Langsung ke konten utama

Pekinangan

Kata “pekinangan” umum ditujukan pada wadah bahan-bahan nginang. Ada yang menyebutnya kutuk sirih hingga tepak atau tlepok. Dalam bahasa Inggris disebut dengan betel nut set.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Saya kembali berbincang dengan Triningsih, pemandu sekaligus kurator di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Mbak Tri, begitu ia biasa dipanggil mengajak saya berkeliling sembari menatap sederet benda-benda mungil berbentuk manggis dengan warna keemasan. “Nyemplu kayak pipi bayi”, gurau kami satu sama lain.


Pada dasarnya nginang ini seperti halnya merokok. Membuat kecanduan. Tak heran, seseorang yang menginang akan membawa bahan-bahan nginang kemanapun ia pergi. Meski tanpa rujukan ilmiah, sepertinya pekinangan muncul hampir bersamaan dengan kebiasaan menginang itu sendiri. Jangan bayangkan semua pekinangan seperti benda koleksi museum yang terlihat antik ya. Karena mbah-mbah kita pun ada yang cukup membungkus bahan kinang dengan sehelai kain serbet. Jangan-jangan dahulu malah bisa saja sekedar dibungkus daun pisang. Bisa jadi kan ?

Karena jika dilihat dari sejumlah koleksi di museum, bahannya sangat beragam. Mulai dari kayu, kuningan hingga kaca. “Pekinangan semacam ini bisa saja menjadi cinderamata antar kerajaan zaman dulu”, duga Mbak Tri sembari menunjukkan satu set pekinangan berbentuk toples kecil berbahan kaca hijau.


Melihat wadahnya yang lebih dari dua, diperkirakan setiap bahan akan ditempatkan dalam wadah terpisah. Satu toples untuk tempat kapur sirih (apu), gambir, jambe (pinang), tembakau, hingga bahan tambahan seperti cengkeh. Begitu pula untuk pekinangan berbentuk kotak. Keberadaan sekat dimungkinkan untuk mempermudah penempatan setiap bahan. Termasuk daun sirih, biasanya ditempatkan dalam sekat berukuran paling besar atau wadah khusus berbentuk seperti corong tinggi.

Selain wadah bahan-bahan, pekinangan juga dilengkapi dengan kecrokan atau locokan (Sunda). Fungsinya untuk menumbuk satu adonan bahan kinang. Jadi bentuknya konon mirip dengan lumpang dan alu ukuran mini. Cocok bagi yang mulai kesulitan dalam mengunyah. Ompong misalnya. Atau bagi para pemula yang sudah takut duluan membayangkan rasa mengunyah kinang, bisa mungkin ya memanfaatkan kecrokan ini.

Selain itu ada pula paidon yang berfungsi sebagai tempat membuang ludah merah. Dubang, idu abang. Ludah merah saat proses mengunyah kinang itu dihasilkan dari gambir. Pelengkap lainnya adalah gunting khusus untuk mengerat gambir yang disebut dengan kacip. Sayangnya, kacip tidak saya temukan di museum Pemkab ini. "Sejak diserahkan ke Museum oleh pemiliknya, memang dalam kondisi nggak lengkap", kata Sugito, salah seorang petugas disana.

Eh, kok sepertinya saya perlu meralat kalimat di postingan seminggu lalu nih yang menyebut jika nginang kurang sesuai dengan standar kebersihan. Bukankah paidon kemudian disediakan dalam menginang ? Artinya mereka nggak meludah sembarangan dong. Tapi sudahlah, toh orang-orang tetap sudah terlanjur meninggalkan nginang dengan alasan "reged". Sekarang gemana kitanya aja. Nggak nginang ya nggak apa-apa, yang penting nggak mbuang idu (entah meludah atau mengumbar janji) sembarangan.

Komentar

Banyak Dicari

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

Beberapa tahun silam, seorang sepuh sempat memperingatkan saya untuk tidak dulu memasuki Makam Wangi (Stana Wangi) karena salah hari. Namun kini dengan berstatus desa wisata, saya dapat mengunjungi Makam Wangi kapanpun sekaligus menikmati panorama desa Pagerandong, kecamatan Kaligondang. • oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Agenda Sesaji Larung Gintung kembali membawa saya ke Makam Wangi. Banyak hal berubah setelah sekian tahun. Dulu, kami tidak disarankan mengendarai sepeda motor sampai di depan Makam Wangi karena jalanan yang ekstrem dan masih berupa kerikil tajam. Sekarang ? Mobil pun dapat melaju lancar. Namun tetap harus hati-hati. Kontur jalannya memang naik turun dan berkelok. • Di   dalam hutan • Dari kejauhan, tampak satu lahan seolah terpisah. Perbukitan. Rimbun ditanami pepohonan dan bambu. Inilah Makam Wangi. Lahan sekira 3 hektar ini tepat berada di tepi Sungai Gintung. Selain beragam bambu, kita dapat menemukan banyak jenis tumbuhan buah. Salah...

TRADISI WISUHAN

Daur hidup manusia tak lepas dari rangkaian adat istiadat. Saat memasuki 40 hari, dilaksanakanlah tradisi Wisuh atau Wisuhan. • oleh : Anita Wiryo Rahardjo • Pagi itu seorang pria pensiunan Polantas sibuk mencari anak-anak kecil. Minggu pagi memang tak mudah mencari para bocah di rumah. Mereka sedang asyik jalan-jalan bersama keluarga tentunya. Beruntung ada tiga bocah kelas 1 SD yang baru bangun keluar rumah dan kemudian dimintalah mereka bersiap memperebutkan uang. Ketiganya hanya mantuk-mantuk bingung. Mereka tak tahu bahwa mereka tengah dilibatkan dalam tradisi Wisuh. • Cukur rambut • Didalam rumah, seorang bayi mungil sedang dicukur bergantian oleh dukun bayi dan pihak keluarga. Dalam kebiasaan lain, saat seperti ini juga sambil dibacakan shalawat. Namun tidak hari itu. Pemandangan ini berbeda dengan yang pernah dilakoni saudara sepupu saya. Menjelang hari ke-40 (bisa dimulai dari hari ke-35 atau selapan dina), dukun bayi yang biasa mengurus ia dan puteri kecilnya secara khus...