MAKAM WANGI

Ternyata seperti ini rasanya ditolak. Perjalanan jauh ke tepian Sungai Gintung di Desa Pagerandong Kecamatan Kaligondang malah menyisakan kesan yang mengambang.

Ide awal jalan-jalan siang itu sebenarnya hanya uji coba rute asing. Tapi mendadak, terbersit nama Makam Wangi, karena kebetulan kendaraan terlanjur melaju ke arah Kaligondang. Untungnya, teman-teman setuju saja karena belum pernah mencapai bantaran Sungai Gintung ini.

Dari obrolan sepanjang jalan, saya berandai-andai, coba saja ada akses jalur darat di tepian Sungai Gintung maka tidak perlu memutar di Desa Pagerandong dulu. Tapi tidak masalah juga, karena kemudian setelah akses jalanan beraspal habis, kami jadi membakar lemak di siang hari.

Kondisi jalan desa yang belum diaspal, berkelok, turunan tajam, sangat tidak direkomendasikan bagi pengemudi jalanan landai. Jalan kaki adalah pilihan paling aman. Bukan semata-mata aksesnya yang sulit, namun juga karena harus berpapasan dengan truk penambang galian C di Sungai Gintung. Tidak heran ya kondisi jalanan rusak sedemikian parah.

Sembari melangkah dari kejauhan sudah terlihat pemandangan asri. Tampak rimbun. Namun jika petunjuk yang dikantongi hanyalah "makam yang dinaungi pepohonan" maka saya akan tersasar. Di sepanjang jalan ini banyak grumbul yang berisi pepohonan rimbun. Jangan terlalu percaya pada petunjuk semacam itu. Lebih baik cari papan nama, itu yang paling benar.


Setelah jalanan menurun, papan nama Makam Wangi akhirnya terlihat juga. Meski dari jauh terkesan rimbun, makam wangi justru dikelilingi areal persawahan yang rapi dan tampak bersih. Seorang petani sedang menyiangi rumput siang itu. Namun, ia tak mengizinkan kami mengarahkan lensa ke arah makam. Apalagi masuk ke dalamnya.

Muka-muka ngeyel kami akhirnya berubah patuh saat petani itu berkata, "Kami enggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa nantinya". Bukan soal takut, tapi memang salah juga sih kalau tidak minta izin dulu ke warga yang mengelola makam. Mungkin juru kunci (kuncen) atau sesepuh desa. Saya tak banyak menanyakannya statusnya itu. Karena cukup sensitif.

Dengan ditemani salah seorang warga yang sedang melintas, sampai juga kami di rumah Mbah Supawi. Di sebuah halaman rumah sederhana, saya menyaksikan seorang pria berusia sekitar 70 tahunan ini sedang asyik membuat krusu.

Awalnya ia enggan berbicara. Hanya tangannya saja yang aktif menganyam bambu untuk membuat keranjang pengangkut ayam itu. Kami pun hanya melihat-lihat, bahkan memotret pun tidak. Entah mungkin karena kasihan atau apa, tetiba ia mulai bercerita.

Menurutnya makam wangi adalah kompleks petilasan beberapa tokoh yang pernah hidup, menetap ataupun lewat di Purbalingga ini. 

Sebut saja Eyang Purwosuci yang namanya dikaitkan dengan kisah asal-usul Selakambang. Atau tokoh leluhur Pagerandong yaitu Ki Ageng Menggala atau Adi Menggala serta beberapa nama lain yang jumlahnya cukup membingungkan. Kadangkala disebut empat namun kadang juga sembilan.

Sebenarnya beberapa waktu sebelum bertemu Mbah Supawi, saya sempat mengantongi cerita beberapa orang terkait Makam Wangi ini. Ada yang mengatakan tempat ini adalah makam seorang murid Syeh Jambu yang bernama Syech Musa Abdillah.

Atau cerita lain justru menyebutkan bahwa makam wangi adalah petilasan atau tempat singgah dari Raden Munding Wangi. Nama ini banyak dipercaya sebagai nama asli dari Syeh Jambu Karang. Meski diyakini berasal dari tataran Sunda, kisah Munding Wangi memang cukup banyak terdengar di Purbalingga khususnya wilayah Perdikan Cahyana.

Makam Wangi, tambah Mbah Supawi, sangat dikeramatkan oleh warga Pagerandong. Mereka memercayai bahwa makam ini merupakan pusat Desa Pagerandong itu sendiri. Bahkan ia mengatakan Makam Wangi juga memiliki sejarah kekerabatan dengan Makam Onje dan Ardi Lawet.

Dari beberapa tulisan mengenai sejarah Purbalingga, kalau saya tidak salah memahami, maka Onje dan Ardi Lawet disatukan dari tokoh Syeh Jambu Karang itu sendiri. Ardi Lawet adalah tempat dimana Syeh Jambu Karang menguburkan kuku dan rambutnya sebelum memeluk Islam. Sementara Onje merupakah salah satu pusat pemerintahan yang tokoh awal pendiriannya yaitu Ki Tepus Srumput memiliki hubungan erat dengan Syeh Jambu Karang.

Namun saya tidak mau memastikan bahwa itu juga yang ada di pemikiran Mbah Supawi. Karena sampai akhir pertemuan, ia tak mengungkapkan apa alasannya. Ia hanya berujar, bahwa saya tetap tak dapat masuk ke Makam Wangi karena salah hari.


Ada aturan untuk mendatangi makam "bersaudara" tersebut, katanya. 

Senin dan Kamis untuk Makam Wangi, Selasa untuk Ardi Lawet dan Rabu untuk Makam Onje. 

Karena hari itu Rabu, maka kami harus menunggu esok jika memang ingin masuk.

Padahal saya sempat terpikir setelah Mbah Supawi membocorkan adanya beberpa punden serta batu bermotif batik di dalamnya, saya benar-benar akan diantar kesana. Tapi ya sudah, penolakan itu jangan sampai jadi yang ketiga kali diucapkan. Saya malu.

Sembari kembali ke tempat kendaraan terparkir salah seorang teman kemudian teringat akan wacana wisata Enjoy Gintung yang melewati Makam Wangi ini. Suatu tempat yang kabarnya akan dibuat mirip dengan Bali. Sehingga sekaligus nantinya Makam Wangi juga akan bisa menjadi salah satu pilihan wisata juga.

Tunggu! Jangan-jangan sebenarnya saya tidak salah hari. Mbah Supawi hanya masih belum ingin saya mengganggu ketenangannya di tepi Sungai Gintung yang asri itu. Mungkinkah?

- Anita Wiryo Rahardjo

Komentar

  1. Sip...mantep bgt mba, aku penggagas The Gintung Enjoy, mayuh jajal pada diwujudna, dadi kawasan Wisata Bendung Slinga, Makam Wangi lan Kedung Cucruk dadi wisata alternatif nang Purbalingga, Aku Mukhyono Asli Pinggir kali gintung, Melayang kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun mas Yono,... monggo lah diwujudna... dadi dolane ora maring ajeg-ajeg bae..

      Hapus
    2. ya aku wis pernah juga ngejak Pak Adi, Disbudparpora, meng kedung cucruk mba,kudune kan direspon bangat......wong bisa digawe kaya nang Jimbaran Bali, karo nang Ubud mba..yakin, contact aku mba..nang adm.processing@yupindo.com

      Hapus
    3. mayuh.......digawe Jimbaran Kecil mba

      Hapus
    4. Pak Adi sampun mboten teng Dinbudparpora jhe Pak.. Kulo sampun ngemail nggeh Pak, monggo dipun bikak... Matur suwun

      Hapus
  2. Bendung park berkomentar, sukses selalu , slinga pagedongan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

KASURAN