kediamannya, kamir cap mawar juga dititipkan di beberapa gerai oleh-oleh di Pemalang. Tapi kalau ingin memastikan yang selalu tersedia, ya langsung ke rumahnya saja. Eits, siap-siap disambut sekelompok soang juga ya di ujung setapak. Hehe.. Selamat berburu oleh-oleh khas Pemalang.

Pekinangan

Kata “pekinangan” umum ditujukan pada wadah bahan-bahan nginang. Ada yang menyebutnya kutuk sirih hingga tepak atau tlepok. Dalam bahasa Inggris disebut dengan betel nut set.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Saya kembali berbincang dengan Triningsih, pemandu sekaligus kurator di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Mbak Tri, begitu ia biasa dipanggil mengajak saya berkeliling sembari menatap sederet benda-benda mungil berbentuk manggis dengan warna keemasan. “Nyemplu kayak pipi bayi”, gurau kami satu sama lain.


Pada dasarnya nginang ini seperti halnya merokok. Membuat kecanduan. Tak heran, seseorang yang menginang akan membawa bahan-bahan nginang kemanapun ia pergi. Meski tanpa rujukan ilmiah, sepertinya pekinangan muncul hampir bersamaan dengan kebiasaan menginang itu sendiri. Jangan bayangkan semua pekinangan seperti benda koleksi museum yang terlihat antik ya. Karena mbah-mbah kita pun ada yang cukup membungkus bahan kinang dengan sehelai kain serbet. Jangan-jangan dahulu malah bisa saja sekedar dibungkus daun pisang. Bisa jadi kan ?

Karena jika dilihat dari sejumlah koleksi di museum, bahannya sangat beragam. Mulai dari kayu, kuningan hingga kaca. “Pekinangan semacam ini bisa saja menjadi cinderamata antar kerajaan zaman dulu”, duga Mbak Tri sembari menunjukkan satu set pekinangan berbentuk toples kecil berbahan kaca hijau.


Melihat wadahnya yang lebih dari dua, diperkirakan setiap bahan akan ditempatkan dalam wadah terpisah. Satu toples untuk tempat kapur sirih (apu), gambir, jambe (pinang), tembakau, hingga bahan tambahan seperti cengkeh. Begitu pula untuk pekinangan berbentuk kotak. Keberadaan sekat dimungkinkan untuk mempermudah penempatan setiap bahan. Termasuk daun sirih, biasanya ditempatkan dalam sekat berukuran paling besar atau wadah khusus berbentuk seperti corong tinggi.

Selain wadah bahan-bahan, pekinangan juga dilengkapi dengan kecrokan atau locokan (Sunda). Fungsinya untuk menumbuk satu adonan bahan kinang. Jadi bentuknya konon mirip dengan lumpang dan alu ukuran mini. Cocok bagi yang mulai kesulitan dalam mengunyah. Ompong misalnya. Atau bagi para pemula yang sudah takut duluan membayangkan rasa mengunyah kinang, bisa mungkin ya memanfaatkan kecrokan ini.

Selain itu ada pula paidon yang berfungsi sebagai tempat membuang ludah merah. Dubang, idu abang. Ludah merah saat proses mengunyah kinang itu dihasilkan dari gambir. Pelengkap lainnya adalah gunting khusus untuk mengerat gambir yang disebut dengan kacip. Sayangnya, kacip tidak saya temukan di museum Pemkab ini. "Sejak diserahkan ke Museum oleh pemiliknya, memang dalam kondisi nggak lengkap", kata Sugito, salah seorang petugas disana.

Eh, kok sepertinya saya perlu meralat kalimat di postingan seminggu lalu nih yang menyebut jika nginang kurang sesuai dengan standar kebersihan. Bukankah paidon kemudian disediakan dalam menginang ? Artinya mereka nggak meludah sembarangan dong. Tapi sudahlah, toh orang-orang tetap sudah terlanjur meninggalkan nginang dengan alasan "reged". Sekarang gemana kitanya aja. Nggak nginang ya nggak apa-apa, yang penting nggak mbuang idu (entah meludah atau mengumbar janji) sembarangan.

Kenangan Akan Kinang

Saya memiliki dua nenek dimana satunya suka tingwe (ngelinting dhewe) dan lainnya nginang. Sama-sama menguarkan aroma tembakau. Namun, Mbah Putri yang merokok jelas akan menghembuskan asap yang menyesakkan. Sementara Mbah Buyut Putri yang nginang kerap meludah berwarna merah yang agak horror dilihat. Menariknya, sama-sama sebagai kebiasaan yang membuat candu, gigi Mbah Buyut Putri jauh lebih kokoh dan utuh. Hemm, apakah itu salah satu khasiat nginang ?

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Sejarah Nginang

Nginang (menginang) merupakan kebiasaan kuno yang terdapat di Nusantara. Dari mana asalnya belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebut dari India mendasar pada perkiraan asal sirih. Namun yang pasti saat mengintip buku "Album Pekinangan Tradisional", disebutkan bahwa pada abad 4 M aktivitas mengunyah sirih ini sudah dimasukkan dalam sandiwara. Sementara itu dari sumber lain dikatakan jika pada relief candi Borobudur dan candi Sojiwen, masing-masing diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan 9, ditemukan gambar tempat sirih, tempat ludah dan orang sedang mengunyah. Oleh beberapa arkeolog, aktivitas ini diartikan sebagai nginang.

Dan kembali ke sumber buku diatas, pada abad X sampai XIV Masehi, berita dari Dinasti Sung juga mencantumkan sirih dan pinang sebagai salah satu dagangan yang diekspor pedagang Jawa. Dari mana dan sejak kapan bermula memang belum ada kepastian.Yang jelas aktivitas ini bisa dijumpai dari Aceh hingga Papua.

Saat ini bahan-bahan kinang atau kinangan masih bisa kita dapatkan di pasar-pasar tradisional. Di Pasar Besar Segamas Purbalingga, satu paket kinangan dihargai Rp.10.000,- "Kalau sirih saja satu ikatnya tujuh ribu", kata seorang Mbah penjual yang telah menjual kinangan sejak tahun 80'an. Untuk paketannya berisi sirih, gambir, enjet atau kapur sirih, jambe atau pinang dan tembakau.


Nginang ini kosakata bahasa Jawa. Yang lebih umum digunakan adalah nyirih. Sementara di Batak akan disebut sebagai napuran, di Sulawesi disebut mota dan sebagainya. Dalam prakteknya dahulu, nginang kerap dilakukan sebagai bagian dari upacara selamat datang, salam perkenalan, seserahan pernikahan tradisional sampai sesaji. Namun tak sedikit pula yang melakukannya sebagai pengisi waktu santai saja.

"Kalau jaman kerajaan katanya kinang juga untuk nge-rem nafsu lelaki", kata Mbak Triningsih, salah satu kurator Museum Daerah Soegarda Purbakawatja Purbalingga."Maksudnya adalah dengan nginang, otomatis dubang akan mengotori muka para puteri keraton yang bikin mupeng kompeni", terangnya. Saya manggut-manggut saja seraya meminta nalar segera mengiyakan.

Bahan Nginang Kaya Khasiat dan Makna

Tak hanya dipercaya berkhasiat bagi kesehatan, kinangan juga memiliki filosofi khusus. Sirih misalnya. Tanaman yang memiliki nama latin Piper Betle ini kabarnya mengandung minyak atsiri dan chavicol yang efektif membunuh kuman, anti jamur, menyembuhkan luka dan utamanya menyegarkan nafas. Dalam bahasa Jawa, orang terbiasa menyebutnya dengan Suruh. Dari artikel berjudul makna pecanangan Bali, suruh terdiri atas dua suku kata. Su yang berarti baik dan Wruh dari kata kawruh yang maksudnya pengetahuan.

Ada pula pinang atau jambe. Ada yang bilang mengunyah jambe ini mirip ngunyah tepes (serabut kelapa). Idih ! Tapi seperti apapun rasanya, jambe inilah yang mampu membersihkan gigi dan bikin kesat. Tidak disarankan menambahkan jambe terlalu banyak ya. Kandungan alkaloidnya, jika over malah akan merusak gigi. Jambe diperkirakan erat kaitannya dengan kata jampi atau mantra. Mantra secara suku katanya yaitu Man dan Tra bermaksud membebaskan pikiran dari segala macam bentuk napsu. Karena sumber dari segala perbuatan napsu adalah pikiran.

Terus, saat nginang pun apu atau enjet atau kapur sirih tidak boleh ketinggalan. Yang benar sih, enjet terbuat dari abu hasil cangkang yang dibakar. Penggunaannya mesti dilarutkan terlebih dulu. Hehe, ngomongin sola enjet ini entah mengapa saya malah jadi inget labur. Itu lho cairan putih yang dipakai untuk pelapis dinding, terutama pada anyaman bambu. Kata Mbah Buyut Putri, dulu untuk membedakan enjet yang terbuat dari cangkang dengan labur itu haruslah dilihat ukuran bungkusnya. Jika dibungkus daun pisang dan ukuran kecil maka bisa dipastikan itulah kapur sirih. Nah, kalau bungkusannya besar dan tidak dibungkus daun pisang berarti kapur bangunan alias labur. Iya,.. ada kalanya labur memang kerap jadi pengganti enjet. Hahalamaak.. mungkin karena sama-sama putih ya ? Secara filosofis putih ini identik dengan hati bersih atau kebaikan.

Kemudian yang tidak boleh ketinggalan adalah gambir (Uncaria gambir). Dengan ciri khas rasanya yang pahit, gambir ini dikerat dulu isinya. Tipis sajalah. Ini lho bahan yang ketika bercampur dengan cairan di mulut kita akan berubah warna menjadi merah. Gambir pun sering ditambahkan dalam bahan pembuat obat atau kosmetik. Gambir katanya berasal dari Gambiraning Ati.

Nah dari keempat bahan utama ini yaitu suruh, jambe, enjet dan gambir akan memberikan rasa getir, pahit, pedas namun akan terasa menyegarkan mulut di akhir. Nah, ini sama seperti kandungan tersiratnya. Bahwa untuk menuju kebahagiaan batin, seseorang perlu pengetahuan yang benar, pembebasan pikiran dari napsu hingga kebersihan jiwa yang tanpa pamrih.

Terakhir, nginang bisa juga ditutup dengan nyusur. Yaitu membersihkan gigi dengan tembakau, sekaligus untuk menambah nikmatnya nginang. Ada yang menyebut nyusur inilah yang menjadi cikal bakal keberadaan kretek. Eits, tapi ingat nih, jangan nyusur saat siang sedang galak-galaknya. "Alamat pingsan Mbak", kata Sri Wahyuni pengusaha Wedangkoe yang juga kebetulan sesekali nginang. "Nggak tau ya ada kandungan apanya. Yang jelas orang-orang tua sering bilang jangan nyusur panas-panas, mbok semaput", kata perempuan yang tidak berani nyusur ini.

Dubang, Ciri Khas Nginang

Dari keseluruhan bahan pokok kinang, yang paling nempel di ingatan ya tentu saja ludah merah atau idu abang (dubang). Inipun bukan tanpa makna lho. Idu mengartikan ucapan. Inget "tinibane idu" kan ? Sedangkan merah, jelas sudah kita kenal banget berarti berani. Nah dubang ini kemudian dimaknai sebagai berani mengucapkan sesuatu yang baik dan benar. Ini seperti yang pernah dilakukan salah seorang tokoh asal Pulau Dewata yaitu I Gusti Ktut Jelantik. Ini seperti yang tertuang dalam sebuah narasi pada 1845. Kecintaannya pada tanah air, membuat Jelantik begitu marah pada kedatangan Belanda dan meludahkan dubang pada surat ijin berlayar Belanda. Sejak saat itu juga, makna komunikatif dubang sering kali digunakan sebagai cara untuk mengekspresikan kemarahan kepada kolonial.

Namun kini, dengan alasan tidak sesuai standar kebersihan dan keindahan, nginang semakin ditinggalkan. Nginang memang bukan tren budaya glamor masyarakat pusat kota, namun bukan juga dominasi industri. Nginang adalah tradisi leluhur yang kalau kita mau menggalinya, ada banyak pesan yang ingin disampaikan oleh nenek moyang kita lewat nginang. Tentang pencapaian kebahagiaan batin yang dapat kita lakoni dengan bermacam cara. Seperti : menimba ilmu pengetahuan, kebersihan hati dan jiwa, tanpa pamrih hingga kecintaan terhadap tanah air. Semua itu berat bahkan tak jarang getir. Namun ketika berhasil, ketenangan dan kedamaian jiwa ada dalam diri.

“Mba Anita, panjenengan nantinya kalau sudah sepuh nginang juga kan ?”, tanya Mba Triningsih sesaat sebelum saya mengakhirkan sesi ngobrol di Museum siang itu. Saya mencoba tertawa seringan mungkin, seraya berucap dalam hati, “Semoga, tapi tidak janji”.

COKELAT JEJAMUAN, RADENTA

Jika ada yang menawari saya cokelat batangan, otomatis saya sih yes. Kalau dicampur kayu manis ? Jelas mengangguk terus macam minimka. Kalau dicampur jamu ? Tik tok tik tok. Jangan bilang "tidak" dulu ya.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Cokelat jejamuan. Itulah yang ditawarkan Radenta. Pesona dua kutub budaya yang berbeda. Cokelat batangan yang selama ini kita kenal memang tak hanya menawarkan rasa originalnya saja yang lumer di mulut. Tapi juga sudah dengan toping atau filling terutama nuts dan buah kering macam raisin. Nah sekarang coba deh kita nikmati cokelat batangan yang sudah kita kenal tapi dengan filling jamu. Weeew !! Jamu ? Iya jamu. Kayak kunyit asam, beras kencur atau jamu pahit temulawak itu. Aneh ?


"Awalnya pasti iya lah ngerasa aneh. Apalagi waktu proses bikinnya dulu. Saya sampai kasian sama yang cicip", kenang Mareta Ramadhani saat bertemu di sebuah kantor media beberapa waktu lalu. Mareta ini founder Cokelat Radenta. Cokelat Jejamuan ini bisa disebut transformasi dari usaha Jamu dengan rasa cokelat yang pernah dibuatnya. Upayanya mengenalkan jamu dengan citarasa anak muda itu tak membuahkan hasil maksimal. Malah cenderung sepi pada akhirnya. Hingga sebuah formula baru dicobanya. Bukan lagi jamu rasa cokelat tapi cokelat rasa jamu. (Dua foto diatas & foto terakhir diunduh dari blog cokelat enak radenta)


Proses awal pembuatan dilakoninya di Jogjakarta. Jadi inget cokelat Roso nih. Sebagai lulusan apoteker, Reta sudah cukup akrab dengan aktivitas meramu dan meracik. Setelah proses yang beragam, jadilah cokelat batangan dengan filling atau isian jamu dipasarkan sejak 2014. Eh, ngomong-ngomong kenapa Radenta ya ? "Raden diambil dari Baturraden, sebuah objek wisata yang ternama di area Banyumas, sedangkan Ta dari nama saya Mareta", ujarnya


Bagi yang tak suka jamu tak usah bingung. Toh selain 3 rasa tadi ada juga filling rosela dan kayu manis. "Jadi ada grade-nya nih dari yang soft sampe yang tebel rasa jamunya. Yang mau kenalan bisa coba rasa kayu manis dan beras kencur. Medium bisa cicipin kunyit asem. Dan yang paling tinggi ya temulawak yang pahit itu", sarannya. See ? Nggak usah kepikir pahit duluan deeeh. Apalagi kalau cobanya rasa beras kencur.


Yuk pesan, ada paket sahabat (isi 3 varian 7,5 K). Info lengkap cek coklatenakradenta.blogspot.com. Buat yang nggak suka rempah, ada juga varian rasa durian, mint, keju, madu, jeruk nipis, pisang, dan cabe. Udah ah, kalau dibayangin enaknya nggak sampai meleleeeh, invite saja Pin : 7E8BD34F atau gabung di IG : @radentacoklat dan Line : @coklatenakradenta

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya?

Oleh: Anita Wiryo Rahardjo


Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, "Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut. 

Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda.

Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya


Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya.



"Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. Namanya Najendra", kata Yoga. Terkait nama tokoh tersebut, ia menyebut bahwa itu juga tertulis di Museum Batik Pekalongan. Nah sentra Sokaraja itu sekaligus menjadi yang pertama di Banyumas Raya. Untuk proses produksinya, Najendra mengumpulkan banyak warga untuk membatik. Dan kebetulan tidak sedikit dari mereka berasal dari Bobotsari, Galuh, Karanganyar, dan sebagainya. "Kecuali Limbasari lho ya", tambahnya. Ia memperkirakan Limbasari telah memproduksi batik sebelum Najendra membuat sentra batik di Sokaraja.

Jronasan, ada pula yang menyebut jonasan. Salah satu motif khas yang dimiliki. Kain koleksi pribadi

Batik sendiri diketahui sebagai budaya tak benda (intangible) yang adiluhung. "Proses dan filosofinya itu yang mesti kita pahami dengan baik. Ada kesabaran, keuletan, kematangan dan tentunya doa pada setiap helai kain batik. Sehingga tak heran jika beberapa upacara tradisi menyertakan batik tulis tertentu sebagai salah satu syarat", terang pemilik usaha Batik Tirtamas ini.

Karakteristik motif


Secara ragam motif dan warna, batik Purbalingga termasuk corak Banyumasan. Walau tidak bisa dipungkiri ada ornamen-ornamen yang mungkin saja berbeda. "Dibanding dengan batik Jogja, Solo, Pesisiran, batik Banyumasan paling gelap. Hitam, biru tua (indigo), cokelat tua, hijau tua. Sedangkan di wetan (Solo) kan gelapnya masih ditimpa kuning atau gading. Kalau kata teman-teman budayawan ya karena kita blakasuta. Hitam ya hitam, biru ya biru, ndak dicampur warna lainnya", lanjutnya.

Koleksi pribadi. Batik ini dibuat Eyang Din, salah seorang tetangga yang berprofesi sebagai pembatik rumahan.

Sementara untuk motif, flora dan fauna kecil semisal burung dan kupu-kupu lah yang mendominasi. Eh, jadi inget ya sama lumbon. Itu lho, motif yang sempat tren bersamaan dengan hitsnya sénthé wulung. "Banyak tempat di Banyumas Raya Mba yang punya lumbon. Meski sepintas coraknya beda, nama bisa saja sama. Seperti motif klasik saja. Kan semua daerah punya. Jogja punya Sidomukti Solo punya, kita juga punya. Dan kalau dijejerin beda", terangnya.

Terus jadinya apa nih motif khas Purbalingga ? Cukup banyak. Yang jelas serupa dengan motif Banyumasan. Diantaranya ada jae serimpang, pring sedapur, lumbon, suket grinting sampai jonasan. "Ada juga Cebong Kumpul", ujarnya sembari mesam-mesem melihat mata saya yang membulat.

"Ini salah satu motif klasik. Sudah jarang, tapi masih bisa dipesan. Banyak dibuat di Palumbungan dan sekitarnya. Kenapa Cebong Kumpul? Karena pembuatnya konon dulunya terinspirasi dari kondisi saat membatik. Berkelompok dan di dekat sungai. Dan ada gambar cebong-cebongnya gitu", katanya menggambarkan. Aaah kecebong, jadi inget Keropi dong. "Ada pula motif Jegli, langka banget tapi harusnya masih ada satu yang lawas di Limbasari", tambahnya.

Selain Palumbungan, desa Galuh, Jatisaba, Kemangkon sampai sepanjang aliran Sungai Gringsing pernah menjadi sentra batik Purbalingga di masa lalu. Wah, sebagai warga kecamatan "kota" saya kenal Sungai Gringsing. Dan tetiba saja teringat saat kecil, memang banyak pembatik rumahan asyik mencanting di teras rumah masing-masing. Sebut saja beberapa yang saya ingat namanya adalah Eyang Din, Mbah Sastro dan Mbaeh Nana.

"Sepertinya yang paling pertama ada di daerah Sudagaran, Mba", tuturnya. Mungkinkah yang dimaksud adalah Prada ? Entahlah. Lagipula kini toko Prada juga sudah tidak beroperasi ya. 

Selain itu, Yoga juga menyebut Gang Mayong menjadi salah satu sentra batik (Hmmm, saya pikir ini yang oleh orang-orang tua disebut tempatnya Kwee Sing mungkin ya? Sepertinya ia masih kerabat dengan Kwee Lie Keng), Kalikajar Kulon (sepanjang Sungai Klawing), Kandang Gampang, Gandasuli, Bobotsari, Jatisaba, Sidakangen, Jompo sampai Banjarsari.

Sentra batik di Purbalingga


Kini, Purbalingga memiliki 6 sentra batik tulis yaitu: Limbasari, Tlagayasa, Dagan, Galuh, Kalimanah dan Karang Moncol. "Semoga sih bisa nambah lagi ya, apalagi kami kan tidak hanya terpaku pada sentra itu saja ya Dan sekarang yang sedang dirintis adalah Tlahab Lor Karang Reja.", ucapnya.


Salah satu koleksi batik tulis di rumah saya, dibuat oleh Eyang Din (lihat cerita diatas). Saya ingat betul tuh, sekarang Ibu saya begitu menjaga sepotong kecil kain berwarna hitam pada ujung batik. Katanya itu adalah tanda khas batik tulis. Padahal, dulu selalu dilepasnya dengan alasan takut dicap sombong karena mengenakan batik tulis. Aih, bukan sombong tapi bangga itu, Bu.

Terkait sepotong kain serupa label tersebut, ternyata diketahui kemudian bukan tanpa maksud. Batik yang dibuat sekira tahun 1996 itu, dicanting sendiri oleh Eyang Din di rumahnya, namun dikirimnya ke Sokaraja untuk diwarna. Semula saya pikir hal itu dilakukan karena faktor usia yang tidak memungkinkannya untuk nglorod. Kenyataannya ? 

"Dalam sejarahnya dulu, pembatik yang dari Purbalingga itu memang diajarinnya nyanting saja. Untuk pewarnaan di Sokaraja. Dan ndak tau kenapa sampai sekarang kebanyakan pembatik kita ya ndak bisa (teknik) warna", ujarnya heran. Itulah mengapa ia ingin menularkan ilmu pewarnaan kepada pembatik lokal.

Keinginan itu tentunya bukan sekedar angan-angan. Selain ada institusi yang berperan untuk mengembangkan sentra, sebagai perajin, secara pribadi Yoga pun tak keberatan mengajarkan teknik membatik. "Silakan saja adek-adek pelajar coba membatik disini (Tirtamas)", tawarnya. Perkenalannya dengan batik semasa kuliah di Jogja memang membuatnya senang membagikan ilmunya. 

"Aku oleh ilmu mbatik iki nutur Mba. Ditawarin tiba-tiba sama tetangga kost. Katanya kasian lihat saya bengong. Namanya Pak Imam. Sabar sekali Pak Imam ngajarin saya sampai bisa", kenangnya. Walau tak langsung diaplikasikan ketika lulus kuliah, namun mbatik menjadi keahlian yang berbuah manis baginya.

Baginya mendesign, nyanting, nyoga, nglorod, hingga kemudian menjemurnya adalah proses yang seiring sejalan dengan detak nadinya. "Saya pengen terus mbatik", tekadnya. Bagaimana dengan kita saya? Mari mengenali batik dengan lebih dekat, agar mudheng dengan intangible value dari kekayaan intelektual nenek moyang ini.

Aku, Kamu dan Kopi Kita di Espede Cafe

Aroma pahit berbaur jeruk khas Kopi Kintamani menyeruak dari kepulan asap di cangkir yang tengah tersaji. Yang bikin surprise adalah saya menikmatinya di kota sendiri. Tepatnya Espede Cafe Purbalingga. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo & Ery Andini


Saya cukup diuntungkan sebagai warga pusat kota Purbalingga. Akses mudah berkenalan dengan tren, walau pada dasarnya saya bukan anak gaul. Termasuk cafe baru yang memasang tagline "Aku, Kamu dan Kopi Kita". Jujur saja, susunan kata yang nampang di salah satu sudutnya inilah yang membawa saya bergegas menuju Espede Cafe di Jalan Letkol Isdiman no. 17 seberang Rumah Bersalin Panti Nugroho Purbalingga. Kalimat yang secara refleks mengingatkan saya pada salah satu karya pribadi dalam bentuk audio stories yang ditayangkan sebuah media lokal, "Kita dan Secangkir Kopi". Beda ya ? Ah, sudahlah... anggap saja mirip.


Dan apakah saya bertemu Rio seperti dalam kisah yang saya tulis berminggu-minggu itu ? Tentu saja tidak. Karena sang peracik kopi Kintamani saya petang itu bernama Yoga Oktavianto. Anak muda yang pernah mencoba pengalaman serupa di sebuah cafe ibukota. Keinginannya mengenalkan tren ngopi-ngopi cantik menggiringnya membuka Espede bersama dua rekannya, Yoko dan Indah. "Indah kebetulan lulusan tata boga, jadi selain kopi, cokelat, squash disini juga ada kue cubit, waffle dan menu camilan lainnya yang disajikan hangat", ujar ketiga alumni UNNES ini kompak. Eits, alumni mana tadi ?? Hmmmm, pantes ya usaha mereka diberi nama Espede Cafe. Espede kan cara kita membaca gelar S.Pd yang ada dibelakang nama ketiganya.



Setengah cangkir kopi less sugar dihadapan sudah mulai dingin. Tapi saya masih ingin berlama-lama. Tanpa banyak cakap, food blogger akudankisahsemusim yang menemani pun sepertinya larut dengan segelas chocolate strawberry-nya. "Oke juga", komentarnya. Saya sebenarnya menanti mbak ini berucap lagi. Hanya saja dia terlihat sedang menikmati suara Tulus yang tengah diputar dari bar. "Emang enak kopi hitam dengan sediiiikkkiiiiiitt gula?", katanya tiba-tiba sembari mencomot kue cubit pandan yang baru diantar. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya sangat tidak ingin merusak feel yang saya dapat dari tempat ini ketika jawaban saya nantinya memancing komentar "Mirip ninine bae lho". Well, mending saya ikut mencicip kue cubit yang cukup lama antrinya ini. Sebagai pilihan tepat untuk nylimur, haha. Dan bicara soal menu utama disini, memang kopi hitam lebih banyak dinikmati kalangan dewasa saat jelang malam. “Paling banyak di-order Kopi Gayo”, kata Yoga.

ABG yang saya temui di sore berikutnya terbukti lebih memilih minuman cokelat atau squash. Mereka mungkin belum kena efek dejavu dari secangkir kopi hitam ya. Aiiiihhh.. Eh, bagi yang nggak suka kopi hitam juga nggak masalah kok. Latte, Capucino atau Espresso bisa dicoba. “Insha Allah, kopi Brazil segera menyusul untuk bisa dinikmati disini Mbak”, tambah Yoga di lain kesempatan. Tak hanya varian menu-menu oke, fasilitas tempat yang cukup nyaman (kecuali saat hujan dan kehabisan tempat di dalam), wi-fi, mushola, dan alunan lagu-lagu pilihan cocok buat berlama-lama. “Setiap malam minggu, kita ada live accoustic juga Mba”, imbuhnya. Seru !

 

Perkenalan saya dengan sajian Espede café kala itu hampir berakhir. Mung karék gedoh. Tidak lama kemudian satu notifikasi di ponsel, saya terima. "Ngopi itu kerennya tanpa cemilan dan tanpa gula", balasmu yang telah saya kirimi foto kopi dan kue cubit. Saya tersenyum dan tidak seperti biasanya berseberangan pemikiran denganmu. Sesekali dengan cemilan dan sedikit gula (dan tanpamu) juga nikmat kok, apalagi di Espede Café.

Ket : Buka jam 14.00 - 23.00 WIB

Anak-anak Muda ini Kerrrrreeeeennnn !!

Dari ujung telepon di negeri (begitu mereka menyebut wilayahnya) sana, seseorang ini berkata "Kesenangan itu bukan berarti nekat". Saya mengulum senyum membayangkan berapa prosentase kesenangan dan kenekatan untuk berbincang dengannya.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Bukan kawan lama yang berucap. Namun dia (dan mereka) membawa udara segar ditengah pengapnya rutinitas. Mereka inilah sebagian kecil anak muda Purbalingga yang membuat saya iri. Terutama pada semangatnya. Tidak yang menggebu-gebu sih tapi kontinyu.

Sessi obrolan ngalor ngidul ini memang dilakukan atas nama pekerjaan. Beruntung keenam anak muda ini sudah sangat akrab dengan media. Hampir tidak ada kesulitan membuat insertion mengenai mereka selain durasi yang hanya diplot 5 menit. Program ini saya garap untuk salah satu media penyiaran publik lokal di Purbalingga.

Lalu, siapa sajakah mereka ? Dengan rekomendasi beberapa kawan pewarta daaaaan..... emmmm stalking di sosmed (eh, nggak murni stalking lho ya), jadilah insert tersebut menghadirkan nama : Kak Jumbo, Miko Banjoemas.com, Isro Indoslackline, Sigit Bumerang Indonesia dan Bening "Bebe" Septaria.

KOCAKNYA KAK JUMBO YANG SUKA MENDONGENG


Kak Jumbo. Weeeww, namanya kok mengingatkan saya pada sahabat tokoh kartun Rong Rong ya ? Hihihi. Tapi memang, tokoh ini sangat akrab dengan dunia cerita anak-anak.


Nama aslinya Jumanto. Saat remaja ia dikenal sangat pendiam dan pemalu. "Gampang grogi Mba", katanya dengan mimik jenaka. Perkenalan dengan dongeng, diawalinya dari tugas untuk menceritakan sejarah para Nabi untuk anak-anak didik di salah satu TPQ. Sadar akan ketidak-bisaannya bercerita saat itu, Kak Jumbo memutuskan belajar ke Jogjakarta pada salah seorang master dongeng Indonesia yaitu Kak Bimo. Itu dilakoninya pada sekitar tahun 2000.

Tak disangka awal mendongeng, ia "sukses" membuat salah seorang anak menangis. "Ternyata ada kata-kata saya yang menyinggung, jadi bukannya seneng dia malah nangis hebat", kenang anggota PPMI ini. Pengalaman ini menjadikannya berhati-hati memilih kosakata yang tepat untuk anak. "Selain itu, isi ceritanya juga harus disesuaikan. Contoh anak-anak usia PAUD-TK lebih senang pada jenis fabel", lanjutnya. Yang tak kalah penting adalah isi cerita. Dongeng haruslah bermuatan positif bagi tumbuh kembang jiwa anak. Jadi beberapa dongeng pun harus ia retouch untuk sampai pada anak dengan tepat. Bisa dengan mengganti judul atau sebagian cerita. "Misal Kancil Nyolong Timun, Mbak. Liciknya kancil yang mencuri memang sangat menarik bagi anak. Nah, biar mereka tidak mencontoh kancil ya judulnya kami ganti. Menjadi akibat kancil suka mencuri", tambah alumni SMA N 1 Purbalingga ini.

Aktivitas mendongeng dilakoninya usai menyelesaikan tugasnya sebagai pengajar BK di salah satu MTs di Purbalingga. Audiensnya beragam. Tidak mutlak anak-anak. "Siapa sih Mbak yang nggak suka didongengin ? Dari batita sampai yang sudah sepuh suka", kata pendongeng yang pernah diundang dalam salah satu acara Pemprov Jawa Barat ini.

"Satu panggung lho sama Pak Dedi Mizwar. Tapi beda waktu naiknya", kekehnya. Ya, berbincang dengannya selama satu jam membuat saya harus sanggup menahan gelak tawa. Bukan jaim ya, tapi agar suara saya tidak masuk dalam grafik software perekam. Karakter jenaka memang penting dalam mendongeng. Dongeng kan belajar dalam balutan ceri(t)a. Dan pembentukan gaya mendongengnya diperoleh tidak dalam sekejap. Ia butuh 5 tahun untuk memperoleh ciri khasnya. "Tapi belajar kreasinya ya terus sampai sekarang", ucapnya dengan suara mirip kakek-kakek.

Sampai hari ini pendongeng muda Purbalingga memang baru memunculkan nama Kak Jumbo. "Eh ada satu lagi lho. Perempuan namanya Kak Zulfa. Dan sebenarnya yang lagi belajar juga sudah banyak. Regenerasi memang tengah kami lakukan Mba", ujar Bapak muda berputra satu yang juga aktif dalam kepengurusan BADKO TPQ dan HIMPAUDI (Himpunan Pendidik Anak Usia Dini) Kabupaten Purbalingga ini.

Saat ini para pendidik tingkat usia dini juga dituntut bisa mendongeng, karena itulah Kak Jumbo pun berencana membuatkan VCD tutorial mendongeng. "Banyak yang ingin belajar Mba, namun waktu saya juga terbatas karena saya juga harus di sekolah ya. Jadi mungkin dengan gambaran di video itu nantinya bisa mempermudah mereka belajar sendiri dirumah", ujarnya. VCD itu direncanakan berisi materi dongeng untuk anak usia dini, usia SD dan dongeng khusus lomba.

Eh, tapi kenapa nama Kak Jumbo menjadi pilihannya ya ? "Dulu saya kurus Mbak, jadi temen-temen di organisasi kemudian hobby nraktir. Dan mereka kaget karena makan saya banyak. Jadi suka dibilang jumbo jumbo jumbo. Dan saya pikir bagus juga ya", celoteh pemuda berperawakan tinggi besar ini. Kini nama Jumbo dimaknainya sebagai jumbo dalam berkreasi. (Foto saya ambil dari Facebook Jumanto Jumbo)


MIKO BANJOEMAS DOT COM YANG DOYAN BLUSUKAN

Banjoemas.com bukanlah web yang asing terutama bagi pecinta sejarah lokal Banyumasan. Saya sendiri termasuk sering menjadikannya salah satu referensi dalam program feature untuk media tersebut diatas, bahkan sejak masih dikenal sebagai Banjoemas Heritage. Namun baru bertemu si empunya website setelah insertion ini diprogramkan.

Namanya Jatmiko Wicaksono. Kelahiran Purbalingga 36 tahun silam. Sebuah bocoran menyebut jika sosok ini cukup pendiam. Namun ketika sudah berbicara keberadaan bangunan peninggalan sejarah dia sanggup menjelaskannya panjang lebar. Ketertarikan pada bangunan tua sudah lama tertanam sejak ia tinggal di Jogjakarta. Selain sang Bapak berasal dari sana, Miko begitu ia biasa dipanggil, juga menamatkan pendidikan S1 nya di ISI Jogjakarta jurusan Diskomvis.

Dan hobby-nya memotret bangunan tua ini berlanjut ketika ia pindah ke Purwokerto untuk mulai berkarier. "Mirisnya nggak lama berjarak dari saya foto, bangunan itu ada yang dirobohin. Ini kok nggak kayak di Jogja ya ? Begitu mudahnya bangunan tua hilang", ujarnya. Dari situ ia terpikir mencari informasi setiap bangunan tua yang ditemuinya. Awalnya hanya di Kota Purwokerto saja. Namun sejak ia mendapat informasi tentang "Babad Wirasaba", freelancer designer grafis ini mulai melebarkan sayap ke wilayah Cilacap, Banjarnegara dan kota asalnya Purbalingga.

Data yang dihimpunnya lalu dituangkan melalui blog pribadi. "Itu sekitar tahun 2010. Dan dari usul mereka yang sering nimbrung di blog itulah kemudian terbentuk Banyumas History Heritage Community (BHHC). Kalau kita bicara sejarah kan timeline ya. Nah kalau heritage ya ini (bangunan tua) bukti-buktinya", katanya.

Awal blogging, ia mendapat kritikan dari seorang pakar bangunan bersejarah. "Saya dikritik Proffesor Doktor Krisprantono. Pas di tulisan pabrik gula. Kebetulan Beliau ahlinya soal pabrik gula. Dan itu membuat saya berpikir untuk berhati-hati dalam menulis sejarah", tegasnya. Menuliskan informasi terkait sejarah memang butuh penelusuran lebih. Internet, buku, arsip resmi, narasumber adalah kawan baiknya dalam mencari data. "Beberapa data saya dapat juga dari teman-teman yang tinggal di Belanda. Atau mahasiswa sejarah yang sering bertukar pikiran pun tidak jarang kemudian memberikan copy arsip pentingnya itu sebagai ucapan terimakasih", ujar pengajar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jogjakarta ini.

Pencarian data yang rumit membuatnya harus bersabar dalam urusan memposting. Namun semua justru menjadi satu yang ditunggu-tunggu para pembaca www.banjoemas.com. "Dengan bermacam pertimbangan, ditambah keinginan menerapkan ilmu (web design) saat kuliah dulu, saya pun membuatnya pada 2012", ucapnya. Pemilihan nama Banjoemas didasarkan pada ejaan yang digunakan pada era terdahulu untuk menyebutkan wilayah yang kini dikenal sebagai Banyumas Raya. Lebih dari itu, keempat Kabupaten inipun berada dalam corak tradisi, budaya & bahasa yang sama. "Nulis sejarah kan nggak kayak nulis pengalaman pribadi ya. Jadi kadang untuk menjadi satu tulisan utuh, saya butuh data yang dicari sampai bertahun-tahun", ujarnya yang gemar blusukan.

Ya, bertemu banyak orang membuat banyak pengalaman dirasakannya. Namun satu yang sangat sering dialaminya saat mencari data adalah saat keluarga yang tersisa dari pemilik bangunan terduga Cagar Budaya itu berkata "Anda terlambat, orang yang tahu tentang gedung ini sudah meninggal belum lama". Hal demikian tidak menjadikannya berhenti. Pantang menyerah memang harus menjadi kekuatan saat menyusun sebuah materi. Dudududu, saya sempat pura-pura tidak mendengar kalimatnya ketika poin tersebut sampai di telinga. Mengingat sistem kejar deadline yang saya anut. Malu ini jadinya.

Hal yang dirasanya nyesek adalah saat mendengar sebuah bangunan yang berhasil ia korek datanya ternyata diratakan dengan tanah, "Sekarang contohnya Kho Lie tu lho Mba", ujarnya sembari mengisahkan tentang bangunan di Sokaraja tersebut. Tidak hanya itu, ia pun sebenarnya geram saat ada pihak yang mengambil data untuk dipublish kembali dari website atau blog lawasnya tanpa mau menyertakan sumbernya. "Beberapa peta itu hasil karya saya. Dan ada yang terpasang ditempat umum tanpa ijin", ujarnya. Sebagian foto pun merupakan koleksi eksklusif yang bukan dengan tangan hampa diraihnya. So, memang tidak bijak ya sebagai pemain di ranah maya ini kita main copas tanpa sumber. (Mode : mengingatkan diri sendiri).



Bagi pengoleksi bunga anggrek ini semua dilakoni agar sejarah lokal tidak sampai hilang. "Dengan sejarah lokal saya mendukung sejarah nasional juga. Dan inilah sumbangsih saya, konten sejarah gratis untuk masyarakat yang membutuhkannya", terangnya. Ditengah 75% followernya yang anak muda, ia pun merasa jika semua upayanya tepat sasaran. "Tidak perlu bermimpi melakukan sesuatu yang besar dan jauh. Dengan kita masih menjalankan nilai-nilai semacam tepo sliro, gotong royong, itupun sudah lebih nyata", ujarnya. Begitupun untuk pelestarian heritage. Kita peduli dan mau tahu pada sejarah lokal yang ditemui sudah menjadi tahapan awal dari pelestarian. Ini penting karena pelestarian heritage disini masih menjadi perhatian segelintir orang saja. "Makanya saya takjub banget Mbak, waktu masyarakat berinisiatif tetap melindungi Tugu Lancip (Bobotsari) secara bergotong royong", ucapnya berbinar. (Foto diambil dari Banjoemas.com dan Google Plus)

Setelah website, apa rencana berikutnya ? "Insya Allah pengennya bikin buku", harapnya.


SIGIT, MALAH DI BON AUSTRALIA

Beberapa hari berselang saya bertemu Sigit Pamungkas. Sore itu ia datang usai rutinitas kantornya usai. Entah sosoknga memang pendiam atau baru pertama bertemu membuat suasana sedikit kagok. Namun semua berubah cair ketika ia menunjukkan koleksi bumerangnya. Eeeiitts tak usah takut, bumerang yang ia punya terbuat dari bahan plastik jenis poly prophenol. "Dulunya memang bumerang dipakai sebagai senjata. Ini sudah berlangsung ribuan tahun di Mesir sebelum kita kenal menjadi senjata khas suku Aborigin. Tapi kalau sekarang sih jadi cabang olahraga yang awalnya dimainkan orang-orang di luar negeri sana", katanya.



Di Indonesia olahraga ini baru dikenal luas tahun 2011. Namun Sigit sudah punya ketertarikan pada bumerang sejak kecil, "Suka sejak masih nonton Micky Mouse. Penasaran. Apa iya bumerang bisa balik". Ya memang hanya sebatas itu pada mulanya. Saat remaja ia mulai terlupa pada bumerang dan mulai berminat pada olahraga sepakbola. Sayang keberuntungan tidak menaunginya. Anak muda kelahiran 86 ini merasa mimpinya menjadi atlet sepakbola kandas begitu saja.

Usai menamatkan kuliahnya di FISIP Unsoed, ia tak lagi ambil pusing dengan sepakbola. Ia memilih bekerja di kantor swasta. Saat pindah tugas di Makassar keinginan lama mengetahui soal bumerang yang bisa kembali terus menggebu. "Saya liat di YouTube ternyata bener bisa balik. Akhirnya saya coba pesen online sama orang Semarang. Nyobanya di Menado... Pertama main....... NGGAK BISA", katanya dengan sedikit senyum. Keinginbisaannya membuat ia menggeluti bumerang hingga turut bersama-sama membentuk Asosiasi Bumerang Indonesia (ABI).

Ketertarikannya pada bumerang membawanya ikut serta pada turnamen nasional pertama. Meski tidak juara ia mengantongi gelar Best Beginner. Dan pada tahun-tahun setelahnya anak muda berpostur atletis ini mulai meraih Best Performer pada 2013 dan 2014. "Itu mungkin jadi awal yang bersejarah dalam kehidupan saya. Karena kemudian saya direkomendasikan oleh Mr. Roger Perry juara dunia, untuk ikut turnamen internasional di Australia. Saya diminta ikut team Australia, bukan Indonesia", katanya. Sayang, keberangkatannya terkendala visa. Padahal persiapan sudah matang. Beruntung tidak berjodohnya Sigit dengan team Australia mendapat ganti yang tepat. Untuk pertama kalinya Indonesia akan ikut dalam turnamen dua tahunan tersebut. "2016 nanti direkomen lagi ke Jerman. Harapannya sih ada yang mau jadi sponsor ya, karena ini langkah baru untuk Indonesia dalam cabor Bumerang", harapnya. (Foto diambil dari Facebook Sigit Gaara Pamungkas dan bumerangindonesia.blogspot.com)

Tak hanya mengasah kemampuan melempar bumerang, Sigit juga terus belajar mendesign dan memproduksi bumerang. “Kalau design sih masih belajar ya. Berawal dari saat masih di Bandung. Iseng-iseng bikin, daripada beli terus. Beli mahal lho, dulu saya beli satunya seratus ribu. Pertama bikin ya tidak rapi karena susah dan harus sesuai dengan ilmu aerodimaika”, ujarnya sembari menunjukkan beberapa koleksi bumerang yang dibawanya. Produk hand made itu ia edarkan di seluruh Indonesia bahkan Australia dengan brand GJ-Rangs. “Saya jual juga lewat blog pribadi. Kalau saya jual di Indonesia paling mahal Rp. 100.000,-. Tapi kalau sudah di Australia bisa jadi Rp. 300.000,-“ ungkapnya. Baginya bumerang adalah kombinasi sport, adrenalin & art. Keunikan ragam bentuk dan kreasi bumerang bisa menjadi sebuah lukisan. Tak jarang, bumerang ini memiliki banyak bentuk. Ada yang bersayap 3, 4, 5 atau standar seperti huruf V. “Mau bentuk apapun selama ada sudit dan air foil benar pasti bumerang bisa kembali”, ujarnya sembari menerangkan sudut-sudut khusus dalam design bumerang.

Ditengah padatnya aktivitas sebagai karyawan swasta, Sigit bersama Asosiasi Bumerang Indonesia kini tengah memperjuangkan agar cabor ini segera diresmikan KONI. “Selama ini kami sudah sering diundnag acaranya KONI, namun untuk menjadi cabor resmi di Indonesia dibawah KONI masih terus kami perjuangkan”, katanya.

Lalu bagaimana perkembangannya di daerah ? Sejak pindah ke Purwokerto, Sigit memang membentuk Bumerang Sport Purwokerto hasil dari iseng-isengnya bermain di Alun-alun kota tersebut. “Kalau di Purbalingga sendiri belum bisa yah. Memang sudah mencoba main-main di Alun-alun, sepertinya banyak yang penasaran, tapi karena di Alun-alun kita terlalu banyak tiang jadi susah”, ungkapnya.

Meski sulit mengembangkan di kota kelahirannya, namun ia masih akan terus mengenalkan bumerang. Seperti ia mengenal olahraga baru itu dalam hidupnya. “Saya pernah mencintai sepak bola. Tapi sudahlah, toh kemudian saya mengenal bumerang dan berani mencobanya. Selain itu kerja keras, tidak pantang menyerah dan dukungan orang-orang terdekat akan turut membantu kesuksesan kita”, pungkasnya sembari menyerahkan satu buah bumerang buatannya petang itu.


ISRO , MANUSIA PE-NITI TALI

Tidak mudah bertemu anak muda asli Purbalingga ini. Apalagi semenjak September, ia tengah ditugaskan di Maluku. Tak hanya melakoni profesinya sebagai Analyst salah satu raksasa media di Indonesia, Isro pun tak mau melewatkan menjajal meniti tali di keelokan alam wilayah timur negeri kita.

Ya, meniti tali (yang terkadang) dibentangkan antar tebing adalah hobbynya. Inilah yang disebut dengan Slackline. Olahraga ekstrim yang menggunakan fasilitas tali tipis dengan diameter 2,5 hingga 5 cm. Awalnya slackline berkembang di Amerika pada sekitar 1986 dan dilakukan para pemanjat tebing. “Dalam panjat tebing kan ada tuh bergelantungan pada tali saat menyebrang tebing, cuma karena dirasa kurang menantang mereka mencoba jalan diatas talinya itu. Dan ini terus berkembang sampai 2008 terbentuklah Asosiasi Internasional dan kejuaraan dunia pertama kali diadakan pada 2010”, terangnya. Slackline ini menitikberatkan pada keseimbangan, ketenangan dan fokus atau konsetrasi yang tinggi. Ada 3 cabang utama disini. Yaitu trick line aktivitasnya semacam akrobat diatas tali yang lebih lentur sehingga bisa salto dan lainnya. “Tapi tetap berbeda dengan sirkus ya”, ujarnya. Kemudian ada pula High line yang berupa meniti tali diatas ketinggian, entah gedung atau diantara tebing. Dan yang terakhir adalah Long line yang artinya menggunakan tali yang lebih panjang. “Jadi otomatis jarak makin jauh dan goyangan diatas tali pasti makin kenceng”

Perkenalannya dengan aktivitas pemacu adrenalin dimulai dari gathering pemanjat tebing di Sukabumi 3 tahunan silam. "Disana saya bertemu Goz (Goz World, pemanjat tebing asal Inggris) yang baru saja melawat ke Jerman. Nah, disana ternyata Goz menyaksikan pameran outdoor sport dimana salah satunya adalah slackline. Sampai di Indonesia, Goz pun mengenalkannya pada kami", ujar pemuda kelahiran Maret 1988.


Rasa penasaran dan ketelatenannya mencoba membuatnya bersama Goz dan salah seorang kawannya, Bagus Anugerah menggagas Indo-Slackline yang juga mereka wujudkan dalam website pada Mei 2012 "Beruntung kerjaan kami bertiga memungkinkan kami jalan-jalan ke luar kota sembari mengenalkan slackline", ujarnya seraya menambahkan jika perkembangan slackline cukup pesat di enam kota. Purbalingga-kah salah satunya ? Seraya tertawa, ia melanjutkan "Purbalingga belum Mbak. Padahal banyak banget lho tempat-tempat bagus di Purbalingga”.

Waaah, setuju tuh. Kalau pas tanpa sengaja ndrasak saja banyak objek alam yang masih natural. Tentulah yang begini menjadi incaran para pegiat olahraga alam. Tapi kok tetiba saya ngewwwrri ya membayangkan saya yang meniti tali diantara tebing dengan kedung dibawah sana. Nek buyutenku kambuh gemana ? Alamat umak-umik terus dong.

"Pasti pakai pengaman kok Mbak. Karena slackline ini termasuk olahraga maka safety sangat diperhatikan. Kesenangan kan tidak selalu nekat". Kalimat yang diucapkannya ini cukup melegakan hati saya yang sering lupa bawa nyali. "Bahkan lewat slackline lah saya jadi belajar mengontrol ketakutan saya pada banyak hal. Sampai pada yang filosofis. Bisa dibilang lewat slackline saya jadi paham kelemahan saya dan bagaimana cara mengatasinya", ungkap lulusan ilmu komunikasi FISIP Unsoed ini.

Semangat itulah yang ingin ia tularkan. Hingga tak jarang saat menyusuri tiap inci negeri ini tak lupa ia sempatkan ber-slackline ria. Banyak spot yang sudah dicobanya. Seperti di Nusa Tenggara Barat atau bahkan Maluku yang ia tinggali sementara ini. "Paling favorit sih di Jogja. Tapi sebenarnya Purbalingga juga banyak yang bagus kok. Saya saja pernah bikin 3 spot seperti di Curug Karang dan Lawe. Sayangnya, masyarakat (kota) kita masih kurang terbuka Mbak dengan hal-hal yang dianggap tidak umum", katanya.

Meski belum mendapat respon, alumni SMP N 2 Purbalingga & SMA N 1 Purbalingga ini tak diam saja saat pulang kampung. Ia mengajarkan beragam trik slackline pada adik-adiknya di kelompok pecinta alam GASDAPALA.

Lewat slackline Isro memang mendapat banyak pengalaman, yang tentu saja bukan hanya sekedar adventure di surga alam Nusantara. "Indonesia tuh unik. Selain itu punya keindahan dan kekayaan alam yang luuuaaar biasa. Yang sayangnya belum bisa dimaksimalkan justru oleh si empunya negeri. Sehingga kemudian potensi kita malah dikelola pihak asing", ucapnya miris. "Itu jugalah yang membuat saya lebih prefer mengembangkan slackline di luar kota yang sudah lebih terbuka", lanjutnya. Dan lewat slackline ia hanya ingin lebih mengenali potensi (kekayaan wisata alam) negeri ini. Kalau tak kenal mana mungkin terpikir menjaga dan mengelolanya dengan kesadaran. (Foto diambil dari FB Isro Adi)


SI PEMILIK SUARA YANG SEPERTI NAMANYA, BENING

Beberapa bulan lalu, saya dikagetkan dengan materi pengiriman sampler (khusus radio) dari sebuah major label. Isinya sebuah lagu mellow dalam balutan aransemen bergaya orkestra dengan judul "Cinta Yang Terabaikan". Yang bikin saya bengong adalah sang penyanyinya. Bening Septaria. Yang bukan lagi saya lihat sebagai ABG seperti saat memenangkan Ardi Lawet Idols 2007 silam.



Bening, dara cantik asal Mangunegara, Mrebet ini memang sudah akrab dengan dunia tarik suara sejak kecil. "Saya belajar nyanyi dari umur 4 tahun. Yang ngajarin Bapak dan almarhum Mbah Kakung yang kebetulan seorang seniman", ujarnya dengan suara parau disela-sela jadwal yang cukup padat di Jakarta.

Kepiawaiannya dalam bernyanyi, membuat Bening aktif di banyak kompetisi solo ataupun band sejak masih berstatus pelajar di SMP N 1 Purbalingga & SMA N 1 Purbalingga. Bahkan iapun sukses menyingkirkan seratusan pesaingnya yang notabene didominasi lebih dewasa di Ardi Lawet Idols seri ke-5. "Saat itu saya masih kelas 2 SMP. Dan itu menjadi batu loncatan saya untuk terus mengikuti kompetisi", kata solois sekaligus personel duo Be-2 ini.


Di tahun 2013, saat masih berstatus mahasiswa di UNJ, ia mengikuti Bintang Radio mewakili Kota Bogor. "Diajakin temen, tapi dia kasih syarat untuk saya ikut di Bogor. Karena dia mau daftar lewat Jakarta. Hehe", kenangnya. Di Bogor, Bening menjadi juara pertama dan berhak melaju ke seri final di Jayapura. Sukses, ia mengantongi predikat Bintang Radio 2013, dan berhak melaju mewakili Indonesia di kancah Bintang Radio ASEAN pada 2014. "Rasanya bangga banget. Karena tidak semua orang dikasih kesempatan mewakili Indonesia. Dan ini semua tidak akan terjadi tanpa kehendak Allah SWT", katanya bijak

Atas torehan prestasinya itu, Bening berhak masuk studio rekaman. Dibawah naungan Nagaswara, Bening pun mulai menapaki tangga industri musik Indonesia. "Tidak mudah melakoninya. Perlu kemampuan, kerja keras dan doa untuk bisa mencapai apa yang kita inginkan", ujarnya. Ya, tugasnya sebagai penyanyi memang tak semestinya berhenti di satu single saja. Gadis yang baru saja menamatkan S1-nya ini berkeinginan bisa mewujudkan cita-citanya sebagai penyanyi dan pengusaha. "Semoga bisa berjalan beriringan", harapnya, "karena kalau secara passion, menjadikan bernyanyi sebagai profesi bukanlah suatu masalah buat saya. Tapi saya juga masih pengen mewujudkan cita-cita saya sebagai pengusaha"

Bagi Bening bakat menyanyinya adalah anugerah Sang Pencipta yang ia lakoni dengan ulet. "Apapun itu, selama positif, tentunya baik. Dan sebagai generasi muda kitapun jangan sampai terlupa bahwa maju-mundur-hancurnya bangsa ini ada ditangan Pemuda. Waktunya pemuda bangkit melalui karya, kepedulian terhadap sesama atau hal baik lainnya demi Indonesia", pungkasnya. (Foto diambil dari nagaswara.co.id)

Kini, Bening tengah disibukkan dengan persiapan single keduanya yang agar segera rilis dalam waktu dekat. Semoga kembali bisa bergaung di seantero Indonesia ya.




Tidak terasa tunai sudah tugas saya untuk berbincang dengan mereka. Lega, karena pekerjaan saya selesai. SATU pekerjaan selesai. Tapi poin obrolan dengan mereka, menambah deretan panjang hal yang ingin saya lalukan. Semoga, saya pun bisa mencontoh semangat mereka yang tak mudah padam.

Saat MBAH SUMIRAH Berkisah

Pertemuan kami ini tidaklah disengaja. Tanpa janji dan bahkan tanpa saling mengenal.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Mukanya terlihat kaget ketika saya merasakan daun pintu itu terbuka. "Siapa ya?", tanya ia bergetar. Setelah menyebut nama, sayapun disilakan duduk di ruang tamunya yang cukup lebar. Ada dua set mebelair tertata rapi. Khas ruang tamu rumah lawas yang penuh dengan banyak kursi.

Beberapa menit setelah ia kembali dari kamarnya, "Sebenarnya saya mau ke kantor. Tapi tidak apa-apa kalau Nak ini mau ketemu". Ucapannya ini membuang rasa tidak enak saya yang suka slanang-slonong. Dan kisah demi kisah pun terlontar dari perempuan sepuh bernama Sumirah Soetardjo ini.


Mbah Sumirah adalah seorang veteran Pejuang Pembela Kemerdekaan RI di Purbalingga. Dari beberapa perempuan pejuang seumurnya, ia yang paling sehat di usia senjanya.Perannya dalam perjuangan memang bukan sebagai pemanggul senjata. Namun kegesitannya sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan dana bagi tentara, menjadi mata-mata hingga memasak untuk tentara. 

Ia memulai pengabdiannya sejak belia. Bersama ketiga rekannya yang saat itu masih sama-sama berstatus pelajar di HIS (lokasi SMP N 1 Purbalingga sekarang), yang kesemuanya perempuan, ia beraksi. Dengan menyusuri sawah dan sungai mereka dibagi menjadi dua team guna menemui para pegawai Belanda yang berjiwa Indonesia. "Saya minta uang, sabun, makanan atau rokok ke pegawai Belanda yang berjiwa Republik. Bisa minta ke DP atau pegawai kereta api misalnya. Yang penting jiwanya Republik", tandasnya. DP adalah sebutan untuk District Politie.

Tidak hanya itu, Mbah Sumirah pun bertugas mengambil surat rahasia yang berisi kapan 'operasi' di desa-desa dilakukan oleh Belanda. "Saya ngambilnya di markas Belanda, sekarang Kodim sana. Ya sembunyi-sembunyi. Lewat belakang. Kalau lewat depan ya di dor", katanya. Tanpa menceritakan siapa identitas tentara Belanda yang mau memberikan surat itu padanya. Sumirah hanya menyebutnya "tentara Belanda yang negro". 

Misi ini tak selamanya berhasil. Kadang surat yang dijanjikan tak terletak ditempat yang dimaksud. Mungkin karena situasinya tidak memungkinkan. Kadang juga keberadaannya tertangkap mata Belanda yang membuatnya harus lari terbirit-birit nyucruk sungai. Sebuah pilihan lari yang menurutnya sulit diikuti musuh. Beruntung rakyat yang ditemuinya di sepanjang jalur pelariannya selalu membantu hingga ia selamat dari kejaran marabahaya.

"Yang jelas saya nggak berani lewat kota. Bagaimanapun Belanda lama-lama hapal dengan muka saya dan teman-teman seperjuangan. Sehingga sayapun pindah sekolah di sini saja", kenangnya. Di dekat rumahnya ternyata terdapat sekolah dasar yang hingga kini masih berjalan. Kepindahan ini tentunya agar tak semakin mengancam nyawanya. "Saya kalau mau lihat situasi di kota, harus pura-pura nyamar jadi kayak orang mau ke pasar. Bawa tenggok. Kadang dari rumah sudah diisi gula jawa. Kalau ketemu mereka, saya pura-puranya bilang mau jual gula di pasar," katanya sembari tersenyum.

Apapun dilakukan Sumirah untuk mendapatkan informasi dan bantuan untuk para tentara. Bagaimanapun kenangan masa kecilnya yang harus digendong sang kakek berlarian mengungsi saat Belanda patroli begitu membekas dihatinya. "Saya berjuang tidak disuruh. Itu dari dalam hati saya sendiri", ucapnya mantap. 

Sumirah sendiri berasal dari keluarga terpandang kala itu. Bapaknya saja seorang kepala desa, namun ia tak berlindung dibalik kekuasaan besar itu. Ia memilih berjuang diluar rumah dengan cara-cara yang mungkin dilakukan oleh seorang perempuan. Kebetulan pada masa agresi militer itu, para pelajar juga sebagian ditugasi menjadi mata-mata. Dan Sumirah adalah salah satunya.

Keberhasilan yang kerap diraihnya membuat ia sering diledek oleh para tentara. "Saya dikira ditaksir tentara Belanda sama teman-teman seperjuangan", kekehnya mengenang. Sebenarnya mungkin saja, toh hingga kini raut ayu masih terpancar di wajahnya. Namun Sumirah memilih menjatuhkan hati pada seorang tentara Republik saat itu.

Kini Sumirah menikmati masa senjanya sebagai veteran dan istri veteran. "Alhamdulillah tunjangan lancar, danhor (dana kehormatan) juga dapat", ucapnya sembari mengakhiri obrolan yang tak terasa telah satu jam itu. Sayapun bergegas pamit, mengingat Mbah Sumirah sudah harus bertugas piket di kantor LVRI Purbalingga.

TUK WINONG


"Kalau tidak kebeneran, pulang dari sini bisa sakit", katanya saat mengantar kami menuju pesarean Eyang Kertapati siang itu. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Sabtu siang di musim kemarau dampak el-Nino, salah seorang atasan mengajak saya mengunjungi sebuah mata air yang tak pernah kering. Bahkan pada musim kemarau sekalipun. Tuk ini berada di Kali atau Sungai Kabong grumbul Padaurip, dukuh Loji, desa Prigi.


Saat itu matahari sudah hampir menuju puncaknya. Namun gemericik air yang terdengar sepanjang ladang jagung yang kami lalui terasa menyejukkan. Pak Mad Wiyardi, salah seorang sesepuh yang mengantar kami ke lokasi menyarankan sowan sejenak di pesarean Eyang Kertapati. Leluhur desa sekaligus 'penjaga' Tuk Winong.

Dalam bahasa Jawa Banyumasan, pria sepuh yang kini sibuk bertani ini memintakan ijin kedatangan kami siang itu. Ketika ditanya maksud dan tujuan, kami serempak menjawab, "sekedar main". Karena memang itu tujuan awal kami. Yang ada dibenak kami adalah grujugan air bersih yang dingin. Tempat main yang tepat diwaktu panas.


Tak jauh dari pesarean sampailah kami pada sebuah bangunan baru. Tidak besar. Hanya sekira 3 x 5 meter. Aktivitas tampaknya sedang berlangsung. Ada yang mandi, mencuci atau sekedar menampung air dengan jerigen, cerek dan sebagainya. Mad Wiyardi pun mulai bercerita jika bangunan ini baru saja berdiri sekitar 2 tahun lalu. Ini dilakukan agar warga tidak harus nyucruk kali (berjalan di sepajang tepi sungai) demi mendapat air bersih. Kini grujugan yang kami bayangkan memang tak lagi terlihat, berganti pipa yang terhubung dari tepian grumbul Padaurip ke seberang di dukuh Loji. Pemilihan pembangunannya di dukuh Loji bukan tanpa alasan. Secara teknis, mata air itu berupa air rembesan dari salah satu sisi tanah di grumbul Padaurip yang letaknya diatas. Dan untuk mempermudah, maka bangunan inipun ada di wilayah dukuh Loji yang sejajar dengan mata air. Ditambah pesarean sang empunya ada di dukuh Loji.


Ropingah, salah seorang warga yang kebetulan bertemu siang itu menyatakan jika air di tuk Winong ini memiliki rasa yang segar. Sehingga tidak mengherankan warga tetap mengambil air di tuk meski sudah memiliki sumur sendiri. "Sumurnya buat mandi sama nyuci, kalau minum ya ambil dari sini saja soalnya seger", ujarnya. Ropingah dan beberapa warga lainnya memang acap memanfaatkan tuk ini untuk mencuci baju. Namun itu hanya bisa dilakukan selama hari cerah. "Kalau hujan banjir sampai jembatannya nggak keliatan", katanya sembari bergidik ngeri. Ya, kali Kabong dimana tuk Winong mengalir kedalamnya memang beberapa kali menelan korban saat banjir. Padahal saat kemarau seperti ini salah satu sisi sungai benar-benar kering. Kecuali di sekitar Tuk Winong.

Keistimewaan itulah yang menjadikan tuk Winong sebagai salah satu pelengkap syarat penampil Dames. Salah satu seni tradisi yang pernah hidup di dukuh Loji ini. (Soal Dames, semoga esok saya dapat info lengkapnya deh)

Delapan gadis belia penari Dames, diwajibkan mandi di Tuk Winong pada malam Kliwon sebelum tampil. Hal ini dipercaya bisa memberikan tuah tersendiri. Meski Dames yang pernah diketuai Mad Wiyarji tak lagi ada, Tuk Winong masih terus menyimpan "pamor"nya untuk mereka yang meyakini.

ALUN-ALUN PURBALINGGA

"Ana Ndara Kanjeng, nyembah.. nyembah", kenang Mbah Jupri saat diajak berbincang seputar Alun-alun Purbalingga.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Memori masa kecil pria sepuh yang dikenal sebagai penjual dawet keliling ini berbeda jauh dari apa yang saya temui dua dekade silam. Tak hanya jaman yang berubah, nilai Alun-alun sebagai tradisi Nusantara pun seolah menguap. Kini kita melihatnya semata hanyalah taman luas di pusat kota yang dikelilingi Kantor Pemerintahan, Masjid, Pasar dan Penjara.

 (Ket foto : Alun-alun Purbalingga tempo dulu)

Alun-alun memang sangat identik dengan pusat kota. Bahkan Alun-alun sudah menjadi salah satu identitas bagi kota-kota di Pulau Jawa yang berlangsung sejak masa Pra-Kolonial. Secara pasti kapan dan dimana Alun-alun pertama dibentuk memang tidak ada catatannya. Namun menurut informasi yang bersumber dari Wacananusantara.org, pada rentang abad ke-13 sampai 18 atau pada masa Majapahit hingga Mataram, Alun-alun selalu menjadi bagian dari suatu kompleks Keraton.

Keberadaan Alun-alun dalam Keraton Majapahit pernah dituliskan Mpu Prapanca dalam Negarakertagama. Dalam pola masyarakat tradisional masa lalu Keraton ini merupakan pusat pemerintahan atau pusat kebudayaan. Nah, Majapahit disebutkan memiliki 2 bidang tanah luas berbentuk segi empat di salah satu sisi Keratonnya. Satu berfungsi sebagai pesta rakyat dan lainnya untuk kegiatan sakral seperti Penobatan Raja. Serta terdapat kompleks pemujaan didalamnya.

Sementara itu pada masa Mataram, Alun-alun juga digunakan sebagai tempat rakyat biasa bertemu Raja guna meminta pertimbangan atas sebuah perselisihan. "Aktivitas ini disebut dengan pepe", ujar Triatmo, penulis Babad Purbalingga. Dalam prosesnya diterima atau tidaknya pepe seseorang ini akan disampaikan oleh seorang gandek atau prajurit yang menjadi penyampai pesan sebelum rakyat bertemu langsung dengan Raja-nya.

Tidak hanya itu, Alun-alun pada masa Pra-Kolonial juga kerap dijadikan sebagai tempat berlatih perang para prajurit yang dikenal dengan istilah gladi yudha, sebagai pusat perdagangan rakyat sampai hiburan. Dalam beberapa artikel menyebutkan hiburan yang paling sering dipertontonkan adalah rampog macan (mengeroyok harimau) atau sodoran (perkelahian antara banteng dengan harimau). Dan sejak masuknya Islam di Pulau Jawa, pusat pemujaan yang semula ada di dalam Alun-alun, berubah menjadi didirikannya Masjid di sebelah barat Alun-alun. Jadi pada awalnya Alun-alun difungsikan sebagai lambang keagamaan, pemerintahan, keprajuritan, perekonomian sampai tempat berkumpulnya rakyat atau hiburan.

(Ket foto : lukisan Alun-alun tempo dulu karya Koko Singgih)

Di Purbalingga, Alun-alun bunder menjadi salah satu landmark yang cukup populer. Dalam sejarahnya, identitas inipun sudah ada berbarengan dengan didirikannya Pendopo Kabupaten saat Ki Arsantaka menyarankan putranya, Dipayuda III untuk memindahkan pusat Pemerintahan dari des Karang Lewas, Kutasari menuju desa Timbang saat itu. Kini desa Timbang hanya sebuah dusun di wilayah desa Purbalingga Kidul. "Kira-kira tahun 1759", kata Triatmo.


Tempat yang lebih datar dan subur serta dekat dengan sumber air Klawing menjadi beberapa pertimbangan dipindahnya pusat pemerintahan itu. Sehingga kemudian tempat ini dikenal dengan sebutan Purbalingga. Purba artinya semula, Lingga dari kata Linggar maksudnya dipindah. Ini seperti yang tertuang dalam salah satu bait dandanggula yang menyatakan tentang asal-usul nama Purbalingga. Dan pusat pemerintahan yang baru inipun menerapkan konsep tata kota yang setipe dengan Keratonan yang ada.

Dalam KBBI, Alun-alun diartikan sebagai tanah luas dimuka keraton atau dimuka kediaman resmi Bupati dsb. Dan sebagai miniatur Kraton, Purbalingga pun menempatkan Alun-alun dimuka Pendopo, Masjid di sebelah barat serta Penjara di sebelah timur.

Lambang perekonomian rakyat lambat laun berganti dengan keberadaan pusat-pusat perbelanjaan atau kantor dagang didekat Alun-alun. Model ini diperkirakan muncul berbarengan dengan menjamurnya kantor polisi atau penjara bahkan kantor pos di dekat pusat Pemerintahan sebagai bentuk pencitraan baru kota Jawa saat masa Kolonial. Hingga kemudian dikenal istilah kota Indisch untuk yang menerapkannya. Indish adalah perpaduan budaya Jawa dan Belanda. Bahkan beberapa bangunan berarsitektur dataran Eropa itupun mulai terlihat bermunculan disekitaran pusat kota. Hal ini mulai melunturkan identitas Alun-alun sebagai karakter dan jatidiri pribumi.


(ket : Seluruh foto hitam putih dapat di googling dengan kata kunci Purbalingga tempo dulu)

Alun-alun yang sejatinya melambangkan kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos pun menjadi terlupa. Alun-alun, tak terkecuali Purbalingga bahkan pernah menjadi tempat bermain tenis yang hanya dinikmati sekelompok orang saja. Alun-alun tak lagi sakral itulah yang kita rasakan saat ini. Keberadaan Beringin yang semestinya bisa menjadi salah satu pengingat para pemimpin pun kini tak ubahnya sebagai pelengkap di tanah lapang itu.

(Foto : Jupri menyusuri jalan Jambu Karang di barat Pendopo, yang pada jaman dulu masih banyak terdapat buah manggis)

"Dulu beringin ada banyak. Hampir disetiap sudut ada. Kalau Bupati lewat Alun-alun, kami masih memberikan sembah", tutur Mbah Jupri dalam bahasa Banyumasan yang kental. Beringin yang memiliki kanopi rindang ini memang memberikan kesejukan. Begitupun seorang Raja yang seyogyanya bisa menghadirkan keteduhan dalam kepemimpinannya. Akar yang tertanam kuat juga menyiratkan kekuasaan Raja yang berakar pada rakyatnya. Tak hanya itu keberadaan Alun-alun yang luas juga sering diistilahkan sebagai jembare Alun-alun bermakna pada pola pikir Raja yang harus berpandangan luas. Jembar nalare. 

Keberadaan Alun-alun ini memang satu sumbu dengan Keraton. Sehingga Raja dan Rakyat bisa saling melihat aktivitasnya satu sama lain. "Sebenarnya ini bentuk transparansi. Tapi kalau sekarang ya nggak tau ya. Apalagi ada tembok didepan Pendopo. Harusnya sih tidak boleh ada penghalang apapun antara Pendopo dengan Alun-alun", lanjut Triatmo.

Bagi generasi Purbalingga yang terlahir pada periode 80-90'an tentulah teringat pada istilah "Alun-alune papat". Ketika dikonfirmasi pada Triatmo ternyata maksudnya adalah bukan Purbalingga yang memiliki 4 buah Alun-alun namun dibagi menjadi 4 bagian. Dimana ada jalan ditengah-tengahnya. "Jika berdiri tepat di pertengahan simpang jalan maka kita akan bisa melihat kota Purbalingga mentok sampai Kodim, Jalan Jendral Sudirman serta sedikit desa Purbalingga Kidul", terangnya. Ini tentu saja berkaitan dengan kegiatan monitoring.

Kini wajah Alun-alun Purbalingga memang berubah. Dulu yang seingat saya jumlahnya "papat" dan sepi kini selalu ramai dikunjungi, padat dengan tenda-tenda kuliner diseputarannya dan mendapat julukan Alun-alun Bunder. "Saya pribadi tidak sreg dengan bentuknya yang bunder kaya tampah itu. Ditambah lagi ditinggikan. Karena agar seimbang Rakyat dan Raja itu harus sejajar. Alun-alun itu kan lambang Rakyat, Pendopo lambang Raja. Ini menurut saya pribadi lho", pungkasnya di sela-sela obrolan siang itu. Sementara itu Mbah Jupri pun berkata jika ia kini justru takut berjalan-jalan di Alun-alun. "Mbok ketabrak montor", kekehnya.

Memang sulit mengembalikan fungsi awal Alun-alun di saat sekarang ini. Tapi minimal ini mengingatkan kita pada pedoman "papat kiblat lima pancer" yang turut mendasari proses terbentuknya Alun-alun. Sebuah pedoman yang berguna untuk kita berperilaku entah sebagai pimpinan, sebagai rakyat atapun sebagai manusia.

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...