KETOPRAK TOBONG, RIWAYATMU KINI
“Ora ana wong kere, kaya dene kere-ne ketoprak. Lan ora ana wong dadi raja kaya dene raja ketoprak”.
Kalimat ini benar-benar terasa dalam ketika saya mendengarnya langsung dari suami istri mantan pemeran seni ketoprak di Purbalingga, Sukirman dan Sumarni.
Sore itu cukup cerah, senang rasanya diterima dengan hangat meski dalam keseharian saya cukup jarang berbincang dengan mereka. Saya memang tidak terlalu akrab dengan tetangga. Untungnya Bu Marni, begitu ia dipanggil, piawai mengalirkan obrolan. “Saya juga pendatang”, begitu mulanya.
Bu Marni sendiri berasal dari wilayah Gombong, Kebumen. Sementara suaminya asli Kulon Progo, Yogyakarta. Pantas bahasa Jawa mereka terdengar berbeda dari kebanyakan warga di sini. Mereka ini bertemu dan bahkan kemudian berjodoh karena ketoprak.
Dulu, lanjut Bu Marni, sebagian besar keluarganya adalah seniman tradisional. Pembersihan paham komunis dari kelompok berkedok kesenian terjadi besar-besaran paska peristiwa 1966. Sejak saat itu, keluarganya yang seniman itu pun terdampak. Mereka hidup berpindah-pindah. Berangkat dari Gombong, kemudian Prembun, lalu Banyumas dan berakhir di Purbalingga.
Di kota ini, Bu Marni mengisahkan bagaimana ia digembleng menjadi seniman serba bisa. “Jaman orang ramai-ramai ke tobong ketoprak, saya memulai dari penari extras”, kenangnya. Sebagai pendatang baru, tampil membuka sebelum pementasan ketorak membuat mentalnya kuat. Ternyata hal ini membantunya untuk percaya diri memerankan karakter apapun di kemudian hari.
Seni ketoprak ini sebenarnya mirip dengan drama atau sandiwara tradisional. Apa yang diperankan biasanya tidak jauh-jauh dari kisah pewayangan seperti Mahabarata dan Ramayana, serta legenda, dongeng, cerita panji sampai saduran drama barat pun bisa dibuat ketoprak. Pak Kirman menimpali, bahwa selain itu yang menjadi khas ketoprak adalah humor atau lawakannya.
Menurut Pak Kirman, justru lelucon itulah yang menjadi identitas dari kesenian rakyat. Tanpa bumbu humor, mana berani memerankan tokoh raja, panglima, menteri atau bahkan dewa sekalipun. “Padahal kalau dilihat keseharian yo ndak pantes jadi priyayi begitu”.
Nah, dari beberapa sumber internet yang saya baca, kesenian rakyat seperti ini pun kemudian disukai kalangan bangsawan hingga ke dalam keraton.
Penamaan ketoprak itu sendiri, dari banyak sumber online disebutkan berasal dari bunyi iringan alu dan lesung selama kesenian dipentaskan. Konon, bunyinya “Prak.. Prak… Prak” sehingga jadilah ketoprak.
Namun saat Bu Marni dan Pak Kirman mulai aktif mentas, ketoprak tak lagi diiringi alu dan lesung. Semuanya berubah menjadi gamelan yang kadang ditambah bunyi terompet, biola, dan lain-lain.
Begitupun dengan era ketoprak keliling yang kabarnya diperkenalkan sejak 1924 di Yogyakarta. Pak Kirman dan Bu Marni tidak njamani itu, karena mereka tumbuh di saat ketoprak telah memiliki ruang pementasan tersendiri bernama tobong ketoprak.
Pak Kirman menambahkan bahwa tobong ini memiliki bentuk bermacam-macam. Ada yang berupa bangunan non permanen untuk pementasan dan tempat tinggal sementara seniman ketoprak selama beberapa waktu. Tobong jenis ini akan berpindah jika masa kontrak penampilan di suatu wilayah telah habis.
Tobong lainnya berupa bangunan semi permanen yang secara khusus dibangun untuk pementasan ketoprak dan wayang orang dengan kelompok seniman pengisi bergantian dalam periode waktu tertentu. Jadi kalau bangunannya sudah tidak nomaden dan pengisinya hanya satu kelompok saja tidak bisa disebut tobong, kata Pak Kirman.
Pertemuan Pak Kirman dan istrinya ini juga berawal dari kehidupan di tobong ketoprak. Mengikuti orang tua mereka yang juga seniman ketoprak, Bu Marni bahkan berseloroh jika mereka sepertinya juga lahir di bawah kelir tobong.
Tobong benar-benar tempat hidup para seniman ketoprak. Sebelum dan sesudah pentas, tobong akan beralih fungsi menjadi rumah bagi para pemainnya. Jadi seluruh aktivitas mulai dari makan, belajar, tidur, dandan sampai pentas dilakukan di tempat ini. Bersama-sama dengan pemeran lainnya. Sekaligus bersama anak-anak mereka.
Bu Marni teringat bahwa masa kecilnya sebagai anak tobong membuatnya kehilangan kesempatan bersekolah. Penyebabnya adalah minimnya penghasilan orang tua dan kehidupan nomaden itu dalam lingkaran tobong ketoprak.
Namun keterbatasan itu terbayar dengan solidaritas yang tinggi. Orang dewasa yang merasa mampu akan dengan sukarela mengajarkan membaca, menulis dan berhitung pada anak-anak. Yang lainnya akan mengajarkan menari, nembang, berlatih peran sampai berdandan. Saling bergantian.
Bisa mendandani diri dalam balutan kostum tradisional sesuai karakter mutlak dibutuhkan seniman tradisional. Bu Marni telah berlatih sejak kecil menggunakan bubuk siwid. Ini adalah bahan pengganti make up yang dianggap barang mahal saat itu.
"Belinya di toko besi", bisik Bu Marni, "Ada warna merah, kuning dan putih"
Wah! Dalam penggunaannya, serbuk siwid harus dimasak dulu. Rebus beserta bunga kantil atau kenanga. Jika sudah mendidih, cairan ini harus diendapkan dulu selama dua malam sebelum digunakan. Dengan siwid ini konon akan menjadikan wayang terlihat lebih bercahaya dibawah sinar lampu. Sayangnya saya tetap enggak ada bayangan seperti apa siwid ini.
Kemampuan dasar itu menjadi wajib dimiliki karena ketoprak juga membutuhkan improvisasi pemerannya setiap saat. Mengejar kebutuhan manggung setiap hari, mengajarkan mereka tidak bergantung pada naskah skenario yang berisi dialog. Apalagi bahan cerita ketoprak itu sangat banyak. Namun yang unik, pementasan terakhir sebelum berpindah tempat dapat diketahui judulnya.
Biasanya legenda Kamandaka di Banyumasan, dan kisah Haryo Penangsang di daerah wetan, terang Bu Marni. Wetan ini maksudnya Jogja-Solo.
Karena cerita yang sangat banyak itulah, mereka harus dengan cerdas menangkap pembagian peran saat penuangan. Harus serba bisa.
Penuangan ini adalah istilah khusus dalam dunia seni peran panggung Jawa yang setara dengan briefing dan gladi. Jadi, mulai dari pemain cabutan, pendatang baru sampai bintang tamu semua wajib hadir. Apalagi pimpinan mereka yang disebut dengan Bas.
Bas bukan Bos. Diambil dari kata nebas. Maksudnya adalah bekerja bersama dengan hasil dibagi sama rata. “Kalau bos dapet uang dibagi ke anak buahnya beda-beda, bosnya dapat paling gede, kalau bas akan memabagi sama rata”, kata Pak Kirman menerangkan.
Sepertinya Bas yang mempekerjakan Pak Kirman dan Bu Marni ini sangat berbeda ya dengan mandor pada umumnya. Dalam bahasa Belanda mandor juga disebut dengan “baas”. Biasanya kalau mandor lain akan memberlakukan persenan atau bahkan bon.
Setelah semua kewajiban terhadap pihak di luar tobong terselesaikan, baru Bas membagi honor anggotanya. Dengan harga tiket sekelas kesenian rakyat, terbayang ya sekecil apa yang mereka terima. Tak jarang mereka harus menggadaikan gerabah untuk makan meski manggung setiap malam.
Kemegahan panggung ketoprak memang tidak sebanding dengan realita kemelaratan di dalam tobong. Pengalaman Bu Marni kecil bahkan merekam bagaimana seniman rela memungut puntung kretek milik penonton yang tertinggal. Setelah mencapai jumlah yang cukup, puntung-puntung itu dibongkar, dijemur dan dijual kembali.
Bagi Bu Marni keleleran kekurangan makan masih lebih beruntung ketika menjalani hidup di tobong. Kejadian tidak terlupa dalam hidupnya adalah ketika menyaksikan salah seorang rekan ibunya meninggal di tobong. Saking melaratnya, untuk sekedar kain kafan dan biaya penguburan pun mereka kesulitan. Dengan penuh iba, jasadnya kemudian hanya ditutupi tikar dan dititipkan pada desa untuk dimakamkan sebagaimana mestinya.
Memang sudah menjadi tradisi tempat terakhir pementasan acapkali menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang gipsy ketoprak.
Pemandangan rutin serupa inilah yang membuat Pak Kirman kemudian memutuskan mencari pekerjaan lain dan cukup sesekali nimbrung main bersama istrinya yang memang total berkesenian. Meski kemudian totalitas seniman seperti Bu Marni tak mampu melanggengkan keberadaan tobong ketoprak di Purbalingga.
Seorang pemilik losmen keturunan Tionghoa di Purbalingga, membangun tobong semi permanen pada 1970-an. Pak Hendro, demikian kabarnya nama si empunya tobong, memang mencintai kesenian tradisional ini. Meski tak lagi bersisa, banyak generasi boomers yang paham lokasinya. Tidak jauh dari Tugu Knalpot Purbalingga.
Tobong ketoprak Purbalingga dikenal memiliki tiga kelas penonton. Dibedakan dari tempat duduknya.
Meski sama-sama berbentuk bangku panjang dari bambu, namun deretan terdepan menjadi kelas I dengan tiket paling mahal. Harga paling umum di tahun-tahun itu adalah Rp.75,- untuk kelas I. Mengapa? Karena bentuknya tidak seperti tribun yang miring, maka hanya barisan depan yang paling sempurna menontonnya.
Namun jangan dikira penonton kelas di belakangnya akan rela begitu saja. Banyak warga mengingat bagaimana sudah bayar tiket mahal namun masih juga dilempari kulit kacang dari bangku belakang karena dianggap menghalangi pandangan ke panggung. Sentimen yang menunjukkan bahwa ketoprak begitu diminati.
Sayangnya, begitu televisi masuk ke rumah-rumah warga dengan mudah, tobong ketoprak mulai ditinggalkan. Pada 1986, tobong ketoprak Purbalingga tidak lagi berfungsi.
Mungkin memang benar, dunia ini panggung sandiwara. Begitu juga dengan dunia ketoprak tobong di Purbalingga. Begitu kelir ditutup, maka pertunjukan pun usai.
- Anita Wiryo Rahardjo

Komentar
Posting Komentar