Langsung ke konten utama

KOTA KUNA PART 2 - BALAI MUSLIMIN

Jalan-jalan kita ke kota kuna berlanjut lagi. Horrreeee. Kali ini targetnya adalah Balai Muslimin yang sudah berganti nama menjadi Pendopo K.H. Ahmad Dahlan.

Oleh : Anita Wiryo Rahardjo


CAGAR BUDAYA

Bertempat di selatan Alun-alun Purbalingga, bangunan yang sudah ada sejak 1800-an ini masih kokoh berdiri ditengah-tengah deretan gedung yang menjulang tinggi. Dulu orang mengenalnya sebagai Balai Muslimin. Namun belakangan namanya diubah menjadi Pendopo K.H. Ahmad Dahlan. Termasuk salah satu objek diduga cagar budaya kategori bangunan.

Tidak sulit kok untuk mencari keberadaan gedung ini. Meski dari luar nampak tersembunyi, namun begitu kita sukses melewati pintu gerbang utama (dengan syarat sudah laporan dulu ke Satpam ya,..) kita akan segera menyaksikan sebuah bangunan berarsitektur Jawa Belanda ini.

Pendopo K.H. Ahmad Dahlan terdiri dari satu bangunan yang didirikan diatas batur setinggi kurang lebih 75 cm diatas pemukaan tanah. Gedungnya menghadap utara. Memiliki atap berbentuk limasan yang ditutup genteng. Atap serambinya ditutup dengan seng dan disangga oleh tiang-tiang besi. 

Di bagian serambi terdapat enam buah pilar tembok atau kolom berbentuk bulat gaya Doria dan dua kolom persegi di ujung serambi. Ciri khas ini merupakan peninggalan masa kolonial yang masih dipertahankan. Bahkan dekorasi tatanan papan kayu disepanjang ujung atap bagian bawah pun masih ada. Leeeeengkap dengan ujungnya yang berbentuk kurawal. "Tapi atap serambi sudah ditambah luasannya untuk parkir kendaraan. Karena gedung ini sebelum jadi pendopo berfungsi sebagai kantor guru SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga", kata Soegiman, salah seorang anggota Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM).

(foto diatas diambil dari Purbalingga Perwira)


Secara keseluruhan gedung ini memiliki luas 19 m x 17,5 m. Dibagian depan terdapat tiga pintu yang ditutup krepyak kayu. Dan masih dapat kita temui juga pintu kasino di gedung ini. Jendela-jendela krepyak kayu lebar pun dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Alhasil, ruangan pun terasa adem sembriwing tanpa perlu AC.

Soegiman menyebutkan jika secara keseluruhan gedung ini tidak banyak berubah. Penggantian hanya dilakukan pada atap, lantai dan tembok bagian belakang gedung. “Gentengnya diganti yang baru karena yang lama sudah tepo ya. Plus ditambahin kuda-kuda dan penglari. Aslinya nggak ada (kuda-kuda dan penglari). Kemudian lantainya yang semula pelur semen diganti keramik. Dan jeruji kayu di tembok belakang diganti kaca”, terang Soegiman yang juga merupakan salah seorang panitia renovasi gedung. 

Pria yang akrab disapa Pak Giman ini mengaku kagum pada material bangunan yang telah berusia ratusan tahun ini. Mulai dari temboknya yang memiliki ketebalan sekitar 40 cm, rangka atap genteng tanpa kuda-kuda sampai tatanan bata miring dibawah pelur semen. “Saya tahunya juga waktu ngerombak, Mba”, ungkapnya.

Gedung ini memang mengalami renovasi berat pada tahun 2013 kemarin. Soegiman sendiri mengatakan proyek renovasinya memakan biaya lebih dari Rp. 200 juta dengan masa pengerjaan selama 5 bulan. “Mulai Mei 2013 dan selesai beberapa hari sebelum peresmian pada bulan September”, ujarnya. Dan terhitung 21 September 2014, gedung yang pernah bernama Balai Muslimin ini diberi nama “Pendopo K.H. Ahmad Dahlan” yang diresmikan oleh Drs. H. Hajriyanto Y. Thohari, MA.

SEJARAH

Jika selama beberapa periode gedung ini dikenal sebagai bangunan milik sekolah, maka pada awalnya bangunan ini justru merupakan rumah tinggal. Berada dalam lingkungan kadipaten, wilayah lingkar Alun-alun tak hanya menjadi tempat berbagai fasilitas publik tapi juga area hunian keluarga Pendopo. Salah satunya yang terletak di Jalan Alun-alun Selatan no.2 ini. 

Menurut Kepala SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga, Drs. Dodi Prastowo, beberapa bangunan milik yayasan inipun sebagian diantaranya merupakan rumah tinggal berarsitektur unik. Namun yang dipertahankan bentuk aslinya hanya bangunan yang kini menjadi Pendopo K.H Ahmad Dahlan.

Seperti yang ditulis oleh Majalah Derap Perwira Volume 94/Tahun IX/2013, disebutkan bahwa tanah beserta bangunannya ini dibeli dari salah seorang keluarga Bupati bernama R.M. Sobali dan R.A. Anjani pada tahun 1946 dengan memperoleh Hak Guna Bangunan. Itupun dengan usaha ekstra mengumpulkan dana yang luar biasa jumlahnya. Bahkan panitia sempat dibuat kalang kabut karena sampai mendekati hari-H pembayaran, uang belum terkumpul. Dan keajaiban dikirimkan Allah SWT dengan datangnya seorangnya donatur yang menanggung seluruh kekurangan dana. Hingga kemudian gedung ini dapat terus melanjutkan tugasnya sebagai ruang pendidikan agama Islam. Hal itulah yang membuat masyarakat akrab menyebut gedung ini dengan Balai Muslimin.


Organisasi Muhammadiyah sendiri telah cukup lama mewarnai sejarah pergerakan bangsa ini sejak didirikannya pada 1912 di Jogjakarta. Di Purbalingga sendiri Muhammadiyah masuk terhitung 1918 berujud kelompok-kelompok pengajian di desa-desa. Barulah pada 2 Januari 1922 Muhammadiyah Purbalingga resmi menjadi Pimpinan Muhammadiyah Cabang Purbalingga.

Kini setelah melalui rentang waktu yang sanggaaattt panjang, Muhammadiyah Purbalingga terus berkembang pesat di segala bidang. Mulai dari pendidikan, sosial sampai ekonomi. Dan lengkaplah sudah kesaksian Pendopo K.H. Ahmad Dahlan dalam terus mengiring perjalanan Muhammadiyah Purbalingga.

Komentar

Banyak Dicari

WATU GUMILANG, MISTERI YANG BELUM TERPECAH

Meski kerap mendengar, nama Watu Gumilang masih tetaplah asing disebut sebagai salah satu objek wisata lokal di Purbalingga. Padahal, batu ini menyimpan keunikan tersendiri. Yaitu ribuan jejak tapak kaki yang menempel di permukaannya. Mulai dari tapak kaki manusia sampai bermacam jenis kaki binatang. Oleh : Anita Wiryo Rahardjo Lokasi Watu Gumilang terletak di dusun Gumilang desa Picung, kini masuk kecamatan Kertanegara. Sebelum dilakukan pemekaran, Gumilang masih merupakan bagian dari Kecamatan Karang Anyar. Watu Gumilang ini berada di kaki Gunung Batur, sehingga memakan jarak yang cukup jauh untuk menggapainya. Untuk menuju Watu Gumilang kita bisa melalui rute : Purbalingga - Bobotsari - Karang Anyar - Pertigaan Kasih - Adiarsa - Krangean - Karang Gude - Picung. Watu Gumilang berada di atas lahan milik warga, tepat di belakang MI Gumilang. Batu ini berukuran tinggi sekira 10 meter, panjang 10 meter dan lebar 5 meter. Benar-benar berukuran sangat besar. Seperti sebuah gunungan batu ya...

BATIK PURBALINGGA DIMULAI DARI ERA NAJENDRA

Mari mengingat-ingat, berapa batik yang kita miliki ? Bisa jadi banyak. Namun bagaimana dengan batik yang khas Purbalingga? Saya bahkan tidak tahu apakah saya punya. Atau...adakah Purbalingga memilikinya? Oleh: Anita Wiryo Rahardjo Salah seorang produsen batik, Yoga "Tirtamas" Prabowo mengatakan, " Batik Purbalingga itu sudah punya khas sejak awal ". Bagi pengguna batik random semacam saya jelas bingung dengan kalimat tersebut.  Yoga berujar yakin bahwa batik bukanlah tren baru yang mengikuti kecenderungan pasar. Karena Purbalingga telah memiliki sejumlah sentra batik sejak masa pendudukan Belanda. Najendra, pelopor industri batik di Banyumas Raya Keberadaan industri batik Purbalingga konon sudah ada sejak masa Perang Diponegoro (1825-1830). Berakhirnya Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan istilah Perang Jawa ini diperkirakan menjadi awal bermunculan sentra batik di wilayah Banyumas Raya. " Ada anak buah Diponegoro yang membuat sentra batik di Sokaraja. ...