Langsung ke konten utama

MENITI JEMBATAN LEGENDARIS CURUG SIPUTUT

Agenda travelling saya kali ini adalah Curug Siputut. “What ?!?! Curug lagi ?!?!”, pekik seorang teman. Hehe, betul sekali, curug. 

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

Meski dikomplain, tapi kalau saya masih belum bosan. Lha wong ada jargon Purbalingga Kota 1000 Curug kok. Meski tidak tahu juga seribu titiknya dimana saja. Namanya juga jargon.

Nah, dari namanya sih Curug Siputut terbilang famous ya bagi orang-orang disini. Identik dengan “jembatan besi” yang melintang diatasnya.


Berikut hasil googling lokasi curug :

Curug Siputut is a waterfall(s) and is located in Central Java, Indonesia. The estimate terrain elevation above seal level is 357 metres. Variant forms of spelling for Curug Siputut or in other languages: Curug Siputut (id), Curug Siputut.
Latitude: -7°17'7.01"
Longitude: 109°20'1"


JEMBATAN LEGENDARIS



Curug Siputut sebenarnya masuk dalam wilayah desa Serayu larangan, Mrebet. Namun loaksi curugnya juga sangat dekat dengan desa Talagening, Bobotsari. Jadi, monggo sajalah mau pilih dari arah mana untuk menuju lokasi. Yang jelas Curug Siputut ada dalam kawasan Sungai Soso yang membatasi kedua desa tersebut.


Saya sengaja memilih lewat desa Talagening saja, tujuannya sih biar bisa menyeberangi jembatan yang legendaris itu. Dan nggak usah khawatir bakal kesulitan dalam perjalanan kesana. Karena jalannya sudah relatif bagus dan jaraknya pun tidak terlalu jauh dari jalan utama (jalan provinsi deh kayaknya) yang menuju Pemalang. Tapi sih tetep laaah, kalau sudah mendekati titik sasaran, jalannya sudah mulai berubah.




Dari pemukiman terakhir penduduk di desa Talagening, kita akan menemukan lahan yang cukup luas. Biasanya, pengunjung banyak yang memarkir kendaraannya sampai disini. Tapi, biar lebih save lagi, mending titipkan saja kendaraan langsung ke rumah penduduk. Karena lahan tersebut memang bukan area parkir resmi yang memiliki petugas parkir. Nah, dari sini kita tinggal turun saja dan bersiaplah untuk menyeberangi the legend bridge. Hahaha, nggak ada istilah begini deng aslinya. Mata saya dibuat takjub dengan kondisi dibawah sana. Wow !!!


Dua teman sudah mulai berteriak histeris melihat saya bersiap turun. “Jangan turun,..”. Ternyata kekhawatiran mereka ada benarnya juga. Baru saja satu pijakan anak tangga, hati saya sudah berdesir. Saya mulai membayangkan kalau-kalau pijakan saya diatas besi yang terlihat rapuh ini malah justru akan membuatnya patah. Padahal sih kalau sudah dijalanin ya nggak akan patah. Besi ini masih jauh lebih kuat dari saya kok, meski kelihatannya sudah tinggal menunggu “kreeek”nya saja.


Dari jauh saya masih sempat melihat seorang warga juga tengah menyeberangi jembatan dibawah sana. Se-ngeri apapun, inilah jalan yang mau tidak mau harus dilalui warga Talagening untuk menuju Serayu Larangan dengan cepat. Begitupun sebaliknya.


KEKURANGAN AIR

Tidak hanya sebagai jalur transportasi, jembatan inipun memiliki pipa-pipa besar yang menempel di badannya. Pipa ini membantu mengalirkan air ke pemukimanwarga di sekitar curug. Bahkan beberapa warga Talagening yang ikut menemani jalan-jalan kami pun mengatakan jika air dari Curug Siputut ini memang menjadi sumber air warga yang sangat vital.



Keluarga Wiyardi yang menemani kami siang itu mengungkapkan jika tanah Talagening yang dihuninya termasuk daerah yang kering. Bahkan penggalian sumur pun belum tentu menghasilkan. “Ngantos puluhan meter mba, mboten medal acan toyane”, keluhnya. Oleh karenanya mereka pun berinisiatif memanfaatkan air dari Curug Siputut ini. Dan inilah yang membuat banyak sekali pipa air melayang-layang diatas kepala kami. “Jembatan dan selang-selang itu sudah dibangun sejak 1990 dan belum pernah sekalipun diperbaiki”, tutur Wiyardi dalam bahasa Jawa yang kental.




Selain Curug Siputut, mereka pun memanfaatkan air langsung dari mata air yang tak pernah kering yaitu tuk Dandang di Serayu Larangan. Konon, air Curug Siputut pun berasal dari tuk Dandang ini. Keberadaan tuk ini erat kaitannya dengan legenda desa Serayu Larangan. Keberadaan sumber air ini dimanfaatkan untuk irigasi sawah warga yang ada di sekitar curug serta kebutuhan harian warga sekitar. Saat penghujan seperti ini, mereka tidaklah menghadapi kendala berarti. Namun ketika kemarau datang, Wiyardi mengaku sering kesulitan air bersih. Padahal didekatnya ada mata air yang nggak pernah kering. Ironis nggak sih?


Selain menginginkan kecukupan air bersih saat kemarau, Wiyardi pun mengungkapkan keinginannya agar jembatan legendaris segera diperbaiki. Selama ini jembatan tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki. “Menawi langkung sae jembatane kan mangke montor saged nylenther mriko, dados teng Serayune cepet”, ujarnya.

FOTO DARI SEBERANG




Yap, kalau dipikir-pikir dengan kondisi jembatan sekarang ini tentu saja membuat orang awam tak berani melewatinya. Yaaah,.... kayak saya dan teman-teman saya ini. Daripada saya diteriakin mulu suruh balik sama emak-emak heboh, saya pun memilih menikmati suasana air terjunnya dari seberang. Nyesel banget sebenarnya. Karena menurut informasi yang saya peroleh, curug ini sebenarnya cukup aman bahkan bagi mereka yang nggak bisa renang sekalipun. Sayang, siang itu tidak terlihat ada pengunjung lain.




Memang sih, curug setinggi 30 meteran ini hanya ramai dikunjungi saat liburan saja. Pengunjung akan betah menikmati deburan air yang mengalir dari patahan dengan aliran sungai diatasnya. Areal persawahan diatasnya menambah asri view yang ada. Belum lagi suara tonggeret dan serangga lainnya membuat saya luuuuppaaa kalau saya sedang lapar berat. Hahahaha. Kalau lapar khan biasanya emosi ya, nah ini suasananya cukup laah meredakan emosi saya.


Nah, kabarnya sih jembatan legendaris itu bakal segera diperbaiki dalam waktu dekat. Asyiiiikkk. Khan kalau jembatannya sudah lebih baik, saya nggak akan diteriakin teman-teman saya lagi kalau mau menyebrang dan turun untuk merasakan sensasi curugnya secara langsung. Iya nggak ??

Komentar

Banyak Dicari

WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Meski kerap mendengar, nama Watu Gumilang masih tetaplah asing disebut sebagai salah satu objek wisata lokal di Purbalingga. Padahal, batu ini menyimpan keunikan tersendiri. Yaitu ribuan jejak tapak kaki yang menempel di permukaannya. Mulai dari tapak kaki manusia sampai bermacam jenis kaki binatang. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Lokasi Watu Gumilang terletak di dusun Gumilang desa Picung, kini masuk kecamatan Kertanegara. Sebelum dilakukan pemekaran, Gumilang masih merupakan bagian dari Kecamatan Karang Anyar. Watu Gumilang ini berada di kaki Gunung Batur, sehingga memakan jarak yang cukup jauh untuk menggapainya. Untuk menuju Watu Gumilang kita bisa melalui rute : Purbalingga - Bobotsari - Karang Anyar - Pertigaan Kasih - Adiarsa - Krangean - Karang Gude - Picung. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepat di belakang MI Gumilang. Batu ini berukuran tinggi sekira 10 meter, panjang 10 meter dan lebar 5 meter. Benar-benar berukuran sangat besar. Seperti sebuah gunungan batu ya...

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya? Oleh: Anita Wiryo Rahardjo Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, " Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal ". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut.  Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda. Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya. " Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. ...