Langsung ke konten utama

Rumah Pertama Ong Hway Oen

Rumah klasik bergaya villa itu begitu menggoda mata. Semoga saja tak dirombak begitu saja oleh pemilik barunya kelak.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Kompleks 'kota' Purbalingga sebelah timur memang menyimpan banyak kenangan era kolonial. Banyaknya bangunan peninggalan yang menjadikannya pernah hendak dijadikan sebagai destinasi wisata berjuluk Kota Kuna Purbalingga.

Tak hanya bangunan publik seperti sekolah dan gereja, beberapa rumah tinggal berarsitektur lawas pun masih mewarnai. Salah satunya yang ada tak jauh dari perempatan Bancar. Tepatnya di Jl. Letkol Isdiman nomor 118, Purbalingga.

• Dibangun 1920-an •


 

Saya cukup beruntung karena pagi itu si empunya rumah berkenan untuk memberikan informasi mengenai tempat tinggalnya. Bersama seorang kawan, saya dipersilakan melongok suasana dalam rumahnya. Meski hanya sampai sebatas ruang tamu saja.

Tampak tegel bermotif timbul warna abu-abu menghiasi ruang tamu. Tak begitu luas, namun cukuplah untuk kami ngobrol bertiga ditemani beberapa piaraan pemilik rumah yang setia mengelilingi.

Pak Yayan "Sugiyanto" mulai membuka suara akan rumahnya yang hendak dijual dengan alasan pajak yang tinggi. Namun kemudian ia mengisahkan bagaimana rumah ini dibangun.

Adalah seorang pendatang asal Tiongkok, Ong Kha Tjwan bersama isterinya pribumi asal Sokaraja bernama Rantinah. Tidak diketahui apakah keduanya lama tinggal di Purbalingga atau baru saja datang. Karena menurutnya Ong Hway Oen sendiri lahir di Batur, Banjarnegara. Yang pasti saat cucu mereka, putera Ong Hway Oen lahir, rumah ini belum lama dibangun. "Mungkin sekitar 1925-1927", kata Yayan mengingat tahun kelahiran bapaknya, Cokrowardoyo.

Tak lama ia beranjak. Mengambil sebuah foto tua yang tak terurus. Tampak satu keluarga dengan beberapa anak dan seorang rewang berfoto di depan rumah. Ya, rumahnya persis seperti yang saya kunjungi saat itu. "Katanya foto ini dibuat tahun 30'an", kembali Yayan berkisah.

Yayan menduga jika foto itu adalah Ong Kha Tjwan sekeluarga. Tampak bocah lelaki paling besar dalam foto-lah yang ia sebut sebagai Ong Hway Oen. Namun siapa bocah lainnya ya ? Karena berdasar silsilah yang diberikan oleh Alexmeijer Hariman (juga cucu Ong Hway Oen) kakek Buyutnya Ong Kha Tjwan hanya menurunkan Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin. Dua bersaudara.

Sementara itu Ong Hway Oen memiliki 5 orang anak. "Ibu saya adalah salah satu anak perempuan Ong Hway Oen yang bernama Anastasia R. Setyawati", kata Hariman. Salah seorang warga seputaran Pasar Badog, Salimun (lahir 1938) juga menyebutkan 5 nama panggilan anak Ong Hway Oen, " Tjong Lim, Tjong Wan, Lae, Sie Pat, Sie Tat" (mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan nama, karena hanya berdasar lisan). Menurut Salimun, dua nama terakhir adalah anak perempuan.

 
Dan dalam foto tampak satu keluarga dengan 4 orang anak. Ataukah ini lebih tepat disebut sebagai foto keluarga Ong Hway Oen ?


• Rumah Kembar •

Rumah bergaya villa ini memiliki ukuran 8m × 9m. "Luas tanah sekitar 609 m²", lanjut Yayan. Pintu krepyak sudah mulai dilepas karena mengalami kerusakan. Namun lapis pintu satunya masih dibiarkan utuh.

 
Sebenarnya jika sedikit mendapat perawatan lebih, bangunan ini terbilang cantik. Rumah bagian depan berbentuk segienam. Terdapat teralis besi berbentuk ceplok bunga pada bouven di bagian dinding atas yang semakin mempercantik rumah mungil ini.

 
Sementara itu, seorang pelestari yang juga pengurus utama www.banjoemas.com, Jatmiko Wicaksono mengatakan semasa kecilnya di Purbalingga dulu melihat rumah villa ini berjumlah 2. Bersebelahan. Mungkin satu milik Ong Hway Oen, sementara satunya kepunyaan Ong Hway Tin. Realitanya saat ini hanya 1 yang masih bertahan. Bisa saja rumah milik Ong Hway Tin dibongkar karena berpindah tempat (ini dugaan saya pribadi lho). Sedangkan Ong Hway Oen sendiri menurut Hariman, kemudian menempati rumah baru di dekat Pasar Badhog dan rumah lama itu berubah kepemilikan, dibeli Sugiyanto.

Seiring berjalannya waktu, Sugiyanto dan anak-anaknya memutuskan menjual rumah yang sejak awal dibangun ini tidak banyak perombakan. "Kalau pintu samping itu tambahan. Lainnya tetap. Hanya ganti cat saja", ungkapnya. Bambu untuk reng (bagian atap) juga sudah baru.

Meski tidak banyak informasi mengenai pedagang hatsil boemi Ong Hway Oen, dari bentuk rumah tinggalnya saja dapat mengambarkan bagaimana kondisi ekonomi mereka saat itu yang tergolong mapan. Dan siapapun pemilik rumahnya kelak, semoga masih dapat mempertahankan kekhasan bentuk arsitektur rumah ini.

Komentar

Banyak Dicari

JAMASAN, BUKAN SEKEDAR MEMANDIKAN

Jamasan. Inilah salah satu tradisi yang rutin dilakukan pada bulan Sura. Secara literatur jamasan ini berarti memandikan atau membersihkan. Terutama benda pusaka. Apa sebenarnya tujuan dari tradisi ini ? Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Upacara pembukaan Jamasan Pusaka Tosan Aji JAMASAN TOSAN AJI Halaman Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja pagi ini sedikit berbeda. Tenda berwarna merah tampak berdiri di depan gedung. Puluhan pasang mata tertuju pada sekelompok pria berbusana tradisional yang dengan khidmat melakukan serah terima sebilah keris pusaka dengan iringan sulukan yang menghanyutkan. "....Sigra arsa angayahi karyo. Anjamasi pusaka aji. .......", suluk yang ditembangkan sang pranatacara ini membuat suasana jadi semakin hanyut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembersihan sebilah keris tersebut. Ya, seperti inilah gambaran upacara pembukaan prosesi jamasan yang diadakan pada Selasa Kliwon 17 Desember 2013 lalu.  Dengan dijamasnya keris pusaka oleh Kabid Kebudayaan...

MENGUNJUNGI MAKAM SYECH MACHDUM KUSEN

Bagi masyarakat Rajawana nama Machdum Husen atau Machdum Kusen atau Kayu Puring memegang peranan tersendiri. Ia merupakan putra Nyai Rubiah Bekti dengan Pangeran Atas- Angin. Dengan demikian Machdum Kusen juga masih memiliki garis keturunan dengan Syech Jambu Karang. Dan sama seperti ayah dan kakeknya, Machdum Kusen pun turut menyebar luaskan ajaran Islam di wilayah tersebut. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Dalam sejarahnya, Syech Machdum Kusen pernah mengusir pasukan Padjajaran yang ini menguasai Bumi Cahyana. Sejak masa pendahulunya, Pajajaran memang merasa terancam dengan perkembangan Islam yang dilancarkan Syech Jambu Karang dan keturunannya. Dan Machdum Kusen sendiri memiliki andil besar dalam memukul mundur pasukan yang berniat menguasai Cahyana. Dengan pertolongan Allah SWT, Machdum Kusen dapat memanggil ribuan tawon gung hanya dengan bantuan tetabuhan rebana atau terbang para Nyai. Hal inipun menjadikan pasukan lawan mundur karena tidak tahan menghadapi serangan lebah-lebah itu....