Rumah Pertama Ong Hway Oen
Sore lalu, kesampaian juga keinginan bertamu di salah satu rumah tua di Purbalingga.
Dari banyak rumah di sepanjang Jalan Letkol Isdiman, saya berhenti di deretan ujung timur, tepat sebelum Perempatan Brug Menceng, Kelurahan Bancar. Bukan apa-apa, kebetulan pemiliknya terlihat berada di halaman.
Dari kejauhan rumah ini tampak kontras dengan kanan kirinya. Halamannya masih kerikil dengan pagar hidup dari tanaman perdu. Di depan rumah terdapat pohon besar yang semakin mengesankan suasana teduh.
Terlihat menyatu dengan rumah indische itu.
Pemiliknya, seorang laki-laki separuh baya sedang tampak memarkir sepeda miliknya. Saya tidak asing dengan posturnya. Sepertinya beliau ini kerap melintas pusat kota di pagi hari. Dengan sepeda putihnya itu. Saat berkenalan, ia meminta saya memanggilnya Pak Yayan. Nama lengkapnya Sugiyanto.
Tanpa banyak bertanya, Pak Yayan mempersilakan masuk.
Bagian atap menggunakan genteng dengan bentuk mengikuti strukturnya yang polygonal. Kata teman yang mengurusi arsitektur, bagian bangunan yang menonjol ini disebut risalite. Selain terlihat bagus juga dapat memperluas ruangan di dalamnya.
Saya menapaki tangga pendek di depan pintu yang beralaskan tegel.
Lalu mendadak ragu untuk masuk.
Mata saya mulai mengerjap, saat menyadari ada yang tidak biasa di dalam. Kalau tegel motif di rumah tua begini, saya sudah tidak heran. Tapi kok banyak hewan peliharaan?
Atau jangan-jangan si pemilik punya pemahaman lain dari fungsi risalite ini. Misalnya menjadikannya sudut santai bagi babon angrem tepat di sebelah kursi tamu. Entahlah.
Tidak lama kemudian saya merasa Pak Yayan memperhatikan kebingungan saya, Ia bertanya dengan cepat.
“Jadi beli, Mbak?”
Pertanyaan yang berbarengan dengan kelepak burung merpati dari arah ruang lain membuat saya semakin terpana.
Oh. Jadi, rumah ini hendak dijual. Pantas saja isi rumah seperti sedang bersiap keluar sewaktu-waktu.
Pak Yayan bercerita ia mau tidak mau mencoba menjual rumah warisan keluarganya itu karena pajak yang tinggi. Padahal ia menduga rumah ini sudah dibangun sejak 1930-an.
Dugaan itu ia kuatkan dengan mengeluarkan sebuah foto berukuran 12R berwarna sephia.
Dalam foto tampak sebuah keluarga sedang berada di halaman rumah yang bentuknya sangat mirip dengan rumah Pak Yayan ini. Risalite-nya ada. Lubang angin di atas pintu dengan motif bunga ada. Hiasan batu kali pada dinding bagian bawah juga ada dan malah belum di cat seperti sekarang.
Hampir semuanya sama.
Sedikit perbedaanya adalah pada ketinggian bangunan. Dalam foto tampaknya anak tangga terlihat lebih banyak dibanding saat ini. Tapi masih lumrah. Banyak rumah tua yang seolah memendek seiring waktu. Maklum saja, tertular bahu jalan yang semakin tinggi kan.
Kembali ke foto, sepertinya mereka yang berfoto didalamnya masih satu keluarga. Sang ayah mengenakan jas sementara sang ibu berkain dan kebaya. Keduanya duduk di kursi kayu, mengapit dua anak mereka. Ada dua balita lain yang tampak menempel dengan sang ibu. Di belakang keluarga ini, terdapat seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah, sepertinya seorang rewang keluarga.
Entah mengapa melihat foto ini membuat saya merasa sedang mengintip kehidupan sebuah keluarga dari masa yang jauh. Seperti foto-foto dari awal abad ke-20 dari buku atau arsip. Bedanya, kali ini latarnya masih ada. Rumahnya saja masih berdiri.
Sayangnya Pak Yayan sendiri tidak mengetahui ini foto kakek atau kakek buyutnya. Yang ia ingat mereka bermarga Ong.
Kakek buyutnya bernama Ong Kha Tjwan, kira-kira demikian ejaannya. Seorang pendatang asal Tiongkok yang kemudian memperistri perempuan pribumi asal Sokaraja, Rantinah.
Dari pasangan ini lahirlah Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin.
Kedua nama ini saya dapatkan belakangan setelah bertemu Pak Alexmeijer Hariman yang kebetulan juga masih cucu Ong Hway Oen.
Keluarga Ong Hway Oen sepertinya cukup dikenal di sekitar tempat ini. Ada tuh warga yang masih mengingat nama Tionghoa kelima anak Ong Hway Oen.
Dari banyak rumah di sepanjang Jalan Letkol Isdiman, saya berhenti di deretan ujung timur, tepat sebelum Perempatan Brug Menceng, Kelurahan Bancar. Bukan apa-apa, kebetulan pemiliknya terlihat berada di halaman.
Dari kejauhan rumah ini tampak kontras dengan kanan kirinya. Halamannya masih kerikil dengan pagar hidup dari tanaman perdu. Di depan rumah terdapat pohon besar yang semakin mengesankan suasana teduh.
Terlihat menyatu dengan rumah indische itu.
Pemiliknya, seorang laki-laki separuh baya sedang tampak memarkir sepeda miliknya. Saya tidak asing dengan posturnya. Sepertinya beliau ini kerap melintas pusat kota di pagi hari. Dengan sepeda putihnya itu. Saat berkenalan, ia meminta saya memanggilnya Pak Yayan. Nama lengkapnya Sugiyanto.
Tanpa banyak bertanya, Pak Yayan mempersilakan masuk.
Area masuk rumah ini sebenarnya menarik. Dindingnya lebih menonjol dengan bentuk bersudut menyerupai sisi trapesium. Pada setiap sudut terlihat jendela tinggi yang seolah mengapit pintu yang berada di tengah. Bentuk seperti ini tidak banyak saya temui di pusat kota Purbalingga.
Bagian atap menggunakan genteng dengan bentuk mengikuti strukturnya yang polygonal. Kata teman yang mengurusi arsitektur, bagian bangunan yang menonjol ini disebut risalite. Selain terlihat bagus juga dapat memperluas ruangan di dalamnya.
Saya menapaki tangga pendek di depan pintu yang beralaskan tegel.
Lalu mendadak ragu untuk masuk.
Mata saya mulai mengerjap, saat menyadari ada yang tidak biasa di dalam. Kalau tegel motif di rumah tua begini, saya sudah tidak heran. Tapi kok banyak hewan peliharaan?
Atau jangan-jangan si pemilik punya pemahaman lain dari fungsi risalite ini. Misalnya menjadikannya sudut santai bagi babon angrem tepat di sebelah kursi tamu. Entahlah.
Tidak lama kemudian saya merasa Pak Yayan memperhatikan kebingungan saya, Ia bertanya dengan cepat.
“Jadi beli, Mbak?”
Pertanyaan yang berbarengan dengan kelepak burung merpati dari arah ruang lain membuat saya semakin terpana.
Oh. Jadi, rumah ini hendak dijual. Pantas saja isi rumah seperti sedang bersiap keluar sewaktu-waktu.
Pak Yayan bercerita ia mau tidak mau mencoba menjual rumah warisan keluarganya itu karena pajak yang tinggi. Padahal ia menduga rumah ini sudah dibangun sejak 1930-an.
Dugaan itu ia kuatkan dengan mengeluarkan sebuah foto berukuran 12R berwarna sephia.
Dalam foto tampak sebuah keluarga sedang berada di halaman rumah yang bentuknya sangat mirip dengan rumah Pak Yayan ini. Risalite-nya ada. Lubang angin di atas pintu dengan motif bunga ada. Hiasan batu kali pada dinding bagian bawah juga ada dan malah belum di cat seperti sekarang.
Hampir semuanya sama.
Sedikit perbedaanya adalah pada ketinggian bangunan. Dalam foto tampaknya anak tangga terlihat lebih banyak dibanding saat ini. Tapi masih lumrah. Banyak rumah tua yang seolah memendek seiring waktu. Maklum saja, tertular bahu jalan yang semakin tinggi kan.
Kembali ke foto, sepertinya mereka yang berfoto didalamnya masih satu keluarga. Sang ayah mengenakan jas sementara sang ibu berkain dan kebaya. Keduanya duduk di kursi kayu, mengapit dua anak mereka. Ada dua balita lain yang tampak menempel dengan sang ibu. Di belakang keluarga ini, terdapat seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah, sepertinya seorang rewang keluarga.
Entah mengapa melihat foto ini membuat saya merasa sedang mengintip kehidupan sebuah keluarga dari masa yang jauh. Seperti foto-foto dari awal abad ke-20 dari buku atau arsip. Bedanya, kali ini latarnya masih ada. Rumahnya saja masih berdiri.
Sayangnya Pak Yayan sendiri tidak mengetahui ini foto kakek atau kakek buyutnya. Yang ia ingat mereka bermarga Ong.
Kakek buyutnya bernama Ong Kha Tjwan, kira-kira demikian ejaannya. Seorang pendatang asal Tiongkok yang kemudian memperistri perempuan pribumi asal Sokaraja, Rantinah.
Dari pasangan ini lahirlah Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin.
Kedua nama ini saya dapatkan belakangan setelah bertemu Pak Alexmeijer Hariman yang kebetulan juga masih cucu Ong Hway Oen.
Keluarga Ong Hway Oen sepertinya cukup dikenal di sekitar tempat ini. Ada tuh warga yang masih mengingat nama Tionghoa kelima anak Ong Hway Oen.
“Tjong Lim, Tjong Wan, La E, Sie Pat, Sie Tat”.
Namun baik Pak Alex ataupun Pak Yayan lebih memilih menyebut nama Indonesia dari orang tua mereka.
Pak Yayan menyebut ayahnya bernama Cokrowardoyo, salah seorang cucu Ong Hway Oen. Ayahnya lahir sekitar 1927 dan menurut cerita belum mengalami pembangunan rumah ini.
Sementara itu Ibu Pak Alex, Anastasia R. Setyawati sudah tinggal di rumah tersebut sejak bayi.
Di titik itu saya mulai bertanya-tanya.
Wah, jangan-jangan foto tadi memang Ong Hway Oen.
Jumlah anak dalam foto membuat dugaan itu terasa mungkin. Kalau foto tersebut adalah Ong Kha Tjwan, bukankah anaknya hanya dua?
Tetapi saya juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Melihat sebuah foto tua memang sering membuat merasa sudah menemukan jawaban, padahal saya sebenarnya baru menemukan pertanyaan baru.
Oh iya, ada hal lain yang membuat cerita rumah ini semakin menarik. Mas Jatmiko Wicaksono, founder Banjoemas.com, merasa semasa kecilnya dulu melihar rumah ini berjumlah dua dan bersebelahan.
Mungkinkah dulu kedua bersaudara Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin tinggal bersebelahan?
Saya tidak mau menduga lebih jauh. Yang pasti dari cerita Pak Alex, Ong Hway Oen kemudian menempati rumah baru di dekat Pasar Badhog, masih di Kelurahan Bancar. Dan rumah lama itu lalu berpindah kepemilikan hingga dibeli oleh Pak Yayan.
Begitulah rupanya sebuah rumah kerap berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Nama pemilik berganti. Penghuninya berganti. Cat dindingnya berganti. Tetapi bangunannya, setidaknya sampai sore itu masih menyimpan jejak orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Saat ini, rumah lama Ong Hway Oen sedang dijual. Artinya sebentar lagi mungkin akan memiliki cerita baru. Saya hanya berharap cerita baru itu tidak harus dimulai dengan membongkar cerita lama. Sebab rumah tua seringkali kokoh menghadapi usia namun rapuh dalam menghadapi kebutuhan pemiliknya untuk membuatnya terasa modern.
Namun baik Pak Alex ataupun Pak Yayan lebih memilih menyebut nama Indonesia dari orang tua mereka.
Pak Yayan menyebut ayahnya bernama Cokrowardoyo, salah seorang cucu Ong Hway Oen. Ayahnya lahir sekitar 1927 dan menurut cerita belum mengalami pembangunan rumah ini.
Sementara itu Ibu Pak Alex, Anastasia R. Setyawati sudah tinggal di rumah tersebut sejak bayi.
Di titik itu saya mulai bertanya-tanya.
Wah, jangan-jangan foto tadi memang Ong Hway Oen.
Jumlah anak dalam foto membuat dugaan itu terasa mungkin. Kalau foto tersebut adalah Ong Kha Tjwan, bukankah anaknya hanya dua?
Tetapi saya juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Melihat sebuah foto tua memang sering membuat merasa sudah menemukan jawaban, padahal saya sebenarnya baru menemukan pertanyaan baru.
Oh iya, ada hal lain yang membuat cerita rumah ini semakin menarik. Mas Jatmiko Wicaksono, founder Banjoemas.com, merasa semasa kecilnya dulu melihar rumah ini berjumlah dua dan bersebelahan.
Mungkinkah dulu kedua bersaudara Ong Hway Oen dan Ong Hway Tin tinggal bersebelahan?
Saya tidak mau menduga lebih jauh. Yang pasti dari cerita Pak Alex, Ong Hway Oen kemudian menempati rumah baru di dekat Pasar Badhog, masih di Kelurahan Bancar. Dan rumah lama itu lalu berpindah kepemilikan hingga dibeli oleh Pak Yayan.
Begitulah rupanya sebuah rumah kerap berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Nama pemilik berganti. Penghuninya berganti. Cat dindingnya berganti. Tetapi bangunannya, setidaknya sampai sore itu masih menyimpan jejak orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Saat ini, rumah lama Ong Hway Oen sedang dijual. Artinya sebentar lagi mungkin akan memiliki cerita baru. Saya hanya berharap cerita baru itu tidak harus dimulai dengan membongkar cerita lama. Sebab rumah tua seringkali kokoh menghadapi usia namun rapuh dalam menghadapi kebutuhan pemiliknya untuk membuatnya terasa modern.
- Anita Wiryo Rahardjo
Pertama terbit: 5 Januari 2018
Penyuntingan terakhir: 2026
Catatan: beberapa bagian tulisan diperbarui dan disunting kembali.


Komentar
Posting Komentar