Begalan, Seni "Merampok" Dalam Upacara Mantenan
Tadi pagi saya bertemu begal atau perampok di kondangan nikahan.
Meskipun dikategorikan khas ternyata tidak mudah untuk menyaksikan Begalan dalam setiap resepsi pernikahan. Ada syaratnya. Hanya jejodohan tertentu yang boleh nanggap. Misalnya, pernikahan antara “sulung dengan sulung”, “bungsu dengan bungsu” atau “sulung dengan bungsu”.
Mengapa harus diatur seperti ini, karena Begalan bukan sekedar hiburan. Hakikat utama pelaksanaan Begalan adalah sebagai media pengruwat. Untuk membuang sukerta atau rereged pada temanten kekalih, begitu menurut cerita Rendy “Singamas”, seniman asal Banyumas yang membegal kali ini.
Rereged itu artinya perilaku atau sifat negatif seseorang. Semisal malas, temperamen dan sejenisnya. Maka reregednya ini yang perlu dibegal, dirampok. Agar tidak terlalu lama tinggal dalam diri pengantin.
-Anita Wiryo Rahardjo
Uniknya, begal ini datang berdasar request pengantin perempuan. Tenang dulu, ini bukan drama perampokan gegara kasih tak sampai. Bukan juga karena amplop kondangan yang kurang. Ini murni kesenian khas wilayah Banyumasan bernama Begalan.
Meskipun dikategorikan khas ternyata tidak mudah untuk menyaksikan Begalan dalam setiap resepsi pernikahan. Ada syaratnya. Hanya jejodohan tertentu yang boleh nanggap. Misalnya, pernikahan antara “sulung dengan sulung”, “bungsu dengan bungsu” atau “sulung dengan bungsu”.
Mengapa harus diatur seperti ini, karena Begalan bukan sekedar hiburan. Hakikat utama pelaksanaan Begalan adalah sebagai media pengruwat. Untuk membuang sukerta atau rereged pada temanten kekalih, begitu menurut cerita Rendy “Singamas”, seniman asal Banyumas yang membegal kali ini.
Rereged itu artinya perilaku atau sifat negatif seseorang. Semisal malas, temperamen dan sejenisnya. Maka reregednya ini yang perlu dibegal, dirampok. Agar tidak terlalu lama tinggal dalam diri pengantin.
Saya diceritain nih kalau adat ini bermula dari peristiwa masa lampau saat pernikahan putri bungsu Adipati Wirasaba yaitu Dewi Sukesi dengan putra Adipati Banyumas, Pangeran Tirtokencono.
Ceritanya saat hendak melakoni prosesi ngunduh mantu, yaitu resepsi kedua di kediaman keluarga laki-laki, rombongan dari Wirasaba itu berhadapan dengan pembegal berbaju hitam-hitam di tengah jalan. Beruntung niat mereka merampok barang bawaan untuk hajatan itu tidak tercapai. Lalu sesampainya di Banyumas, sesepuh menyarankan peristiwa ini dijadikan sebagai pengingat khususnya untuk pernikahan sulung dan bungsu dengan nama Begalan.
Sejak saat itu, sesuai konsep tradisi pada umumnya, maka Begalan dihadirkan sebagai pemberian petuah dengan kemasan hiburan yang melibatkan tamu-tamu hajatan yang hadir. Jadi, seru banget tadi saat melihat ibu-ibu rumah tangga berlomba ikutan membegal. Lah kok mau? Kayaknya kalau saya ibu-ibu, juga mau saja sih karena dapat bonus membawa pulang peralatan rumah tangga. Ada bakul nasi bambu, kipas anyaman bambu, serok penggorengan, dan macem-macem yang saya nggak ngerti.
Mas Rendy yang sudah selesai membegal kembali bercerita bahwa hari ini ia berperan menjadi Surantani. Tadi sih bergaya mirip kakek-kakek Jawa zaman dulu yang lucu tapi omongannya ngena. Dengan membawa sepikul peralatan rumah tangga yang disebut brenong kepang, ia masuk sembari menari-nari di hadapan pengantin dan para tamu. Surantani ini kadang ada pula yang menyebutnya Jurutani atau Suraduta. Intinya perannya sebagai utusan keluarga salah satu pengantin untuk mengantar barang bawaan.
Nah, tak lama muncul tuh para pembegal.
Ceritanya saat hendak melakoni prosesi ngunduh mantu, yaitu resepsi kedua di kediaman keluarga laki-laki, rombongan dari Wirasaba itu berhadapan dengan pembegal berbaju hitam-hitam di tengah jalan. Beruntung niat mereka merampok barang bawaan untuk hajatan itu tidak tercapai. Lalu sesampainya di Banyumas, sesepuh menyarankan peristiwa ini dijadikan sebagai pengingat khususnya untuk pernikahan sulung dan bungsu dengan nama Begalan.
Sejak saat itu, sesuai konsep tradisi pada umumnya, maka Begalan dihadirkan sebagai pemberian petuah dengan kemasan hiburan yang melibatkan tamu-tamu hajatan yang hadir. Jadi, seru banget tadi saat melihat ibu-ibu rumah tangga berlomba ikutan membegal. Lah kok mau? Kayaknya kalau saya ibu-ibu, juga mau saja sih karena dapat bonus membawa pulang peralatan rumah tangga. Ada bakul nasi bambu, kipas anyaman bambu, serok penggorengan, dan macem-macem yang saya nggak ngerti.
Mas Rendy yang sudah selesai membegal kembali bercerita bahwa hari ini ia berperan menjadi Surantani. Tadi sih bergaya mirip kakek-kakek Jawa zaman dulu yang lucu tapi omongannya ngena. Dengan membawa sepikul peralatan rumah tangga yang disebut brenong kepang, ia masuk sembari menari-nari di hadapan pengantin dan para tamu. Surantani ini kadang ada pula yang menyebutnya Jurutani atau Suraduta. Intinya perannya sebagai utusan keluarga salah satu pengantin untuk mengantar barang bawaan.
Nah, tak lama muncul tuh para pembegal.
Mereka berbaju hitam-hitam, pakai topeng dan bawa tongkat pentungan yang katanya disebut welira serta mulai menakut-nakuti si Kakek. Dengan jujur mereka menyatakan niat untuk merampok barang bawaan tersebut. Pembegal ini dikenal dengan istilah Suradenta.
Surantani selaku utusan mempertahankan sekuat tenaga brenong kepang tersebut. Di tengah adu mulut itulah, ia mempertahankan semua barang dan mengaitkannya dengan makna filosofi yang dalam. Misal saat Suradenta minta bakul nasi bambu atau cething, ia akan menolak dengan alasan seperti ini:
Bener banget sih. Memang tradisi selalu punya perumpamaan yang pas.
Surantani selaku utusan mempertahankan sekuat tenaga brenong kepang tersebut. Di tengah adu mulut itulah, ia mempertahankan semua barang dan mengaitkannya dengan makna filosofi yang dalam. Misal saat Suradenta minta bakul nasi bambu atau cething, ia akan menolak dengan alasan seperti ini:
Cething kuwe amba cangkeme, gedhe wetenge nanging ciut bokonge. Kira-kira artinya adalah bakul nasi memiliki bentuk mulut lebar, badan besar, namun alas kecil. Maksudnya ternyata dalam berumahtangga suami harus mampu mencari nafkah sebanyak-banyaknya (cangkem amba) untuk kemudian disimpan istri (weteng gedhe) lalu dikelola secara hemat dan cermat (bokong ciut).
Bener banget sih. Memang tradisi selalu punya perumpamaan yang pas.
Beberapa tadi saya catat tuh. Selain cething, ada juga pikulan berbahan bambu tali lentur yang melambangkan pengereman sifat egois. Demikian pula kipas dan alas dari anyaman bambu untuk mendinginkan nasi yang disebut ian-ilir, yang intinya bermakna kerjasama suami istri. Cobek dan ulekan atau ciri-muthu juga berarti kurang lebih sama lah.
Ada lagi tuh yang membuat ingin melemparkan godaan “cie..cie..” ke pengantin. Ketika Surantani menyebutkan siwur. Ini adalah sebutan untuk gayung tradisional dengan penampung air berbahan batok kelapa. Katanya siwur adalah singkatan dari asihe aja diwur-wur. Saya tidak paham apa translitnya, namun intinya ini bermakna “no one else”.
Satu hal yang mengingatkan pada ajaran bahwa “menikah adalah ibadah” yaitu kusan. Anyaman bambu berbentuk kerucut untuk membuat nasi tumpeng. Ujungnya yang berjumlah lima atau enam kerap diartikan dengan Rukum Islam serta Rukun Iman. Dan satu-satunya ujung yang mengerucut melambangkan satu-satunya Dzat yang harus disembah.
Kembali ke cerita Mas Rendy, apapun sebenarnya bisa dibawa dalam brenong kepang. Syaratnya benda tersebut harus memiliki makna kias yang baik.
Ada lagi tuh yang membuat ingin melemparkan godaan “cie..cie..” ke pengantin. Ketika Surantani menyebutkan siwur. Ini adalah sebutan untuk gayung tradisional dengan penampung air berbahan batok kelapa. Katanya siwur adalah singkatan dari asihe aja diwur-wur. Saya tidak paham apa translitnya, namun intinya ini bermakna “no one else”.
Satu hal yang mengingatkan pada ajaran bahwa “menikah adalah ibadah” yaitu kusan. Anyaman bambu berbentuk kerucut untuk membuat nasi tumpeng. Ujungnya yang berjumlah lima atau enam kerap diartikan dengan Rukum Islam serta Rukun Iman. Dan satu-satunya ujung yang mengerucut melambangkan satu-satunya Dzat yang harus disembah.
Kembali ke cerita Mas Rendy, apapun sebenarnya bisa dibawa dalam brenong kepang. Syaratnya benda tersebut harus memiliki makna kias yang baik.
Saya jadi berpikir, mungkin memang seperti itu cara orang dulu memberikan nasihat. Tanpa PPT apalagi seminar pra-nikah. Cukup bawa sepikul barang-barang rumah tangga. Gelar, jadikan becandaan sekaligus bahan pemikiran.
Satu lagi nih yang masuk akal, karena si kakek Surantani bertugas menjelaskan atau memberikan petuah pernikahan maka akan jauh lebih bijak jika pelaku seninya juga sudah menikah.
Katanya nih, kalau belum ngelakoni sendiri nanti jadinya jarkoni. Hanya bisa ngomong tapi tidak bisa melakukan.
Saya pun tertawa mendengar omongan Mas Rendy ini. Namun sepulang kondangan, saya jadi kepikiran. Mungkin ini yang membuat Begalan tetap menarik. Di balik adegan orang yang pura-pura merampok ada yang sedang mengingatkan dua manusia bahwa menikah bukan cuma soal pakai baju bagus dan difoto bersama.
Ada harta yang harus dikelola.
Ada emosi yang harus diredam.
Ada perbedaan yang harus dilebur.
Ada hal-hal minus yang kalau bisa dibegal sejak awal.
-Anita Wiryo Rahardjo
Nice post
BalasHapusSae sanget kagem nguri-uri budaya ingkang adi luhung
BalasHapusSae Sanget, kagem nguri-uri kabudayan kita ingkang adi luhung
BalasHapusMatur nuwun Pak Joko.. Nggeh Pak, kabudayan kito sakjane ki luar biasa. Mbok bilih badhe nambahi info nggeh monggo Pak Joko..
Hapus