Langsung ke konten utama

Hembusan Angin di Siangin

"Kapan-kapan ke Curug Siangin lagi yuk", sms salah seorang teman lama ini seperti menyeret memori saya pada suasana sejuk dan hamparan bianglala indah di salah satu sudut Purbalingga. Wuuuaah, jadi pengen kesana lagi nih.

• Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana


Meski namanya belum seterkenal Curug Nini ataupun Curug Cipothat, namun banyak hal menarik yang bisa kita dapatkan dari Siangin. Jangan bayangkan hal menarik ini adalah hal mistis berupa penampakan (mungkin) hantu seperti yang didapat ketika kita googling kata Siangin. Lalu apa dong ? 

Selain keindahan alamnya, kondisi medan yang cukup sulit juga menjadi tantangan tersendiri. Ditambah kabar tentang masih adanya babi hutan yang sesekali nyelonong di lokasi akan menjadi pemicu adrenalin. Padahal sih kalau apes ketemu binatang ini ya paling-paling cuma bisa pingsan. Hehehe. Tapi sebenarnya nggak aneh juga kalau sampai ada babi hutan. Lha wong lokasinya memang cukup jauh dan berada di "tuk" (mata air)nya Sungai Klawing kok.


Sempet mampir beli cabai dulu. Hehehe, beginilah kalau jalan-jalan sama emak-emak…..

Suasana di perjalanan.

Curug Siangin terletak di desa Tlahab Kidul Kecamatan Karang Reja.Tepatnya di Blok Sigluthak, dukuh Siletreng, Tlahab Kidul. Dan seperti umumnya setiap perjalanan ke sebuah curug, tidak akan ada lift ataupun eskalator yang mempermudah kita. Yang ada hanyalah jalan setapak. 

Dua tahunan lalu ketika kesana, setapak ini sempat menipu saya dan teman-teman. Kami pikir jalan ini akan mengantar sampai depan curug. Nyatanya, setapak ini hanya sepanjang sepuluh meteran saja. Jarak pendek ini tak terpantau dengan baik lantaran harus naik turun juga.

Gemana mau lari coba kalau babi hutan datang di lokasi begini ?


Dan petualangan benar-benar dimulai ketika kami harus menginjakkan kaki diantara pematang sawah dan ladang warga. Seketika bayangan akan munculnya babi hutan membuat saya bergidik ngeri. 

Beberapa skenario pun terpikir. Mulai dari terjun kesungai dibawah pematang yang menjadi rute kami sampai naik pohon kelapa yang tampak beberapa di sepanjang perjalanan. "Kalau yang didepan ketemu babi hutan larinya jangan lurus ya tapi belak-belok", teriak salah seorang teman yang dibarisan belakang. Dieeeewww, pikiran pun makin jadi nggak karuan. Tapi irama jatuhnya air membuat kami semakin bersemangat melawan rasa takut kalau saja bertemu babi hutan. Percikannya yang mengenai batu membiaskan embun yang menciptakan efek sejuk di sekitar curug. Dan ini sudah bisa kami rasakan. 

Tak terasa kurang lebih hanya berjarak seratus meter dari jalan setapak tadi, kami sudah mendapati hamparan pemandangan indah yang nyata di depan mata. (Haha, saking lumayan beratnya perjalanan, temen saya -difoto sebelah ini- memilih sampai belakangan dengan sedikit merayap.)


Air terjun setinggi sekira 15 meter yang mengalir diantara tebing berwarna hitam pekat membawa aura damai dan segar. Pantulan mentari menghasilkan efek pelangi yang muncul dibawah air terjun. Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk mendekat. Beruntung sebuah batu berukuran sedang memperingatkan langkah saya untuk tetap waspada. Ternyata kami harus bertemu bebatuan besar dan beberapa terasa sangat licin di kaki.

Udara di sekitar curug terasa cukup kencang berhembus. Dan menurut Barwono, salah seorang seniman setempat yang juga mengantarkan jalan-jalan kami, faktor inilah yang kemudian membuatnya dinamakan Siangin. Curug Siangin merupakan hasil pertemuan Sungai Klawing dibagian atas dengan Sungai Sibaya. Waaah, dimana-mana sepertinya saya masih harus bertemu dengan Sungai Klawing ya.

Seperti halnya sebuah tempuran atau lokasi pertemuan antara minimal dua sungai, Siangin pun kerap menjadi tempat ritual bagi mereka yang mempercayai. Konon, mereka yang mandi pada malam-malam Kliwon di tempat ini akan memperoleh keberuntungan. Mulai dari jodoh, penghasilan dan lainnya. Dududududu, kalau nyari jodoh disini kira-kira saya ketemunya siapa ya ? :P



Dua teman ini ngajakin mampir dulu ke sungai Klawing di bagian atas. Kecil ya ? Eh, kok kenapa saya nggak difotoin juga sih ????!!!! Giliran difoto cuma dapet punggung *Tersungut-sungut.


Memang sih curug ini cukup ramai dikunjungi muda-mudi saat weekend. Namun ketiadaan juru pelihara membuat kita kesulitan jika ingin mendapat informasi lebih dari Curug ini. Tapi yang jelas sih, jadi pengen kesana laaaaagggiiiiiiii.

Komentar

Banyak Dicari

WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Meski kerap mendengar, nama Watu Gumilang masih tetaplah asing disebut sebagai salah satu objek wisata lokal di Purbalingga. Padahal, batu ini menyimpan keunikan tersendiri. Yaitu ribuan jejak tapak kaki yang menempel di permukaannya. Mulai dari tapak kaki manusia sampai bermacam jenis kaki binatang. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Lokasi Watu Gumilang terletak di dusun Gumilang desa Picung, kini masuk kecamatan Kertanegara. Sebelum dilakukan pemekaran, Gumilang masih merupakan bagian dari Kecamatan Karang Anyar. Watu Gumilang ini berada di kaki Gunung Batur, sehingga memakan jarak yang cukup jauh untuk menggapainya. Untuk menuju Watu Gumilang kita bisa melalui rute : Purbalingga - Bobotsari - Karang Anyar - Pertigaan Kasih - Adiarsa - Krangean - Karang Gude - Picung. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepat di belakang MI Gumilang. Batu ini berukuran tinggi sekira 10 meter, panjang 10 meter dan lebar 5 meter. Benar-benar berukuran sangat besar. Seperti sebuah gunungan batu ya...

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya? Oleh: Anita Wiryo Rahardjo Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, " Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal ". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut.  Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda. Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya. " Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. ...