Langsung ke konten utama

MAKAM WANGI


Pernahkah membayangkan tempat dengan nama MAKAM WANGI ? Apa yang ada di pikiran ? Makam yang berada di antara pohon wangi seperti halnya di Trunyan, Bali ? Owh, ini berbeda. Dan berbekal informasi yang sangat minim, kami menuju ke lokasi kompleks pemakaman yang masih dikeramatkan sampai hari ini di Purbalingga ini.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo

MEDAN EKSTREM

Makam Wangi terletak di desa Pagerandong kecamatan Kaligondang. Seandainya saja ada jalur darat di tepian Sungai Gintung saja, maka akan sangat mudah menjangkau tempat ini. Karena Makam Wangi berada di bantaran Sungai Gintung. Namun karena akses jalannya belum ada, maka kami harus menuju ke Pagerandong terlebih dulu.

Masyarakat sepanjang dari Sungai Gintung sampai ke Pagerandong sepertinya cukup akrab dengan nama ini. So, meski harus keluar masuk jalur setapak arahan rute mereka sangatlah membantu sampai ke lokasi.

Sebuah pertigaan kecil dengan kondisi belum teraspal (masih baru tahap disemen) akan mengantar kita ke Makam Wangi. jalan berkelok, turunan tajam berlapis, jalan yang sempit, rusaknya insfrastuktur jalan dan belum lagi saat harus berpapasan membuat saya harus menahan napas bermenit-menit. Jika tidak ahli mengemudi, maka jalan kaki adalah pilihan teraman. Seperti yang disarankan oleh banyak penduduk sekitar.

Ya, truk penambang batu dan pasir di Sungai Gintung memang turut menyumbang rusaknya prasarana jalan ini. Karena jalan di sekitar makam memang semuanya mengarah ke tepian sungai.

Sungai Gintung

CANTIK ALAMI

Dari kejauhan pemandangan nan cantik terus menggoda kami agar berlari cepat menggapai lokasi. Sebuah kompleks pemakaman umum di kanan jalan sempat mengecoh kami. Dengan bermodal informasi "makam yang dinaungi pepohonan", membuat kami hampir saja terhenti di makam umum tersebut. Beruntung, seketika itu juga papan pentunjuk MAKAM WANGI di sisi kiri jalan membuat mata tertuju pada areal lahan luas yang dipenuhi lebatnya pepohnan.

Yang membuat kami takjub adalah makam wangi ini ternyata dikelilingi persawahan yang sangat rapi. Bahkan batas antar keduanya pun jelas terlihat. Dan juga bersih. Padahal dari luar terlihat begitu rimbun dan lebat. Luar biasa.

Aktivitas bertani masyarakat sekitar semakin menyejukkan raga yang penat. Belum lagi rumpunan bunga liar yang memancing puluhan serangga mendekat. Jika tidak ingat misi awal adalah menggali informasi, maka saya akan memilih menyegarkan pandang berlama-lama disini. Sayangnya, warga di persawahan ini tidak mengijinkan kami memotret dan masuk areal makam. "Kami nggak tanggung jawab lho Mba kalu ada apa-apa. Mending bareng juru kuncinya dulu kalau mau masuk", ujar seorang warga mengingatkan.


Makam Wangi dilihat dari jauh

MAKAM BANYAK TOKOH

Dengan diantar seorang warga, kami berhasil juga menemukan kediaman kuncen (juru kunci makam), Pak Supawi. Pria berusia 75 tahun ini tengah asyik membuat krusu ketika kami datang. Meski awalnya terlihat enggan berbagi cerita, namun akhirnya Supawi pun angkat bicara.

Menurutnya makam wangi adalah kompleks petilasan beberapa tokoh yang pernah hidup, menetap ataupun lewat di Purbalingga ini. Sebut saja Eyang Purwosuci yang namanya dikaitkan dengan sejarah asal usul Selakambang. Atau tokoh leluhur Pagerandong yaitu Ki Ageng Menggala atau Adi Menggala serta beberapa nama lain yang jumlahnya cukup membingungkan. Kadangkala disebut empat namun kadang juga sembilan.

Sementara di luaran justru berkembang kisah murid Syech Jambu Karang lah yang dimakamkan disini. Murid ini bernama Syech Musa Abdillah. Entah mana yang lebih tepat, karena semua masih berupa folklore.

Namun yang pasti dari akar-akar yang menjuntai di lokasi makam sepertinya sudah cukup menjelaskan usia makam yang cukup tua. Lalu mengapa dinamakan makam wangi ? Kabarnya ini berasal dari kata Munding Wangi, soerang tokoh yang petilasannya ada disana. Hmmm,... setahu saya Munding Wangi adalah nama asli Syech Jambu Karang. Tapi bisa jadi kan hanya serupa nama.

Dan masih menurut Supawi, makam ini adalah pusatnya desa Pagerandong. Wudelnya dalam istilah Supawi. Sehingga secara turun temurun masyarakat pun akan menjaganya. Makam ini memeiliki kaitan sejarah dengan Makam tua Onje dan Makam di Ardhi Lawet. Dan ada aturan untuk mendatangi makam "bersaudara" ini. Senin dan Kamis untuk Makam Wangi, Selasa untuk Makam Ardhi Lawet dan Rabu untuk Makam Onje.

Supawi

PUNDEN

Sayangnya kami tak kunjung diijinkan masuk ke makam walau sudah mencoba meminta ijin. Dengan alasan berbahaya dan hari yang salah (kami datang Rabu siang) maka kami pun cukup mendengarkan kisahnya saja.

Ternyata perkiraan saya atas makam dalam hutan ini meleset. Hutan itu hanya tampak luarnya semata. Karena didalam tempatnya terlihat jauh lebih longgar tanpa ada gangguan pohon yang seolah rapat menutup tanpa celah. Disana terdapat beberapa punden serta batu bermotif batik. Waah, pasti sangat unik ya.

Hal serupa juga diamini data-data kepurbakalaan yang menyebutkan adanya temuan dua buah menhir sejajar dengan jarak 100 meter yang berfungsi sebagai nisan di makam ini. Dan diatas permukaannya tertata batu berbentuk persegi.

ENJOY GINTUNG

Makam Wangi diwacanakan akan menjadi salah satu tujuan wisata. Hal ini justru disampaikan oleh Supawi. Tidak aneh ya, jika kabar perbaikan jalan juga beredar kencang disana untuk memudahkan akses. Atau yang pernah saya dengar adalah wacana wisata Enjoy Gintung yang tentunya melewati Makam Wangi ini. Ya, kita tunggu saja nanti akan seperti apa. Terpenting sih, semoga lain waktu saya ataupun Anda tidak lagi salah hari agar bisa melihat langsung peninggalan budaya ini.

Komentar

  1. Sip...mantep bgt mba, aku penggagas The Gintung Enjoy, mayuh jajal pada diwujudna, dadi kawasan Wisata Bendung Slinga, Makam Wangi lan Kedung Cucruk dadi wisata alternatif nang Purbalingga, Aku Mukhyono Asli Pinggir kali gintung, Melayang kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun mas Yono,... monggo lah diwujudna... dadi dolane ora maring ajeg-ajeg bae..

      Hapus
    2. ya aku wis pernah juga ngejak Pak Adi, Disbudparpora, meng kedung cucruk mba,kudune kan direspon bangat......wong bisa digawe kaya nang Jimbaran Bali, karo nang Ubud mba..yakin, contact aku mba..nang adm.processing@yupindo.com

      Hapus
    3. mayuh.......digawe Jimbaran Kecil mba

      Hapus
    4. Pak Adi sampun mboten teng Dinbudparpora jhe Pak.. Kulo sampun ngemail nggeh Pak, monggo dipun bikak... Matur suwun

      Hapus
  2. Bendung park berkomentar, sukses selalu , slinga pagedongan

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak Dicari

JAMASAN, BUKAN SEKEDAR MEMANDIKAN

Jamasan. Inilah salah satu tradisi yang rutin dilakukan pada bulan Sura. Secara literatur jamasan ini berarti memandikan atau membersihkan. Terutama benda pusaka. Apa sebenarnya tujuan dari tradisi ini ? Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Upacara pembukaan Jamasan Pusaka Tosan Aji JAMASAN TOSAN AJI Halaman Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja pagi ini sedikit berbeda. Tenda berwarna merah tampak berdiri di depan gedung. Puluhan pasang mata tertuju pada sekelompok pria berbusana tradisional yang dengan khidmat melakukan serah terima sebilah keris pusaka dengan iringan sulukan yang menghanyutkan. "....Sigra arsa angayahi karyo. Anjamasi pusaka aji. .......", suluk yang ditembangkan sang pranatacara ini membuat suasana jadi semakin hanyut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembersihan sebilah keris tersebut. Ya, seperti inilah gambaran upacara pembukaan prosesi jamasan yang diadakan pada Selasa Kliwon 17 Desember 2013 lalu.  Dengan dijamasnya keris pusaka oleh Kabid Kebudayaan...

MENGUNJUNGI MAKAM SYECH MACHDUM KUSEN

Bagi masyarakat Rajawana nama Machdum Husen atau Machdum Kusen atau Kayu Puring memegang peranan tersendiri. Ia merupakan putra Nyai Rubiah Bekti dengan Pangeran Atas- Angin. Dengan demikian Machdum Kusen juga masih memiliki garis keturunan dengan Syech Jambu Karang. Dan sama seperti ayah dan kakeknya, Machdum Kusen pun turut menyebar luaskan ajaran Islam di wilayah tersebut. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Dalam sejarahnya, Syech Machdum Kusen pernah mengusir pasukan Padjajaran yang ini menguasai Bumi Cahyana. Sejak masa pendahulunya, Pajajaran memang merasa terancam dengan perkembangan Islam yang dilancarkan Syech Jambu Karang dan keturunannya. Dan Machdum Kusen sendiri memiliki andil besar dalam memukul mundur pasukan yang berniat menguasai Cahyana. Dengan pertolongan Allah SWT, Machdum Kusen dapat memanggil ribuan tawon gung hanya dengan bantuan tetabuhan rebana atau terbang para Nyai. Hal inipun menjadikan pasukan lawan mundur karena tidak tahan menghadapi serangan lebah-lebah itu....