MAKAM KUNO & KALONG RAKSASA DI SITUS BANDINGAN
Perjalanan kali ini terasa memakan waktu lama. Jujur saja ini adalah pertama kali ke Karangjambu, kecamatan yang disebut-sebut paling jauh dari pusat kota Purbalingga. Jauh banget namun tawaran ke Situs Bandingan jelas terasa sangat menggiurkan. Berangkatlah saya bersama rombongan kantor sebelah.
Suasana canggung sepanjang perjalanan terganti seketika sesaat sampai di Dusun Bandingan, Kecamatan Karangjambu ini. Aroma pedesaan menghadirkan akrab karena hawanya mendukung.
Hamparan sawah menyapa langkah kaki sebelum sampai ke pintu gerbang Situs Bandingan. Situs yang dari luar tampak penuh dengan pohon rimbun. Juga suara merdu santri yang tengah mengaji dari kejauhan meyakinkan saya bahwa ini memang sangat jauh dari kebiasaan hiruk pikuk pekerjaan. Adem.
Tampak seorang pria paruh baya menunggu di sana. Saya agak tergugu karena warna bajunya kembar dengan saya, atasan dan bawahan hitam. Namanya Pak Miarso. Dia meminta kami semua melepas alas kaki. Maka, mulailah saya berkenalan dengan Situs Karangjambu ini.
Jalanan berbatu menanjak langsung saja dilalui di awal. Dan ini akan berlangsung sampai teras ketiga. Begitu bocorannya. Tak lama, benar-benar hanya sekitar 3 menit, rombongan berhenti. Di sebelah kanan, terdapat beberapa makam. Pak Miarso selaku juru pelihara mengatakan bahwa itu adalah makam umum.
Begitu sampai di dataran setelah menanjak ini saya dihadapkan pada temuan sejumlah batuan unik. Di tempat yang disebut teras kedua ini, saya melihat sejumlah batu tegak yang tidak begitu tinggi. Meski Pak Miarso beberapa kali mengatakan bebatuan ini sebagai lingga yoni, namun tim kantor yang saya ikuti ini menyebutnya sebagai menhir. Beberapa tampak bergerombol di bawah pohon. Bentuknya cukup bervariasi.
Meski berbekal kamera handphone, sudut tempat sejumlah menhir ini lumayan terlihat jelas. Bentuknya kalau kata Pak Adi bahkan ada yang menyerupai phallus. Di bawah vegetasi lebat batuan ini hampir semua berlumut. Membuat saya tidak 'ngeh' kalau ada batu berukir di sebelah situ.
Selain itu ada juga batuan berlubang yang mirip dengan lumpang mini, kemudian jenis batu datar dengan sebuah batu kecil di bagian tengah, batu yang mirip landasan dan lain-lainnya. Pak Miarso hanya menceritakan bahwa di tempat ini sering orang-orang yang memiliki hajat khusus akan menepi di sini. Tempat punden, begitu istilahnya.
Jujur saja, jika tanpa mengantongi informasi bahwa semua yang saya lihat di teras kedua ini didominasi menhir, maka saya benar-benar termakan cerita beraroma mitos saja. Karena dalam bayangan saya menhir harus selalu berukuran super besar. Tak menyangka bahwa ini kecil. Rata-rata tingginya yang tampak di permukaan tanah adalah 30 cm.
Dari sebuah dokumen yang dibagikan dalam perjalanan berangkat, ternyata teras kedua ini memiliki lahan seluas 84 m². Secara keseluruhan Situs Bandingan berada pada ketinggian 710 mdpl. Berupa bukit kecil dan seolah membentuk teras-teras bertingkat ataupun punden. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai "Candi". Setiap teras dipercaya memiliki tingkat kesakralan berbeda. Semakin tinggi maka akan semakin sakral.
Hanya berjarak sekian langkah, teras ketiga sudah tergapai. Bedanya, seketika terdengar suara gemuruh dari langit. Tampak bayang-bayang makhluk bersayap di udara. Sesuara decit terdengar menakutkan di awal. Menyadari ekspresi bingung saya, mereka menceritakan bahwa Situs Bandingan memang menjadi habitat kalong raksasa.
Setiap ada langkah kaki memasuki teras ketiga, puluhan kalong yang tengah bersarang di pohon besar langsung saya beterbangan. Mereka seolah memayungi siapapun yang akan berziarah di teras ketiga ini. Mengapa ada istilah ziarah, karena dipercaya di titik ini adalah makam ataupun petilasan Syeh Jambu Karang.
Dalam versi Pak Miarso, dalam salah satu perjalanan dikisahkan Syeh Jambu Karang sempat menepi di tempat tersebut dan murca di lokasi itu juga. Untuk mengenang persitiwa tersebut maka desa itupun kemudian diberi nama Karangjambu.
Suasana canggung sepanjang perjalanan terganti seketika sesaat sampai di Dusun Bandingan, Kecamatan Karangjambu ini. Aroma pedesaan menghadirkan akrab karena hawanya mendukung.
Hamparan sawah menyapa langkah kaki sebelum sampai ke pintu gerbang Situs Bandingan. Situs yang dari luar tampak penuh dengan pohon rimbun. Juga suara merdu santri yang tengah mengaji dari kejauhan meyakinkan saya bahwa ini memang sangat jauh dari kebiasaan hiruk pikuk pekerjaan. Adem.
Tampak seorang pria paruh baya menunggu di sana. Saya agak tergugu karena warna bajunya kembar dengan saya, atasan dan bawahan hitam. Namanya Pak Miarso. Dia meminta kami semua melepas alas kaki. Maka, mulailah saya berkenalan dengan Situs Karangjambu ini.
Jalanan berbatu menanjak langsung saja dilalui di awal. Dan ini akan berlangsung sampai teras ketiga. Begitu bocorannya. Tak lama, benar-benar hanya sekitar 3 menit, rombongan berhenti. Di sebelah kanan, terdapat beberapa makam. Pak Miarso selaku juru pelihara mengatakan bahwa itu adalah makam umum.
Berbeda dengan di bagian atas yang memang dipercaya sebagai makam para tokoh penyebar Islam. Termasuk Syeh Jambu Karang. Tak heran, sebagian orang juga mengenal tempat ini sebagai Makam Kuno Karangjambu.
Sejujurnya saya hampir tak dapat membedakan bukti peninggalan sejarah yang ada di sini. Padahal Pak Adi Purwanto, arkeolog yang berkantor di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja mengatakan bahwa disini menjadi saksi peninggalan 3 era sejarah. Apa saja? Yang paling tua tentu saja prasejarah, lalu masa klasik Hindu Buddha dan masa penyebaran Islam.
Sejujurnya saya hampir tak dapat membedakan bukti peninggalan sejarah yang ada di sini. Padahal Pak Adi Purwanto, arkeolog yang berkantor di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja mengatakan bahwa disini menjadi saksi peninggalan 3 era sejarah. Apa saja? Yang paling tua tentu saja prasejarah, lalu masa klasik Hindu Buddha dan masa penyebaran Islam.
Begitu sampai di dataran setelah menanjak ini saya dihadapkan pada temuan sejumlah batuan unik. Di tempat yang disebut teras kedua ini, saya melihat sejumlah batu tegak yang tidak begitu tinggi. Meski Pak Miarso beberapa kali mengatakan bebatuan ini sebagai lingga yoni, namun tim kantor yang saya ikuti ini menyebutnya sebagai menhir. Beberapa tampak bergerombol di bawah pohon. Bentuknya cukup bervariasi.
Meski berbekal kamera handphone, sudut tempat sejumlah menhir ini lumayan terlihat jelas. Bentuknya kalau kata Pak Adi bahkan ada yang menyerupai phallus. Di bawah vegetasi lebat batuan ini hampir semua berlumut. Membuat saya tidak 'ngeh' kalau ada batu berukir di sebelah situ.
Selain itu ada juga batuan berlubang yang mirip dengan lumpang mini, kemudian jenis batu datar dengan sebuah batu kecil di bagian tengah, batu yang mirip landasan dan lain-lainnya. Pak Miarso hanya menceritakan bahwa di tempat ini sering orang-orang yang memiliki hajat khusus akan menepi di sini. Tempat punden, begitu istilahnya.
Jujur saja, jika tanpa mengantongi informasi bahwa semua yang saya lihat di teras kedua ini didominasi menhir, maka saya benar-benar termakan cerita beraroma mitos saja. Karena dalam bayangan saya menhir harus selalu berukuran super besar. Tak menyangka bahwa ini kecil. Rata-rata tingginya yang tampak di permukaan tanah adalah 30 cm.
Dari sebuah dokumen yang dibagikan dalam perjalanan berangkat, ternyata teras kedua ini memiliki lahan seluas 84 m². Secara keseluruhan Situs Bandingan berada pada ketinggian 710 mdpl. Berupa bukit kecil dan seolah membentuk teras-teras bertingkat ataupun punden. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai "Candi". Setiap teras dipercaya memiliki tingkat kesakralan berbeda. Semakin tinggi maka akan semakin sakral.
Hanya berjarak sekian langkah, teras ketiga sudah tergapai. Bedanya, seketika terdengar suara gemuruh dari langit. Tampak bayang-bayang makhluk bersayap di udara. Sesuara decit terdengar menakutkan di awal. Menyadari ekspresi bingung saya, mereka menceritakan bahwa Situs Bandingan memang menjadi habitat kalong raksasa.
Setiap ada langkah kaki memasuki teras ketiga, puluhan kalong yang tengah bersarang di pohon besar langsung saya beterbangan. Mereka seolah memayungi siapapun yang akan berziarah di teras ketiga ini. Mengapa ada istilah ziarah, karena dipercaya di titik ini adalah makam ataupun petilasan Syeh Jambu Karang.
Dalam versi Pak Miarso, dalam salah satu perjalanan dikisahkan Syeh Jambu Karang sempat menepi di tempat tersebut dan murca di lokasi itu juga. Untuk mengenang persitiwa tersebut maka desa itupun kemudian diberi nama Karangjambu.
Makam kuno ini ramai diziarahi pada malam Rabu Pon sampai Jumat Kliwon. Tak jarang ada yang rutin hadir setiap Jumat, dengan catatan cuaca bersahabat. Ini perlu diperhatikan karena semua aktivitas dilakukan di alam terbuka. Beralaskan tanah.
Makam kuno itu sendiri berbentuk gundukan tanah yang dikeliling undakan batu. Seperti di dekat pintu masuk tadi, makam kuno ini juga memiliki sejumlah menhir yang difungsikan sebagai nisan. Berjarak 100 meter ke arah timur terdapat Sungai Lempuyangan serta ada sebuah mata air di sebelah barat. Waaah, ini dia. Tanah tinggi dan sungai atau mata air. Salah satu penanda keberadaan lokasi bersejarah yang ada sejak mula-mula.
Sembari menunggu sebagian orang yang tengah berdoa, saya memilih ngobrol di teras kedua. Tiga undakan teras persegi ini ternyata berorientasi ke arah utara-selatan. Berbeda dari kebiasaan dimana punden berundak menghadap arah barat-tenggara. Sayangnya, saya buta arah. Sehingga cukup manggut-manggut saja.
Lalu di mana teras pertama? Ternyata saat saya ngobrol, ada sebagian yang lain menuju ke sana. Karena berseberangan dengan jalur turun, maka saya tidak berkesempatan menengok teras pertama. Konon di sana juga terdapat makam keramat.
Memang sejak awal diceritakan juga bahwa sejumlah tokoh penyebar Islam meninggalkan jejak di kompleks makam kuno ini. Selain nama Syeh Jambu Karang ada juga tokoh lain seperti Syeh Klabang Erap. Namun saya tidak paham apakah nama ini yang ada di teras pertama atau bukan. Yang jelas, intinya menhir-menhir yang digunakan sebagai nisan makam atau petilasan tokoh Islam menandakan bahwa Situs Bandingan memiliki rangkaian sejarah yang komplit.
Pak Adi Purwanto yang lulusan arkeologi UGM itu, mengatakan bahwa pada dasarnya semua temuan berdasar bentuknya adalah peninggalan prasejarah namun memiliki kesinambungan budaya sampai pada masa perkembangan Islam.
Makam kuno itu sendiri berbentuk gundukan tanah yang dikeliling undakan batu. Seperti di dekat pintu masuk tadi, makam kuno ini juga memiliki sejumlah menhir yang difungsikan sebagai nisan. Berjarak 100 meter ke arah timur terdapat Sungai Lempuyangan serta ada sebuah mata air di sebelah barat. Waaah, ini dia. Tanah tinggi dan sungai atau mata air. Salah satu penanda keberadaan lokasi bersejarah yang ada sejak mula-mula.
Sembari menunggu sebagian orang yang tengah berdoa, saya memilih ngobrol di teras kedua. Tiga undakan teras persegi ini ternyata berorientasi ke arah utara-selatan. Berbeda dari kebiasaan dimana punden berundak menghadap arah barat-tenggara. Sayangnya, saya buta arah. Sehingga cukup manggut-manggut saja.
Lalu di mana teras pertama? Ternyata saat saya ngobrol, ada sebagian yang lain menuju ke sana. Karena berseberangan dengan jalur turun, maka saya tidak berkesempatan menengok teras pertama. Konon di sana juga terdapat makam keramat.
Memang sejak awal diceritakan juga bahwa sejumlah tokoh penyebar Islam meninggalkan jejak di kompleks makam kuno ini. Selain nama Syeh Jambu Karang ada juga tokoh lain seperti Syeh Klabang Erap. Namun saya tidak paham apakah nama ini yang ada di teras pertama atau bukan. Yang jelas, intinya menhir-menhir yang digunakan sebagai nisan makam atau petilasan tokoh Islam menandakan bahwa Situs Bandingan memiliki rangkaian sejarah yang komplit.
Pak Adi Purwanto yang lulusan arkeologi UGM itu, mengatakan bahwa pada dasarnya semua temuan berdasar bentuknya adalah peninggalan prasejarah namun memiliki kesinambungan budaya sampai pada masa perkembangan Islam.
Wah, beruntung sekali menyaksikan artefak yang jumlahnya cukup banyak ini tetap terawat sampai ke lingkungan temuannya. Mungkinkah kalong raksasa itu adalah sistem “pengamanan" terbaik yang pernah ada?
- Anita Wiryo Rahardjo
Pertama terbit: 21 September 2013
Penyuntingan terakhir: 2026
Catatan: beberapa bagian tulisan diperbarui dan disunting kembali.



Trim tulisanya, cukup detail meskipun belum trurai secara lengkap sejarahnya, itu tempat kelahiran saya sampai sekarang ak msih tinggal disana, ckup bgus tulissnya lanjutkan kalau itu msih dalam batasan yg positif
BalasHapusMatur suwun Bapak sudah mampir ke blog saya ini. Monggo kalau Bapak kagungan kelengkapan infonya, boleh dong dibagi juga ke saya.
Hapuskeren, itu tempat kelahiran saya.
BalasHapusKoreksi
BalasHapusyang benar Dusun karang gude, desa krangean kec.kertanegara