MBAH SUGINI, JUALAN CINCAU SEJAK 1964
Saat itu masih baru selepas Subuh, seorang teman kembali mengirim pesan.
"Jangan kesiangan ya, tar keabisan"
Segasik apa sih sebenarnya warung ini sudah habis jualan? Sampai-sampai saya harus sepagi itu mengantri. Lagipula sebenarnya saya tidak minum es di pagi hari.
Pukul 8.30 saya sudah dijemput. Kendaraan segera menuju ke Perempatan Bancar, jarak yang masih cukup dekat dari pusat kota Purbalingga. Bahkan seandainya berjalan kaki pun masih dapat dijangkau kurang dari tigapuluh menit.
Di trotoar, terlihat beberapa orang mengerumun. Saya menebak disanalah tujuan saya. Ternyata bukan warung permanen. Hanya sebuah meja kayu biasa berisi bahan dagangan yang memanfaatkan salah satu sudut trotoar.
"Monggo, Mbak"
Saya mendengar suara seorang perempuan sepuh dari tengah kerumunan. Tangannya tampak cekatan meracik cincau dengan santan, air gula dan es batu dalam gelas-gelas yang sudah berjajar rapi.
Satu per satu mereka mendapatkan segelas es cincau dan mulai menyeruputnya di pinggir jalan. Bahkan tidak ragu duduk di trotoar. Luar biasa.
Mbah Sugini, nama sang peracik es ini sudah berusia 73 tahun. Namun tak terlihat tanda lelah melayani pembeli dengan ramah. Selain murah senyum, ia senang bercerita apa saja.
Cincau sepertinya menjadi spesialis racikannya. Bagaimanapun Mbah Sugini sudah membuatnya sejak 1964.
"Jangan kesiangan ya, tar keabisan"
Segasik apa sih sebenarnya warung ini sudah habis jualan? Sampai-sampai saya harus sepagi itu mengantri. Lagipula sebenarnya saya tidak minum es di pagi hari.
Pukul 8.30 saya sudah dijemput. Kendaraan segera menuju ke Perempatan Bancar, jarak yang masih cukup dekat dari pusat kota Purbalingga. Bahkan seandainya berjalan kaki pun masih dapat dijangkau kurang dari tigapuluh menit.
Di trotoar, terlihat beberapa orang mengerumun. Saya menebak disanalah tujuan saya. Ternyata bukan warung permanen. Hanya sebuah meja kayu biasa berisi bahan dagangan yang memanfaatkan salah satu sudut trotoar.
"Monggo, Mbak"
Saya mendengar suara seorang perempuan sepuh dari tengah kerumunan. Tangannya tampak cekatan meracik cincau dengan santan, air gula dan es batu dalam gelas-gelas yang sudah berjajar rapi.
Satu per satu mereka mendapatkan segelas es cincau dan mulai menyeruputnya di pinggir jalan. Bahkan tidak ragu duduk di trotoar. Luar biasa.
Mbah Sugini, nama sang peracik es ini sudah berusia 73 tahun. Namun tak terlihat tanda lelah melayani pembeli dengan ramah. Selain murah senyum, ia senang bercerita apa saja.
Cincau sepertinya menjadi spesialis racikannya. Bagaimanapun Mbah Sugini sudah membuatnya sejak 1964.
Dulu dia mengawali jualannya di Gading Mas Indonesia Tobbaco atau yang lebih dikenal dengan sebutan PT. GMIT. Kabarnya, perusahaan tembakau tinggalan kolonial ini cukup bonafit pada masanya. Dan tidak heran juga, jika mereka sudah suka jajan es di tahun-tahun tersebut.
Setelah PT GMIT mengalami kemunduran, Mbah Sugini berpindah jualan di salah satu pabrik Bojong pada sekitar 1967. Katanya di pabrik penggilingan padi yang sekarang jadi taman Bojong. Wah, bukankah ini bekas lokasi pabrik gula zaman Belanda ya?
“Saya jualan di perempatan Bancar ini sejak 1973 sampai sekarang", kenangnya dalam bahasa Jawa khas Banyumasan.
Mbah Sugini mengatakan bahwa sejak dulu, pelanggannya memang sudah banyak. Jadi untuk terus mempertahankan para penikmat cincaunya, dia tidak mengubah komposisi bahan dasarnya.
Setelah PT GMIT mengalami kemunduran, Mbah Sugini berpindah jualan di salah satu pabrik Bojong pada sekitar 1967. Katanya di pabrik penggilingan padi yang sekarang jadi taman Bojong. Wah, bukankah ini bekas lokasi pabrik gula zaman Belanda ya?
“Saya jualan di perempatan Bancar ini sejak 1973 sampai sekarang", kenangnya dalam bahasa Jawa khas Banyumasan.
Mbah Sugini mengatakan bahwa sejak dulu, pelanggannya memang sudah banyak. Jadi untuk terus mempertahankan para penikmat cincaunya, dia tidak mengubah komposisi bahan dasarnya.
Tetap bertahan dengan daun cincau lokal. Bahkan air untuk membuat cincaunya juga harus air matang. Serta tanpa bahan pengawet.
Setiap jam 6 pagi, Mbah Sugini mulai meremas daun cincau dalam sejumlah air matang itu tadi. Dia menyimpannya dalam wadah stoples kaca bening berukuran besar. Jumlahnya bisa mencapai 3 stoples dalam satu kali produksi. Setelahnya Mbah Sugini akan membuat santan dan air rebusan gula merah sendiri.
Berselang dua jam, cincau sudah mengental dan siap untuk disajikan pada pelanggan. Jadi, benar-benar cincau baru matang.
"Kalau bikinnya malem, ya wayu (basi)", ujarnya. Untuk membuat cincau ini, dia harus rajin kulakan ke desa-desa di Purbalingga. Menurutnya cincau yang enak dan tidak langu justru berasal dari daun tumbuhan cincau lokal yang berbulu.
Selain citarasa yang tetap terjaga, Mbah Sugini pun menjadikan harga jualannya tetap merakyat. Dia teringat saat pertama kali berjualan, es cincaunya ini dihargai 1 Ringgit.
Coba tebak berapa harganya? Bayangkan nih di tahun 2013, harga es cincaunya hanya Rp. 1.500,-.
Memang terjangkau. Seingatnya di tahun 1964, cincau buatannya masih seharga 1 Ringgit (setara Rp. 2,5).
Setiap jam 6 pagi, Mbah Sugini mulai meremas daun cincau dalam sejumlah air matang itu tadi. Dia menyimpannya dalam wadah stoples kaca bening berukuran besar. Jumlahnya bisa mencapai 3 stoples dalam satu kali produksi. Setelahnya Mbah Sugini akan membuat santan dan air rebusan gula merah sendiri.
Berselang dua jam, cincau sudah mengental dan siap untuk disajikan pada pelanggan. Jadi, benar-benar cincau baru matang.
"Kalau bikinnya malem, ya wayu (basi)", ujarnya. Untuk membuat cincau ini, dia harus rajin kulakan ke desa-desa di Purbalingga. Menurutnya cincau yang enak dan tidak langu justru berasal dari daun tumbuhan cincau lokal yang berbulu.
Selain citarasa yang tetap terjaga, Mbah Sugini pun menjadikan harga jualannya tetap merakyat. Dia teringat saat pertama kali berjualan, es cincaunya ini dihargai 1 Ringgit.
Coba tebak berapa harganya? Bayangkan nih di tahun 2013, harga es cincaunya hanya Rp. 1.500,-.
Memang terjangkau. Seingatnya di tahun 1964, cincau buatannya masih seharga 1 Ringgit (setara Rp. 2,5).
Setiap harinya, Mbah Sugini mampu menyajikan sekitar 100 gelas es cincau. Meski selalu balik modal setiap harinya, Mbah Sugini tetap tampil dengan segala kesederhanaannya. Lapaknya pun hanya berupa meja kecil di bawah pohon yang bisa dipindahkan sewaktu-waktu.
Bagi wanita yang sudah memiliki buyut ini, sekarang yang terpenting adalah dia tetap sehat menjalani masa tua bersama suaminya.
"Saya mau terus jualan", tekadnya.
Bukan hanya sekedar menjadi kesibukan di usia senjanya namun juga untuk menolong orang-orang yang kehausan di jalan.
- Anita Wiryo Rahardjo
Komentar
Posting Komentar