Langsung ke konten utama

AYO DOLAN MARING CURUG AUL

Jelang akhir pekan. Saatnya menetapkan destinasi wisata. Tak usah jauh-jauh ke luar kota. Cukup di Purbalingga saja. Apalagi disini tersimpan kekayaan alam tersembunyi yang mempesona. Salah satunya adalah Curug AUL.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo
Foto oleh : Bagus Permana

Yap, Purbalingga memang dikaruniai alam yang indah. Wilayah utara Purbalingga yang didominasi dataran tinggi tak hanya menyimpan peninggalan prasejarah namun juga yang nyata-nyata terlihat. 



Banyaknya curug alami. Bahkan sebutan kota dengan seribu curug pun tersemat. Nah, kalau menurut wikipedia curug atau air terjun adalah arus air yang mengalir melalui formasi bebatuan yang mengalami erosi dan jatuh ke bawah dari ketinggian. Ketinggian antara curug satu dengan lainnya akan berbeda. Ada pula yang berkarakteristik tunggal dan tak sedikit yang sebaliknya. Bertingkat dan berkelok. Lalu bagaimana dengan curug Aul ini ? Okay, let see.

1000 CURUG

Curug Aul terletak di dusun Pucung Rumbak, desa Tanalum, kecamatan Rembang. Tanalum adalah salah satu desa yang memiliki sejumlah curug menawan. Bahkan, konon ada 7 curug yang juga sering dikunjungi. Sebut saja curug Panyatan, Karang, Lampeng, Gogor, Sendang, Nagasari, dan curug Aul. Musim kemarau seperti sekarang sepertinya akan lebih tepat untuk kita berpetualang di alam terbuka. Apalagi medan yang dilalui pun cukup menguras energi.

Untuk menuju Curug Aul, saya mengambil rute dari Purbalingga - Kaligondang - Pengadegan - Bantarbarang - Losari - Tanalum. Dan ketika sudah memasuki Tanalum, kita hanya tinggal mencari lapangan Dusun Pucung Rumbak. Dari sini, petualangan akan segera dimulai. Tenang saja, jalan sudah aspal kok.

Penunjuk arah ke curug sebenarnya sudah terpampang di dekat lapangan. Kita bisa mengikuti anak panahnya. Tapi kalau kurang yakin, bisa saja meminta bantuan pemuda setempat untuk mengantar. Kebetulan disana juga sudah terbentuk Pokdarwis. Siang itu, saya memilih jalan-jalan saja dengan beberapa teman tanpa pemandu. Arahan warga sempat membuat kami bingung. Ada yang menyebut langsung saja naik ke bukit di dekat lapangan, namun ada juga yang mengarahkan melalui pematang di sebelah lapangan. Mana yang benar ? Mending coba saja keduanya.

Karena jalan lurus mengarah ke bukit, maka kami memutuskan naik terlebih dulu. Ada jalan setapak, namun kelihatannya sebagian sudah rusak. Jalan ini hanya satu-satunya ke atas. Lebih baik sih jalan kaki, sekalian hiking. Kalau nekat pakai sepeda motor, ada beberapa tanjakan yang cukup berbahaya. Selain sempit, jalanan ini juga berbatasan dengan jurang disalah satu sisinya. Kita juga akan melewati kebun warga dan hutan pinus Perhutani yang memberikan kesejukan tersendiri sepanjang perjalanan.


Ternyata benar, tempat ini memang sudah diwacanakan sebagai objek wisata baru. Selain jalan halus di depan sana, ada juga pos pemberhentian. Namun ada juga yang menyebutkan sebagai pos pemantauan hutan. Entahlah mana yang lebih tepat. 

Intinya disini kita bisa istirahat juga kok. Tidak jauh dari pos pertama, saya dibuat geli dengan terdengarnya "konser" dangdut dari rumah warga yang jauh dibawah sana. Haha, goyang dulu baanng. Nah, tidka jauh dari pos pertama, kita bisa menyaksikan pemandangan Purbalingga dari atas. Luar biasa. Dan di titik ini yang tidak jauh dari pos kedua, telah diwacanakan sebagai camping ground. Seru juga nih

Nah, didekat pos kedua kita akan bertemu dua jalan kecil. Yang satu menanjak dan menuju ke mata air Kali Aul. Sedang yang kedua, jalanan menurun itu ternyata menuju ke titik dimana curug Aul sudah ada didepan mata.

KEDUNG KEMBAR


Saya dan teman-teman memilih langsung ke curug saja. Air terjun bertingkat dengan kedung jernih dibawahnya membuat kami takjub pada ciptaan-Nya ini. Dari sini, dapat saya mengerti mengapa warga setempat kerap menyebutnya sebagai kedung kembar. Ternyata di bawah mata air juga terdapat kedung serupa dengan kedung yang di depan mata ini. Jadi ada dua air tejun dan ada dua kedung. Seperti kembar. Oya, bicara soal namanya, bagi sebagian orang Jawa pasti tau ya jika aul itu berarti anjing hutan. Konon memang dulunya ditempat ini banyak terdapat binatang tersebut. Beruntung, sepanjang jalan kami hanya bertemu sejenis primata dan tupai saja. *Legaaaaa.

Curug ini belakangan ramai dikunjungi para pecinta canyon. Biasanya pada hari-hari tertentu mereka akan menantang derasnya air terjun setinggi sekitar 50 meter ini. Cocok banget untuk para pecinta petualangan. Dibawah curug Aul ini konon masih berderet curug lain yang tak kalah indah. Benarkah ?

BANYAK CURUG

Dari kejauhan pesona air terjun lain tampak menggoda kami untuk mencoba rute lain

Karena tanpa persiapan matang, akhirnya kami memutuskan turun dan mencoba mencari curug lain melalui jalur pematang. Sebuah pintu bambu mengantarkan kami ke lorong petualangan berikutnya. (Tepat dibawah bukit ini). Jalannya sudah semakin membingungkan. Karena tanpa penunjuk arah sama sekali. Namun dari suara gemericik air, kita bisa menerka-nerka dimanakah curug itu bersembunyi. 

Beberapa warga menyarankan kami untuk mencari curug Nagasari atau yang mereka sebut dengan curug Tinggi, Kedung Banger dan Goa Macan. Namun karena saat itu jalur ke Curug Nagasari longsor, kami memutuskan berganti arah dan menemukan beberapa curug mini. Kedung Banger dan Goa Macan tidak dapat kami temukan. Sepertinya lain kali kami harus benar-benar menggunakan jasa pemandu.

Katanya kalau kami teruskan rute ini, bisa sampai ke curug Aul lagi.

Nah, yang ini curug apa ya ?

Ya, wacana Tanalum sebagai Desa Wisata sepertinya masih perlu sentuhan sana-sini lagi. Jangan sampai wisatawan dadakan seperti kami-kami ini harus kebingungan mencari lokasi. :)

Komentar

Banyak Dicari

WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Meski kerap mendengar, nama Watu Gumilang masih tetaplah asing disebut sebagai salah satu objek wisata lokal di Purbalingga. Padahal, batu ini menyimpan keunikan tersendiri. Yaitu ribuan jejak tapak kaki yang menempel di permukaannya. Mulai dari tapak kaki manusia sampai bermacam jenis kaki binatang. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Lokasi Watu Gumilang terletak di dusun Gumilang desa Picung, kini masuk kecamatan Kertanegara. Sebelum dilakukan pemekaran, Gumilang masih merupakan bagian dari Kecamatan Karang Anyar. Watu Gumilang ini berada di kaki Gunung Batur, sehingga memakan jarak yang cukup jauh untuk menggapainya. Untuk menuju Watu Gumilang kita bisa melalui rute : Purbalingga - Bobotsari - Karang Anyar - Pertigaan Kasih - Adiarsa - Krangean - Karang Gude - Picung. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepat di belakang MI Gumilang. Batu ini berukuran tinggi sekira 10 meter, panjang 10 meter dan lebar 5 meter. Benar-benar berukuran sangat besar. Seperti sebuah gunungan batu ya...

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya? Oleh: Anita Wiryo Rahardjo Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, " Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal ". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut.  Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda. Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya. " Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. ...