WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Ditemani salah seorang saudara perempuan, saya akhirnya sampai ke Watu Gumilang. Ini pun karena si kakak ini cukup berisik mempromosikannya. 

Berjarak dua puluhan kilometer dari pusat kota Purbalingga, jadi pembonceng adalah pilihan terbaik. Maklum, saya tidak ahli untuk melaju di jalanan asing dengan kontur berbatu yang naik turun. Semua demi menuju batuan misterius di Desa Picung, Kecamatan Kertanegara.

Mengacu pada namanya, saya awalnya menduga batuan ini berkilau. Kira-kira benar tidak dugaan saya?

Setelah melalui rute: Purbalingga – Bobotsari – Karanganyar – Pertigaan Kasih – Adiarsa – Krangean – Karanggude – Picung, sampailah saya di lokasi. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepatnya di belakang MI Gumilang. Sebenarnya dari kejauhan tampak seperti bukit batu di tengah pemukiman. Hanya saja karena nempel dengan bangunan, batuan setinggi lebih dari 5 meter itu jadi terasa mencolok. Terlebih ada pohon kelapa yang tumbuh di atas batuan tersebut.

Jangan kaget, sebagian badan Watu Gumilang ini memang tertimbun tanah yang cukup untuk menjadi media tanam. Bahkan Kepala Dusun (Kadus) Gumilang, Pak Daryo bercerita bahwa beberapa tahun silam malah ada pohon mangga di atasnya. Sayangnya, akibat diterpa angin besar, pohon tersebut tumbang dan mengakibatkan pecah di salah satu sisi Watu Gumilang.

Pelan-pelan saya menaiki Watu Gumilang ini. Tidak ada orang lain yang tengah berkunjung di hari kerja seperti ini. Biasanya warga memilih menengok Watu Gumilang saat momentum libur lebaran sembari mengajak kerabat. Pantas saja kali ini tidak ada orang lain.

Batuan yang saya naiki itu berwarna kehitaman. Sisa hujan beberapa hari lalu masih menyisakan licin, sehingga perlu ekstra hati-hati. Batuan ini banyak memiliki rongga. 

Jika dimirip-miripkan memang menyerupai gambaran kaki kucing, kelinci atau bahkan anjing. Ada pula yang mirip cakar unggas. Tapi rasanya agak aneh jika menganggap ini benar-benar jejak hewan yang membatu.

Mengingat rasanya rongga-rongga serupa cekungan itu terlihat alami. Seperti hasil erosi tetesan air sejak waktu yang sangat lama. Satu-satunya yang saya pikir hasil dipahat adalah yang berbentuk telapak kaki manusia pada dinding batu yang menghadap sebuah rumah. Namun itupun terlihat sangat tipis. Jika tidak ada yang memberi tahu sebenarnya tak terendus mata saya.

Sebagai batuan yang memiliki karakteristik unik seperti ini, sangat wajar jika beredar pesan agar tidak bicara sembrono selama di Watu Gumilang. Mitosnya, batuan yang konon pernah mengeluarkan cahaya melalui rongga-rongganya itu dulunya sangat disakralkan. Aaaah, jadi benar ya dulunya berkilau. Karena sakral, maka berperilaku minus di area ini akan membawa sakit atau nasib buruk pada pelakunya.

Rasanya cukup menarik saat mendengar Pak Kepala Dusun itu tengah mengupayakan Watu Gumilang sebagai salah satu objek wisata desa. Saya sendiri tidak tahu apakah suatu hari ada yang berminat meneliti batuan ini. Tapi kalau itu terjadi, saya malah penasaran, jangan-jangan penjelasan tentang jenis ataupun struktur batuannya jauh lebih biasa dibanding cerita tentang ribuan telapak kaki yang menempel di sana.


Satu hal yang saya sesali kali ini adalah saya lupa meninggalkan kamera di rumah. Dengan kemampuan kamera ponsel yang terbatas, tapak-tapak ini malah menjadi misteri yang lain lagi bagi saya. “Ini foto apa sih?”

Baiklah, maafkan saya.
-Anita Wiryo Rahardjo

Komentar

  1. Saya juga sangat tertarik untuk menggali informasi tentang watu gumilang dr dulu tahu 90an. Namun sangat minimnya informasi yg bs didapat dr penduduk setempat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petilasan Mundingwangi di Makam Wangi

KASURAN