GEBYEKAN : Pulangnya si Anak Hilang
Saya pernah tidak percaya bahwa orang hilang akibat makhluk halus ternyata bisa kembali dengan perlengkapan rumah tangga.
Dari beberapa yang pernah saya baca, ritual pemanggilan orang hilang juga banyak dilaksanakan dalam berbagai budaya. Di Kalimantan ada Bagandang Nyiru. Kalau di NTT, warga Desa Ataili melaksanakan Smabusabunga.
Bedanya, mereka menganggap orang hilang itu justru sedang diajak jalan-jalan oleh arwah lelulurnya. Sementara di sini, mereka hilang karena diculik makhluk halus yang senang menyesatkan jalan orang.
Caranya? Ditabuh. Warga akan berkeliling kampung dengan membawa tampah, ember, baskom, panci, wajan sembari menyanyikan mantra serupa ini.
Byek byek byek kabarnya mengacu pada bunyi tampah dan kawan-kawannya yang ditabuh. Mungkin di beberapa tempat, kalimatnya akan berbeda. Namun intinya memanggil nama dia yang hilang, terutama menjelang petang.
Byek byek nooong
Byek byek juuuurrr
Sriiiiii balia, bapane olih berkat
Mbok ora kebagian
Byek byek byek kabarnya mengacu pada bunyi tampah dan kawan-kawannya yang ditabuh. Mungkin di beberapa tempat, kalimatnya akan berbeda. Namun intinya memanggil nama dia yang hilang, terutama menjelang petang.
Mereka yang menghilang saat mendekati sandekala ini sering dianggap dibawa makhluk halus.
Mungkin ini yang sering disebutkan orang-orang tua dulu ya. Makhluk halus semacam lampor atau cepet yang suka membawa kabur manusia yang sedang melamun.
Dalam beberapa cerita berantai, mereka yang pernah hilang akibat makhluk halus terkadang tak dapat saya logika.
Ada yang mengisahkan dirinya 'ditempatkan' di atas pohon di dekat rumahnya. Jadi ia sebenarnya menyaksikan warga kampung menabuh alat-alat rumah tangga ini. Sayangnya, dunianya seperti terputus sehingga ia tak bisa berteriak menjawab dan menunjukkan lokasi keberadaannya.
Ada pula yang tak ingat pengalaman luar biasa ini sama sekali. Yang jelas mereka sama-sama seolah masuk ke antah berantah.
Sumber foto Tribunnews Batam
Dari beberapa yang pernah saya baca, ritual pemanggilan orang hilang juga banyak dilaksanakan dalam berbagai budaya. Di Kalimantan ada Bagandang Nyiru. Kalau di NTT, warga Desa Ataili melaksanakan Smabusabunga.
"Di sebagian Purbalingga, ada yang menyebutnya gebyekan atau byek byek nong", begitu cerita Mas SBJ Utomo, salah seorang pelaku seni tradisi.
Intinya tradisi itu sama. Yaitu ritual memanggil kembali orang yang diduga hilang dengan berkeliling kampung membunyikan peralatan rumah tangga.
Bedanya, mereka menganggap orang hilang itu justru sedang diajak jalan-jalan oleh arwah lelulurnya. Sementara di sini, mereka hilang karena diculik makhluk halus yang senang menyesatkan jalan orang.
Terus mengapa harus peralatan rumah tangga? Kalau menurut Mas Utomo itu karena mengikuti apa yang dilakukan generasi sebelumnya saja. "Jaman dulu sirine belum ada. Ditambah karena panik, maka tampah panci ember dan peralatan rumah tangga ini paling mudah untuk diambil dan dibunyikan", kata ketua Sanggar Dresanala ini.
Bukan karena makhluk halus takut pada alat rumah tangga juga ternyata. "Kan tetap saja pakai doa. Permohonan inilah yang membuka tabir sehingga si orang hilang bisa kembali", tambahnya.
Ah, saya jadi ingat cerita beberapa orang yang mengatakan perlunya nyontengi saat merasa tersesat. Nyontengi ini seperti permohonan yang dikemas selayaknya obrolan ringan. Misal: "Sana jauh-jauh, kalian harusnya tidak bareng-bareng aku"
Mas Utomo bercerita jika di tempat tinggalnya Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang sambil berkeliling, warga akan meneriakan koor yang cukup khas.
"Bubur abang bubur putih e wis mateng. Srrriiiiii baliiaaa". Tentunya sembari terus menabuh. Suara keras begini secara nalar akan menyadarkan orang yang semula melamun. Kayak kita aja kalau dikagetkan pas lagi melamun.
Sementara itu pilihan kalimat bubur abang dan bubur putih pun ada maksudnya. Perlambang angkara murka dan kesucian. Dengan kesucian (doa) maka angkara murka (dalam hal ini disasarkan makhluk halus) akan dapat dikalahkan.
Ternyata apa yang pernah saya lihat saat kelas 2 SD ini dinamakan sebagai gebyekan. Sudah lewat berpuluh tahun lalu. Sekarang, seandainya ada orang hilang mungkin bukan lagi teriakan "Sri balia" sembari memukul peralatan rumah tangga. Namun, "Ndang balia Sri" sembari menunjukkan peralatan rumah tangga yang berantakan.
- Anita Wiryo Rahardjo

Komentar
Posting Komentar