Cari Blog Ini

MENITI JEMBATAN LEGENDARIS CURUG SIPUTUT

Agenda travelling saya kali ini adalah Curug Siputut. “What ?!?! Curug lagi ?!?!”, pekik seorang teman. Hehe, betul sekali, curug. 

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Meski dikomplain, tapi kalau saya masih belum bosan. Lha wong ada jargon Purbalingga Kota 1000 Curug kok. Meski tidak tahu juga seribu titiknya dimana saja. Namanya juga jargon.

Nah, dari namanya sih Curug Siputut terbilang famous ya bagi orang-orang disini. Identik dengan “jembatan besi” yang melintang diatasnya.


Berikut hasil googling lokasi curug :

Curug Siputut is a waterfall(s) and is located in Central Java, Indonesia. The estimate terrain elevation above seal level is 357 metres. Variant forms of spelling for Curug Siputut or in other languages: Curug Siputut (id), Curug Siputut.
Latitude: -7°17'7.01"
Longitude: 109°20'1"


JEMBATAN LEGENDARIS



Curug Siputut sebenarnya masuk dalam wilayah desa Serayu larangan, Mrebet. Namun loaksi curugnya juga sangat dekat dengan desa Talagening, Bobotsari. Jadi, monggo sajalah mau pilih dari arah mana untuk menuju lokasi. Yang jelas Curug Siputut ada dalam kawasan Sungai Soso yang membatasi kedua desa tersebut.


Saya sengaja memilih lewat desa Talagening saja, tujuannya sih biar bisa menyeberangi jembatan yang legendaris itu. Dan nggak usah khawatir bakal kesulitan dalam perjalanan kesana. Karena jalannya sudah relatif bagus dan jaraknya pun tidak terlalu jauh dari jalan utama (jalan provinsi deh kayaknya) yang menuju Pemalang. Tapi sih tetep laaah, kalau sudah mendekati titik sasaran, jalannya sudah mulai berubah.




Dari pemukiman terakhir penduduk di desa Talagening, kita akan menemukan lahan yang cukup luas. Biasanya, pengunjung banyak yang memarkir kendaraannya sampai disini. Tapi, biar lebih save lagi, mending titipkan saja kendaraan langsung ke rumah penduduk. Karena lahan tersebut memang bukan area parkir resmi yang memiliki petugas parkir. Nah, dari sini kita tinggal turun saja dan bersiaplah untuk menyeberangi the legend bridge. Hahaha, nggak ada istilah begini deng aslinya. Mata saya dibuat takjub dengan kondisi dibawah sana. Wow !!!


Dua teman sudah mulai berteriak histeris melihat saya bersiap turun. “Jangan turun,..”. Ternyata kekhawatiran mereka ada benarnya juga. Baru saja satu pijakan anak tangga, hati saya sudah berdesir. Saya mulai membayangkan kalau-kalau pijakan saya diatas besi yang terlihat rapuh ini malah justru akan membuatnya patah. Padahal sih kalau sudah dijalanin ya nggak akan patah. Besi ini masih jauh lebih kuat dari saya kok, meski kelihatannya sudah tinggal menunggu “kreeek”nya saja.


Dari jauh saya masih sempat melihat seorang warga juga tengah menyeberangi jembatan dibawah sana. Se-ngeri apapun, inilah jalan yang mau tidak mau harus dilalui warga Talagening untuk menuju Serayu Larangan dengan cepat. Begitupun sebaliknya.


KEKURANGAN AIR

Tidak hanya sebagai jalur transportasi, jembatan inipun memiliki pipa-pipa besar yang menempel di badannya. Pipa ini membantu mengalirkan air ke pemukimanwarga di sekitar curug. Bahkan beberapa warga Talagening yang ikut menemani jalan-jalan kami pun mengatakan jika air dari Curug Siputut ini memang menjadi sumber air warga yang sangat vital.



Keluarga Wiyardi yang menemani kami siang itu mengungkapkan jika tanah Talagening yang dihuninya termasuk daerah yang kering. Bahkan penggalian sumur pun belum tentu menghasilkan. “Ngantos puluhan meter mba, mboten medal acan toyane”, keluhnya. Oleh karenanya mereka pun berinisiatif memanfaatkan air dari Curug Siputut ini. Dan inilah yang membuat banyak sekali pipa air melayang-layang diatas kepala kami. “Jembatan dan selang-selang itu sudah dibangun sejak 1990 dan belum pernah sekalipun diperbaiki”, tutur Wiyardi dalam bahasa Jawa yang kental.




Selain Curug Siputut, mereka pun memanfaatkan air langsung dari mata air yang tak pernah kering yaitu tuk Dandang di Serayu Larangan. Konon, air Curug Siputut pun berasal dari tuk Dandang ini. Keberadaan tuk ini erat kaitannya dengan legenda desa Serayu Larangan. Keberadaan sumber air ini dimanfaatkan untuk irigasi sawah warga yang ada di sekitar curug serta kebutuhan harian warga sekitar. Saat penghujan seperti ini, mereka tidaklah menghadapi kendala berarti. Namun ketika kemarau datang, Wiyardi mengaku sering kesulitan air bersih. Padahal didekatnya ada mata air yang nggak pernah kering. Ironis nggak sih?


Selain menginginkan kecukupan air bersih saat kemarau, Wiyardi pun mengungkapkan keinginannya agar jembatan legendaris segera diperbaiki. Selama ini jembatan tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki. “Menawi langkung sae jembatane kan mangke montor saged nylenther mriko, dados teng Serayune cepet”, ujarnya.

FOTO DARI SEBERANG




Yap, kalau dipikir-pikir dengan kondisi jembatan sekarang ini tentu saja membuat orang awam tak berani melewatinya. Yaaah,.... kayak saya dan teman-teman saya ini. Daripada saya diteriakin mulu suruh balik sama emak-emak heboh, saya pun memilih menikmati suasana air terjunnya dari seberang. Nyesel banget sebenarnya. Karena menurut informasi yang saya peroleh, curug ini sebenarnya cukup aman bahkan bagi mereka yang nggak bisa renang sekalipun. Sayang, siang itu tidak terlihat ada pengunjung lain.




Memang sih, curug setinggi 30 meteran ini hanya ramai dikunjungi saat liburan saja. Pengunjung akan betah menikmati deburan air yang mengalir dari patahan dengan aliran sungai diatasnya. Areal persawahan diatasnya menambah asri view yang ada. Belum lagi suara tonggeret dan serangga lainnya membuat saya luuuuppaaa kalau saya sedang lapar berat. Hahahaha. Kalau lapar khan biasanya emosi ya, nah ini suasananya cukup laah meredakan emosi saya.


Nah, kabarnya sih jembatan legendaris itu bakal segera diperbaiki dalam waktu dekat. Asyiiiikkk. Khan kalau jembatannya sudah lebih baik, saya nggak akan diteriakin teman-teman saya lagi kalau mau menyebrang dan turun untuk merasakan sensasi curugnya secara langsung. Iya nggak ??

Ke PRASASTI CIPAKU yuuukkk

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, bahwa desa Cipaku Mrebet menyimpan banyak potensi cagar budaya yang masih terjaga kondisinya sampai saat ini. Sebagian besar koleksi ini diselamatkan dan ditempatkan di museum milik perorangan "Lokastithi Giri Badra" yang dibuka 24 jam non stop.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Namun yang tak kalah istimewa adalah keberadaan batu raksasa di sebelah museum ini. Batu yang bisa dibilang seukuran gajah gemuk dengan goresan-goresan huruf yang sangat sulit dibaca umum. Warga setempat mengenalnya sebagai Watu Tulis dan secara resmi terdata sebagai Prasasti Cipaku.


Berbicara tentang prasasti, temuan di Cipaku ini jadi terasa menarik. Prasasti biasanya merujuk pada suatu benda yang mengandung tulisan. Nah, seperti kita tahu tulisan ini menjadi penanda berakhirnya masa prasejarah dan dimulainya zaman sejarah. Jadi, bisa dong kita menyebutnya lebih modern dari zaman batu. Karena umumnya dikenal mulai masa klasik Hindu-Budha.


Sampai sekarang, batu dengan prasasti di badannya ini masih terus menjadi misteri. Bagaimana tidak ? Karena susunan huruf Jawa Kuno yang hampir kikis itu, sungguh hanya bisa dibaca para ahli saja. 

Dan penelitian baru sampai sebatas pada sebuah hasil yang diperoleh Drs. Koesen dari Fakultas Sastra UGM Jurusan Arkeologi pada 1983. Drs. Koesen berhasil memecahkan arti tulisan tersebut yang berarti “Indra Wardana Wikrama Deva”, kemungkinan ini adalah nama Raja pada masa lampau. Namun Raja siapa dari kerajaan mana masih belumlah bisa dipastikan.


Tidak sulit mecari keberadaan batu ini. Meski lokasinya agak di dalam, namun tidak jauh dari jalan utama desa Cipaku. Dan berada tepat di samping museum milik Bapak Mintohardjo ini. Ditambah papan petunjuk dan bangunan istimewa membuat kita cepat mengenali keberadaan lokasinya. 

Suasana di sekitar batu tulis ini cukup asri. Beberapa pohon besar serta aliran sungai yang tak jauh darinya semakin menghadirkan nuansa sejuk. Btw jadi inget ya kata salah seorang arkeolog kota ini, Adi Purwanto. Menurutnya, sebagian besar penemuan artefak adalah didekat sungai atau sumber mata air lainnya. Hal ini dikarenakan air adalah sumber kehidupan yang memungkinkan untuk menjadi area tinggal serta menetap bagi manusia. Dan saat mereka menetap itulah, muncul kebudayaan yang salah satunya menghasilkan peninggalan fisik yang kita kenal sebagai warisan budaya bendawi atau cagar budaya saat ini.


Menurut beberapa informasi, batu ini konon mengandung daya magnet yang paling kuat se-Nusantara. Bahkan jarum kompas petunjuk arah jika didekatkan ke watu tulis maka akan bisa berbalik arah 180 derajat. Hal ini kemungkinan dikarenakan batu ini berasal dari pecahan meteor. 

Dan, saya pun mencoba meletakkan sebuah kompas kecil diatas batu ini. Hasilnya ?? Saya baru tersadar kalau ini adalah kompas rusak yang sudah tidak lagi bisa dipertanggungjawabkan arahnya. Hmmmfffttt.


Menurut warga sekitar lokasi, Watu Tulis cukup banyak dikunjungi. Selain untuk keperluan belajar sejarah maupun wisata ada pula pengunjung dengan 'keperluan khusus' atau ritual. Tak heran ditemukan banyak dupa di sekitar prasasti.


Secara pengelolaan, Watu Tulis tercatat dibawah pelindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Sepertinya sebagai satu-satunya prasasti di Purbalingga memang tepat Watu Tulis dibawah pengawasan lembaga tersebut. Semoga selanjutnya bisa dapat materi kajian lanjutan ya, supaya tidak lagi penasaran dengan Indra Wardhana Wikrama Deva

Sejumlah Bangunan Tua di Purbalingga

Saat bicara tentang bangunan tua, maka terbayang sebuah tempat yang dibangun saat zaman Belanda atau sebelum Indonesia merdeka dengan arsitektur yang khas. Bisa jadi bergaya indisch atau malah rumah joglo.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Tidak hanya kota kuna di Jalan Jendral Sudirman Timur, pusat kota Purbalingga masih banyak menyimpan pesona bangunan tua ini. Mari berputar di sekitaran Alun-alun. Karena selain Balai Muslimin masih ada lagi nih.  

Bermodal setumpuk kertas yang pernah saya peroleh dari Museum Soegarda Poerbakawatja berisi informasi mengenai bangunan peninggalan kolonial di Purbalingga. Ada sekira 30 bangunan. Sebut saja di Jalan Dipokusumo, Jalan Letkol Isdiman sampai jalur utama Jalan Jendral Sudirman. Ada yang masih ditinggali. Dan tidak sedikit pula tanpa berpenghuni dengan kondisi cukup memprihatinkan.

Pertama kita pilih bangunan pribadi dulu ya. Di Jalan Dipokusumo sejumlah rumah yang dibangun pada sekira 1920-an masih dapat ditemui. Dulu, wilayah ini disebut dengan Kolektur-an. Istilah kolektur merujuk pada jabatan Kontrolir yang pada masa Hindia Belanda bertugas menjadi humas antara pemerintahan mereka dengan pribumi. Umumnya kontrolir berasal dari kalangan priyai lokal. Mulai dari pegawai negara, dokter, sampai pengusaha.


Ini adalah salah satu bangunan tua yang ada di Jalan Dipokusumo. Rumah ini menghadap timur dan bergaya villa. Dekat pertigaan Kirana. Atapnya limasan dengan dua puncak atap. Berandanya terbuka tanpa atap penutup. Serta memiliki loster berbentuk persegi panjang. Foto diambil pada sekira 2011. Karena saat ini kondisinya agak memprihatinkan dan rasanya tidak berpenghuni, jadi agak kurang estetik saja untuk diposting. Sayang, belum diketahui siapa priyai yang memiliki rumah ini. Tapi sepertinya bukan milik Koletur tadi sih. 

Beralih ke sisi barat dari bangunan Pendopo Kabupaten, ada bangunan tua di sebelah Mahesa Jenar yang tercatat sebagai bangunan diduga Cagar Budaya. Rumah Mo Yong kan ini ? 


Menurut data, rumah berukuran 17,5 × 18 meter ini dibangun pada sekira 1930. Memiliki bangunan induk dan paviliun. Atapnya dari genteng, berbentuk limasan dengan beberapa puncak bubungan. Bagian depan lebih menonjol dengan pilar berbentuk balok.  Bagian jendela sebenarnya berupa kaca grafir warna-warni namun ditutup kepang bambu sehingga tidak terlihat dari luar. Tapi masih terlihat jika dari dalam. Saat ini rumah tengah disewa untuk kantor ekspedisi. 

Rumah ini tercatat sebagai milik Kwee Lie Keng, salah seorang pengusaha sukses keturunan Tionghoa. Bisnisnya ada di bidang perkebunan sampai tekstil. Ia punya perkebunan teh, tembakau sampai usaha tenun. Tapi, masih penasaran juga kira-kira Babah Lie Keng dan Mo Yong memiliki kaitan apa ya ?

Sepertinya permasalahan serupa pada hampir semua bangunan diduga cagar budaya milik perorangan adalah tentang nilai sejarahnya. Pemiliknya rata-rata tertutup. Atau masih ada perasaan tabu untuk mengetahui harta orang lain juga ya ? Padahal kalau menurut teman-teman yang menguasai arsitektur bangunan tersebut punya khas dari suatu era. 

Sekarang kita beralih ke gedung yang berfungsi untuk bangunan publik. Baik milik pemerintah maupun non pemerintah.


Ini difoto dalam kondisi pusat kota mati listrik malam hari beberapa pekan lalu. Bangunan ini ada di kawasan Pendopo Dipokusumo Purbalingga. Tepatnya di Jalan Onje atau di belakang kantor pos. Saat ini difungsikan sebagai kantor yang mengurusi keuangan daerah.

Sebenarnya sudah tidak terlalu kentara bentuk klasiknya dari mata awam seperti saya. Bangunan sudah mengalami perombakan berupa tambahan lantai dua yang disangga sejumlah kolom besar di bagian bawah. Kabarnya bangunan asli memiliki bentuk letter T ke belakang. 

Secara kesejarahan bangunan ini menjadi diduga cagar budaya karena memiliki sejarah tersendiri. Bangunan ini pernah menjadi Kantor Dewan (seperti DPRD) pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda. Dengan demikian bangunan diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-20. 

Beralih ke bangunan publik milik non pemerintah ada gedung pertemuan bernama Bina Sejahtera. Kabarnya saat ini dibawah pengelolaan yayasan milik Gereja Kristen Indonesia termasuk SD Kristen Bina Harapan.

 

Bina Sejahtera sudah dibangun sejak 1930’an. Punya model doro gepak pada bagian ujung atapnya. Atapnya berbentuk pelana dan bertuliskan “BINA SEJAHTERA” pada puncakya. Bangunan berbentuk memanjang ke samping. Belum diketahui awalnya difungsikan sebagai apa. Kalau saat ini sih sedang disewakan pada salah satu gerai fashion. Wah, padahal jaman SMP dulu kalau ada kegiatan sering banget disini.

Oh iya, selain itu ada juga SMP N 1 Purbalingga. Almamater kebanggaan ini ternyata juga sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Sebagai penghuni sampai 1999, kami semua tahu bahwa ada sejumlah kelas dengan bentuk berbeda. Ruangannya lebih dingin karena temboknya tebal, jendela kayunya besar dan tinggi model kupu tarung dan atapnya model limasan. Dulu ruangan ini dimiliki oleh kelas 1C s.d. 2E dengan bentuk L. Kabarnya dulu sekolah ini bekas MULO. Sayangnya tidak pernah disampaikan saat sekolah dulu.

Bagaimana dengan bangunan yang lain ? Mungkin lain kesempatan saya perlu meluangkan waktu untuk jalan-jalan lagi nih.

AYO DOLAN MARING CURUG AUL

Jelang akhir pekan. Saatnya menetapkan destinasi wisata. Tak usah jauh-jauh ke luar kota. Cukup di Purbalingga saja. Apalagi disini tersimpan kekayaan alam tersembunyi yang mempesona. Salah satunya adalah Curug AUL.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana

Yap, Purbalingga memang dikaruniai alam yang indah. Wilayah utara Purbalingga yang didominasi dataran tinggi tak hanya menyimpan peninggalan prasejarah namun juga yang nyata-nyata terlihat. 



Banyaknya curug alami. Bahkan sebutan kota dengan seribu curug pun tersemat. Nah, kalau menurut wikipedia curug atau air terjun adalah arus air yang mengalir melalui formasi bebatuan yang mengalami erosi dan jatuh ke bawah dari ketinggian. Ketinggian antara curug satu dengan lainnya akan berbeda. Ada pula yang berkarakteristik tunggal dan tak sedikit yang sebaliknya. Bertingkat dan berkelok. Lalu bagaimana dengan curug Aul ini ? Okay, let see.

1000 CURUG

Curug Aul terletak di dusun Pucung Rumbak, desa Tanalum, kecamatan Rembang. Tanalum adalah salah satu desa yang memiliki sejumlah curug menawan. Bahkan, konon ada 7 curug yang juga sering dikunjungi. Sebut saja curug Panyatan, Karang, Lampeng, Gogor, Sendang, Nagasari, dan curug Aul. Musim kemarau seperti sekarang sepertinya akan lebih tepat untuk kita berpetualang di alam terbuka. Apalagi medan yang dilalui pun cukup menguras energi.

Untuk menuju Curug Aul, saya mengambil rute dari Purbalingga - Kaligondang - Pengadegan - Bantarbarang - Losari - Tanalum. Dan ketika sudah memasuki Tanalum, kita hanya tinggal mencari lapangan Dusun Pucung Rumbak. Dari sini, petualangan akan segera dimulai. Tenang saja, jalan sudah aspal kok.

Penunjuk arah ke curug sebenarnya sudah terpampang di dekat lapangan. Kita bisa mengikuti anak panahnya. Tapi kalau kurang yakin, bisa saja meminta bantuan pemuda setempat untuk mengantar. Kebetulan disana juga sudah terbentuk Pokdarwis. Siang itu, saya memilih jalan-jalan saja dengan beberapa teman tanpa pemandu. Arahan warga sempat membuat kami bingung. Ada yang menyebut langsung saja naik ke bukit di dekat lapangan, namun ada juga yang mengarahkan melalui pematang di sebelah lapangan. Mana yang benar ? Mending coba saja keduanya.

Karena jalan lurus mengarah ke bukit, maka kami memutuskan naik terlebih dulu. Ada jalan setapak, namun kelihatannya sebagian sudah rusak. Jalan ini hanya satu-satunya ke atas. Lebih baik sih jalan kaki, sekalian hiking. Kalau nekat pakai sepeda motor, ada beberapa tanjakan yang cukup berbahaya. Selain sempit, jalanan ini juga berbatasan dengan jurang disalah satu sisinya. Kita juga akan melewati kebun warga dan hutan pinus Perhutani yang memberikan kesejukan tersendiri sepanjang perjalanan.


Ternyata benar, tempat ini memang sudah diwacanakan sebagai objek wisata baru. Selain jalan halus di depan sana, ada juga pos pemberhentian. Namun ada juga yang menyebutkan sebagai pos pemantauan hutan. Entahlah mana yang lebih tepat. 

Intinya disini kita bisa istirahat juga kok. Tidak jauh dari pos pertama, saya dibuat geli dengan terdengarnya "konser" dangdut dari rumah warga yang jauh dibawah sana. Haha, goyang dulu baanng. Nah, tidka jauh dari pos pertama, kita bisa menyaksikan pemandangan Purbalingga dari atas. Luar biasa. Dan di titik ini yang tidak jauh dari pos kedua, telah diwacanakan sebagai camping ground. Seru juga nih

Nah, didekat pos kedua kita akan bertemu dua jalan kecil. Yang satu menanjak dan menuju ke mata air Kali Aul. Sedang yang kedua, jalanan menurun itu ternyata menuju ke titik dimana curug Aul sudah ada didepan mata.

KEDUNG KEMBAR


Saya dan teman-teman memilih langsung ke curug saja. Air terjun bertingkat dengan kedung jernih dibawahnya membuat kami takjub pada ciptaan-Nya ini. Dari sini, dapat saya mengerti mengapa warga setempat kerap menyebutnya sebagai kedung kembar. Ternyata di bawah mata air juga terdapat kedung serupa dengan kedung yang di depan mata ini. Jadi ada dua air tejun dan ada dua kedung. Seperti kembar. Oya, bicara soal namanya, bagi sebagian orang Jawa pasti tau ya jika aul itu berarti anjing hutan. Konon memang dulunya ditempat ini banyak terdapat binatang tersebut. Beruntung, sepanjang jalan kami hanya bertemu sejenis primata dan tupai saja. *Legaaaaa.

Curug ini belakangan ramai dikunjungi para pecinta canyon. Biasanya pada hari-hari tertentu mereka akan menantang derasnya air terjun setinggi sekitar 50 meter ini. Cocok banget untuk para pecinta petualangan. Dibawah curug Aul ini konon masih berderet curug lain yang tak kalah indah. Benarkah ?

BANYAK CURUG

Dari kejauhan pesona air terjun lain tampak menggoda kami untuk mencoba rute lain

Karena tanpa persiapan matang, akhirnya kami memutuskan turun dan mencoba mencari curug lain melalui jalur pematang. Sebuah pintu bambu mengantarkan kami ke lorong petualangan berikutnya. (Tepat dibawah bukit ini). Jalannya sudah semakin membingungkan. Karena tanpa penunjuk arah sama sekali. Namun dari suara gemericik air, kita bisa menerka-nerka dimanakah curug itu bersembunyi. 

Beberapa warga menyarankan kami untuk mencari curug Nagasari atau yang mereka sebut dengan curug Tinggi, Kedung Banger dan Goa Macan. Namun karena saat itu jalur ke Curug Nagasari longsor, kami memutuskan berganti arah dan menemukan beberapa curug mini. Kedung Banger dan Goa Macan tidak dapat kami temukan. Sepertinya lain kali kami harus benar-benar menggunakan jasa pemandu.

Katanya kalau kami teruskan rute ini, bisa sampai ke curug Aul lagi.

Nah, yang ini curug apa ya ?

Ya, wacana Tanalum sebagai Desa Wisata sepertinya masih perlu sentuhan sana-sini lagi. Jangan sampai wisatawan dadakan seperti kami-kami ini harus kebingungan mencari lokasi. :)

Mampir Aaaahhh Ke PURBALINGGA ART & CULTURE FESTIVAL

Yes, today is saturday. Waktunya jalan-jalan. Hari ini targetnya adalah ke Purbalingga Art & Culture Festival (PACF). 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Sebenarnya gelaran PACF sendiri sudah hampir kelar. Event perdana garapan KEMAS (Kelompok Masyarakat Seni) ini sudah dimulai sejak tanggal 11 dan berakhir pada 14 September 2014 di GOR Mahesa Jenar Purbalingga. Sesuai namanya, event ini menampilkan beberapa bentuk kreasi seni. Mulai dari teater, seni rupa, grafiti, seni musik sampai tari tradisional dan juga dance.

Ruang khusus grafiti

Pameran Seni Rupa dan Beberapa Karya yang Dipajang

 


Ditemui di sela-sela persiapan acara siang ini, ketua panitia Didik Wibowo mengungkapkan jika Purbalingga Art & Culture Festival ini dibuat dalam rangka menjembatani bentuk kreasi seni yang beragam dalam satu ruang. Selama ini kecenderungan event di Purbalingga hanyalah tematic satu macam seni saja. Namun dengan adanya PACF ini, diharap seluruh pelaku seni bisa saling mengenal dan mengetahui potensi seni yang ada di Purbalingga.

Pada hari pertama, PACF menyuguhkan workshop teater dan 80 % dihadiri para pelajar. Panitia menghadirkan para expert dari ISI Jogjakarta yang membagikan materi seputar penyutradaraan, karakter peran, tata panggung sampai kostum. Tidak tanggung-tanggung, workshop ini dimulai sejak jam 9 pagi sampai 3 sore.

Hari kedua, parade tek-tek dan tari kontemporer hadir sebagai rangkaian opening ceremony Purbalingga Art & Culture Festival. Dilanjutkan dengan dilangsungkan festival band pelajar dan festival teater pada waktu yang berbeda. Yang unik, masyarakat pun disuguhi performing grup teater Semar Sakti Studio Jogjakarta yang bermain secara outdoor. Persembahan spesial ini juga masih akan terus berlangsung sampai malam minggu nanti. Sementara di hari ketiga PACF masih akan terus melanjutkan serangkaian parade musik dan akan ditutup pada hari minggu dengan parade musik reggae. Nah, untuk masyarakat umum, bisa juga menikmati bermacam bentuk, goresan dan warna dalam pameran seni rupa yang diadakan penuh empat hari.


Ini souvenir yang bisa diperoleh dari PACF

PACF ini diagendakan akan menjadi sebuah event tahunan di Purbalingga. "Tapi untuk waktu kami belum memutuskan apakah akan September lagi atau bukan. Sedangkan untuk venue, nantinya akan terus berpindah, tapi masih dalam batas wilayah Kabupaten Purbalingga", ungkap Didik yang juga mahasiswa ISI Jogjakarta ini. Dan Didik berharap, gelaran berikutnya akan lebih menyatukan kembali seluruh elemen pegiat, pecinta dan penikmat seni yang ada di Purbalingga.

Dari Helatan MOVIE DAY ACFFEST 2014 di Purbalingga

Movie Day Acffest di Purbalingga seru banget. Lumayan nih pas dateng, ternyata banyak yang lagi ikutan #SelfieJujur. Seru juga. Bahkan pasukan unyu-unyu ini pun nggak ketinggalan. Tau deh, anak siapa yang jelas saluuuut ama gayanya. Sampai-sampai "Say NO to Corruption"nya nggak pengen dilepas. Hihihihi, okay Nak, ingat yah kalau dah gedhe harus tetap "Say NO to Corruption" yaaaah...






ELOKNYA GUNUNG SELOK

N-Y-A-S-A-R. Inilah susunan huruf paling akrab dengan saya. Sampai-sampai ada seorang teman yang sering bergurau, "Kalau nggak nyasar berarti nggak jalan-jalan bareng kamu". Sungguh, kenyataan yang menyakitkan. Hiks. 

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


Dan (karena suratan sering nyasar ini jugalah) rencana jalan-jalan ke pantai pun berubah menjadi omelan teman-teman gegara harus naik turun bukit. Karena ternyata kami malah menyusuri Taman Wisata Alam Gunung Selok, Cilacap.


Okay,... (tarik napas dalam-dalam) jangan tanya bagaimana awalnya bisa sampai ke tempat ini. Intinya kami hanya manut saja mengikuti arahan rute dari seorang kondektur bus. Dia hanya menyebut, "Pantainya ada di bawah sana". Kami baru tersadar jika kami bukan menuju pantai yang direncanakan, saat melihat tulisan "Taman Wisata Alam Gunung Selok". Tapi berhubung sudah bayar tiket ya sudah, laaannjjjuuutttt. Lagipula driver kami tidak sukses membalikkan kendaraan, jadilah jalan terus pantang balik.

BANYAK PINTU

Usai puas melaju di jalanan sempit berkelok, kendaraan harus berhenti di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai terminal. Lumayan luas. Dari sini kami dibuat bingung, karena ada beberapa pintu yang terlihat. Beruntung ada sesama pengunjung yang menunjuk sebuah pintu gapura untuk kami lalui menuju ke pantai. "Pantai ?????!!!". Fiiiuuuuhh, legggaaa.. ternyata beneran ada pantainya. "Turun aja mba, ikuti jalan. Pantainya dibawah sana."


Tangga menurun mengantarkan petualangan tak terduga ini. Anak tangga yang pendek dan permanen membuat saya tenang, karena sebagian dari kami menggunakan high heels. Ya khan saya nggak tau juga ya mau sampai ke tempat ini. Sebenarnya ada beberapa persimpangan di sepanjang rute yang dilewati, namun kami disarankan mengikuti papan petunjuk arah bertuliskan : KE GUA. Sebagian teman sudah melotot mendengar info ini. "Mana pantainya ? Kok malah gua ?", cecar mereka. Daripada habis diomelin, mending saya turun dulu. Tak disangka jalan permanen sudah mulai berganti dengan anak tangga tanah atau batuan alam. Mau nggak mau sendal yang sudah belepotan pun saya ikhlaskan masuk ke dalam tas supaya nggak repot.

Dari beberapa titik, deburan ombak sudah mulai terdengar. Alhamdulillah, matur sembah nuwun Gusti... akhirnya. Dari kejauhan pemandangan menawan tampak memanjakan mata. Elok. Seperti namanya Selok.


Gunung Selok sebenarnya adalah bukit yang terletak di desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Memiliki ketinggian sekitar 150 mdpl dan merupakan salah satu dari area hutan yang dikelola Perum Perhutani KPH Banyumas Timur.


Berwisata di tempat ini benar-benar mengasyikan (selama tidak salah kostum juga, hehe). Jalan setapak menurun, berkelok dan (sesekali) licin bukanlah rintangan berat untuk mengejar pemandangan indah dibawah sana. Tampak rerimbunan hijau membingkai sungai, gunungan pasir dan ombak-ombak kecil yang saling berkejaran seolah terus memanggil kami agar cepat sampai.

Saat perjalanan turun inilah terlihat beberapa pintu masuk menuju petilasan, makam ataupun gua alam yang memang ada di area Selok. Petilasan yang cukup ternama adalah Petilasan Jambe Lima dan Jambe Pitu yang sudah disounding sejak pintu masuk tadi. Tidak hanya itu, benteng peninggalan Jepang pun sudah menyapa sejak masih dalam kendaraan tadi. Kabarnya ada sekitar 25 benteng peninggalan Jepang di tempat ini.

JAMBE LIMA PENJAGA WIJAYA KUSUMA

Menurut informasi yang didapat dari http://pariwisata.cilacapkab.go.id/, Padepokan Jambe Lima atau yang kadang disebut juga Cemara Seta temukan oleh Eyang Mara Diwangsa yang masih ada kaitan darah dengan Bupati Cilacap Pertama, Cakrawerdaya.

Sementara itu berdasar folklore yang dipercaya masyarakat setempat, Padepokan Jambe Lima dahulunya adalah markas para “penjaga” Kembang Wijaya Kusuma. Bunga yang menjadi lambang Kabupaten Cilacap ini juga dipercaya sebagai lambing kebesaran Raja-raja Jawa. Nah, sesuatu yang dikeramatkan pastilah tidak mudah untuk memperolehnya. Begitupun dengan bunga Wijaya Kusuma ini. Untuk memperolehnya haruslah mendapat ijin pemimpin para pengawal sang bunga, yaitu Kyai Jambe Lima.


Nah, dikisahkan ada beberapa Raja yang menginginkan kembang tersebut. Mereka adalah Adipati Anom, Pangeran Puger dan Trunojoyo yang masing-masing mengutus orang kepercayaannya untuk menemui Kyai Jambe Lima. Namun ketiganya ditolak dengan alasan belum tepat waktu. Ketiga utusan itu tidak mau menerima apapun penjelasan dari Kyai Jambe Lima hingga akhirnya terjadilah pertempuran yang menewaskan ketiga utusan serta Kyai Jambe Lima dan empat orang anggotanya. Dan sebagai penghormatan atas peristiwa tersebut dibangunlah Padepokan Jambe Lima dan Jambe Pitu. Di depan petilasan Jambe Lima ini terdapat bangunan komplek persembahyangan atau Vihara Agung Sang Hyang Jati untuk penganut Budha. Gunung Selok memang lebih identik dengan objek wisata religi. Tak heran ya, karena disini banyak tempat peribadatan ataupun petilasan untuk sekedar menepi serta berziarah bagi para pemeluk Budha, Hindu, Islam maupun para Penghayat.

JAMBE PITU, TEMPAT ZIARAH

Padepokan Jambe Pitu atau pertapan Ampel Gading terletak diatas Jambe Lima, tepatnya di puncak tertinggi Selok. Tempat yang di renovasi oleh Presiden Soeharto ini banyak di kunjungi peziarah. Dianggap sangat keramat karena ada 3 petilasan Sang Hyang Wisnu Murti dan dua pusakanya yaitu Kembang Wijayakusuma atau Eyang Lengkung Kusuma dan Cakra Baskara atau Eyang Lengkung Cuwiri.

Selain Padepokan Jambe Lima dan Jambe Pitu masih banyak tempat yang ramai dikunjungi peziarah pada hari hari tertentu seperti Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon serta di bulan Syura yaitu Goa Rahayu, Goa Naga Raja, Goa Bolong, Goa Paku Waja , Goa Putih, Goa Grujugan, Goa Tikus, Goa Lawa, dan Kaendran serta makam Kyai Sumolangu yang ada diatas benteng peninggalan Jepang.

Namun karena tujuan awal kami adalah PANTAI. Maka pintu-pintu masuk ke beberapa tempat itu cukup kami pandang saja. Mungkin lain waktu bisa lah kesana. Dan sekarang saatnya menuju Pantai Sodong yang sudah menunggu didepan mata.



PANTAI SODONG


Salah satu pemandangan unik yang sudah terlihat dari atas adalah beberapa orang yang menyeberangi sungai Selok sebelum mencapai bibir pantai. Sempat tidak yakin, tapi ketika didekati sungai-sungai ini tidak sepenuhnya dalam. Beberapa lokasi bahkan hanya semata kaki orang dewasa.


Sayang, kurang bersih pantainya

Saat datang, banyak siswa-siswi SMP yang tengah hiking di Selok inipun lanjut beraktivitas di Pantai Sodong. Tak ketinggalan juga beberapa pria tengah memancing. Itu artinya, pantai ini cukup bersahabat. Meski terkadang ganas. Bagaimanapun pantai ini terletak di jalur Samudera Indonesia khan. Sayangnya, karena beberapa teman tak sanggup turun dengan high heelsnya, saya pun harus merelakan sunset di Pantai Sodong yang konon juga menambah mistis suasana di Selok ini. Yaaaa, maybe next time bisa kembali lagi.

Cat : Foto diambil dengan kamera ponsel (Hiks, kameraku cepat pulih ya,...)

NYUWUN AGUNGING PANGAKSAMI


Satu hal yang saya tunggu-tunggu dari Lebaran adalah “SUNGKEMAN”. Yes, selain plong karena (pada akhirnya) mampu juga mengungkapkan segala perasaan bersalah pada orangtua, rasa dag-dig-dug belibet salah ngomong pun pasti menghampiri.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Di keluarga inti, usai melaksanakan Sholat Ied, maka sungkeman perlu dilaksanakan sebelum sarapan menu Lebaran & bersilaturahmi ke tetangga. Yang seru adalah kami harus menggunakan bahasa Jawa krama. Yeah.

Jadilah sejak semalam sebelumnya kami kerap menghapal terlebih dahulu naskah sungkeman dari masa ke masa. Hahaha. Seperti ini : “Bapak / Ibu’/ Embah, kulo ngaturaken sembah sungkem, sedoyo lepat nyuwun agunging pangapunten”. Hihihi, meski sudah merupakan mantra menahun, namun bagi sebagian keluarga yang (mayoritas) tinggal di luar JaTeng hal ini sangatlah merepotkan. So, mereka akan sungkeman dengan berkata “$#^&**&*&^%^^%^$#....pangapunten”.

Wuiih,.. apa ya afdol ? Hehe. Makanya, sangat tidak mengherankan jika setiap Lebaran selain sungkeman, bicara nggrenyem adalah tradisi.

“Sugeng Riyaya ‘Aidul Fitri 1435 Hijriyah”
foto dimabil dari sini

Hembusan Angin di Siangin

"Kapan-kapan ke Curug Siangin lagi yuk", sms salah seorang teman lama ini seperti menyeret memori saya pada suasana sejuk dan hamparan bianglala indah di salah satu sudut Purbalingga. Wuuuaah, jadi pengen kesana lagi nih.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana


Meski namanya belum seterkenal Curug Nini ataupun Curug Cipothat, namun banyak hal menarik yang bisa kita dapatkan dari Siangin. Jangan bayangkan hal menarik ini adalah hal mistis berupa penampakan (mungkin) hantu seperti yang didapat ketika kita googling kata Siangin. Lalu apa dong ? 

Selain keindahan alamnya, kondisi medan yang cukup sulit juga menjadi tantangan tersendiri. Ditambah kabar tentang masih adanya babi hutan yang sesekali nyelonong di lokasi akan menjadi pemicu adrenalin. Padahal sih kalau apes ketemu binatang ini ya paling-paling cuma bisa pingsan. Hehehe. Tapi sebenarnya nggak aneh juga kalau sampai ada babi hutan. Lha wong lokasinya memang cukup jauh dan berada di "tuk" (mata air)nya Sungai Klawing kok.


Sempet mampir beli cabai dulu. Hehehe, beginilah kalau jalan-jalan sama emak-emak…..

Suasana di perjalanan.

Curug Siangin terletak di desa Tlahab Kidul Kecamatan Karang Reja.Tepatnya di Blok Sigluthak, dukuh Siletreng, Tlahab Kidul. Dan seperti umumnya setiap perjalanan ke sebuah curug, tidak akan ada lift ataupun eskalator yang mempermudah kita. Yang ada hanyalah jalan setapak. 

Dua tahunan lalu ketika kesana, setapak ini sempat menipu saya dan teman-teman. Kami pikir jalan ini akan mengantar sampai depan curug. Nyatanya, setapak ini hanya sepanjang sepuluh meteran saja. Jarak pendek ini tak terpantau dengan baik lantaran harus naik turun juga.

Gemana mau lari coba kalau babi hutan datang di lokasi begini ?


Dan petualangan benar-benar dimulai ketika kami harus menginjakkan kaki diantara pematang sawah dan ladang warga. Seketika bayangan akan munculnya babi hutan membuat saya bergidik ngeri. 

Beberapa skenario pun terpikir. Mulai dari terjun kesungai dibawah pematang yang menjadi rute kami sampai naik pohon kelapa yang tampak beberapa di sepanjang perjalanan. "Kalau yang didepan ketemu babi hutan larinya jangan lurus ya tapi belak-belok", teriak salah seorang teman yang dibarisan belakang. Dieeeewww, pikiran pun makin jadi nggak karuan. Tapi irama jatuhnya air membuat kami semakin bersemangat melawan rasa takut kalau saja bertemu babi hutan. Percikannya yang mengenai batu membiaskan embun yang menciptakan efek sejuk di sekitar curug. Dan ini sudah bisa kami rasakan. 

Tak terasa kurang lebih hanya berjarak seratus meter dari jalan setapak tadi, kami sudah mendapati hamparan pemandangan indah yang nyata di depan mata. (Haha, saking lumayan beratnya perjalanan, temen saya -difoto sebelah ini- memilih sampai belakangan dengan sedikit merayap.)


Air terjun setinggi sekira 15 meter yang mengalir diantara tebing berwarna hitam pekat membawa aura damai dan segar. Pantulan mentari menghasilkan efek pelangi yang muncul dibawah air terjun. Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk mendekat. Beruntung sebuah batu berukuran sedang memperingatkan langkah saya untuk tetap waspada. Ternyata kami harus bertemu bebatuan besar dan beberapa terasa sangat licin di kaki.

Udara di sekitar curug terasa cukup kencang berhembus. Dan menurut Barwono, salah seorang seniman setempat yang juga mengantarkan jalan-jalan kami, faktor inilah yang kemudian membuatnya dinamakan Siangin. Curug Siangin merupakan hasil pertemuan Sungai Klawing dibagian atas dengan Sungai Sibaya. Waaah, dimana-mana sepertinya saya masih harus bertemu dengan Sungai Klawing ya.

Seperti halnya sebuah tempuran atau lokasi pertemuan antara minimal dua sungai, Siangin pun kerap menjadi tempat ritual bagi mereka yang mempercayai. Konon, mereka yang mandi pada malam-malam Kliwon di tempat ini akan memperoleh keberuntungan. Mulai dari jodoh, penghasilan dan lainnya. Dududududu, kalau nyari jodoh disini kira-kira saya ketemunya siapa ya ? :P



Dua teman ini ngajakin mampir dulu ke sungai Klawing di bagian atas. Kecil ya ? Eh, kok kenapa saya nggak difotoin juga sih ????!!!! Giliran difoto cuma dapet punggung *Tersungut-sungut.


Memang sih curug ini cukup ramai dikunjungi muda-mudi saat weekend. Namun ketiadaan juru pelihara membuat kita kesulitan jika ingin mendapat informasi lebih dari Curug ini. Tapi yang jelas sih, jadi pengen kesana laaaaagggiiiiiiii.

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...