Cari Blog Ini

KASURAN

Otak saya pernah dengan mentah menerima kata “kasuran” sebagai kasur + an. Padahal yang dimaksud adalah ka + sura + an.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Kasuran merupakan nama jenis rumput yang secara khusus dipakai sebagai bahan utama Wayang Suket khas kecamatan Rembang, Purbalingga. Tepatnya di desa Wlahar. Wayang ini menjadi khas karena hanya seorang saja perajin awalnya. Yaitu Mbah Gepuk.

Nama aslinya Kasanwikrama Tunut. Konon suwargi melewati masa kanak-kanak sebagai bocah angon yang tentunya akrab dengan alam dan padang rumput nan luas. Menghadapi usia senja, ia banyak menepi dan mulai menganyam helai demi helai rumput kasuran menjadi tokoh – tokoh legendaris dalam kisah pewayangan. Ia aktif membuat wayang suket sejak 1920-an. Meski telah menghadap sang Khalik pada 2002 silam, beberapa karya Almarhum Mbah Gepuk masih kerap dipamerkan. Seperti : Gatotkaca dan Rama Shinta. 




 Kasuran di Pulau Dewata

Kini keahlian menganyam rumput kasuran menitis pada cucunya, Badriyanto. Ketika bersua beberapa minggu silam, ia mengatakan bahwa bahan baku menipis. “Sudah sejak Sura kemarin malah”, ujarnya. Entah apa penyebabnya. Cuaca ataukah kondisi alam Wlahar yang berubah ? Ah, kita tidak paham secara pasti. Badri sendiri sudah mencoba membiakkan suket kasuran melalui polybag. Namun hasilnya belum bisa disebut mencukupi kebutuhan bahan baku. 



Ide pembiakan melalui polybag dilakukannya saat ia bertukar pikiran dengan perajin Bali. Perajin disana berharap bisa memperoleh bahan baku serupa aslinya. Lalu apakah suket kasuran bisa tumbuh di udara Pulau Dewata ? Badri menggangguk. Hanya saja ia belum mengetahui kelanjutannya kini.

Sebenarnya beberapa pihak mencoba mengembangkan wayang suket dengan jenis rumput lain. Mengingat kelangkaan bahan bakunya. Namun hasilnya tak dapat seawet suket kasuran. “Sampai 20 tahunan lebih masih bagus kok”, imbuhnya. Bahkan Badri juga membocorkan untuk perawatannya pun tidak rewel. Cukup dibersihkan dengan kuas dan diangin-anginkan sesekali.

Siapa sangka ya dari rumput seperti pada gambar ini, kita mendapati karya luar biasa berupa wayang. Dalam prosesnya, rumput ini akan dijemur sampai kering usai dipanen. Kemudian direndam dan ditiriskan hingga kering dan siap untuk dianyam. “Kalau nemu ada warna hijau sedikit, artinya proses jemurnya agak kurang kering”, pungkasnya sembari menunjukkan sebuah karya yang tengah dipajang di sebuah pameran siang itu.

Joglo Kembar, Pagi Itu

Hari itu masih cukup pagi. Udara pun masih tenang. Hanya lalu lalang kendaraan di seputaran kota yang terpacu bersegera mendekati gerbang tempat aktivitas. Namun saya lihat tidak demikian dengan pria sepuh yang telah lama tinggal di Bogor itu. “Saya rindu”, katanya pelan. Saya tersenyum, mencoba memahami geletar ngilu saat yang dicarinya tak lagi ada.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo




Diiring dua perempuan dari tanah Pakuan, ia berkali-kali melirik sisi barat. Tak kunjung bertemu apa yang dicari, kegelisahan terpancar dalam gemetar suaranya. “Bangunan joglo ini baru ya ?”, tanyanya. Saya mengangguk. Walau sudah separuh dari usia saya, tetap saja bangunan ini tak bisa dibilang lawas. Diresmikan pada 24 April 2003.

Bangunan Museum Semula Sekolah ?

Berlokasi di pusat kota, lingkar Alun-alun memang strategis. Di lingkungan yang kini kita ketahui sebagai Jl . Alun-alun Utara no.1, Purbalingga ini dia pernah mengenyam pendidikan dasar. “Dulu saya SR (Sekolah Rakyat) disini”, kenangnya seketika. Bola matanya bergerak ke kiri, mengindikasikan mengingat segala kenyataan di masa lalu.

Saat Clash (Agresi Militer II), halaman ini ditempati beberapa tank milik Belanda. Sekolah libur, kami disuruh ngungsi ke Wirasana. Tapi dasar bocah, saya diam-diam masuk kota dan tidur di Masjid Agung itu. Saya pun jadi tahu kalau Kauman pada masa itu menjadi dapur umum Belanda”, kisahnya.

Muhammad Toha, demikian nama pria yang telah puluhan tahun menetap di Bogor itu menapak tilas masa kecilnya. Di sini, kota kelahirannya. Purbalingga. “Sayangnya, saya nggak punya foto jaman sekolah disini”, ekspresinya meredup.

Tetiba saya teringat bagaimana mereka yang telah lama mendiami kompleks kota (seputar pusat kota) bercerita bahwa di Jl. Alun-alun Utara ini pernah ditempati bangunan Sekolah Dasar yang dikenal dengan sebutan SD 4. Lengkap dengan kolam penuh bunga teratai. Aaaaaahhh.... saya nggak njamani. Dalam perjalanannya SD 4 ini berpindah dan sempat digunakan oleh salah satu sekolah milik yayasan. “Jamanku, SMA Karya Bakti juga pernah menempati bangunan sekolah di situ”, kata pemilik Bakmi Sunar yang juga alumni SMA Karya Bakti lulusan 1983/1984, Dwi Eni.

Jaman berganti. Di tahun 2003 sebuah bangunan baru dengan bentuk khas joglo kembar diresmikan sebagai gedung Perpustakaan dan Museum Daerah Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. “Joglo kembar itu, satunya menggambarkan museum, satunya perpustakaan”, kata Adi Purwanto. Ia arkeolog yang juga pernah menjadi pengelola museum ini.

Setelah Perpustakaan Daerah bergabung dengan Kearsipan dan berpindah ke gedung baru, praktis bangunan joglo kembar ini ditempati koleksi – koleksi unik dan menarik Purbalingga. Mulai dari pusaka sejak era kadipaten dulu, tatal batu dalam teknologi pembuatan gelang batu di situs perbengkelan Limbasari dan Ponjen, hingga benda-benda memorabilia Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Ia adalah tokoh pendidikan yang turut membidani sekolah tinggi untuk para guru di Indonesia.

Seketika saya teringat pada tulisan yang terpasang di bagian atas pintu masuk museum. Wisma, Wanita, Pusaka, Kukila, Turangga. Pikira langsung saja menyambar ketika membaca tulisan itu, "bahwa jalan untuk mendapatkan kelima hal tersebut ya pakai sekolah (ilmu)"


Setup Nanas Kemasan a la Siwarak

Pada dasarnya saya menyukai masakan rumah. Namun belakangan ini minta dimasakin adalah hal yang sangat sulit. Apalagi kalau bentuknya segeran. Untunglah, meski tak miara Doraemon, saya dengan mudah bisa menyantap setup favorit tanpa perlu ngeberantakin dapur.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Buah dan rempah adalah padanan menyenangkan yang selalu membawa saya serasa pulang. Wanginya setup saat airnya baru mendidih menjadi pengharum ruangan paling aromatik yang saya akrabi sedari kecil. Saya sadar, kenangan memang tak akan terganti. Namun ijinkan saya tetap menikmati semangkuk kecil setup nanas saat saya tak dirumah.


Oleh-oleh Khas Siwarak

Purbalingga kota memang bukan sentra nanas. Tapi bagian utara sana, di Siwarak khususnya, malah punya kebun nanas. Menyenangkannya lagi, nanas itu dikemas dalam berbagai varian penganan enak. Dodol, jus, nata de coco, sambal dan saus nanas serta yang saya kangenin : setup.

Info lengkap dan pemesanan mangga dapat langsung menghubungi 087837000869 (Tomo Tompelz)


Ya, bermula dari gumregah-nya masyarakat Siwarak dalam mempromosikan desanya sejak 2015 silam. Kemudian bermunculan kreasi ini itu. Wisata alam hingga kuliner. Khusus untuk nanas, bermacam uji coba telah dilakukan. Kreasi makanan nanas dan lomba olahan nanas pernah dihelat di Siwarak. Suasana adem dataran tinggi memang tepat diimbangi dengan terus mengunyah. Paling awal diproduksi tentunya dodol nanas. Pesanan yang mengalir membuat beberapa produsen keteteran. “Awalnya kami bikin dodol nanas. Namun lama-lama cobain juga jus nanas kemasan, nata de coco hingga setup nanas ini”, kata Tomo Tompelz, pegiat wisata alam di Siwarak.


Penganan produksinya ini mulai wira-wiri promosi dalam beberapa event lokal. Termasuk juga dalam Famtrip yang digelar beberapa minggu lalu di Pendapa Dipokusumo. “Alhamdulillah, sembari menunggu PIRT turun, jus nanas, setup nanas dan nata de coco ini sudah bisa diperoleh di beberapa pusat oleh-oleh dan rumah makan”, lanjutnya.


Sriuuuuuupppppp... kemasan berisi setup dengan aroma rempah-rempahnya yang khas ini memang tidak dalam kondisi kebul-kebul. Namun tetap menghangatkan seperti suasana kebersamaan dalam rumah Uti.

Arsantaka dan Purbalingga

Terik mentari dan lengang. Usai kulminasi bergeser sedikit ke arah barat, saya memulai jalan-jalan bersama 3 anak dara yang tetiba keranjingan mengenal sejarah.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Makam Arsantaka




Meski berada di lingkaran pusat kota, tempat ini lengang. "Harusnya semalem, Mbak. Ramai", kata beberapa warga. Kami hanya tersenyum sambil terus mengekor seorang pria yang akrab disapa Pak Karso. Jumat siang makam memang sepi.

Gapura berwarna merah tembaga itu menandakan kami telah memasuki kawasan inti makam Arsantaka.


Cikal Bakal Purbalingga


Masyarakat Purbalingga bisa jadi sudah tidak lagi asing. Nama Ki Arsantaka banyak disebut dalam tulisan yang berkaitan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Purbalingga. Sayang, tahun lahirnya tidak diketahui secara pasti.

Arsantaka terlahir dengan nama Arsakusuma. Ia merupakan putera Adipati Onje II dengan isteri ke-3 nya, Nyai Pingen. Arsantaka memiliki seorang kakak bernama Yudantaka.

Dikatakan Arsantaka melewati masa mudanya dengan mengembara hingga ke desa Masaran, Banjarnegara. Disana ia diangkat anak oleh Ki Wanakusuma, seorang keturunan Ki Ageng Giring. "Nah, disana Eyang Arsantaka kemudian menjadi demang", cerita Pak Karso.

Ia menjadi Demang Pagendolan pada 1740 – 1760. Sejaman dengan masa Perang Mangkubumen. Dan berada dalam wilayah Mancanegara Kilen, artinya Pagendolan berada dalam naungan Surakarta. Dibawah pemerintahan Paku Buwana III (PB III) yang tengah bersitegang dengan Mangkubumi.


Jasa Perang Jenar


Ketika menghadapi pasukan Mangkubumi di desa Jenar (Bagelen), maka sudah barang tentu Paku Buwana III meminta bantuan pasukan Banyumas. Pasukan dalam dipimpin oleh Adipati Kenduruan I sedang pasukan luar dipimpin oleh Adipati Banyumas, Tmg Yudanegara III. Dan dibantu :

  • ·         Ngabei Karanglewas, Dipayuda I
  • ·         Demang Pagendolan, Ki Arsantaka
  • ·         Demang Sigaluh, Ki Mertoboyo
  • ·         Demang Penggalang, Ki Ronodipuro

 Sementara pasukan Belanda yang membantu dipimpin oleh Mayor De Clerx dan Kapitain Hoetje.

Pertempuran ini mengantarkan Dipayuda I menghembuskan nafas terakhir. Namun jasad adik Tmg Yudanegara III ini tak langsung ditemukan. Beruntung, Ki Arsantaka menemukannya masih lengkap dengan seragam kompeni berwarna ungu. Segera diantarkannya jenazah Dipayuda I ke Kadipaten Banyumas karena keluarga besarnya berasal dari sana. Dan kemudian ia berjuluk Ngabei Seda Jenar (meninggal 12 Desember 1751).

Atas jasa itulah, Ki Arsantaka menjadi besan dari Adipati Banyumas, Yudanegara. Puteranya yang bernama Arsayuda diangkat mantu oleh sang adipati. Ki Arsayuda juga menjadi patih Karanglewas mendampingi Tmg Dipayuda II, putera Yudanegara III.

Masa kekuasaan singkat Dipayuda II yang meninggal di usia muda, segera beralih pada Arsayuda. Dan saat itulah Ki Arsantaka menyarankan pusat pemerintahan dipindah dari Karanglewas Kutasari ke desa Timbang. Nggak nyangka kan kalau sekarang "Timbang" hanya menjadi nama dukuh saja. Nah, balik lagi. Perpindahan itu dilakukan pada tahun 1759. Ditandai dengan pembangunan pendapa dan Alun-alun yang tercatat pada 23 Juli 1759. Sejak itu pula nama Purbalingga digaungkan. Bukan lagi Karanglewas. Dan Arsayuda sebagai adipati pertama dan bergelar Dipayuda III.


Banyak Petilasan Arsantaka


Tidak diketahui bagaimana kelanjutan kiprah Ki Arsantaka setelah puteranya mengawali kepemimpinan kadipaten Purbalingga. Namun di beberapa tempat ditemukan petilasan Ki Arsantaka.

Seperti di daerah Boja, Semarang atau Kalibening, Purwokerto. Bahkan di Masaran pun dipercaya terdapat makam beliau. Namun masyarakat Purbalingga lebih merasa percaya bahwa makam Ki Arsantaka adalah yang berada di desa Pungkuran.



Kaungkuran

Menurut salah seorang putera wayah Arsantaka, Lulu D. Budiardjo, jika ditarik garis lurus maka makam Arsantaka tepat satu garis dengan titik tengah pendapa dan Alun-alun. Halo Pak Lulu, matur suwun untuk obrolan sepuluh tahun silam mengenai sejarah Purbalingga. Metode tanpa boleh ada alat rekam dan tanpa boleh mencatat membuat memori saya bekerja ekstra. Semoga apa yang terekam di otak ini tidak slentha seiring usia.

Makam Arsantaka berada di desa Pungkuran. "Dari kata kaungkuran (catpri : data dasarnya mungkur). Kaungkuran siapa ? Ya kaungkuran pendopo. Karena berada di belakang kompleks pendopo", terang Pak Lulu saat itu.


Makam Keluarga


Makam Ki Arsantaka ditempatkan dalam satu cungkup terpisah. Didalamnya juga bersemayam makam Tmg Dipayuda III dan isterinya serta seorang pengawal. “Unur di makam Eyang Arsantaka ini konon menandakan kesuburan wilayah Purbalingga juga”, kata Pak Karso beberapa tahun lalu. Sayangnya, ini tidak diceritakan pada pertemuan kemarin.



Ada 5 blok dalam area makam utama ini. Makam Ki Arsantaka berada dalam grup A. Sementara itu cucu mantunya yang masih merupakan cucu Pangeran Sambernyowo berada di blok yang terletak di sebelah timur. Disini terdapat juga makam dokter bedah asli Purbalingga, dokter Goetheng Tarunadibrata yang juga termasuk dalam trah Arsakusuma.

"Mbak, aku baru ngeh kalau dengan langsung turun ke lokasi lebih memudahkan belajar sejarah lokal ya,.. daripada sekedar baca buku", kata salah seorang dari ketiga buntut saya kali ini. Kalau aku sih yes banget dengan pendapat itu.


GAN ENGLISH SCHOOL

Sungguh, bukan hanya lidah. Otak saya pun langsung belibet ketika diminta menggunakan bahasa asing. Agak payah memang. Mosok 2018 masih sekedar "Yes, No, Not Yet", lha wong di tahun 1920-an saja di Purbalingga pernah ada tempat belajar bahasa Inggris.


Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Kursus Bahasa Inggris Gan


Gan English School. Demikian nama tempat yang telah disinggung tadi. Dari penuturan keturunan seh Gan di Purbalingga, Gan English School menempati bangunan di seputaran tugu Knalpot saat ini. Namun sudah tak bersisa.


Gan English School dibuka oleh Gan Thian Koeij. Salah seorang Tionghoa kenamaan pada masanya. Bersumber dari Banjoemas.com, disebutkan pada 1910 Belanda membangun Hollands Chinese School (HCS). Sayangnya, prioritas hanya di kota besar saja. Hingga, salah seorang pelopor gerakan buang taocang ini pun berinisiatif membangun Gan English School.


Mr. Akerson


Bekerja sama dengan salah satu lembaga di Bogor, Gan English School mengundang Mr. Leroy Lind Akerson menjadi pengajar siswa yang didominasi anak-anak keluarga besar Gan.


Makam Akerson ini saya temukan ketika mengunjungi Bong Sawangan beberapa waktu kemarin. Warga setempat mengenalnya sebagai 'makam kabangan'. Dari namanya dapat kita tarik kesimpulan bahwa kematian Akerson bukanlah karena dimakan usia. "Makam kabangan ini berada di luar garis bong yang lain. Dibuat untuk mereka yang tewas karena kecelakaan atau sejenisnya", kata Pak Tarno salah seorang kuncen.

Memang benar, warga akan lebih mudah memberi petunjuk ke "makam kabangan" daripada ke "makam guru Inggris". Akerson meninggal pada usia 29 tahun. Menurut cerita, Akerson tewas dalam sebuah  kecelakaan di sungai Klawing. Ini seperti banyak dikisahkan beberapa warga di sekitar Bong juga pihak keluarga. Skrinsut ini diambil dari terjemahan bebas yang selengkapnya silakan dapat dibuka sendiri di catalog.gcah.org



Tidak diketahui apakah setelah Akerson tiada, aktivitas Gan English School tetap berjalan. Namun yang pasti 97 tahun silam, segelintir orang di Purbalingga telah secara sengaja belajar bahasa internasional. Dan kini, saya justru jadi segelintir orang yang tidak bisa secara baik bahasa pergaulan dunia ini.

Sela Bintana, Yang Terlupa

Sekelompok penonton memilih posisi yang nyaman didalam gedung tak beratap. Ada yang berjongkok, bersila bahkan berdiri. Jangan heran. Disini memang tak ada kursi. Dan seperti inilah gambaran bioskop misbar Sela Bintana, Purbalingga yang diceritakan beberapa orang secara terpisah.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo



Misbar Sela Bintana

Sela Bintana memang tak segaung nama tiga bioskop yang pernah ada di Purbalingga. Rayuan Theater, Braling Theater dan Indra Theater (Bobotsari). Bioskop ini jenis misbar. Gerimis bubar. Namun tetap digemari saat itu. Sela Bintana menjadi pilihan jika kocek sedang tipis.

• Dekat Rayuan •
Sela Bintana ada dekat dengan Rayuan Theater Purbalingga. Tapi keduanya memiliki pasar masing-masing. Sela Bintana, dengan harga tiket yang lebih murah menawarkan film yang berbeda kelas dengan 'tetangga'nya. Dapat dipahami ya. Apalagi fasilitasnya juga berbeda.
Sela Bintana diketahui menempati bangunan milik keluarga Tan Kwee An. Seorang pengusaha es balok ternama. Pabriknya diberi nama Salju. Saat belum banyak freezer, maka Salju sudah aktif memproduksi es balok untuk kemudian dijual.

• Awalnya Gudang •
Sela Bintana berada di utara jalan raya. "Ada di barat Narayana", kata Mbah Jaedi (± 80 th) dalam bahasa Penginyongan. Narayana adalah nama agen bus kenamaan saat itu. Orang-orang mengenal daerah ini dengan sebutan mBengang.

Pria sepuh ini mengaku tak ingat pasti kapan Sela Bintana mulai dibangun, meski ia termasuk salah seorang yang turut dalam proyek tersebut. "Sepertinya sebelum Gestok", ujarnya mengingat-ingat.

Mbah Jaedi tak mengetahui pasti apakah saat ia ditugasi mengecat, bangunan tersebut sudah menjadi atau baru akan menjadi gedung pemutaran film. Yang ia ketahui bahwa tempat tersebut adalah gudang milik ayah Tan Kwee An. "Ya sudah rapet gedungnya. Ada atapnya. Mirip rayuan. Bahkan lebih besar dan luas", kenangnya. Waahh.. apakah ini artinya kondisi yang diceritakan di awal adalah gambaran embrio Sela Bintana ya ?

Seorang warga di Jl. M.T. Haryono, Pak Ambing juga mengiyakan luasnya bangunan Sela Bintana. "Itu lho yang sekarang jadi jual Mie Ongklok sampai jalur (penjual) Soto sana", kenang pria sepuh keturunan Tionghoa ini.

Sayangnya, bioskop yang terletak di utara jalan ini tak banyak diminati. Sela Bintana pun tutup dengan menyisakan sedikit kenangan saja bagi segelintir orang.

GEBYEKAN : Pulangnya si Anak Hilang

Byek byek nooong 
Byek byek juuuurrr 
Sriiiiii balia, bapane olih berkat
Mbok ora kebagian

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •


"Sriiiii baliaaaa !!!", teriak orang-orang begitu mengetahui Sri (bukan nama sebenarnya) hilang dari rumahnya semenjak keluar menjelang sandekala. Bebunyian peralatan rumah tangga menggema di sepanjang kampung. Byek byek byek. Tampah, ember, panci, wajan, baskom ditabuh dengan meneriakan nama si orang hilang.

Bebunyian itu konon tak disukai makhluk halus. Lho ?! Apa hubungannya ? Ya karena orang hilang yang tidak wajar, dipercaya telah dibawa kabur makhluk halus.

Tradisi Nusantara

(Foto dari Tribunnews Batam)

Ternyata tak hanya di Jawa, tradisi seperti inipun dikenal penduduk luar Jawa. Sebutlah salah satunya Bagandang Nyiru di Kalimantan. Atau penduduk Ataili juga mengenal Smabusabunga. Intinya sama. Yaitu : ritual memanggil kembali orang yang diduga hilang dengan berkeliling kampung membunyikan peralatan rumah tangga. 


Bedanya, jika dalam tradisi tersebut diatas dipercaya bahwa arwah leluhur atau nenek moyang yang membawa 'jalan-jalan' si orang hilang, tidak demikian dengan kita. Adalah makhluk halus yang senang menyesatkan jalan orang itu disebut lampor. Jangan tanya seperti apa ujudnya. Entah 11:12 dengan (Mak) Lampir atau justru beda jauh. Ada pula yang menamai makhluk ini dengan 'cepet'


Dibawa Makhluk Halus

Beberapa pengalaman 'hilang', memang terkadang tak dapat saya logika. Ada yang mengisahkan dirinya ditempatkan di atas pohon masih di dekat rumahnya. Sehingga ia leluasa menyaksikan warga kampung menabuh gebyekan ini tanpa bisa ia berteriak menunjukkan lokasi keberadaannya. Ada pula yang tak ingat pengalaman luar biasa ini sama sekali. Yang jelas mereka sama-sama seolah masuk ke antah berantah.


Lalu bisakah kita menghindarinya ? Saya rasa pikiran yang tetap terjaga bisa membantu menjauhkan kita dari dibawa Lampor, Cepet atau kroninya. Ada juga yang mengajari saya untuk mengucapkan kalimat bermakna mengusir  saat merasa disasarkan makhluk halus. "Istilahnya disontengi", kata beberapa orang yang saya temui.

• Peralatan Rumah Tangga

Yang menjadikan tanda tanya adalah mengapa harus abrag-abrag atau peralatan rumah tangga yang digunakan ? Seberapa 'takut' makhlus halus dengan tampah dkk ?

Menurut salah seorang seniman Purbalingga, SBJ Utomo, digunakannya tetabuhan dari peralatan rumah tangga dikarenakan faktor urgency. "Jaman dulu sirine belum ada. Ditambah karena panik, maka tampah panci ember dan peralatan rumah tangga ini paling mudah untuk diambil dan dibunyikan", kata ketua Sanggar Dresanala ini.

Urusan seberapa takut makhluk halus pada tetabuhan ini, sebenarnya bukan karena bebunyiannya. "Kan tetap saja pakai doa. Nyenyuwun inilah yang membuka tabir sehingga si orang hilang bisa kembali", tambahnya. Di tempat tinggalnya, sambil berkeliling, warga akan meneriakan koor yang cukup khas. "Bubur abang bubur putih e wis mateng. Srrriiiiii baliiaaa". Tentunya sembari terus menabuh. Suara keras begini secara nalar akan menyadarkan orang yang semula melamun. Serasa dikagetkan sehingga tersadar saja. Ingat kan petuah lama "Aja ngelamun mundak kesambet" ?

Sementara itu pilihan kalimat bubur abang dan bubur putih pun ada maksudnya. Perlambang angkara murka dan kesucian. Dengan kesucian (doa) maka angkara murka (dalam hal ini sengkala berupa disasarkan makhluk halus) akan dapat dikalahkan.

Waaah, kalau yang dinyanyikan "Bapane olih berkat, mbok ora kebagian" kira-kira apa maknanya ya ?
Jika pada jaman berseragam putih merah saya masih dua kali mendengar "Sriiii baliaaa", maka saat era berganti saya lebih banyak mendengar "Ndang balia Sri" yang ditimpa adlibs seorang penyiar menyampaikan informasi orang hilang. Hmmmm....



DAMN ! I LOVE #NasiGorengDunia

Hujan terus mengguyur Purwokerto sesorean itu. Namun celoteh riang dari meja sebelah seolah tak mau kalah dari deru air. "Aku Thailand", gemas salah seorang. "Eh, merah putih hijau ini mana ya?", kata lainnya. Bendera mini diatas nasi goreng yang masih mengepul itu sejurus kemudian mengisi memory di gawai masing-masing.


• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •
Thanks to Iqbal Fahmi


Sayapun tak ingin terlewat. Ditengah menanti sang chef keluar, sembari swafoto saya mulai mereka-reka rencana menu apa yang dipilih. Ya #NasiGorengDunia season 3 ini sama seperti yang ada di depan Gelora Guntur Darjono Purbalingga. Menawarkan nasi goreng dengan dominasi gurih ataupun manis khas berbagai negara.

"Sudah pernah mencoba Nasi Goreng Dunia sebelumnya ?", tanya salah satu owner, Iqbal bin Majid. Sahabat yang juga rekan satu perjuangan, Lukman "Bagus Permana" menggeleng. Sementara saya memilih diam, karena hanya Mexico dan Thailand yang pernah saya coba di Purbalingga. Buat saya keduanya dominan asam manis segar. "Saya ingin yang berbeda", batin saya.


• Gurih dan Manis •


Seolah terbaca, Iqbal menjelaskan dengan gamblang menu-menu yang tersaji. "Kalau Eropa dan Amerika cenderung manis asam karena modelnya saus. Sementara kalau Asia gurihnya lebih dapet", terangnya. Wah ! Cocok. Saya memang sedang tergoda rasa gurih. Mulai dari citarasa Indonesia, Malaysia, Jepang, India dan China ditawarkan. "Paling favorit yang Malaysia, gurihnya paling kerasa. Apalagi ada ikan bilis-nya juga", tambah Chef Ucup.

Sahabat saya sepertinya tetap tak tergoyahkan pada semua referensi. Di otaknya hanya ada Italy. Maklum saja, dia ini penggemar 'Si Nyonya Tua'.Sementara saya tergoda bumbu teriyaki. "Nasi goreng Jepang, Mas", pesan saya.

Sengatan aroma rempah yang ditumis membuat saya tak kuasa menahan batuk. Saya cemas. Ah, semoga tak salah pilih menu.



 

Voila ! Nasi goreng berbendera Jepang dan Italy siap tersaji. Hmmmmmm.... aromanya smooth. Tak setajam saat proses pemasakan tadi.

Sebenarnya tanpa bendera pun saya tahu jika ada nori pasti itu pesanan saya. "Keberadaan bendera mini diatas nasi memang jadi khas Nasi Goreng Dunia season 3, Mbak", lanjut Iqbal. Aroma yang mendadak smooth ini refleks menyingkirkan keinginan berfoto. Suapan pertama, nasi yang masih panas membuat pedas sedikit tertutup. Tapi tak mengurangi khasnya rempah putih dengan bumbu teriyaki yang gurih. Keripik jagung di salah satu sisi bikin saya kangen Happytos. Hehe..

Di hadapan saya, Lukman masih sibuk memotret nasi goreng dengan isian sosis dan homemade spagetty sauce yang nikmmmaaatt banget. Mancaayyy. Meski memesan level pedas yang sama ternyata bumbu rempah membuat nasi goreng Jepang lebih spicy.


• Buka sampai pagi •

Saya merasa diuntungkan dengan hujan sore hari di Purwokerto. Karena suasana gloomy dan dingin macam ini rasanya tepat untuk menikmati nasi goreng. Lebih pas lagi kalau malam. Yes ! Sepakat kaaaan, nasgor itu jadi 'cemilan' malam yang paling yahuuud. Dan #NasiGorengDunia season 3 paham benar pada 'kesepakatan' penganut tarekat begadang ini. Karena kedai ini buka sampai jam 03.00 pagi. Haaseeeekkk.

Untuk harga ? Tenaaang, selama bulan promo berlaku harga Rp. 12.000 for all item. Kuy.. eh yuk nikmati sensasi citarasa khas berbagai olahan dunia di #NasiGorengDunia season 3. Lokasinya di Jl. Dr. Soeparno no. 60 Karangwangkal atau belakang kampus Unsoed Purwokerto.

Meski nggak terlalu luas, sesuara dari salah satu sudut ruangan bikin saya berasa lega aja makan disini. Cos, kapan lagi ketemu teman lama sembari menikmati #NasiGorengDunia dengan iringan The Adams. Beuuuh, ownernya jagoan bener milih musiknya. Dan tanpa terasa, satu porsi pun sukses saya habiskan sendiri. Next, tinggal Nasi Goreng Indonesia a la #NasiGorengDunia nih yang wajib untuk dicicip.




#NasiGorengDunia season 3

Opening : 1 Januari 2018.
Alamat : Jl. Dr. Soeparno No. 60 Karangwangkal, Purwokerto
Map : https://goo.gl/maps/WSDm9DgakG42
Buka : 06.00 a.m - 03.00 a.m.
Menu : Nasi Goreng Indonesia, Malaysia, Jepang, India, China, Amerika, Korea, Italy, Mexico, Thailand.


DAMN, I LOVE #NasiGorengDunia

Rumah Pertama Ong Hway Oen

Sore lalu, kesampaian juga keinginan bertamu di salah satu rumah tua di Purbalingga.

Dari banyak rumah di sepanjang Jalan Letkol Isdiman, saya berhenti di deretan ujung timur, tepat sebelum Perempatan Brug Menceng, Kelurahan Bancar. Bukan apa-apa, kebetulan pemiliknya terlihat berada di halaman.

Rumah bergaya indisch saat ini terlihat rusak

Dari kejauhan rumah ini tampak kontras dengan kanan kirinya. Halamannya masih kerikil dengan pagar hidup dari tanaman perdu. Di depan rumah terdapat pohon besar yang semakin mengesankan suasana teduh.

Terlihat menyatu dengan rumah indische itu.

Pemiliknya, seorang laki-laki separuh baya sedang tampak memarkir sepeda miliknya. Saya tidak asing dengan posturnya. Sepertinya beliau ini kerap melintas pusat kota di pagi hari. Dengan sepeda putihnya itu. Saat berkenalan, ia meminta saya memanggilnya Pak Yayan. Nama lengkapnya Sugiyanto.

Tanpa banyak bertanya, Pak Yayan mempersilakan masuk.

Area masuk rumah ini sebenarnya menarik. Dindingnya lebih menonjol dengan bentuk bersudut menyerupai sisi trapesium. Pada setiap sudut terlihat jendela tinggi yang seolah mengapit pintu yang berada di tengah. Bentuk seperti ini tidak banyak saya temui di pusat kota Purbalingga.

Bagian atap menggunakan genteng dengan bentuk mengikuti strukturnya yang polygonal. Kata teman yang mengurusi arsitektur, bagian bangunan yang menonjol ini disebut risalite. Selain terlihat bagus juga dapat memperluas ruangan di dalamnya.

Saya menapaki tangga pendek di depan pintu yang beralaskan tegel.

Lalu mendadak ragu untuk masuk.

Mata saya mulai mengerjap, saat menyadari ada yang tidak biasa di dalam. Kalau tegel motif di rumah tua begini, saya sudah tidak heran. Tapi kok banyak hewan peliharaan?

Atau jangan-jangan si pemilik punya pemahaman lain dari fungsi risalite ini. Misalnya menjadikannya sudut santai bagi babon angrem tepat di sebelah kursi tamu. Entahlah.

Tidak lama kemudian saya merasa Pak Yayan memperhatikan kebingungan saya, Ia bertanya dengan cepat.

“Jadi beli, Mbak?”

Pertanyaan yang berbarengan dengan kelepak burung merpati dari arah ruang lain membuat saya semakin terpana.

Oh. Jadi, rumah ini hendak dijual. Pantas saja isi rumah seperti sedang bersiap keluar sewaktu-waktu.

Pak Yayan bercerita ia mau tidak mau mencoba menjual rumah warisan keluarganya itu karena pajak yang tinggi. Padahal ia menduga rumah ini sudah dibangun sejak 1930-an.

Dugaan itu ia kuatkan dengan mengeluarkan sebuah foto berukuran 12R berwarna sephia.

 
Keluarga Ong Hway Oen di depan rumah


Dalam foto tampak sebuah keluarga sedang berada di halaman rumah yang bentuknya sangat mirip dengan rumah Pak Yayan ini. Risalite-nya ada. Lubang angin di atas pintu dengan motif bunga ada. Hiasan batu kali pada dinding bagian bawah juga ada dan malah belum di cat seperti sekarang.

Hampir semuanya sama.

Sedikit perbedaanya adalah pada ketinggian bangunan. Dalam foto tampaknya anak tangga terlihat lebih banyak dibanding saat ini. Tapi masih lumrah. Banyak rumah tua yang seolah memendek seiring waktu. Maklum saja, tertular bahu jalan yang semakin tinggi kan.

Kembali ke foto, sepertinya mereka yang berfoto didalamnya masih satu keluarga. Sang ayah mengenakan jas sementara sang ibu berkain dan kebaya. Keduanya duduk di kursi kayu, mengapit dua anak mereka. Ada dua balita lain yang tampak menempel dengan sang ibu. Di belakang keluarga ini, terdapat seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah, sepertinya seorang rewang keluarga.

Entah mengapa melihat foto ini membuat saya merasa sedang mengintip kehidupan sebuah keluarga dari masa yang jauh. Seperti foto-foto dari awal abad ke-20 dari buku atau arsip. Bedanya, kali ini latarnya masih ada. Rumahnya saja masih berdiri.

Sayangnya Pak Yayan sendiri tidak mengetahui ini foto kakek atau kakek buyutnya. Yang ia ingat mereka bermarga Ong.

Kakek buyutnya bernama Ong Kha Tjwan, kira-kira demikian ejaannya. Seorang pendatang asal Tiongkok yang kemudian memperistri perempuan pribumi asal Sokaraja, Rantinah.

Dari pasangan ini lahirlah Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin.

Kedua nama ini saya dapatkan belakangan setelah bertemu Pak Alexmeijer Hariman yang kebetulan juga masih cucu Ong Hway Oen.

Keluarga Ong Hway Oen sepertinya cukup dikenal di sekitar tempat ini. Ada tuh warga yang masih mengingat nama Tionghoa kelima anak Ong Hway Oen. 

“Tjong Lim, Tjong Wan, La E, Sie Pat, Sie Tat”.

Namun baik Pak Alex ataupun Pak Yayan lebih memilih menyebut nama Indonesia dari orang tua mereka.

Pak Yayan menyebut ayahnya bernama Cokrowardoyo, salah seorang cucu Ong Hway Oen. Ayahnya lahir sekitar 1927 dan menurut cerita belum mengalami pembangunan rumah ini.

Sementara itu Ibu Pak Alex, Anastasia R. Setyawati sudah tinggal di rumah tersebut sejak bayi.

Di titik itu saya mulai bertanya-tanya.

Wah, jangan-jangan foto tadi memang Ong Hway Oen.

Jumlah anak dalam foto membuat dugaan itu terasa mungkin. Kalau foto tersebut adalah Ong Kha Tjwan, bukankah anaknya hanya dua?

Tetapi saya juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Melihat sebuah foto tua memang sering membuat merasa sudah menemukan jawaban, padahal saya sebenarnya baru menemukan pertanyaan baru.

Oh iya, ada hal lain yang membuat cerita rumah ini semakin menarik. Mas Jatmiko Wicaksono, founder Banjoemas.com, merasa semasa kecilnya dulu melihar rumah ini berjumlah dua dan bersebelahan.

Mungkinkah dulu kedua bersaudara Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin tinggal bersebelahan?

Saya tidak mau menduga lebih jauh. Yang pasti dari cerita Pak Alex, Ong Hway Oen kemudian menempati rumah baru di dekat Pasar Badhog, masih di Kelurahan Bancar. Dan rumah lama itu lalu berpindah kepemilikan hingga dibeli oleh Pak Yayan.

Begitulah rupanya sebuah rumah kerap berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Nama pemilik berganti. Penghuninya berganti. Cat dindingnya berganti. Tetapi bangunannya, setidaknya sampai sore itu masih menyimpan jejak orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.

Saat ini, rumah lama Ong Hway Oen sedang dijual. Artinya sebentar lagi mungkin akan memiliki cerita baru. Saya hanya berharap cerita baru itu tidak harus dimulai dengan membongkar cerita lama. Sebab rumah tua seringkali kokoh menghadapi usia namun rapuh dalam menghadapi kebutuhan pemiliknya untuk membuatnya terasa modern.
- Anita Wiryo Rahardjo  

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...