Cari Blog Ini

Kyai Lanang itu bermarga Gan

 
Sebentuk bangunan makam terlihat begitu mencolok. Berada di areal persawahan dan satu-satunya. Warga setempat menamainya makam Kyai Lanang.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Julukan Kyai Lanang tersemat lantaran ia disebut-sebut sebagai tokoh yang membuka dusun Sirongge, desa Kembaran Kulon, Purbalingga. Sayang, kapan ia datang tidak dapat dipastikan. Hanya diduga berkaitan dengan masa paceklik di Tiongkok Selatan. "Ada yang menyebut datang sewaktu Perang Jawa (1825 - 1830), ada yang bilang datang karena berselisih dengan marga lain atau juga karena bencana besar yang berakibat gagal panen", kata kedua keturunan Gan Hwan yang saya temui secara terpisah. Kyai Lanang memiliki nama asli Gan Hwan. Bersama orang-orang sebangsanya dulu, ia mengarungi lautan mencari harapan di tanah yang baru. Gan Hwan dikabarkan berasal dari desa Qishan.

• Melestarikan Marga •

Dikatakan bahwa sebagian dari mereka mendarat di Pekalongan. Termasuk Gan Hwan beserta puteranya, Gan Tjiu. Dan demi keselamatan serta keberlangsungan marga, mereka yang berseh Gan pun menyebar. Gan Hwan dan Gan Tjiu lalu menuju ke selatan hingga sampai di Sirongge.

Gan Hwan menetap di Sirongge. Ia meneruskan kebiasaannya bercocok tanam. Keberhasilannya membuka lahan diikuti dengan kedatangan warga lainnya untuk turut menetap. Inilah yang membuatnya berjuluk Kyai Lanang.

• Meninggal 1860 •

Tidak banyak informasi yang bisa digali dari tokoh ini. Hanya diketahui tahun meninggalnya pada 1860. "Seperti tertera pada bongpay", kata salah seorang keturunannya, Cik Pay.

Sementara itu puteranya yang bernama Gan Tjiu menikah dengan Ooij Bie Nio di Pekalongan. Dari perkawinan itulah lahir generasi penerus Gan di Purbalingga. Yaitu : Gan Koen Po, Gan Kiem Tjio, Gan Tjo Tie, Gan Sin Hwat, Gan Sin Sing dan Gan Sin Thay.

 

Gan Tjiu meninggal 7 tahun setelah kepergian Ayahnya pada 1867. Makamnya berada di desa Kembaran. Bersama beberapa nama pribumi. "Dekat tikungan, nggak jauh dari kantor cabang salah satu partai", ujar Kris Hartoyo yang juga masih merupakan generasi penerus Gan di Purbalingga. Warga menamainya Makam Kembaran. Selain karena berada di desa Kembaran juga karena bentuk bongpaynya kembar dengan makam Gan Hwan.

Meski Gan Tjiu dimakamkan di Kembaran, tidak demikian dengan isterinya. Ooij Bie Nio yang meninggal pada 1900 dan dimakamkan di Sawangan.

Sebenarnya bongpay yang sekarang kita lihat pun sudah renovasi. Sekitar tahun 1970-an, bangunan makam diperbaiki karena telah banyak kerusakan. "Tapi seinget saya baru sekali itu aja sih renovasinya", tambah Cik Pay

• Toko Gan •

Memasuki abad 19 nama keluarga Gan semakin berjaya. Mereka memiliki usaha bernama Toko GAN yang dikenal menjual segala kebutuhan kelontong hingga perlengkapan membatik. Meski tak lagi dijumpai, cerita mengenai masyurnya Toko Gan masih dapat kita dengar dari mereka yang terlahir pada tahun 60'an. Menurut penelusuran www.banjoemas.com terhitung 1 Januari 1914, Toko Gan menjadi N.V. H. MY. Hiap Hoo.

Keluarga Gan di Purbalingga pun dikenal berkat nama Gan Thian Koeij (keturunan Gan Sin Sing) yang aktif dalam organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Ia bahkan menjadi penggerak ketiga di Jawa untuk membuang taotjang (kuncir khas warga Tiongkok). Mangga untuk lebih lengkapnya mengenai tokoh Dewan Pendiri THHK Poerbolinggo ini klik saja di weblog yang saya sebutkan tadi.

• Dipindah 2018 •


 
Kembali ke tokoh Gan Hwan atau Kyai Lanang, sebagai pendiri keluarga Gan di Purbalingga, makamnya ini konon juga terlihat dari barat jembatan Kalikadjar. Saya tidak mengerti apakah kini Jembatan Slinga maksudnya ?

Saat ini bong Gan Hwan berada di lahan yang telah dibeli salah satu yayasan. Dikarenakan di tempat itu akan dijadikan asrama para siswi, pihak yayasan meminta makam Gan Hwan untuk dipindahkan. Meski sebagian warga menyayangkan karena bagi mereka bong Gan Hwan / kuburan Kyai Lanang ini memiliki arti khusus, pihak keluarga Gan telah sepakat memindahkannya pada 2018. "Mungkin sekitar April, bareng Cheng Beng", lanjut Cik Pay.

Sebagai terduga bong paling tua, nantinya makam Gan Hwan dipindahkan ke Bong Sawangan bersama penerus Gan ke-3 dst. Juga keluarga Tionghoa lainnya. Mungkin dengan dipindahkan, nantinya akan terhindar dari tergenang banjir kecil lagi seperti beberapa waktu lalu ya.

Matur nuwun kagem Pak Kris "Haow" Hartoyo Yahya dan Ibu Devi "Cik Pay".

Note : Makasih mba Amira, sekaligus saya ralat di postingan nggeh kalau sempat ada kekurangtelitian dalam penulisan angka tahun yang semula sempat saya ketik 1925-1930. (Purbalingga, 2 Mei 2021)

Wanginya Masih Terasa

Perempuan sepuh itu menggebu saat berbincang akan batik. Ditemani sesayup tembang-tembang Jawa dan penganan tradisional, saya diajak berkenalan dengan Lungambring.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Yuswanya 75 tahun. Tak tersirat dari kulit mukanya yang masih kencang. Sesaat saya meraba pipi sendiri. "Agak sedikit turun, hufffff", batin saya. (Untung kamu nggak komplein soal ini). Ya, Mbah Kapti, begitu ia akrab disapa, acap merawat kulit ditengah aktivitas membatiknya sejak tahun 50'an silam.

Ia tumbuh di keluarga priyayi. Ayahnya seorang guru. Eyangnya bahkan menjabat Penatus Penisihan (Bobotsari) pada era pendudukan Belanda. Sementara itu, sang Ibu mengisi hari-hari dengan membatik. Hal itulah yang membuatnya akrab dengan batik sejak kanak-kanak.

Di saat saya menikmati sepiring makan siang, Mbah Kapti hilang dari pandangan. Ternyata ia dengan sigap menguliti batang-batang pohung untuk menjadi kayu bakar. "Buat persiapan mbathik", katanya. Ia memang tak bisa membiarkan waktu luang. Tak mau berdiam diri sudah menjadi bagian dalam keseharian keluarga besarnya. Kesehariannya kini adalah mempersiapkan segala tetek bengek pembuatan batik tulis pewarna alam. Sebuah usaha yang kini juga turut dirintis puteri pertamanya.

 

Di tengah makan siang, saya kembali terngiang akan lung ambring. "Godong ambring itu wangi. Jadi maknanya dalam menjalani hidup berilah kesan yang baik agar setelah kepergian kita, diibaratkan wangi kita tak akan hilang", katanya. (Batik tulis Lung Ambring ini dibatik oleh ibunda Mbah Kapti)

• Strategi Perang •

Lung ambring atau daun ambring memiliki bentuk daun berjari 5. Seukuran seledri. Kabarnya dibeberapa tempat, daun ambring masih kerap dijumpai pada penjual kembang setaman. Cuma ya nggak tau di pasar mana yang masih ada. Wanginya melengkapi aroma mawar, kenanga dan kantil. Harumnya itulah yang kadang membuat orang berceloteh, "Wis lunga, breng". Artinya meski sudah berlalu, harumnya masih tertinggal.

Catatan lain menyebutkan jika motif Lung Ambring dikenal pada era Perang Diponegoro (1825 - 1830). Motif ini merupakan catatan strategi perang yang harus diketahui pasukan yang tersebar di banyak tempat. Persatuan konon menjadi makna yang terkandung dalam motif ini.

Ya, apapun itu. Batik memang selalu menyimpan pesan pada tiap goresan motifnya. "Sejarah saja bisa dituangkan dalam batik kok", kata Mbah Kapti kemudian. Ia mencontohkan motif Wahyu Tumurun. "Ada Kyai Sengkelat dan topong mahkota Hayam Wuruk, ada lung ambring, melati, bintang dan phoenix", katanya sambil menunjukkan gambar satu per satu.

• Sejarah dalam Batik •

Keris Kyai Sengkelat digambarkan terdiri dari curiga dan warangka-nya. Ini merupakan simbol kekuasaan. Bukankah kita masih akrab mendengar bahwa sesiapa yang memperoleh Kyai Sengkelat akan menjadi Ratu ? Itulah mengapa pusaka ini tergambar di batik Wahyu Tumurun.

 
Dalam beberapa catatan, disebutkan bahwa motif batik Wahyu Tumurun berasal dari Jogjakarta pada era Panembahan Senopati. Sebuah batik yang pada awalnya dikhususkan untuk upacara keagamaan. Semisal 10 hari terakhir di bulan puasa. Nah kesakralan motif inipun tak semata bermakna kemuliaan dalam rupa kejayaan duniawi. Kini, Wahyu Tumurun banyak digunakan dalam upacara adat pengantin Jawa.

"Mahkota Hayam Wuruk yang digambar ini adalah yang murca dari gedung pusaka. Sama simbol kekuasaan juga", lanjutnya. Kemudian ada kembang melati, ini bermakna kesucian. Bintang melambangkan sinar yang menerangi saat gelap dan lung ambring yang menggambarkan bahwa kejayaan / nama kerajaan Majapahit tetap ada. "Wis lunga, breng e esih", katanya.

Sedangkan burung phoenix dikaitkan dengan puteri dari Champa yang juga menjadi salah satu isteri Raja Majapahit. Nah terkait jenis burung dalam Wahyu Tumurun. Ada dua versi yang saya dengar. Di Jogjakarta, Wahyu Tumurun identik dengan burung merak. Sedangkan di Surakarta mengenalnya sebagai burung phoenix.


Waah, saya semakin takjub. Kaya makna sekali batik yang kita miliki. Dari satu batik ini saja, saya dapat menggali sejarah serta mempelajari tradisi dan seni yang disampaikan dalam tradisi lisan yang dituturkan seorang pembatik sepuh.


Matur suwun Mbah Kapti dan Mba Titin "Tien Batik Mangunegara".

STANA LANDA lagi

Cukup lama saya tak mampir ke kerkhof atau stana landa Purbalingga. Meski sudah menanggalkan DSLR, tak berarti tak ada foto baru dari mampir yang tak disengaja kali ini.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Siang yang sebenarnya terik, justru terasa teduh begitu memasuki kawasan hutan kota sekaligus Kerkop (kerkhof) yang berada di Bancar, Purbalingga Wetan ini. Seorang karyawan DPU tampak sedang bebersih. Wah, pantas saja sekarang lebih rapi. Ia menyambut kedatangan saya dengan ramah. Menanyakan identitas dan keperluan saya. Sembari menceritakan juga kehadiran kawan-kawan peserta Jelajah Mrapat beberapa hari sebelum saya datang. Duuuuuuh, menyesal sekali saya batal ikut.

"Sayangnya kuburannya ada yang pada ambles Mbak", katanya lagi. Karena tak sempat mencatat jumlah pada kedatangan sebelumnya, maka saya tak berani memastikan berapa makam yang ambles baru-baru ini.

• Nisan •

Tidaklah mengherankan jika retak tampak di sana-sini pada sebuah nisan lama. Untunglah kondisi bersih membuat beberapa tulisan lebih mudah dibaca dibandingkan sebelumnya.


Akhirnya, saya temukan juga angka 1 nya. Namun tak ada keterangan yang dapat dihimpun dari ini. Karena goresan nama tak bersisa di makam ini. Begitupun dengan beberapa lainnya. Meski kode numerisasi mencapai diatas 100. Namun tak sejumlah itu yang masih dapat kita temukan.

Sekedar flashback, mangga bisa mengecek postingan lawas saya yang berjudul Stana Landa, Kerkop-nya Purbalingga atau bisa juga mendapatkan yang lebih detail dari imexbo.nl/OVERIGE-Kerkhoven/Purbalingga-Kerkhoff. Bahkan melalui laman ini pun kita dapat menemukan informasi mengenai siapa Caroline van Haak, Claudine van Haak, Mevrouw C. Van den Berg dan sebagainya.

• Braakman •

Di barisan depan, seorang siswi prakerin yang mengekor saya siang itu tetiba berkata, "Mbak, ini kok pakai bahasa Indonesia". Saya mendekat. Tercatat demikian :

Marcellus Braakman
Lahir meninggal Djuli 1962
"Biarkanlah kanak-kanak itu datang kepadaKu"


Mendengar namanya saya jadi teringat soerang dokter Rumah Sakit Trenggiling yang namanya masih cukup banyak diingat orang-orang tua. Mereka menyebutnya dokter Brahman. Namun berdasarkan semacam buku laporan dengan judul Gereformeerde Zending in Midden Java1931 - 1975 karya Dr. Chr. G. F. de Jong, disebutkan salah seorang dokter bernama Braakman pernah ditugaskan di Trenggiling pada 1959 - 1963. Namun apakah Marcellus Braakman ini memang putera sang dokter ?





' BRAAKMAN, G
.......
1952 arts in regeringsdienst te Poerbolinggo
1953 te Purwodadi
1959 overgeplaatst naar het Trenggiling ziekenhuis te Poerbolinggo
1963 te Magelang
1967 gerepatr


• Gerbang menuju kedamaian •



Entahlah. Namun ini tetiba terasa menarik. Katanya sih sejak dulu gapura ini sudah ada. Semacam pintu masuk menuju pemakaman.

Dalam benak saya lalu mencari-cari seberapa luasan pemakaman dan dimana jalan raya jika gapura berada disini. Eits.. sepertinya ini tanda saya belum ingin melewati gapura ini. Ngapain coba cari jalan raya untuk melewati gerbang menuju kedamaian ?

Kembali mengitari stana landa atau kerkhof, saya menemukan salah satu nama yang dulu tak terlihat. Wah, sepertinya kita harus banyak berterima kasih karena sekarang dengan kondisi bersih beberapa nisan menjadi terbaca. Seperti dibawah ini.


Mengenai siapa mereka, adakah yang dapat membantu ?

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

Beberapa tahun silam, seorang sepuh sempat memperingatkan saya untuk tidak dulu memasuki Makam Wangi (Stana Wangi) karena salah hari. Namun kini dengan berstatus desa wisata, saya dapat mengunjungi Makam Wangi kapanpun sekaligus menikmati panorama desa Pagerandong, kecamatan Kaligondang.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Agenda Sesaji Larung Gintung kembali membawa saya ke Makam Wangi. Banyak hal berubah setelah sekian tahun. Dulu, kami tidak disarankan mengendarai sepeda motor sampai di depan Makam Wangi karena jalanan yang ekstrem dan masih berupa kerikil tajam. Sekarang ? Mobil pun dapat melaju lancar. Namun tetap harus hati-hati. Kontur jalannya memang naik turun dan berkelok.

Di dalam hutan

Dari kejauhan, tampak satu lahan seolah terpisah. Perbukitan. Rimbun ditanami pepohonan dan bambu. Inilah Makam Wangi.



Lahan sekira 3 hektar ini tepat berada di tepi Sungai Gintung. Selain beragam bambu, kita dapat menemukan banyak jenis tumbuhan buah. Salah satunya Mangga Belanda. Ini seperti yang terpampang pada papan sederhana yang dipajang di dekat tanaman yang bersangkutan. Karena harus menaiki undakan tanah liat yang sedikit becek, maka mata hanya sanggup menangkap tulisan Mangga Belanda saja. Selebihnya, saya merasa seperti memasuki alas desa yang bersuasana asri.

Di kawasan hutan inilah, Makam Wangi berada. Hutan yang sudah sejak lama terjaga kelestariannya. Bahkan hingga kini, warga tak pernah ada yang berani menebangi pohon yang ada. "Jangankan nebang, repek(¹) saja tidak sembarang orang berani", tutur Ki Tarko Gareng, salah seorang seniman Purbalingga yang tinggal tak jauh dari Makam Wangi.

[ ¹ : mengambil kayu atau ranting yang jatuh di kebun atau hutan guna dijadikan kayu bakar ]

Warga yang patuh pada larangan menebang sembarangan ini, cukup mampu menjadikan Makam Wangi bak benteng penghalau gempuran air sungai ke persawahan warga. Ya, selain bersisian dengan sungai, Makam Wangi juga bersebelahan dengan sawah. Dan sekarang, kita tak perlu bersusah payah melewati pematang untuk menuju makam. Sebuah jembatan bambu telah dibangun secara khusus oleh pengelola objek wisata.

Menhir

Tak lama setelah menaiki undakan, kami melihat dua pemuda tengah duduk diam di sebidang tanah menanjak. Dihadapannya tampak sebuah batu berisi bedak, parfum, cermin dan rokok. Hmmm.. sepertinya sesaji.

Melihat kehadiran rombongan kami sekaligus juru pelihara, mereka pun menyingkir sejenak. Keberadaan orang-orang yang menepi di Makam Wangi ini memang bukan hal baru. Sejak lama, makam ini dipercaya bertuah. Nah, dimungkinkan bagi kaum-kaum seperti inilah 'kesalahan hari' -seperti kedatangan pertama saya dulu- masih dapat berlaku. Tapi kalau sekedar untuk menengok situs kapan saja bisa kok.

Berjarak tinggi sekitar 1 meter, pepohonan tampak memayungi sebuah makam. Tepatnya petilasan. Tampak menhir sejajar dengan jarak ± 1 meter yang difungsikan sebagai nisan.  Dimana diatasnya tersusun tatanan bebatuan.



Kenapa tatanan 1 nisan di makam wangi terdiri dari 2 menhir ya ?

Sementara itu sesaji diletakkan pada batu yang mendapat sebutan lokal "papan pesujudan". Papan pesujudan ini sepertinya batu yang telah dibentuk. Datar dengan sisian menyerupa segi lima. Dipercaya batuan ini dulu menjadi tempat sholat Munding Wangi.



Mengapa Makam Wangi •

Memasuki Makam Wangi saya pun menjadi bertanya-tanya. Dimanakah yang menebarkan aroma wangi ? Karena saya hanya mampu menghirup aroma segar khas tetumbuhan.

Menurut folklore, aroma wangi itu berasal dari potongan rambut Pangeran Atas Angin (dikenal juga dengan Syeh Atas Angin) yang dijatuhkan di perbukitan tersebut. Nama Atas Angin selama ini akrab kita dengar dalam kisah asal-usul Ardi Lawet.

Pangeran Atas Angin lah yang beradu kesaktian dengan Munding Wangi, seorang putera mahkota Pajajaran yang melepas tahta demi mengejar 3 cahaya Ilahi yang dilihatnya. Dalam perjalanan pencarian cahaya itulah, Munding Wangi bertemu dengan  Atas Angin. Dimana keduanya memiliki tujuan yang sama.

Saat adu kesaktian guna mengelabuhi Munding Wangi, Pangeran Atas Angin menjelma menjadi perempuan jelita berambut panjang. Atas Angin menjatuhkan potongan rambut panjangnya itu di sebuah tempat di Pagerandong, Kaligondang. Pada saat jatuhnya potongan rambut itu konon menebarkan aroma harum atau wangi. Hingga tempat inipun dinamakan Makam Wangi.

Versi lain ada pula yang menyebutkan bahwa justru potongan rambut Munding Wangi lah yang dimakamkan disini. Hingga bernama Makam Wangi, yang asal kata dari nama satria Pajajaran itu.

Meski ada yang menyatakan jika di makam Wangi ini tak hanya ada petilasan terkait kisah tersebut diatas, (konon terdapat pula makam Eyang Purwosuci dan Adeg Menggala), namun tak kami temukan lokasinya di perbukitan Makam Wangi ini. Ataukah saya salah hari lagi ?


AIR KEHIDUPAN DI TUK BIMA LUKAR

Dipercaya sebagai mata air purba, Tuk Bima Lukar diyakini memiliki tuahnya tersendiri. Tirta perwita sari. Mata air kehidupan. Tak heran, jika pengunjung memanfaatkannya untuk mencuci muka ataupun bersuci begitu tiba ditempat ini.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •


Kota Para Dewa memang masih selalu menarik untuk dikunjungi. Meski hanya sekedar lewat, rasanya sayang jika melewatkan Tuk Bima Lukar begitu saja. Lagipula, mata air ini berada di tepi jalan utama memasuki Wonosobo. Dan tak dikenakan biaya masuk.

Selintas keberadaan Tuk Bima Lukar memang tak terlihat dari jalan raya. Karena kita harus menuruni sedikit anak tangga diantara rerimbunan kebun carica dan sebuah bangunan serupa benteng di sisi jalan raya ini.


Suasana dingin langsung menyergap begitu kita mendapati dua buah jaladwara (pancuran dengan bentuk lingga dan ujung tepat air muncrat berupa yoni). Beberapa kawan langsung saja mencuci muka. Setelah perjalanan panjang, percikan air memang mengembalikan kesegaran yang hilang. Ditambah mereka pun sepertinya tergiur dengan tuah awet muda (dan enteng jodoh).

Diatas ruangan jaladwara, satu ruang kecil berisi kolam yang tak boleh diambil airnya. Dan diatasnya lagi terdapat ruang pemujaan yang selalu penuh dengan sesaji dan dupa. Seperti siang itu.


• Mata Air Purba •


Penamaan Bima Lukar, praktis membuat kita langsung membayangkan legenda yang pasti berkaitan dengan putera kedua Pandawa ini. Tak salah. Turun temurun dipercaya mata air atau tuk ini bermula dari perlombaan membuat sungai antara Pandawa dan Kurawa. Bima mendapat wangsit membuat sungai tersebut dengan menggali tanah dengan alat vitalnya dalam keadaan lukar (tanpa busana). Dan mengisinya denga air seninya. Tak lama ia melihat seorang perempuan cantik yang mandi di sungai yang baru selesai dibuatnya itu. Keterpanaannya membuat Bima tanpa sadar berujar "Sira Ayu" yang berarti kamu cantik. Lambat laun kata inilah yang kita kenal menjadi Serayu. Sungai besar yang juga begitu akrab dengan masyarakat Banyumas Raya.


Kisah lain menyebutkan dalam perjalanan mencari Ilmu Kesejatian Hidup, Bima yang tengah mengitari banyak gunung terilhami untuk mencari mata air suci. Penegak Pandawa ini butuh mensucikan diri sebagai salah satu syarat sebelum menuju samudera.Ia terus mencari Tirta Perwita Sari. Mata air suci kehidupan. Hingga ditemukannya satu mata air yang dianggapnya suci di salah satu gunung. Belum tercampur atau terkotori apapun. Dan muncul dari dalam bumi. Bima segera melukar pakaiannya dan bersuci disana. Setelahnya Bima pun kembali melanjutkan pengembaraannya. Namun belum lama melangkah, matanya menangkap sosok perempuan jelita tengah mandi di tuk yang tadi digunakannya. Entah darimana datangnya sang puan. Dan "Sira Ayu" pun terlontar dalam ketakjubannya.

Mata air purba yang menjadi hulu sungai Serayu ini diketahui sejak lama menjadi pertirtan suci masyarakat Hindu Dieng. Bahkan hingga kini mereka masih menggunakan airnya untuk kepentingan acara-acara sakral yang diadakan di Dieng.

Mata air yang jernih dan dingin ini memang begitu menyegarkan. Tak salah rasanya sejenak beristirahat di tuk yang masuk wilayah desa Kejawar, Dieng Wetan ini. Satu hal yang penting, lihat papan petunjuk untuk tak membuang sampah apapun disini. Dan.... saya dikasih tau oleh seorang Bapak yang mengijinkan saya naik ke undakan atas untuk tidak mengambil air di kolam undakan kedua. Konon, kolam ini masih disakralkan. Baiklah, saya hanya mengambil foto kok.

FESTIVAL TRADISI SURA (2) : LARUNG GINTUNG

Prosesi tradisi Sura bukanlah ajang pesta pora layaknya pergantian tahun yang kita kenal selama ini. Sura bukan ditandai dengan kembang api, namun dengan rasa syukur yang dalam. Salah satunya adalah selamatan yang dilanjutkan dengan larung.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Ruwat bumi menjadi terasa lebih sakral saat memasuki tahun yang baru. Dan bagi warga yang hidup di sekitar sungai ataupun laut, bersih desa biasanya akan dilanjutkan dengan sedekah air atau larungan.


• Festival Larung Gintung •


Desa Pagerandong, Kecamatan Kaligondang untuk kali pertama menggelar Festival Larung Gintung. Sebenarnya bukan hal baru bagi warga di seputar Makam Wangi dan Kali Gintung untuk melakukan larung pada setiap tahun baru. Namun baru tahun ini tradisi larung dibuka untuk umum.


Sebelum mencapai lokasi untuk larung, pengunjung dihadiahi jalanan berliku yang cukup membuat jantung berdebar lebih kencang. Jika memilih jalan lain, maka silakan bisa melalui desa Kaliori, kecamatan Karanganyar. Yang artinya harus menyeberangi sungai Gintung yang terkenal berarus deras. Namun semua perasaan dag dig dug perjalanan sirna seketika mencapai lokasi. Pemandangan seputar Makam Wangi ini begitu menawan.

Makam Wangi merupakan lahan seluas ± 3 hektar yang terdaftar sebagai Cagar Budaya. Ragam bambu dan tanaman kayu tumbuh subur di sebidang tanah lempung di tepian Sungai Gintung. Dipercaya Syeh Atas Angin pernah menjelma menjadi seorang perempuan cantik berambut panjang guna mengelabui Raden Munding Wangi saat beradu kesaktian. Kisah antara Atas Angin dan pangeran asal Pajajaran itu juga dikenal baik oleh warga Panusupan. Mangga, boleh disearch kembali kisahnya pada postingan lawas.


Folklore menyebutkan bahwa kejar-kejaran kedua tokoh ini juga sampai ke Pagerandong. Saat menjelma menjadi perempuan itulah, Syeh Atas Angin memotong rambut panjangnya dan menjatuhkannya di suatu tempat dan ternyata menimbulkan wangi. Hingga tempat ini disebut sebagai makam Wangi.

Versi lain mengatakan bahwa justru potongan rambut Munding Wangi lah yang ada di Makam Wangi. Apapun itu, bukan untuk diperdebatkan bukan ? Toh sama-sama kisah yang bermuatan sakral. Karena dari kesakralan Makam Wangi itulah, kondisi alam di sekitar Sungai Gintung akan turut terjaga.

Dalam Festival Larung Gintung, warga mensedekahkan kepala kambing. Dimana sehari sebelumnya digelar selamatan dengan menu daging kambing yang dibagikan merata bagi warga setempat. Paginya, kepala menda ini dilarung di Sungai Gintung dengan diiringi doa seluruh warga yang mengikuti prosesi ini.

Kepala kambing dilarung oleh Kepala Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Purbalingga.


Tahun pertama Festival Larung Gintung ini cukup menarik perhatian. Satu hal yang menjadi istimewa adalah pemilihan kosakata indah layaknya puisi yang terucap dari sang pranatacara, menjadikan banyak orang hanyut menyimak. Entertaining.

Tak hanya itu, pilihan menu nasi besek yang dimasak dengan kayu bakar pun makin menjadikan suasana berbalut kesederhanaan ini terasa sayang untuk ditinggalkan. Tetiba saya teringat, ngomong-ngomong wasita adi tahun ini apa ya ? (selesai)



Matur suwun kagem Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Purbalingga atas kesempatan yang diberikan.

FESTIVAL TRADISI SURA (1) : FGS

Fase bulan baru kali ini telah mengantarkan kita memasuki Sura. Bulan pertama dalam kalender Jawa. Sistem pergantian waktu berbasis lunar.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Hadirnya Sura diwarnai cukup banyak agenda festival budaya. Termasuk di Purbalingga. Beberapa diantaranya : Festival Gunung Slamet (FGS), Festival Larung Gintung, Grebeg Onje, Festival Congot hingga ruwatan di sejumlah tempat seperti di  Museum Lokastithi Giri Bdhra Cipaku, desa Panusupan, desa Grecol dan desa Kejobong.

Festival Gunung Slamet

Event tahunan Festival Gunung Slamet (FGS) telah memasuki tahun ke-3. Prosesi pengambilan air dengan lodong di Tuk Sikopyah menjadi yang paling dinanti warga Serang dan sekitarnya. Bagaimana tidak ? Sumber mata air dingin dari Gunung Slamet ini dipercaya memiliki tuahnya tersendiri. Mangga untuk kisah tentang Tuk Sikopyah dapat dilihat di postingan FGS tahun-tahun sebelumnya.




FGS #3 dilaksanakan pada 21 - 23 September 2017 di Serang Rest Area. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, selain prosesi pengambilan, persemayaman dan pembagian banyu Sikopyah, perang tomat, wayangan, pesta kembang api, pagelaran musik dan kirab pun menjadi ajang menyemutnya warga. Daftar para penampil pun sepertinya cukup mampu menghangatkan suasana dingin Serang. Soendari Soekotjo dan puterinya menyemarakan FGS #3 malam pertama. Kemudian Pongky Barata hadir di malam kedua. Dan Ki Danang Manteb Sudarsono menutup FGS #3 dengan lakon Semar mBangun Lumbung Kencana yang tersaji dengan begitu apik.



Hari pertama FGS #3 sekitar 777 warga Serang dan Siwarak berurutan berjalan menuju Tuk Sikopyah di dusun Kaliurip. Jelang tengah hari barulah ratusan lodong itu berhasil disemayamkan. Ruang khusus di halaman balai desa kembali ditata dengan aksen khas serba hitam.

FGS 2017 pun kembali menelurkan prestasi pemecahan rekor MURI. Kali ini penanaman ± 30.000 bibit pohon sejenis yang juga ditujukan sebagai pelestarian di kawasan kaki Gunung Slamet. Penanaman dilaksanakan di 5 desa yang termasuk dalam kecamatan Karang Reja.



Penuangan air dari Tuk Sikopyah untuk dibagikan pada pengunjung. Foto koleksi : Bidang Kebudayaan Dindikbud Kab. Purbalingga

Kirab banyu Tuk Sikopyah pun hadir pada hari terakhir FGS #3. Banyak pengunjung Serang Rest Area yang memang telah mempersiapkan diri secara khusus untuk memperebutkan air Sikopyah dan gunungan hasil bumi. Yang berbeda, kirab tahun ini juga diikuti belasan turis yang sengaja datang ke Serang. Turut mengenakan kebaya dan lurik, para turis berjalan dari Balai Desa menuju Rest Area dengan membawa lodong. Mereka mengaku senang dengan suasana sejuk Serang dan menu tempe goreng. Dan tentu saja excited dengan agenda pendakian berburu sunrise melalui Wadas Malang. Mereka berasal dari Polandia, Hungaria, Vietnam dan Filipina.


Usai kirab dan ngalap berkah, semua pun berkesempatan menikmati nasi 3G. Paduan nikmat antara nasi jagung dengan oseng gandul (oseng pepaya), gereh (ikan asin) dan gorengan (tempe tahu). Kemasan nasi 3G ini begitu eye catching. Dibungkus sejenis daun pakis, 4.777 nasi 3G ini makin menebarkan aroma yang nikmat. Sayang, lagi-lagi saya tidak kebagian. Untungnya banyak warung yang menawarkan mendoan lezat dan kopi yang nikmat sebagai pengisi perut.







Tak hanya di Tuk Sikopyah, prosesi tradisi Sura pun berlangsung di Sungai Gintung. Seperti apa ? (bersambung)


Dari Mbah Suralingga hingga Wedang Menir

Alunan calung dengan senandung magis terdengar di sebuah pendapa berbentuk joglo. Seorang berpakaian serba hitam tengah menerawang Dakem, si gadis muda yang mengalami kejang. Ia diduga terkena "ipat-ipat wayah sandekala". Dan Mbah Suralingga sedang menyembuhkannya.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Suasana berubah kembali penuh gelak tawa ketika sang "dukun" harus berulang kali menelan air kembang yang semestinya disemburkan pada pasiennya itu. Pertunjukan tradisi lisan dari Duta Seni Purbalingga ini makin membuat pengunjung bergeming. Anjungan Jawa Tengah ramai siang itu. Minggu, 3 September 2017.

Acara yang dimulai pukul 09.00 pagi ini memang sejak awal sukses menyedot penonton. Kolaborasi tradisi lisan, calung dan lenggeran antara sanggar seni Dersanala dan Wisanggeni mengundang banyak decak kagum.

Penabuh calung adalah para pelajar tingkat SMP yang tergabung dalam sanggar seni Wisanggeni asuhan Wendo Susetyo. Mereka inilah yang menjuarai FLS2N tingkat Jawa Tengah dan akan kembali berlaga di tingkat Nasional akhir bulan ini. Kelima remaja ini langsung membabat habis waktu singkat yang diberikan panitia sebelum seremonial dimulai dengan aksi ciamiknya.

Pengunjung benar-benar beruntung siang itu. Karena pada penampilan berikutnya mereka disuguhi kolaborasi Wisanggeni dengan sanggar Dersanala yang menjadi pengiring dua tarian dan pertunjukan tradisi lisan. Ipat-ipat wayah sandekala yang dilakoni sanggar Dersanala juga membawa Purbalingga menjadi juara Festival Seni Tutur Lisan 2017 tinggat Provinsi Jawa Tengah pada 29 Juli 2017. Sementara tarian ikonik Lenggasor yang menutup penampilan Duta Seni Purbalingga ini juga turut ditampilkan di istana negara pada peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia.

Ipat-ipat

Kurang dari 60 menit, pengunjung menyaksikan sebuah "drama" yang mengambil tema ipat-ipat wayah sandekala. Bagi masyarakat Jawa, pergantian waktu yang acap disebut sandekala ini memiliki sambekala. Dan anak-anak menjadi yang paling rawan pada saat sandekala. Di Purbalingga, masihlah terdengar seseorang mengingatkan agar anak tak duduk di depan pintu jika tak ingin menjadi perawan tua. Ini adalah salah satu ipat-ipat.

Menurut Kang Tomo, pimpinan sanggar Dersanala, ipat-ipat wayah sandekala bedug (tengah hari) ini diantaranya :

1. Anak dilarang duduk di depan pintu, karena bisa menjadi perawan / bujang tua.
2. Anak dilarang bermain dibawah tlawungan (jemuran dari bambu yang ditanam di tanah), karena bisa dibawa cepet / sejenis makhluk halus yang menakutkan
3. Anak dilarang naik turun tangga, karena bisa wirang / malu di depan orang banyak
4. Anak dilarang tlethekan / menabuh benda seperti misalnya meja, karena bisa dikejar orang gila
5. Anak dilarang bermain api, karena bisa dikejar kuda
6. Anak dilarang bersiul, karena bisa dimakan Bethara Kala
7. Anak dilarang menjemur pakaian, karena bisa terkena sawan celeng (kejang / ayan)

Hal-hal semacam ini tentulah tak lagi asing bagi kebanyakan orang Jawa. Namun tak banyak generasi muda yang masih mengindahkannya. Kuno menjadi kata yang dilekatkan pada  ipat-ipat. Padahal jika mau menggalinya, kita akan mengerti kandungan sebuah pepali yang sebenarnya. "Kalau pernah mendengar apa sebenarnya yang terkandung dalam istilah ora ilok, maka seperti itu jugalah ipat-ipat ini", kata Kang Tomo.

Mari ambil contoh larangan bersiul. Saat matahari berada di titik kulminasi, maka energi pun banyak terkuras. Suasana tenang jauh lebih dibutuhkan. Bahkan aktivitas pun sebaiknyaa ditinggalkan. Bayangkan jika saat bedug zuhur itu, tetiba terdengar siulan. Tanpa sadar tubuh yang letih akan merespon dengan mencari sumber suara dan memaksa menghentikannya. Kemarahan orang inilah yang dilambangkan dengan Bethara Kala. Inilah salah satu makna yang terkandung dalam ipat-ipat wayah sandekala.

Jadi, jika kata dukun abal abal Mbah Suralingga dalam sketsa pagelaran tadi -- semua kejadian celaka saat bedug serba dikarenakan makhluk halus --, tidak sepenuhnya benar. Perlu dijlentrehkan satu per satu, agar ipat-ipat tetap relevan di jaman milenial ini.
Dibuka Galengan

Tarian lengger telah menjadi khas wilayah Banyumas Raya. Namun setiap daerah memiliki khasnya sendiri. Purbalingga telah dikenal dengan tari lenggeran Ngoser dan Lenggasor. Terbaru, Galengan ditampilkan untuk membuka event bertajuk "Pagelaran Seni, Budaya dan Promosi Kabupaten Purbalingga".


Galengan berasal dari kata Gambyong dan Lenggeran. Gambyong sendiri telah diketahui bersama sebagai tarian penyambutan tamu. Yang membedakan adalah iringan berupa calung dan beberapa gerak Banyumasan yang lebih dinamis.

Wedang Menir dan Batik Gua Lawa

Selain penampilan kolaborasi Wisanggeni dan Dersanala, pengunjung juga mendapat hiburan berupa tek-tek / kentongan dari grup Pandawa yang beranggotakan para perantau asal Purbalingga di Jabodetabek. Memang, beberapa paguyuban perantau Purbalingga tampak memanfaatkan moment untuk bersilaturahmi sekaligus mengobati kangen pada kampung halaman di Anjungan Jawa Tengah TMII. Mulai dari Papeling, Kulabangga, Bralingmania Batavia hingga Papermas (Banyumas) pun turut hadir. Semua tampak guyub dan anteng menyaksikan pagelaran yang begitu bernuansa Purbalingga.

Ditambah suguhan Wedang Menir menjadikan makin nyamleng. Sereal instan bercita rasa minuman khas nenek moyang ini bahkan hingga habis stok. Maklum saja, semua pasti ingin menikmati seperti apa rasa wedang yang juga tengah menjadi salah satu item goody bag sebuah pameran di luar negeri sana.

Tak ketinggalan Batik Gua Lawa yang tengah menjadi khas Purbalingga pun menjadi incaran para kolektor batik. Menurut Titin "Tien Batik", batik tulis justru lebih diminati pembeli siang itu.

Ada juga sepatu rajut "Hira", makanan khas seperti Jipang Kacang Lumpang, Pantek dan Sambel Knalpot "Brayan Food" juga menjadi buruan oleh-oleh. "Semua yang kami bawa kesini adalah beberapa yang berlabel juara, yang terbaik" kata Kabid Pembinaan Kebudayaan, Drs. Sri Kuncoro yang mendampingi Duta Seni Purbalingga ini.

Hingga tengah hari, pagelaran pun usai. Bukan karena takut dikejar orang gila sebab Duta Seni ini tlethekan (baca : klonengan) saat bedug, namun karena waktu yang diberikan memang telah habis. Klilan.

Cat : keseluruhan foto koleksi dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Purbalingga.

Candi Supit Urang Talagening

Candi. Mohon sedikit ubah bayangan akan kemegahan bangunan serupa Borobudur akan kata ini. Karena kata candi bisa saja mengacu pada bangunan, petilasan atau makam.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Tak jauh dari perbatasan Talagening - Serayu Larangan, saya diantarkan penduduk ke Candi Supit Urang. Satu tempat yang tak bisa mereka jelaskan, selain "makam Mbah Rantansari".

Sore itu, berapa tahun silam, usai ngadem di Curug Siputhut, perjalanan berlanjut ke Candi Supit Urang. Kaki hanya sepakat untuk mengikuti saja langkah seorang perempuan paruh baya. Ia biasa mengantarkan orang-orang menuju makam tersebut.

Kami harus melewati kebun-kebun penduduk. Dan tampak aliran sungai Soso di sepanjang perjalanan. Berselang 10 menit saja, si penunjuk jalan ini berhenti. Sebuah makam sederhana ada disana. Ia segera membersihkan dedaunan kering yang jatuh. "Niki pesareane Mbah Rantansari". Pagar batu setinggi ± 50 cm tampak mengelilingi makam ini. Banyaknya pohon aren disekitar makam turut menambah sejuk tempat ini. "Kata orang-orang tua, karena berada diantara sungai maka disebut sebagai supit urang", kata si Ibu' yang saya lupa namanya ini dalam bahasa Penginyongan yang kental.

Kawan-kawan yang datang bersama saya terlihat diam. Tak diketahuinya sosok yang bersemayam itu, membuat kami tak tahu harus berbuat apa.

Pendekar Cantik

Nama Nyai Rantansari terasa tidak asing bagi saya. Begitu mirip dengan "penghuni" Goa / Curug Ilang di Serang. Namun ketika saya tanyakan kembali pada salah seorang sesepuh di Serang, yaitu Pak Karso Wirya Hadi Pranata, tersebutlah nama Nyai Rantensari. Entah masalah fonem atau memang berbeda saya tak berani memastikan. Meski menurut cerita rakyat antara Curilang dan Tuk Mudal Sangkanayu bertalian. "Konon, air Curug ini bukannya memenuhi kedung tapi hilang kebawah. Dan tau-tau airnya jadi tuk Mudal di Sangkanayu", kisah Pak Karso. Tetiba saya terpikir bukankah Sankanayu tak jauh dari Talagening ? Eiiiiittttsssss..!!!! Anitaaaaaaa, bukan waktunya otak-atik-gathuk. Purbalingga - Tegal ini nggak bisa dibilang dekaaaat, Anitaaaa !! . *maaaaff, jangan ikutan menyangkut-pautkan begini yaa.

Bertahun berlalu, selembar kertas berisi print kisah rakyat "Asal-usul Talagening" tanpa sengaja tertangkap mata. Walaupun tetap masih muncul selintas, tertulis nama Dewi Rantan Sari. Ia adalah seorang pendekar yang dimintai tolong oleh Chotibul Ali dan Ki Nalaita untuk terus menyebarkan Islam di wilayah lembah Sidingklik. Ketika kebingungan menghadapi gempuran orang-orang yang tak menerima penyebaran agama Islam, mereka mendapat pesan untuk bergabung dengan seorang pendekar putri ulung yang juga mensyiarkan Islam. Disebutkan bahwa Dewi Rantan Sari ini madhepok di Supit Urang. Dengan bekerjasama, ketiganya pun dapat menghalau musuh. Dan salah satu tempat yang digunakan ketiga tokoh ini bermusyawarah, semula akan dibuat telaga. Hingga disebut Telaga Gending yang lambat laun menjadi Talagening.

Keberadaan Candi Supit Urang memang berada di Talagening. Meski sangat dekat dengan Curug Siputhut di Serayu Larangan. Kalau berdasar cerita rakyat yang masuk 'bothekan' ini, tokoh Dewi Rantan Sari sama dengan Nyai Rantansari yang disebutkan penduduk. Sayangnya, begitu saya menyadari akan hal ini, foto makam Nyai Rantansari / Dewi Rantan Sari saya titipkan di file kantor radio tempat saya bernaung sebelumnya. Dan tak sempat saya "selamatkan" seiring 'badai'.

Kesuwun Mama Ndut Bobotsari untuk jalan-jalan yang mungkin tak akan terulang

Hey, Mr. Postman

Surat pernah menjadi salah satu bagian mesra dalam kehidupan kita. Saya beruntung terlahir di era 80'an. Karena masih sempat merasakan menanti Pak Pos dan ramai-ramai menyelipkan sepucuk surat di Brievenbus sepulang ekskul.

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Saat berseragam putih biru, rasanya wajib menengok jendela kantor TU sekolah setiap berangkat atau istirahat. Surat untuk kita akan dipajang disana.

Meski tak hobi korespondensi, ada sekitar 10 surat saya terima melalui alamat sekolah. Semua pasti dari saudara sepupu atau kerabat lain yang sepantaran di luar kota. Eh, ada satu surat balasan hasil korespondensi yang kemudian dibuka ramai-ramai begitu ketahuan siapa pengirimnya. Yes, Rio Febrian, jawara Asia Bagus saat itu yang sudah jadi idola baru. Padahal hanya isi biodata dan foto, tapi tetap saja jadi rebutan.

Bis surat


Jika mendapat kiriman surat cukuplah menunggu di rumah atau sekolah, maka untuk mengirimnya kami harus ke Kantor Pos. Beruntung, SMP N 1 Purbalingga ini dekat sekali dengan Kantor Pos. Namun kecenderungan malas mengantri di loket untuk membeli perangko, membuat saya dan kawan-kawan satu genk memilih memanfaatkan bis surat besar yang ada di luar Kantor Pos. Selain itu, lewat bis surat inilah kami dapat mengirimnya sewaktu-waktu sepulang ekskul. Saya baru mengetahui bahwa nama asing bis surat ini adalah Brievenbus justru setelah tak lagi melakukan surat-menyurat. Ya, brievenbus yang kadang oleh beberapa kawan cowok malah diisi bungkus rokok yang selalu mereka sembunyikan saat sekolah.

Keisengan para cowok ini menjadikan kami mulai bertanya-tanya. "Jangan-jangan kotak besi itu nggak pernah dibuka, hingga jadi tempat sampah, dan surat kami tak pernah sampai", begitu pikiran buruk kami berkecambuk. Namun betapa lega hati ini, ketika suatu waktu melihat seorang Pak Pos tengah membuka kotak tersebut dan mengambil tumpukan surat dari sana. Fiiiiuuuwww. Eh, bungkus rokoknya ? Yup, bagi Pak Pos mereka sudah biasa mendapati benda-benda "asing" masuk Brievenbus. Ini diamini pensiunan pegawai Kantor Pos Purbalingga, Pak Sarmin Djoyo dan Pak Sutardi akhir tahun 2016 lalu. "Mungkin sama mereka dikira tidak fungsi ya", kenang mereka. Naaahhhh !!!!

Terkait dengan sudah diangkat atau belum surat yang kita titipkan di Brievenbus, konon dulu bisa dicek secara kasat mata. Pada badan brievenbus kita akan menemukan tulisan : buslichting no 1, no 2 dan no 3. Lihat pada gambar.

Sementara dibawahnya lagi tertera seperti ini : de lichting no .... is geschied. Pengangkatan (kotak) no.... telah dilakukan.

Kantor Pos Purbalingga


Sungguh tidak mudah menyusuri keberadaan Kantor Pos di pusat kota ini. Ada sejak kapan ? Apakah ini dibangun bersamaan dengan mahaproyek de grote postweg 1000 km ? Mengapa dibangun tak jauh dari Pendapa ? Semua belum berani dipastikan. Bahkan, menurut Mas Ali Goshi yang saya temui di Kantor Pos Purbalingga, upayanya mencari informasi melalui Kantor Pos pusat di Bandung pun tak membuahkan hasil. Sehingga tak ada jalan lain selain mendengarkan kisah dari para sepuh Kantor Pos Purbalingga. Dan bersama Pak Sarmin Djoyo serta Pak Sutardi inilah, saya mencoba menilik kepingan-kepingan memori mereka beberapa masa yang lalu.

"Yang jelas, saya disini sejak tahun 60", tutur mereka berdua. Namun posisinya tak sama persis seperti saat ini. Kantor Pos saat itu berada lebih dekat dengan jalan masuk Pendapa. Meski sedikit kesulitan mendapatkan bayangan, tetiba saya ingat saat kecil bagian samping Kantor Pos saat ini (yang menjadi tempat transit paket) justru merupakan ruang utama dengan beberapa sekat dan ruang tunggu yang redup. "Hampir semua bangunan sudah nggak ada yang asli, kecuali itu rumah dinas Kepala Kantor Pos", kenang mereka.



Rumah Dinas ini berada di Jalan Onje, tepat di sisi utara Kantor Pos. Bagian teras depannya sudah tak lagi utuh akibat pelebaran jalan belum lama. Foto diambil saat proses awal pelebaran jalan. Jadi maaf yaaa.. agak berantakan. "Dulu ini ruang bendahara pos", tambah para Mbah Kakung ini.

Istilah Kantor Pos sendiri, di dalam “Buku Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia (Jilid 1 – 1980)”, diungkapkan berasal dari bahasa Prancis, postcomptoir. Asal katanya dari comptoir dan ponere. Kedua kata ini diserap ke dalam bahasa Belanda menjadi kantoor dan posita atau post. Jadilah dikenal Postkantoor dalam bahasa Belanda. Yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi Kantor Pos.

Jika Kantor Pos di Purbalingga ini tidak diketahui tahun berdirinya, maka yang mereka ingat adalah bahwa kantor pos ini memang yang pertama ada di Purbalingga. "Habis itu, baru dibangun Kantor Pos Bobotsari. Era-era Pelita I. Tahun 67'an kalau tidak salah", kata Pak Sutardi. Pembangunan kantor pos ketiga kota ini adalah di Bukateja dan diteruskan di hampir seluruh wilayah Purbalingga. "Tahun 70'an seingat saya bangunan gedung kantor pos Purbalingga ini sempat dibongkar", tambah Pak Sarmin Djoyo.

Melalui Kereta


Surat saat itu menjadi sarana komunikasi antar kota. Warga akan lebih banyak mengirim surat untuk tujuan diluar Purbalingga. "Kalau suratnya ke Semarang, ya kita anter dulu ke Kantor Pos Purwokerto. Nanti Purwokerto yang meneruskan ke Semarang", ujar Pak Sarmin Djoyo.



Dalam sehari para pegawai Kantor Pos ini akan melalukan lalu lintas surat sebanyak 3 ×, yaitu :

- Pertama : jam 05.00 mereka akan mengantarkan surat masuk ke alamat penerima. 
- Kedua : jam 17.00 mereka mengantar surat-surat keluar (termasuk dari Brievenbus) untuk Kantor Pos Purwokerto. 
- Dan ketiga : jam 20.00 mereka akan mengambil surat masuk telah melewati Kantor Pos Purwokerto untuk disortir dan kembali diantarkan ke rumah-rumah keesokan paginya.

"Lalu lintas ke Purwokerto masih pakai kereta Mbak yang di Kandanggampang itu. Kalau untuk nganter ke rumah-rumah, kami masih mengalami yang pakai sepeda", kenang mereka. Tak hanya itu, saat kebagian shift malam pun tak jarang mereka akan menyortir surat sampai dini hari. "Kalau malam Lebaran, kami malah bisa nggak pulang. Soalnya banyak sekali kiriman kartu Lebaran", lanjut mereka.

Pak Sarmin Djoyo bahkan mempunyai kisah unik selama bertugas menjadi "Pak Pos". Saat hendak mengantarkan surat-surat itu ke stasiun Kandanggampang, sepeda motor dinasnya ditabrak. Ia luka parah.Namun karena seragam yang dikenakannya, masyarakat pun ramai-ramai menolong agar surat itu tak terlambat dibawa kereta. Oouuuwwwhh, surat memang dipentingkan sekali pada saat itu.

1919


Inilah angka tahun yang tertera di badan Brievenbus. So ? "Mungkin memang pembuatannya tahun itu Mbak, tapi apakah di Purbalingga sudah ada dari 1919 kami tidak dapat memastikan", tutur mas Ali.

Ditambahkan Pak Sarmin Djoyo, brievenbus ini dulunya banyak ditempatkan di pertigaan atau perempatan. Namun yang berukuran besar memang seingatnya sudah ada di Kantor Pos sejak ia menjadi karyawan. "Dulu di halaman depan, terus dipindah ke samping (masuk Jl. Onje). Wong saya ikut mboyongnya", imbuh Pak Supardi.



Foto diambil sekitar bulan Oktober 2016. Saat proses awal pelebaran jalan dimulai. Posisinya kok miring ya ? Menurut mas Ali bergesernya brievenbus terjadi akibat gempa Jogja dulu. Ooooh, saya kira kena alat berat saat proses pelebaran jalan Onje.

Menurut kisah kedua pensiunan karyawan kantor pos ini, brievenbus ini pernah menjadi saksi kisah cinta salah seorang mantan Bupati Purbalingga. "Dulu Pak Kento kirim surat buat Ibu lewat brievenbus ini", cerita mas Ali. Waaaahh... saya iri. Jaman saya kenal kamu, surat sudah digantikan dengan sms. Makanya kamu nggak romantis.

Kini, lalin surat memang tak lagi se-traffic dulu. Namun bis surat (mungkin) masih bisa menjelaskan seperti apa perannya dulu. 

KOTA KUNA : Rumah Tinggal Pendeta


Jika saya menyodori foto ini (khusus untuk masyarakat perkotaan Purbalingga) apakah Anda mengenalinya ? Tahukah bahwa ini foto bangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbalingga ?

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •


Saya masih sangat lemah teknik fotografi pada 2013 silam. Jadi maafkan, jika foto yang tergantung di dinding ruang rapat GKJ ini malah tak seindah aslinya.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbalingga berada di deretan Jl. Jendral Soedirman timur. Jalur utama yang dikenal berada di kawasan Bancar. Banyak bangunan peninggalan kolonial masih berdiri disana. Hingga dulu pernah dicetuskan penyebutan "Kota Kuna Purbalingga" disana. Sekarang masihkah ada istilah ini ?

Keberadaan rumah ibadat Kristen dan penyebaran ajaran ini dimulai sejak era pendudukan Belanda. Ini seperti yang disampaikan Pdt. Slamet Waluyo, saat kami berbincang 4 tahun silam.


• Cikal Bakal •




Sebenarnya cikal bakal pertama GKJ ya di Banyumas. Dalam sejarahnya, pada 1850-an, sembilan orang buruh miskin tukang mbatik yang menjadi pembantu Ny. Van Oostrom Phillips di Banyumas, nekat berjalan kaki menerabas desa dan gunung menuju Semarang. Tujuan mereka adalah mendapatkan tanda baptis dari Zendeling NZG W. Hoezoo pada 10 Oktober 1858. 

Mereka melakoni ini karena pemberian tanda baptis di Karsidenan Banyumas oleh Zendeling tersebut dilarang oleh pemerintahan kolonial setempat. Selanjutnya dalam mempelajari agama maupun melantunkan kidung pujian, mereka hanya bermodalkan hapalan. Itulah kelebihan mereka sebagai buta aksara. Foto diunduh dari sini

Tumbuhnya kelompok Kristen awal ini segera disusul tumbuhnya kelompok lain hasil dari Pekabaran Injil Nederlandche Gereformeerde Zending Vereniging (NGZV) yang mulai bekerja di Jawa Tengah sejak 1865. Seperti di Tegal dan Purbalingga. Khusus Purbalingga, tak hanya wilayah perkotaan saja namun juga Bobotsari dan Bojong.

• Awal di Kandanggampang •

Sejarah Pekabaran Injil di Purbalingga dimulai dari tokoh penginjil berkebangsaan Cina asal Amoy bernama Gan Kwee. Pada 1862, ia bertemu Kho Tek San di kota ini yang kemudian mengikuti Pekabaran Injil (PI). Namun belum cukup apa yang diperoleh pedagang hasil bumi keturunan Cina ini, Gan Kwee lebih dulu meninggalkan Purbalingga guna PI di wilayah lain.

Awal 1865, Guru Injil bernama Leonard mencoba meneruskan upaya PI Gan Kwee. Hingga kemudian kediaman Kho Tek San pun dijadikan pos pelayanan Injil. Dari situ, keluarga Kho Tek San lainnya (termasuk yang keturunan Jawa) ikut menerima pengajaran. Kurang lebih sepuluh anggota keluarga Kho Tek San ini lalu menerima tanda baptisan saat ada kunjungan DS A. Vermeer di Purbalingga. Ini terjadi pada 1866. 

Dan guna mempermudah pelayanan ibadat, dibangunlah Gereja sederhana di Kandanggampang. Pada pembukaan Gereja ini turut hadir Gubernur Jendral Mr. P. Meyer yang kebetulan meninjau Purbalingga pada 26 Oktober 1892.

• Bangunan baru pada 1926 •

Setelah NGZV menyerahkan tugas PI pada De Gereformeerde Kerken in Nederland pada 1 Juni 1894, diadakanlah pembagian wilayah. Dan untuk mempermudah hubungan antara Gereja di Belanda dan di tanah Jawa, maka ditetapkan Gereja Pengutus. Dan Gereja-gereja Rotterdam & Zuid Holland memilih daerah Karsidenan Banyumas, Kabupaten Banyumas dan Purbalingga, distrik Purwokerto dan Ajibarang. 

Pendeta utusan pertama adalah Ds. Gerrit J. Ruyssenaers yang bertempat di Purbalingga pada 4 November 1901 - 5 Juni 1907. Ia meninggal karena disentri. Upayanya dilanjutkan dengan utusan PI kedua yaitu Ds. Benhard Jonathan Esser. Pada masa Esser inilah :

* dirintis rumah sakit yang diprakarsai M. Van Stokkum di Trenggiling pada 1910
* dibuka sekolah oleh Nn. Y.A.H. Weeda pada 1913
* dan didirikan gedung gereja baru yang dapat menampung 600 orang dengan biaya 8.888 Gulden pada 23 November 1926.

Sayang, foto ini tidak diketahui kapan pembuatannya. Apakah usai didirikan pada kisaran 1926 atau lebih.


• Mandiri •



Mencuatnya nama Kyai Sadrach Suropranoto menjadi awal lahirnya kemandirian Gereja Kristen di Jawa ini dengan tata cara, tata busana, tata nyanyian hingga tata ruang bangunan tempat ibadat agar tidak kebarat-baratan. Ironi memang, bahwasannya budaya Barat ini sempat dikira sebagai bagian dari ajaran agama.

Upaya mandiri tidaklah mudah. Dalam perjalanannya, meski tokoh keagamaan mulai mandiri, namun dana dan ajaran masih bergantung Zending. Berkait kedatangan Jepang pada kisaran tahun 1942-1943, ternyata menjadikan hubungan dengan Eropa terputus. Hal ini dikarenakan banyak Pendeta Missi yang ditawan Jepang. Barulah jauh usai Indonesia merdeka, Gereja-gereja Jawa tak lagi melanjutkan kerjasama PI dengan Eropa. Dan mulailah dikenal nama Gereja Kristen Djawa.

• Bangunan Diduga Cagar Budaya •


Jika bangunan GKJ sudah mengalami beberapa kali perombakan, maka peninggalan Zending yang masih dapat dilihat adalah rumah tinggal Pendeta yang berada di sebelah gereja. "Pintunya gede-gede, lantainya tegel kotak-kotak berwarna abu-abu", kata Pdt. Slamet Waluyo, S.Si.

Bangunan rumah tinggal ini telah masuk daftar inventaris BCB Purbalingga. Luasannya mencapai 15 m × 15 m dengan atap genteng berbentuk limasan. Di pintu utamanya terdapat pintu kasino kayu dengan bouven terbuka. Jendela ditutup krepyak kayu dengan bouven yang juga ditutup kisi-kisi kayu. Sayangnya, saya kehilangan file foto bangunan ini. Maklum saja, 4 tahun berlalu dan file sudah entah berantakan dimana. Uh, sungguh keteledoran yang menyesakkan.

(Materi bersumber dari dokumen milik Pdt. Slamet Waluyo)

KULA NUWUN,... ANDUM SLAMET SEDULUUURRR

Kula nuwun..
Wilujeng Enjing..
Andum slamet...

Ketiga kosakata ini tengah kembali akrab ditelinga. Saya dibisiki bahwa inilah salam Penginyongan (boleh dibaca : panginyongan).

• oleh : Anita Wiryo Rahardjo •

Tak banyak yang bisa saya lakukan selain terbengong-bengong saat diminta membawakan sebuah acara kedinasan dalam bahasa penginyongan. Dimana persiapan yang diberikan tak lebih dari 24 jam. "Teyeng ora ?", batin saya. Karena meski dalam lingkup pergaulan, bahasa ini menjadi keseharian, namun tidak demikian di dalam rumah.



Bahasa penginyongan lazim dituturkan oleh masyarakat Banyumas Raya. Meliputi : Banyumas, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Wilayah yang dikenal berbahasa ngapak. Ah !! Saya kemudian teringat bagaimana beberapa kawan (bahkan Ibu saya) yang merasa sedikit "terluka" dengan istilah ngapak. Istilah bahasa yang entah kenapa jadi gojekan pakdhe-budhe saya di Solo. Tapi sudahlah, dengan istilah "basa penginyongan" yang kini digaungkan, saya menjadi lebih leleb.

Dalam sebuah sesi diskusi yang menghadirkan narasumber budayawan Ki Ahmad Tohari ini, saya jadi sedikit lega. Meski kemudian cemas. Lega, karena yang pating blekethut menuturkan basa penginyongan bukan saya seorang. Hampir semua peserta diskusi pun banyak melakukan 'kesalahan' ucap. Karena telah menjadi kebiasaan, basa Jawa kromo alusan lah yang lazim dituturkan dalam acara resmi. Dan ini jugalah yang menjadikan pikiran cemas saya muncul. Foto diambil dari FB majalah ANCAS

Pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk ini juga menjelaskan bahwa kikisnya basa penginyongan terjadi dikarenakan beberapa hal. Diantaranya adalah :

1) Kedatangan Gandek atau utusan kerajaan Pajang yang menggunakan bahasa Jawa gaya keraton. Basa para gandek kemudian dikenal juga menjadi basa bandek ;
2) Sekolah. Terbukti kemudian di Jawa Tengah kita hanya mengenal gaya pengucapan bahasa Jawa Tengah wetanan dalam kurikulum;
3) Globalisasi ;

• dari O kembali ke A •

Inilah hal sulit. Mengucapkan KULO menjadi KULA ternyata butuh energi besar. Kebiasaan yang sudah berlangsung selama 3 dekade ini tak serta merta bisa diubah dalam beberapa jam. Belum lagi kosakata keseharian lainnya.

Sedoyo -> Sedaya.
Mriko -> Mrika.
Monggo -> Mangga, dsb.

Namun tak berarti semua akhiran O menjadi A. Apalagi kalau soal nama. Enggaaak laaaahhh... Nama belakang saya tetap saja Wiryo Rahardjo. Bukan lantas karena penginyongan menjadi Wirya Rahardja.

Konon penggunaan huruf A diakhir yang tetap dibaca A bukan O adalah kebiasaan pada era Majapahit dahulu. Ah, belum ada yang menjelaskan ini secara gamblang ke saya. Jadi tak tepat rasanya kalau dipanjang-lebarkan.

Belajar dari karya sastra semacam novel karya Ahmad Tohari ini bisa juga kok. Dilengkapi kamus dibelakangnya.


Kata keseharian lain tak kalah bikin blimpet. Terbiasa mengatakan "kados niko" membuat saya kagok mengucap "kaya nika". Lalu "matur suwun / kesuwun" yang sulit dikatakan dibandingkan "matur nuwun". Atau "badhe" yang lebih tepat diucap "ajeng" dalam versi penginyongan. 

Wah, wah, wah !! Ini sepertinya akan lebih mudah dipelajari kalau saya tinggal di desa asal Bapak. Bukan kenapa-kenapa. Karena kalau di pusat kota, hampir semua telah meninggalkan bahasa ibu dalam keseharian. Apalagi anak-anak era kini. Tak heran jika bahasa ibu (dalam hal ini karena saya tinggal di Purbalingga ya berarti basa penginyongan) bisa terancam punah.


• Ada tatanan sopan santun •

Basa penginyongan atau basa cablaka merupakan bahasa yang jujur dan setara. Egaliter. Sama seperti halnya bahasa Indonesia. Semuanya MAKAN. Sementara dalam tatanan Jawa kromo ada NEDHA ada DHAHAR ada MADHANG (versi kami). Lalu bagaimana dengan basa penginyongan ? Memang perlu kepekaan disini. Meski tidak alus dan mengklung-mengklung, ada penempatan kosakata krama bagi yang lebih tua atau dituakan.


Contoh : :
Ibu makan dulu saja = Ibu' dhahar rumiyin mawon mboten punopo = Rika dhahar disit ya kena, Yung.

See ? Dhahar menjadi kata dipilih bukan madhang. Kecuali kami seumur.

Susah-susah gampang sebenarnya. Kuncinya jangan gengsi saja. Itu pesan beberapa sesepuh. Kadangkala perasaan gengsi disebut ndesani memang melanda. "Padahal apa bedanya bantal dengan kampil. Apa lantas kampil derajatnya dibawah bantal ? Wong ujudnya sama", kata salah seorang dari mereka pada kesempatan terpisah. Dash !!

Kenyataan kita menempati wilayah di sekitar Gunung Slamet, sepertinya harus mampu kita tunjukkan dengan penggunaan basa penginyongan ini. Identitas. Itu saja. Bermula dari mengenal bahasanya kita dapat mendalami budayanya. Ada pemikiran luhur didalamnya. Itu pasti. Tinggal mau menggali atau tidak. Jika enggan mikir sejauh itu, minimal kita jadi tak bingung bertanya saat tersesat. Apalagi kalau yang ditemui udah sepuh dan tak lancar berbahasa Indonesia. Naaaahh.


Ngaku !! Yang minjem kumcer berbahasa penginyongan ini siapa laaaah ?!?!?! Kok dirumah belum balik lagi koleksinya ? (Alm) Mbah Tri ngapurane, jan rika bener kiye buku perwewehe mesti ilang nek ora dijagani temenanan. Akeh sing melik jebule.


Setelah adanya kongres basa panginyongan yang dilaksanakan pada kisaran akhir April lalu di Banyumas, setidaknya kita memang mulai mencoba pelan-pelan. Untuk dunia sekolah, ada yang berwenang memasukkannya di kurikulum. Nah, kita yang diluar itu dihadapkan pada kenyataan yang tidak mudah. Sanggupkah menjadikannya basa pedinan / sehari-hari (pertanyaan ini untuk saya kok) ? Karena untuk ngobrol dengan tetangga sebelah pun saya tak berani nyambat "rika", "ngono" apalagi "ko" meski usianya lebih muda. Ia pernah begitu marah merasa tak dihormati saat seorang penjual cilok bertanya padanya "Rika tumbas pinten Bu ?"

Wis disit lah. Nyong kayong mandan puyeng. Kakehen ndobos ndean kiye. Ngapurane angger akeh klerune. Tegin belajaran.

Ditulis 10 Mei 2017

Menjajakan Wayang Suket

Belum terlintas bayang, bahwa wayang suket pernah dijual melalui pasar-pasar tradisional. Mbah Gepuk (Kasanwikrama Tunut) sendiri bahkan yan...