Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

TUK WINONG

"Kalau tidak kebeneran, pulang dari sini bisa sakit", katanya saat mengantar kami menuju pesarean Eyang Kertapati siang itu. (Oleh : Anita W.R)  Sabtu siang di musim kemarau dampak el-Nino, salah seorang atasan mengajak saya mengunjungi sebuah mata air yang tak pernah kering. Bahkan pada musim kemarau sekalipun. Tuk ini berada di Kali atau Sungai Kabong grumbul Padaurip, dukuh Loji, desa Prigi. Saat itu matahari sudah hampir menuju puncaknya. Namun gemericik air yang terdengar sepanjang ladang jagung yang kami lalui terasa menyejukkan. Pak Mad Wiyardi, salah seorang sesepuh yang mengantar kami ke lokasi menyarankan sowan sejenak di pesarean Eyang Kertapati. Leluhur desa sekaligus ' penjaga ' Tuk Winong. Dalam bahasa Jawa Banyumasan, pria sepuh yang kini sibuk bertani ini memintakan ijin kedatangan kami siang itu. Ketika ditanya maksud dan tujuan, kami serempak menjawab, "sekedar main". Karena memang itu tujuan awal kami. Yang ada dibenak ka...

NITIS GULA JAWA

"Kerso kèréng Mba ? Diunjuk kalih teh pait nggeh ?", tanya Mbok Tua, demikian saya memanggilnya, sembari menyerahkan mangkuk berisi ummmm... mirip gula merah. (Oleh : Anita W.R.) Siang itu, matahari bersinar dengan teriknya di kaki pegunungan Pelana, Karang Anyar, Kabupaten Purbalingga. (Nama desa ada di foto sebelah ini) Maklum katanya tengah dinaungi El-Nino sehingga kemarau datang lebih panjang. Dan ini cukup menguntungkan bagi para pembuat gula merah rumahan. Di bawahan (dapur khusus untuk mengolah gula), saya mendapati Bapa Tua tengah nitis yang telah dimulainya sejak pagi. Aroma wangi karamel langsung membuat saya terus menghirupnya dalam-dalam. Gula Merah atau sebagian menyebutnya dengan Gula Jawa, memang difavoritkan. Konon gula ini sudah ada sejak masa Nusantara. Terbuat dari nira kelapa atau badhég menjadikannya jauh lebih menyehatkan dibanding gula putih. Pekerjaan nitis yang tengah dilakoni Bapa Tua itu ternyata menghabiskan 40 kg badheg ya...