Brambang Jae dan Larangan Pementasan Wayang Kulit
Kemarin belum lama, saya sempat lewat area Stadion Goentoer di Purbalingga. Tetiba keinget aja tuh petilasan bernama Brambang Jae. Unik kan namanya?
Maklum saja, dulu area stadion adalah persawahan dan lapangan desa. Brambang Jae sudah ada. Saat masih SD kan saya sering main sampai ke sini. Namun sejak disulap menjadi stadion, banyak bermunculan hunian dan ruko. Menariknya Brambang Jae tetap dipertahankan. Sepertinya berkah menjadi folklore ini ya.
Setelah saya bertemu Kepala Seksi Sejarah, Museum dan Purbakala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Ibu Rien Anggraeni saya dapat juga tuh versi folklore yang lebih lengkap dari ingatan warga.
Dikisahkan pada suatu waktu, dalang tersebut terpaksa menolak undangan tanggapan dari pihak Kadipaten (setara Kabupaten saat ini) karena sudah terlanjur menerima tawaran pentas di Blewuk yang berada di Desa Bojong. Meski yang mengundang memiliki derajat dibawah Adipati, namun ia memilih bersikeras ndhalang di Blewuk. Baginya menepati janji adalah hal terpenting. Meskipun utusan kadipaten menyatakan kekecewaannya, namun ia kokoh pada keputusannya.
Pada saat pagelaran di Blewuk tepatnya saat adegan “goro-goro”, dalang tersebut tiba-tiba mengalami sakit perut yang tidak tertahankan. Dan mau tidak mau, iapun harus mengakhirkan pertunjukkannya tanpa menyelesaikan cerita. Tak kunjung sembuh, ia memutuskan pulang bersama istrinya. Karena kondisi malam yang gelap gulita, mereka pun tersesat. Padahal sebenarnya dari Blewuk mereka tak harus melewati Kalijebug di Desa Mewek. Mereka malah memutar sampai ke Purbalingga Kidul sebelum kembali ke Timbang.
Pada saat sampai di Purbalingga Kidul itulah sakit Ki Dalang semakin menjadi. Hujan angin yang tiba-tiba saja menerjang, membuat mereka memutuskan menepi. Istri dalang itu kemudian membuat ramuan dari brambang (bawang merah) serta jahe yang memang dibawanya dari rumah. Setelah mengonsumsi ramuan itu, sakitnya mereda. Tempat mereka menepi ini kemudian diberi nama “Brambang Jae”. Jadi, ternyata tempat ini bukan makam, melainkan sebuah petilasan. Suatu tempat yang pernah disinggahi.
Cerita belum berakhir sampai di sini. Karena sesampainya di rumah, ternyata sakit Ki Dalang menjadi parah.
Namun siapa sangka, pesan ini masih berlaku bagi penduduk asli setempat. Tak mau terkena akibat dari larangan tersebut, bagi yang berkeinginan wayangan maka pilihan jatuh pada pementasan dalang jemblung. Itu loh, penceritaan wayang namun tanpa gamelan dan tanpa wayang kulit. Dalang akan bercerita dengan menggerakan makanan atau benda apapun di depannya sambil diiringi musik mulut kelompoknya.
Pantas saja, dulu waktu awal-awal keberadaan stadion ini saya malah menyaksikan Wayang Wong di pelataran. Ternyata bukan hanya memangkas waktu keramaian agar tidak semalam suntuk, namun karena area ini dilarang nanggep Wayang Kulit.
Tapi itu kapan ya? Saya lupa.
-Anita Wiryo Rahardjo
Dulu banget sempat terpikir apakah artinya di petilasan ini terdapat pohon bawang merah (brambang) dan pohon jahe. Tentu saja jawabannya adalah tidak ada sama sekali.
Gambarannya seperti ini. Saat melintas di lingkar utara Stadion Goentoer Darjono, rerimbunan pohon tampak menambah asri suasana. Namun enggak sangka saja di sana tampak serupa makam yang hanya satu-satunya. Terdapat pagar khusus dan papan nama dari instansi pemerintah. Pemberian pengaman itu dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Triyono Budi Sasongko.
Gambarannya seperti ini. Saat melintas di lingkar utara Stadion Goentoer Darjono, rerimbunan pohon tampak menambah asri suasana. Namun enggak sangka saja di sana tampak serupa makam yang hanya satu-satunya. Terdapat pagar khusus dan papan nama dari instansi pemerintah. Pemberian pengaman itu dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Triyono Budi Sasongko.
Dalam hati saya mikir, enggak mungkin enggak, jika suatu tempat biasa sampai mendapat perlakuan istimewa dari Pemerintah Daerah. Meski warga sekitar sudah tidak banyak yang menceritakannya, namun legenda itu telah terekam dengan cukup baik. Bisa jadi penuturan warga setempat sedikit berkurang karena kini wilayah tersebut banyak dihuni pendatang.
Maklum saja, dulu area stadion adalah persawahan dan lapangan desa. Brambang Jae sudah ada. Saat masih SD kan saya sering main sampai ke sini. Namun sejak disulap menjadi stadion, banyak bermunculan hunian dan ruko. Menariknya Brambang Jae tetap dipertahankan. Sepertinya berkah menjadi folklore ini ya.
Setelah saya bertemu Kepala Seksi Sejarah, Museum dan Purbakala Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Ibu Rien Anggraeni saya dapat juga tuh versi folklore yang lebih lengkap dari ingatan warga.
Brambang Jae bermula dari kisah seorang dalang asal Kademangan Timbang. Saat ini memang sudah tidak ada lagi wilayah kademangan. Namun nama Timbang dikenal baik menjadi wilayah dibawah desa yang terletak tidak jauh dari Stadion Goentoer. Saat ini termasuk dalam wilayah Kelurahan Penambongan. Tidak diketahui siapa nama dalang tersebut. Namun berdasar cerita, ia kondang pada masanya.
Dikisahkan pada suatu waktu, dalang tersebut terpaksa menolak undangan tanggapan dari pihak Kadipaten (setara Kabupaten saat ini) karena sudah terlanjur menerima tawaran pentas di Blewuk yang berada di Desa Bojong. Meski yang mengundang memiliki derajat dibawah Adipati, namun ia memilih bersikeras ndhalang di Blewuk. Baginya menepati janji adalah hal terpenting. Meskipun utusan kadipaten menyatakan kekecewaannya, namun ia kokoh pada keputusannya.
Pada saat pagelaran di Blewuk tepatnya saat adegan “goro-goro”, dalang tersebut tiba-tiba mengalami sakit perut yang tidak tertahankan. Dan mau tidak mau, iapun harus mengakhirkan pertunjukkannya tanpa menyelesaikan cerita. Tak kunjung sembuh, ia memutuskan pulang bersama istrinya. Karena kondisi malam yang gelap gulita, mereka pun tersesat. Padahal sebenarnya dari Blewuk mereka tak harus melewati Kalijebug di Desa Mewek. Mereka malah memutar sampai ke Purbalingga Kidul sebelum kembali ke Timbang.
Pada saat sampai di Purbalingga Kidul itulah sakit Ki Dalang semakin menjadi. Hujan angin yang tiba-tiba saja menerjang, membuat mereka memutuskan menepi. Istri dalang itu kemudian membuat ramuan dari brambang (bawang merah) serta jahe yang memang dibawanya dari rumah. Setelah mengonsumsi ramuan itu, sakitnya mereda. Tempat mereka menepi ini kemudian diberi nama “Brambang Jae”. Jadi, ternyata tempat ini bukan makam, melainkan sebuah petilasan. Suatu tempat yang pernah disinggahi.
Cerita belum berakhir sampai di sini. Karena sesampainya di rumah, ternyata sakit Ki Dalang menjadi parah.
Ia pun mengumpulkan seluruh keluarga serta warga sekitar dan berpesan agar seluruh warga yang tinggal di jalur yang dilaluinya saat pulang yaitu Kalijebug, Mewek, Karang Manyar, Purbalingga Kidul serta Timbang dilarang menanggap pementasan wayang kulit. Jika melanggar maka akan terjadi malapetaka di desa tersebut. Setelah menyampaikan pesan tersebut, ia pun meninggal dunia.
Namun siapa sangka, pesan ini masih berlaku bagi penduduk asli setempat. Tak mau terkena akibat dari larangan tersebut, bagi yang berkeinginan wayangan maka pilihan jatuh pada pementasan dalang jemblung. Itu loh, penceritaan wayang namun tanpa gamelan dan tanpa wayang kulit. Dalang akan bercerita dengan menggerakan makanan atau benda apapun di depannya sambil diiringi musik mulut kelompoknya.
Pantas saja, dulu waktu awal-awal keberadaan stadion ini saya malah menyaksikan Wayang Wong di pelataran. Ternyata bukan hanya memangkas waktu keramaian agar tidak semalam suntuk, namun karena area ini dilarang nanggep Wayang Kulit.
Tapi itu kapan ya? Saya lupa.
-Anita Wiryo Rahardjo
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus