Tuesday, 17 September 2013

KETOPRAK TOBONG, RIWAYATMU KINI





 Salah satu sudut rumah pasangan seniman ketoprak tobong Sumarni - Sukirman
 

“Ora ana wong kere, kaya dene kere-ne ketoprak. Lan ora ana wong dadi Raja kaya dene raja ketoprak”

Ungkapan ini beberapa kali terucap dari bibir pasangan mantan pemain ketoprak Sukirman – Sumarni, di kediaman mereka di Purbalingga. Setelah berbulan-bulan mencoba menggali informasi tentang kesenian rakyat ini, akhirnya sedikit kisah tentang ketoprak tobong terbuka juga. Bagaimana lengkapnya ?

PENGUNGSIAN

Sore yang cerah menjadi semakin hangat dengan obrolan pasangan ini yang diawali dengan kenangan masa kecil mereka yang dilewatkan di tobong ketoprak. Mereka sama-sama putra seniman ketoprak. Sehingga sejak awal seni peran tradisional ini sudah mendarah daging. “Lah wong kita ini lahir dibawah kelir kok”, seloroh mereka.

Dan seperti lazimnya para seniman ketoprak tobong merekapun bukan penduduk asli alias pendatang. Sumarni sendiri berasal dari Gombong Kebumen, sementara Sukirman asli Kulon Progo, Jogjakarta. Bagaimana mereka bisa sampai di bhumi perwira ini ?

Sumarni mengisahkan pada sekira tahun 60 kedua orang tuanya memilih mengungsi dari serbuan paham komunis dengan kedok berkesenian. Dengan dalih berprofesi sebagai seniman ketoprak ini, selain lebih mudah berpindah-pindah ke lokasi yang lebih aman mereka pun terbebas dari kecurigaan pihak keamanan.

Mbiyen, podho sami dados pemian ketoprak niki sakjane podho ngili. Lah seko Gombong, Prembun, Banyumas akhire Purbalingga”, kenang Sumarni.

SEJARAH KETOPRAK

Ketoprak meruapkan seni drama atau sandiwara tradisional yang muncul pada sekira tahun 1922 pada masa Mangkunegaran. Seni ini diperankan diatas panggung dengan mengambil cerita dari sejarah, cerita panji, dongeng dan lainnya. Yang pasti tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar Ramayana & Mahabaratha. Bahkan kadangkala cerita saduran dari luar negeri pun kerap dimainkan. Ciri khasnya adalah diselingi lawakan atau humor.

Semula ketoprak diciptakan oleh masyarakat diluar kerajaan. Pemeran memainkan tokoh raja, ratu, mentri, panglima, bangsawan dan siapapun yang diinginkan. Namun pada kenyataannya anggota kerajaan pun menyenangi seni rakyat ini.

Pada awalnya ketoprak menggunakan iringan suara lesung dan alu. Alat-alat ini menimbulkan suara “prak, prak, prak” yang menjadi inti kata ketoprak. Namun seiring waktu berjalan ketoprak pun kerapkali diiringi gamelan, keprak bahkan sampai music modern seperti biola, terompet, dsb.

Pad atahun 1924, grup ketoprak kelilingan muncul di Jogjakarta yaitu Langen Budi Wanodya. Dan sejak saat itulah bermunculan grup-grup ketoprak kelilingan di berbagai wilayah. Ketoprak kelilingan inilah yang kemudian menginspirasikan pembuatan tobong ketoprak.


TOBONG ADALAH RUMAH

Tobong adalah kata yang digunakan untuk menyebut bangunan permanen yang dapat dipindah-pindah. Ingat dengan bilik suara ? Nah, dalam bahasa Jawa bilik suara juga sering disebut sebagai tobong Pemilu.

Nah, terkait dengan nama “tobong” ini, Sukirman mengungkapkan ada dua kategori untuk menyebutkan tempat pementasan ini. Pertama : bangunan non permanen untuk pementasan dan tempat tinggal seniman ketoprak yang dapat dibongkar pasang dan berpindah-pindah tiap beberapa waktu. Yang kedua adalah sebuah bangunan semi permanen yang sengaja dibangun untuk pementasan ketoprak dan wayang orang dengan grup pengisi yang berganti-ganti dalam periode waktu tertentu. “Jadi, kalau bangunannya sudah semi atau permanen sekalian dan pengisinya hanya satu grup saja, namanya bukan lagi tobong tapi gedung kesenian”, terang Sukirman.

Tobong adalah tempat hidup para seniman ketoprak. Pada saat pagelaran, tempat ini berfungsi menjadi arena pementasan. Sebelum dan sesudah pentas, tobong akan beralih fungsi menjadi rumah bagi para pemainnya. Jadi seluruh aktivitas mulai dari makan, belajar, tidur, dandan sampai pentas dilakukan di tempat ini. Bersama-sama dengan pemeran lainnya. Bahkan mereka tidak hanya “gel-gel-an nggawa awak siji” namun anak-anak mereka ang masih kecil pun ikut merasakan hidup di dalam tobong.

Sumarni mengisahkan, anak-anak tobong ini sangat kesulitan untuk bersekolah karena penghasilan orang tuanya yang tidak seberapa. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja sudah luar biasa susahnya. Berunung saat masa kecilnya, ada seorang personil tobong yang dengan sukarela mengajari mereka calistung. Ya meski tidak smeuanya beruntung dapat mengenyam pendidikan formal, namun ditangan merekalah kesenian ini terus lestari. Tidak sedikit dari anak-anak “wayang” ini memulai debutnya sebagai opening act performer. “Mbiyen sing teksih enom biasane podho dados ekstra ndisik. Dados wonten tari-tarian riyin sedereng ketoprak mulai”, kisah Sumarni yang juga mengawali kariernya sebagai ekstra atau bonus dalam pagelaran ketoprak. Diluar pendidikan menari, nembang, ngrawit dan berperan, pendidikan seni hidup di tobong jugalah yang memantapkan langkahnya menjadi seorang seniman.

“Seniman itu harus bisa hidup dimana saja dengan kondisi seberat apapun di lingkungan yang beragam. Ga perlu malu, isin yo ra mangan”, lanjut Sumarni sembari mengenang betapa survival-nya para seniornya dulu. Bagaimana tidak ? Kemegahan pagelaran ketoprak tidaklah sebanding dengan realita kemerlaratan di tobong. Pengalamannya mencatat kisah-kisah seniman lain yang mau tidak mau harus membuang malu memunguti puntung kretek penonton yang tertinggal. Setelah mencapai jumlah yang cukup, puntung-puntung itu dibongkar, dijemur dan dijual kembali. “Tapi kalau cuma dapet satu ya dirokok sendiri”, gelaknya.

Pemandangan rutin serupa inilah yang membuat Sukirman kemudian memutuskan mencari pekerjaan lain dan cukup sesekali nimbrung main bersama istrinya yang memang total berkesenian. Meski kemudian tobong ditinggalkannya, namun pelajaran hidup disana menjadi bagian dalam darahnya.

foto ini diambil dari jogjanews.com




TANPA SKRIP

Sebagai seorang penonton, kita seringkali dibaut terlarut dalam suatu cerita. Kepiawaian wayang memerankan lakon memang dituntut dalam ketoprak atau wayang orang. Learning by doing adalah pola yang berlaku di tobong. Berbeda dari sandiwara yang biasa saya perankan, ternyata ketoprak yang sebenarnya tidaklah membutuhkan naskah scenario berisi dialog.

Jalan cerita dan pemahaman karakter yang sudah mengakar serta penuangan dari dhalang pada siang sebelum pementasan menjadi bekal yang lebih dari cukup.

Penuangan adalah istilah khusus dalam seni peran panggung Jawa yang berarti setaraf briefing. Saat penuangan inilah dhalang akan ndapuk peran pada para pemainnya disertai gambaran cerita scene per scene dan penjelasan karakter tokoh. Dan sebelum penuangan berlangsung, dhalang akan memanggil para wayangnya dengan kentongan. Lalu bagaimana jika menyertakan bintang tamu ? Ternyata aturan wajib hadir saat penuangan juga berlaku untuk bintang tamu. Sehingga semua merasa memiliki tanggung jawab sama dalam mensukseskan pagelaran. Meski hanya peran kecil yang didapat.

HONOR DIBAGI RATA

Jika dunia peran selalu identik dengan gemerlap, bukankah seharusnya hidup pemerannya pun minimal berkecukupan ? Ternyata kenyataan memang tidak seindah sandiwara. Meski mentas tiap malam, terkadang gerabah pun masih harus digadaikan . Untuk makan.

Dalam tobong, grup ketoprak akan dipimpin oleh seorang bas. “Bas lho ya bukan bos”, ucap Sukirman mengingatkan. Bas ini diambil dari kata nebas. Maksudnya adalah bekerja bersama dengan hasil dibagi sama rata. “Kalau bos dapet uang dibagi ke anak buahnya beda-beda, bosnya dapat paling gedhe, kalau bas akan memabagi sama rata”, terang pria yang masih keturunan Timur Tengah ini.

Honor itu akan diperoleh setelah bas melunasi kewajibannya membayar pemain cabutan, bintang tamu sampai alat-alat sewaan. Nah, sisa uang itulah yang kemudian dibagi untuk para pemeran dan penayagan yang jumlahnya berkisar 100 orang. Bisa dibayangkan bukan berapa prosentase yang diterima perorangan ? Sangat minim. Apalagi harga tiket pementasan pun tidak bisa tinggi dengan dalih kesenian rakyat.

Namun, lagi-lagi kecintaan pelakunya pada seni membuat mereka rela berjuang mempertahankan ketoprak. Meski akhirnya ketoprak tobong di Purbalingga pun tidak dapat dipertahankan.

MATI SE-NGGON- NGGON

Bagi Sumarni keleleran tidak memiliki makanan masih lebih beruntung ketika menjalani hidup di tobong. Kejadian tidak terlupa dalam hidupnya adalah ketika menyaksikan salah seorang rekan ibunya meninggal di tobong. Saking melaratnya, untuk sekedar kain kafan dan biaya penguburan pun mereka kesulitan. Dengan penuh iba, jasadnya kemudian hanya ditutupi tikar dan dititipkan pada desa untuk dimakamkan sebagaimana mestinya. Memang sudah menjadi tradisi tempat terakhir pementasan acapkali menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang gipsy ketoprak.

BEDA WILAYAH BEDA CERITA

Beragam legenda dan cerita rakyat di tanah Jawa membuat grup ketoprak harus pintar membaca situasi. Guna memperahankan penonton, selain memainkan cerita berseri setiap malam, mereka pun harus mengakhirkan pementasan dengan kisah-kisah tertentu. Sebelum berpindah tempat, maka lakon terakhir yang dimainkan adalah Kamadaka di Banyumas dan Haryo Penangsang di wilayah wetan.

Karakter penokohan yang berbeda-beda membuat mereka menjadi hapal kostum dan riasan khas para tokoh. Dan ketika berbicara tentang riasan, para seniman ini haruslah dapat merias dirinya sendiri. Sesi ini kerap menjadi waktu ngobrol ringan sebelum pentas dan pengeksplorasian kemampuan art painting pada wajah.

Dulu make up bagi mereka dalah barang mahal. Sehingga pilihan pun jatuh pada serbuk siwid. Mungkinkah yang dimaksud adalah sea weed ?  Saya juga kurang paham. “Serbuk siwid ada di toko besi, murah kok, ada yang merah, kuning dan putih”, tutur Sumarni.

Serbuk siwid dalam pengunaannya harus melalui proses pemasakan lebih dulu. Siwid akan direbus dengan air secukupnya beserta bunga kantil atau kenanga. Jika sudah mendidih, cairan ini harus diendapkan dulu selama dua malam sebelum digunakan.

Untuk mendapatkan warna yang diingnkan, tergantung dari proses pencampurannya. Dengan siwid ini konon akan menjadikan wayang terlihat lebih bercahaya dibawah sinar lampu. Meski bertahun-tahun menggunakan siwid, namun kulit keduanya tidka mengalami kerusakan.

PENONTON PUN UNIK

Selain kehidupan dalam tobong yang unik, penontonnya pun sangat khas. Banyak masyarakat yang eringat dnegan tiga kelas bangku penpnton ketoprak tobong. Kelas depan sendiri dengan harga tiket paling mahal dan kelas tiga berada di urutan paling belakang dengan harga tiket termurah. Kursi penonton terbuat dari bambu panjang tiga helai yang diikat seadanya. Tanpa sandaran. Pada sekitar tahun 70’an harga tiketnya untuk ketiga kelas adalah Rp 25, Rp 50 dan Rp 75.

Sementara itu beberapa orang juga masih teringat bagaimana dukanya menjadi penonton kelas 1 yang justru sering dilempari kulit kacang dari belakang. Karena disebut mengalangi pandangan. Belum lagi jika masih harus mendapat kiriman aroma pesing. Hmmmm,…itulah seninya menonton ketoprak tobong.

Purbalingga sendiri memiliki bangunan tobong di dukuh Serang, dekat tugu knalpot sekarang. Kabarnya sudah sampai berupa bangunan permanen yang cukup luas dengan pintu khas berbentuk mengerucut. Namun sayang pada tahun 1986 bangunan itu tak lagi berfungsi.

Bangunan itu konon milik seorang Tionghoa bernama Koh Endro. Meski bukan pribumi, beliaulah yang mencoa nguri-uri budaya ini. Bangunan ini berada di sebelah penginapan miliknya dahulu. Bahkan saking cintanya dengan ketoprak beliau pun secara khusus menuangkan kisah-kisah yang ditontonnya dalam catatan pribadinya yang sempat dihadiahkan pada seseorang. Namun ketika saya mencoba mencarinya kembali, buku serupa diary itu tak lagi ditemukan. Miris. Bahkan kini bangunan sisa tobong telah dirombak total dan dibeli oleh salah satu pihak koperasi simpan pinjam ternama di Indonesia.

Ya, ketoprak memang sempat kembali mengalami kejayaan pada tahun 70’an pada era Orde Baru. Namun ketika televisi menggempur rumah-rumah penduduk, lambat laun seni inipun hilang peminat. Tragis.

Mungkin memang benar, dunia ini panggung sandiwara. Begitu juga dengan dunia ketoprak tobong di Purbalingga. Begitu kelir ditutup, maka pertunjukan pun usai.

(terimakasih untuk pasangan Sukirman – Sumarni)





No comments:

Post a Comment